
Kevin menyesali telah lupa kalau Lucia dan Gina tak mungkin bisa disatukan. Keduanya memang tak perlihatkan sikap bermusuhan namun Gina selalu hindari Lucia tak mau dekat dengan wanita itu. Kevin tahu ini menyangkut masa lalu orang tua mereka. Kevin tak bisa salahkan Lucia yang terlibat dalam kisah masa lalu. Lucia tak seharusnya menanggung dosa orang tuanya kepada keluarga Gina.
"Aku pergi sendiri saja." Kevin menyadari telah salah mengundang Gina dalam waktu bersamaan. Ini pasti akan melukai harga Gina dijadikan sampingan oleh Kevin. Mengundang Lucia tapi menyelipkan Gina di antara mereka.
Gina mengangguk secepat mungkin senang terbebas dari suasana tak sedap. Gina mana mau dianggap sebagai perusak acara orang lain apalagi orang itu adalah Lucia. Perusak pemandangan indah Gina.
"Jay akan ikut bapak. Untuk berjaga-jaga kalau Angela orang itu usik bapak."
"Baiklah...aku akan undang kamu secara pribadi makan malam berdua. Malam ini aku undang Lucia sebagai tanda terimakasih. Tak ada niat lain."
"Aku tak perlu tahu apa rencana bapak terhadap Lucia. Itu urusan pribadi bapak. Lebih baik bapak fokus sembuhkan trauma bapak biar bisa lebih dekat dengan Lucia."
Kevin menatap ke depan mau tahu apa maksud Gina minta dia berobat lebih serius supaya bisa dekat dengan Lucia. Gina pikir Kevin tertarik pada wanita itu?
"Aku tak perlu dekat orang lain. Aku tak mau sembuh biar setia padamu selamanya."
"Untuk apa setia padaku? Mau ikat aku kerja di perusahaan bapak sampai uban hiasi kepala aku? Jahat amat niat bapak." Gina merepet pura-pura tak ngerti maksud tujuan Kevin. Dalam hati Gina senang juga Kevin bucin padanya namun Gina cepat menepis angan indah itu sehubung tujuannya belum tercapai. Gina juga susah percaya pada pria karena ulah Subrata. Gina takut nasibnya sami mawon dengan Bu Sarah.
"Bukan ikatan kerja tapi kontrak hidup bersama seumur hidup. Kamu ini bego atau pura-pura tolol. Aku sudah berkali bilang aku suka padamu. Aku suka segala kelebihan juga kekurangan kamu. Aku juga banyak kekurangan jadi kuharap kau tutupi semua kekurangan aku dengan ketulusan hatimu." ujar Kevin serius. Laki ini berkata bukan sekedar gombalan kosong. Kevin sudah mengenal Gina sedetail-detailnya. Gadis itu tak pandai bersandiwara tutupi keburukan dengan segala omong kosong. Gina selalu tulus pada Kevin.
Gina dipenuhi jutaan keraguan terhadap cinta. Rasanya tabu buat Gina mengenal arti sepotong hati. Trauma ibunya membuat Gina ragu untuk memulai satu hubungan. Gina sendiri tak tahu sampai kapan dia baru bisa keluar dari lingkaran masa lalu ibunya.
Gina pilih diam daripada salah omong. Langsung menyambut suara hati Kevin sangatlah tidak mungkin. Gina masih harus mengukur panjang kali lebar hasilkan luas kasih sayang yang akan dilimpahkan oleh Kevin kepadanya. Gina tidak munafik kalau hatinya juga mengatakan dia suka suka pada Kevin namun belum berani melangkah lebih lanjut.
Biarlah Gina menemukan jati diri dulu barulah berbicara soal cinta dengan Kevin. Itupun kalau Kevin sabar menunggu. Andaikata laki itu tidak sabar memilih cinta yang lain maka dengan ikhlas Gina akan melupakan semua yang pernah diucapkan oleh lelaki itu.
Kevin sudah menduga kalau Gina akan bungkam mengungkapkan isi hati terdalamnya. Betapa sulit meraih sekeping cinta dari lubuk hati Gina. Kevin tidak akan putus asa menanti cinta Gina bersemi di musim semi hasilkan bunga indah.
Kevin berpikir kalau Gina itu terjebak dalam kesedihan yang dialami oleh Bu Sarah. Alarm dalam otak Gina beri peringatan untuk hindari yang namanya cinta. Gina menutup diri tak mau melihat banyak juga pasangan yang bahagia hingga akhir hayat. Contoh seperti cinta om Sabri kepada Bu Sarah. Sekian tahun berlalu namun tetap utuh.
"Kapan rancangan Lucia akan dirilis?" Gina alihkan pembicaraan ke arah lain tak mau bahas topik yang tak mampu dia jawab.
Kevin membuang mata keluar jendela sedih Gina tak mau beri respon. Mobil melaju terus membelah jalan raya beriringan dengan puluhan mobil lain.
Gina melirik ke wajah Kevin lewat kaca pion karena tak kunjung dapat jawaban. Gina tahu Kevin kesal dia tak mau jawab suara hati Kevin. Ada rasa menyesal rajai kalbu Gina tak bisa menjadi gadis manis buat Kevin.
"Masih harus direvisi oleh tim kantor. Tapi aku rasa itu sudah sangat bagus." Kevin jawab juga walau terjeda waktu.
"Semoga diterima oleh pasaran."
"Biasa semua rancangan Lucia mendapat respon positif di pasaran. Kurasa yang ini lebih heboh lagi."
__ADS_1
"Oh...gunakan batu apa? Baru giok atau bacan?"
"Hei kenapa kau tahu harus gunakan batu hijau? Kau sudah lihat rancangan Lucia?" seru Kevin surprise Gina bisa menebak batu yang harus digunakan design Lucia.
Gina ingin sekali cubit bibir sendiri keceplosan ngerti isi design Lucia. Itu gambarnya bagaimana mungkin Gina tak paham. Gina memahami gambar itu luar dalam. Tapi Gina tak boleh akui semuanya agar mulus antar Lucia ke jurang derita.
"Bukankah sekarang lagi ngetren back to nature? Kulihat designer luar negeri berlomba hasilkan design bertema alam. Alam identik dengan hijau. Aku gunakan warna yang lagi trend tebak design Lucia."
Kevin angguk-angguk terima alasan Gina yang masuk akal. Gina termasuk designer muda yang ikut pergolakan dunia fashion perhiasan. Bagaimana perkembangan dunia perhiasan pasti dia ketahui dengan jelas.
"Nanti coba kau lihat baru apa cocok untuk dijadikan bahan baku."
"Ada beberapa jenis batu hijau. Untuk yang sederhana ya batu giok. Ada yang langka tapi tak bisa terjangkau pembeli. Mungkin ada beberapa pelanggan sanggup beli namun lacak batu itu harus keluar negeri. Ada emerald hijau, prasiolite dan peridot. Itu batu hijau yang susah kita dapatkan. Kurasa untuk pasaran lokal gunakan giok Aceh saja. Cari lumut Aceh yang pekat."
Kevin heran mengapa Gina tak mau dalami pekerjaan sebagai designer. Pengetahuan gadis ini melebihi designer di kantornya. Gina tidak hanya bisa gambar tapi juga paham semua jenis batu.
"Kau kamu ini pinter tapi selalu tutup diri. Cobalah buka cangkang perlihatkan kamu yang sesungguhnya!"
"Memangnya selama ini aku sembunyi di lubang tikus? Aku ada di manapun." kata Gina dingin masih fokus pada jalanan bersaing dengan mobil lain menembus kemacetan. Untunglah mereka cepat pulang belum terjebak kemacetan parah.
Jalanan belum padat oleh kenderaan yang lepas kantor. Mereka masih bisa lancar mencapai rumah.
"Aku ingin kamu tetap berada di sisiku. Tak perlu di mana-mana." Kevin kembali merayu Gina biar tahu betapa dia sungguh ingin bersama gadis itu.
"Senior tapi bau susu. Memang kamu ini umur berapa berani sok orang tua? Aku duluan hadir di bumi ini."
"Duluan hadir tapi telat dewasa. Sama cewek saja takut. Pergunakan waktu malam ini jalin hubungan lebih baik dengan Lucia. Malam ini makan malam besok malam pengantin." olok Gina menyebabkan Kevin mendelik marah.
Segitu gampang vonis Kevin mau kawini Lucia. Kalau Kevin mau bukan tunggu sampai hari ini. Jauh hari sebelumnya dia dan Lucia sudah terikat benang merah pernikahan. Sayang Kevin tidak tertarik pada Lucia. Hatinya belum tersengat arus listrik hantaran Lucia.
"Malam ini kita malam pengantin. Sekarang juga kita ke penghulu. Aku akan lamar kamu malam ini. Aku akan lamar di hadapan ayah dan opa kamu. Kau tak percaya?"
Gina agak panik Kevin mendadak menggila. Laki itu bukan tak berani lakukan hal ekstrim itu. Dia bisa dekatan dengan Gina maka mudah saja dia memohon pada om Sabri untuk mengijinkan dia menikahi Gina.
"Jangan gila ya! Belum sembuh penyakit stress sekarang gila pula. Jangan konyol ya! Aku bisa silap gampar orang." ancam Gina cukup ngeri bila Kevin nekat.
Om Sabri pasti akan setuju karena sudah ada yang jaga Gina selama dia pergi. Cuma sayang Om Sabri tak punya hak nikahkan Gina. Wali Gina tetap Subrata yang masih hidup walau mati di hati Gina.
"Aku siap mati untukmu."
"Stress..." omel Gina tak mau lanjut berdebat untuk hal sensitif.
__ADS_1
Mobil melaju terus sampai tiba di rumah Gina. Suasana rumah masih sepi tak ada tanda ada penghuni. Kelihatannya Bu Sarah dan Om Sabri sedang bepergian dengan orang tua Om Sabri. Mereka jalan-jalan seputar kota sebelum orang tua Om Sabri bertolak balik ke Jerman.
Mereka telah menerima Bu Sarah sepenuh hati sehubung dalam perut wanita itu ada penerus om Sabri. Gina bahagia untuk kebahagiaan ibunya. Inilah yang diharapkan oleh Gina.
Gina membuka pintu rumah setelah turun dari mobil. Kevin ikut dari belakang cuma perhatikan setiap langkah Gina. Malam ini Kevin harus tebalkan muka mencoba provokasi orang tua Gina untuk dapat restu melamar Gina. Tidak segera menikah juga tak masalah asal Gina tak terlepas dari genggaman.
Gina telah go publik sebagai komisaris single fighter, semut-semut jantan pasti akan tercium betapa manisnya gula kristal. Semua akan berusaha rebut hati Gina nath itu demi harta atau memang kepincut pada kecantikan gadis ini. Kevin tak boleh lengah didahului pejantan tangguh lain.
"Assalamu'alaikum.." seru Gina walau tahu di dalam rumah belum tentu ada orang.
"Waalaikumsalam..." ada juga yang nyahut dari balik kamar. Gina menangkap itu suara Gani yang makin hari makin jauh dari Gina. Mereka terjebak dalam rutinitas masing-masing sampai tak ada waktu bercanda seperti dulu.
Gina melepaskan sepatu ganti sandal rumah mencari sumber suara dari kamar. Tumben lajang itu cepat pulang melebihi Kevin. Biasa Gani selalu pulang telat sehubungan dengan tugas yang menumpuk.
Gina mengetuk pintu lantas masuk tanpa izin empunya kamar. Untuk sementara kamar Gani terbagi kepemilikan sejak Kevin pindah ke sana. Mereka saling berbagi tempat dalam kamar super mungil.
Gina menangkap sosok Gani tengkurap di atas kasur belum ganti pakaian. Di tubuhnya masih melekat pakaian kantor warna cream terang. Gani tidak mengangkat kepala walau tahu adiknya sudah pulang. Beban apa menimpa kepala itu sampai tak bisa diangkat lihat kedatangan sang adik.
Gina merasa ada yang tak beres dengan abangnya itu. Gina duduk di samping ranjang Gani belum berani bercanda. Gina harus pantau kondisi dulu mengapa batere tubuh Gani soak.
"Kok habis setrum?" Gina menepuk punggung Gani perlahan.
"Gin...aku ini kurang waras ya? Masa selalu teringat pada seorang gadis cleaning service. Aku kasihan lihat dia dibully oleh senior. Tadi dia menangis akibat disiram air kotor oleh karyawati lain. Hatiku pedih." Kata Gani lemas. Laki itu berkata tanpa membalikkan tubuh hadap adiknya.
Gina tertawa geli melihat Gani jadi melankolis hanya karena seorang cs. Gina senang akhirnya jiwa lelaki Gani muncul. Gina sudah kuatir Gani akan nyiur melambai sampai tua. Tak pernah tertarik pada wanita. Hidup dalam fatamorgana sebagai seorang seorang cewek jadian. Kejadian hari ini menyadarkan Gina kalau Gani itu bukanlah banci kalengan seperti sangkaan dia.
"Kenapa tidak lindungi dia? Kamu ini sebagai atasan harus tindak karyawan yang semena-mena pada bawahan. Jika perlu kita pecat orang angkuh itu."
"Apa kata orang aku lindungi seorang cs?" keluh Gani balikkan badan hadap Gina. Wajahnya sungguh kusut belum tersentuh setrikaan. Gani tampaknya bersedih untuk cs itu namun gengsi disuruh menjaga seorang bawahan berkedudukan rendah.
"Gani...kalau kita mau berbuat baik untuk apa lihat statusnya? Cs itu juga manusia punya hak sama dengan karyawan lain. Cuma kebetulan dia berada di posisi itu. Apa cs tugasnya menipu atau mencuri? Tidak bukan? Tak peduli siapa dia yang salah harus dihukum dan yang terzolimi kita lindungi. Jangan memandang orang dari status tapi akhlak orang itu! Emangnya dulu kita ini apa? Aku ini cuma montir kasar tapi aku tak rendah diri. Aku cari uang halal untuk apa malu?" Gina berkata panjang lebar sambil menepuk bahu Gani.
Gani termakan omongan Gina angguk-angguk setuju. Dulu mereka juga bukan siapa-siapa cuma nasib baik berpihak pada mereka jumpa om Sabri yang baik. Om Sabri bekerjasama dengan Bu Sarah menyekolahkan mereka sampai sarjana. Jasa om Sabri dan Bu Sarah takkan punah dari benak kedua anak itu sampai akhir zaman.
"Ok...besok aku akan keras pada mereka yang suka zolimi karyawan bawah. Aku akan beri peringatan pada mereka."
"Perlu kubantu? Kubotakin mereka yang nakal sok elite."
Gani segera bangun goyang tangan secepat kilat. Kalau Gina ikut campur bisa bonyok karyawan yang arogan itu. Gani tak mau ada kekerasan di dalam divisinya. Dia harus bijak selesaikan permasalahan di lingkungan pimpinan dia.
"No thanks...aku bisa kok! Aku bisa tegas tanpa ada yang botak. Kan aneh divisi aku pada botak. Yang botak cewek lagi. Serahkan padaku!" Gani menepuk dada sok keren. Wajah kusut laki itu berkurang sedikit setelah dapat dukungan dari Gina. Gani akan berbuat adil pada semua karyawan tanpa pandang bulu. Dia seorang manager wajib tunjukkan kewibawaannya sebagai kepala bagian.
__ADS_1
Gina tepuk tangan beri semangat pada Gani. Gina tak keberatan bila Gani suka pada cs itu asal cs itu seorang cewek. Gina lupa tanya cs itu cewek atau cowok. Dalam pikiran Gina cs itu seorang cewek.