
Pesta berlangsung sangat meriah tetapi tidak dengan Gina. Wanita muda ini merasa seluruh badannya agak lesu kalau dia berusaha menampakkan wajah cerah. Mana mungkin dia menampakkan wajah sedih karena ini akan melukai perasaan Lucia yang mengira Gina tidak ikhlas melihat dia bahagia. Gina berusaha menahan diri agar tampak tetap fit mengikuti semua rangkaian acara.
Gina duduk di sudut bersama Kevin yang larut dalam kebahagiaan. Kevin juga bersyukur melihat Lucia mendapat pasangan yang serasi. Ardi pasti bisa membahagiakan Lucia karena gadis ini juga cukup merasakan tekanan batin akibat perbuatan Angela. Kini semua telah berakhir karena karma telah diturunkan secara beruntun menimpa mereka yang berbuat zalim pada orang lain.
Saat pesta berlangsung cukup meriah Gina dikejutkan oleh kehadiran Angela sendirian mendekatinya. Kevin yang melihat kehadiran Angela menjadi trauma langsung berdiri di depan Gina untuk melindungi istrinya dari wanita histeris itu.
Kemegahan yang dimiliki Angela telah luntur menyisakan kekumuhan menyatu pada diri wanita itu. Kini wajah Angela sangat kusut tak memancarkan sinar angkuh seperti dulu. Wanita itu berdiri di depan Gina dengan mata berkaca-kaca.
Kevin dengan sikap melindungi Gina dari segala kemungkinan kalau Angela membuat masalah lagi. Kalau Angela masih juga berulah maka tak ada kata maaf untuknya lagi.
"Gina... aku datang untuk minta maaf kepadamu. Maafkan semua yang telah aku lakukan kepada kalian semua. Aku tahu aku tak pantas mendapat maaf dari kalian karena perbuatanku yang menyakiti kalian sampai berulang kali. Tapi aku tetap harus mengatakannya agar hatiku lebih tenang."
Kevin sedikit mengendur melihat Angela bukan datang mencari masalah tetapi meminta maaf. Kalau dilihat dari kondisi Angela memang sangat memprihatinkan tetapi bila mengingat perbuatannya rasanya tak ingin memberi kata maaf. Kevin menoleh ke belakang melihat reaksi istrinya yang masih belum percaya seorang Angela datang menghadapnya untuk meminta maaf. Akhirnya keangkuhan Angela telah luntur.
Lama sekali Gina tidak menjawab karena kepalanya juga cukup pusing. Perutnya makin mual seperti diaduk centong besar ingin menumpahkan seluruhnya. Angela dan Kevin juga terdiam melihat Gina tidak memberi reaksi apapun. Sepatah kata dari Gina sangat berarti buat Angela. Baik itu kata maaf maupun kata caci maki dari mulut wanita itu. Angela telah siap menerima semua amarah dari Gina.
"Sayang...kau ok?" tanya Kevin lembut melihat Gina masih terdiam.
Gina mengangguk lantas berdiri. "Aku sudah memaafkan kamu dan tidak akan pernah mencari masalah denganmu. Semoga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Anda doakan saja semoga kejadian ini tidak berulang kepada Lucia maupun perempuan-perempuan lain." ujar Gina
Angela mengangguk sangat bersyukur Gina bersedia memberi maaf kepadanya. Langkah Angela berasal lebih ringan setelah mendapat pengakuan dari Gina. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Angela agar dia bisa bertobat dan merenungi semua kesalahan yang telah diperbuat.
"Terimakasih nak... sampaikan juga maaf kepada ibumu. Semoga dia mendapat kebahagiaan yang lebih berlipat ganda daripada kehidupannya yang dulu."
"Amin..." jawab Gina teringat betapa bahagianya Sarah dalam perlindungan Sabri. Sarah beruntung mendapat suami yang jauh lebih baik dari Subrata. Mungkin inilah rahasia hidup di mana kesabaran Sarah telah mendapat pahala. Kalau tidak begini mungkin Sarah takkan bertemu dengan Sabri. Mengingat ini Gina makin yakin untuk memaafkan Angela dan menganggap Angela telah membuka pintu kebahagiaan Sarah.
"Bolehkah aku memelukmu sebagai permintaan maaf yang setulus tulusnya?" tanya Angela sambil menatap lembut ke arah Gina.
Gina mengangguk karena merasa yakin telah bisa berdamai dengan masa lalu dan menyongsong hari depan. Gina merentangkan tangan menerima kehadiran tubuh Angela menyatu dengan dadanya. Sini Angela tidak bisa menyembunyikan isak tangis karena terlalu bahagia mendapat pengakuan dari Gina.
Dari jauh sepasang mata mulai kelabu menyaksikan adegan ini dengan hati dipenuhi air mata. Rasa sesal dan bahagia menyatu di dalam hati karena semua badai yang dia ciptakan telah berlalu. Selanjutnya dia akan tenang menambatkan biduk di tepi dermaga dan berjanji tak akan berlayar lagi. Cukup bersandar pada tepian tak ingin terombang-ambing di tengah lautan tak bertepi. Itulah mata Subrata yang ikut terharum menyaksikan Angela dan Gina telah berdamai.
Tiba-tiba Gina muntah di atas pakaian Angela dan langsung terkulai. Untunglah Kevin dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum terhempas ke lantai. Angela kaget bukan main melihat tiba-tiba Gina drop di pelukannya padahal dia tidak melakukan apapun kepada wanita ini selain memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan pada Gina?" bentak Kevin sambil membopong Gina untuk mencari bantuan.
__ADS_1
"Demi Allah aku tak melakukan apapun... segera bawa ke rumah sakit agar tak terjadi hal-hal tak diinginkan." Angela membela diri karena memang tidak melakukan apapun kepada wanita ini selain memeluknya.
"Aku tidak akan memaafkan kamu bila terjadi sesuatu kepada istriku."
Orang-orang pada ikut panik melihat Gina mendadak jatuh pingsan di pesta. orang-orang yang dekat dengan dinas segera bertindak mengikuti Kevin membawa Gina menuju ke luar ruang pesta untuk mendapat pertolongan. Jay dan Gani yang paling duluan bertindak membantu Kevin mengambil mobil di parkiran.
Subrata yang tidak kalah kaget segera mendekati Angela ingin memarahi mantan istrinya itu. Kalau Angela tidak melakukan hal tak terpuji tak mungkin Gina mendadak pingsan dalam pelukan wanita itu. Lucia juga sangat kecewa kepada ibunya yang tidak habis-habis mencari masalah. Gina sudah sangat baik kepada mereka memberi toleransi sangat besar tetapi Angela masih juga mencari masalah. Lucia ingin sekali berteriak menyuarakan kesedihan melihat tingkah ibunya yang tidak pernah kapok. Untunglah Ardi menenangkan istrinya itu agar tidak membuat suasana menjadi lebih heboh.
"Apa yang kamu lakukan kepada anakku?" Subrata mencekal tangan Angela arak-arak merasa sangat geram pada wanita ini.
"Ya Tuhan... Aku bersumpah aku tidak melakukan apapun kepada Gina. Aku hanya meminta maaf dan memohon pengampunan agar kelak tak ada dendam antara kami lagi. Aku juga tidak tahu mengapa dia mendadak pingsan. Percayalah padaku papa! Aku juga sudah sangat lelah memainkan peranan yang tidak menguntungkan ini."
Subrata tidak begitu saja percaya pada omongan Angela karena tahu betapa liciknya wanita ini. Namun ada kesungguhan terselip di ekor mata wanita itu menimbulkan sedikit keraguan di hati lelaki tua ini. Mungkinkah Gina terlalu lelah menyiapkan pesta kakaknya sehingga jatuh pingsan di hari bahagia ini.
"Baik... Sekarang kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan anakku. Kalau terjadi apa-apa padanya aku akan menuntut kamu untuk dipenjara seumur hidup." Subrata menarik tangan Angela untuk ikut dengannya menuju ke rumah sakit. Namun sayang Angela tidak bisa pergi begitu saja karena dia masih berada dalam pengawasan pihak kepolisian. Kalau Angela pergi ke rumah sakit maka kedua polisi yang mengawalnya juga harus ikut untuk melaksanakan prosedur dari hukum.
Akhirnya mereka ke rumah sakit dengan diantar oleh kedua aparat polisi. Angela hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Gina. Gina merupakan kunci dari kelanjutan hidupnya. Angela sama sekali tidak menginginkan terjadi sesuatu kepada Gina karena telah kapok menjadi seorang pendosa.
Sementara itu Gina dibawa ke ruang perawatan untuk dicek apa penyebab wanita ini mendadak jatuh pingsan. Gina langsung ditangani oleh beberapa dokter yang menjaga di rumah sakit. Wajah Gina pucat pasi bikin jantung Kevin mau berhenti. Ntah mengapa Kevin lebih panik daripada Gina kena tusukan Angela. Rasanya Gina lebih parah dibanding dulu. Wajahnya tidak ada warna darah lagi.
Gani yang sudah tahu gelagat kalau Kevin bakal kumat penyakitnya segera memeluk bahu adik iparnya beri semangat. Kalau Kevin kumat siapa yang akan jadi sandaran buat mereka lagi.
"Kak...ingat monster! Kakak harus kuat. Aku yakin monster takkan apa-apa. Luka menganga tak bisa renggut nyawanya. Dia itu manusia badak." Gani terusan beri kalimat membangun agar Kevin tidak drop.
"Aku ingin mencekik Angela. Sudah dua kali dia menyakiti Gina. Aku bersumpah tidak akan memaafkannya." mata Kevin memancarkan sinar tajam. Matanya mulai memerah menahan amarah.
"Tenang kak...emosi takkan selesaikan masalah. Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter. Kakak duduk saja. Aku ke dalam lihat apa hasil pemeriksaan dokter. Jay kamu jaga kak Kevin." Gani beri kode pada Jay untuk bantu dia tenangkan Kevin yang sedang nyalap.
Jay tentu saja paham kode Gani. Jay membimbing Kevin cari tempat tenang biar tidak berbuat hal menyakiti diri sendiri. Gani ayunkan langkah cari tahu kondisi kekinian Gina. Gani bukannya tidak cemas melihat adiknya pingsan tapi kalau di ikut panik tak ada yang urus Gina dan Kevin lagi. Syukur ada Jay selalu siaga di belakang mereka.
Gani masuk ke ruang IGD menyapa perawat dan dokter yang tampak senyum-senyum pada Gani. Orang sedang sakit diberi senyum bikin Gani ilfil pada para medis. Bukannya prihatin malah tersenyum seolah menertawai nasib buruk pasien.
"Maaf dok...gimana adikku?" tanya Gani masih menahan diri untuk tidak marah.
"Kamu abangnya? Kukira suaminya. Ok..adikmu tak apa...dia akan membuatmu jadi om terganteng seluruh dunia." dokter itu menepuk bahu Gani yang masih terbengong mendengar laporan sang dokter. Berita ini terlalu mendadak nyaris meledakkan jantung Gani. Beberapa bulan lalu dia baru saja dapat berita jadi Abang karena Bu Sarah hamil dan sekarang dapat kabar akan menjadi om.
__ADS_1
"Maksud dokter?"
"Adikmu hamil...mana suaminya? Kami akan lapor langsung pada yang lebih berhak."
Gani menunjuk keluar masih linglung. Jadi Abang dan om sekaligus. Rezeki nomplok dari mana itu. Dia manusia paling beruntung sedunia menjadi Abang dan om dalam waktu bersamaan. Dokter sudah keluar mencari orang yang menjadi suami Gina. Tinggal Gani masih belum percaya berita teranyar ini.
"Hei dok..jangan tinggalkan aku!" Gani tersadar segera mengejar sang dokter. Gani tentu saja bahagia mendapat kabar ini karena dia akan segera menjadi Om yang paling ganteng seperti kata dokter. Jerih payah Kevin menanam bibit di ladang Gina sudah membuahkan hasil. Tak lama lagi Kevin akan mendapat hasil panen dari ketekunannya.
Dokter sudah jumpa Kevin yang masih terpekur menanti kabar. Kevin sudah tak sabar mau tahu kondisi Gina. Laki ini langsung bangkit begitu dokter mendekat. Semoga saja dokter bawa kabar bagus. Jay ikutan tegang takut terjadi sesuatu pada monster kesayangan mereka. Keduanya tampak kaku menanti sang dokter mendekat.
Dokter itu mengulurkan tangan menyalami Kevin. Kevin yang belum mengerti hanya bisa melongo belum paham mengapa dokter itu mendadak menyalaminya. Dari belakang Gani berjoget ria sambil menggoyang tangan di atas kepala. Berjoget tanpa lagu namun tetap sedap di mata karena gerakan Gani gemulai. Orang yang lewat tak bisa sembunyikan tawa oleh kelucuan Gani.
"Anda suami nona tadi?" tanya dokter ramah.
"Iya dok... bagaimana kondisi istri aku?"
"Istri anda hanya butuh istirahat sampai lahiran. Dia sedang hamil muda lebih kurang delapan Minggu. Selamat ya!"
Kevin terpaku tak percaya pada laporan sang dokter. Mengapa tidak terpikir olehnya Gina pingsan karena hamil. Yang ada hanya memaki Angela di dalam hati. Kevin sudah berdosa pada Angela karena menuduh wanita itu meracuni Gina. Padahal Angela tidak ada sangkut pautnya dengan pingsannya Gina.
"Aku menjadi papa?" Kevin bertanya lagi belum percaya 100% laporan dokter.
"Iya...istri bapak sebentar akan sadar dan bisa pulang. Kalau mau dirawat juga boleh tetapi itu tidak perlu. Lebih bagus bapak membawa ke dokter kandungan untuk memeriksa lebih akurat lagi."
"Gitu ya dok... terima kasih!" wajah Kevin yang muram kontan berona segar mendapat hadiah tak terhingga dari pesta Lucia.
Dokter itu hanya tertawa menepuk bahu Kevin ikut bahagia melihat ada orang bahagia. Dokter ini menduga Kalau Gina dan Kevin adalah pasangan muda yang baru saja mendapat anak pertama maka reaksinya sungguh luar biasa.
"Temui istrimu!" selesai berkata demikian dokter itu langsung meninggalkan Kevin untuk meneruskan tugasnya di ruang IGD.
Kevin tertawa lebar merentangkan tangan meminta kedua anak buahnya berlabuh ke pelukannya. Kevin ingin membagi kebahagiaannya kepada kedua anak buahnya itu. Jay dan Gani tidak ragu-ragu memeluk Kevin serentak untuk meluapkan kegembiraan menyambut anggota baru di antara mereka.
"Hehehe...kita akan segera mendapatkan monster cilik. Kira-kira mirip siapa ya?" Gani mulai berkhayal bakal anak Kevin dan Gina. Apa jiwanya akan setegar Gina mampu mendobrak semua rintangan di depan mata.
"Huuusss keponakan dibilang monster...tuan puteri maupun pangeran dong! Ayok kita lihat monster kalian! Harusnya aku sadar kalau Gina hamil. Sejak pergi ke pulau Sumatera dia mulai ngeluh tak enak badan. Mungkin dari situ dia mulai hamil. Aku hebat kan? Bakal jadi papa..." Kevin berubah riang tak henti ngoceh untuk luapkan rasa bahagia.
__ADS_1
"Hebat...aku lebih hebat. Jadi om juga Abang...Abang keren dan om ganteng." Gani tak mau kalah mempromosi diri sendiri yang bakal menyandang dua predikat sekaligus.