JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Jalan Buntu Subrata


__ADS_3

Gina benar-benar seperti malaikat kematian buat Subrata. Gina telah menemukan celah untuk mulai hantam Mahabarata sampai gepeng. Gina berjanji takkan kendor pada Subrata. Sudah saatnya Subrata turun tahta jadi rakyat jelata. Dia sudah cukup lama hidup di atas tumpukan emas permata.


"Terimakasih nak! Sekarang juga bapak akan lakukan penyelidikan. Bapak harap kamu hati-hati terhadap Subrata karena dia adalah senior di dunia bisnis. Badai apa belum dia lalui? Tidak gampang jatuhkan dia."


"Kalau dia mau main kekerasan saya siap pak! Saya tak peduli seberapa mahal harus kubayar untuk hancurkan dia. Subrata terlalu angkuh dengan hartanya maka kita harus kuras semuanya biar dia tahu bagaimana jadi orang tak punya apa-apa."


Pak Julio menggeleng tak tahu seberapa dalam rasa benci Gina pada bapak kandungnya. Kehidupan apa telah mereka jalani sampai Gina begitu dendam. Pak Julio ikut merasa bersalah telah membuat keponakan menjadi manusia tak punya rasa iba hati. Andai dia cepat menemukan Sarah mungkin cerita ini tak segawat gini.


"Gin...bapak harap setelah ini kau hapus semua dendam dalam hati. Kita orang beragama tak boleh terlalu lama mendendam pada orang. Kau berhak bela ibumu tapi jangan di jalan salah!"


"Gina tahu pak! Tuhan telah buka jalan buat Gina hukum manusia laknat itu. Dia memang menipu maka tindakan hukum menunggu dia."


Pak Julio benarkan tindakan Gina bila terbukti Subrata melanggar kontrak kerja. Gina berhak ambil tindakan sesuai hukum yang berlaku.


"Baiklah! Kita lihat bagaimana perkembangan kasus kamu. Gimana ibumu?"


"Alhamdulillah sehat. Ibu dan ayah akan segera berangkat ke Jerman sampai adik kami lahiran. Opa dan Oma yang kawal mereka ke sana."


Pak Julio bersedih harus berpisah lagi dengan kakak kandungnya. Tapi pak Julio tak bisa berbuat apa-apa karena Sarah telah menjadi isteri orang. Sebagai isteri shalihah Sarah wajib patuh pada suami.


Masih untung ada Gani dan Gina tinggal di sini sehingga pak Julio masih punya sanak keluarga di sini. Pak Julio menaruh harapan besar kepada Gina kendatipun sikap Gina sedikit ekstrim. Gina seperti hilang nilai kemanusiaan bila jumpa orang berhati busuk. Gina tak segan turun tangan kejam kepada orang yang suka mainkan kekuasaannya.


"Gina...bapak harap kamu bisa hidup damai tanpa libatkan masa lalu. Mungkin ini yang namanya takdir. Sekarang ibumu bahagia bersama Sabri. Sabri demikian sayang pada kalian semua. Mungkin dengan cara ini ibumu menemukan cinta sejati. Andai dia tetep bersama Subrata belum tentu merasakan betapa indah punya keluarga sakinah. Bapak tidak akan melarang kamu melakukan tindakan kebenaran dengan menghukum orang yang berbuat salah tapi jangan melibatkan urusan pribadi di dalam bisnis. Kau takkan bisa bertahan di dunia bisnis bila campur adu semua da


am satu keranjang."


Gina tak berani langsung angguk. Jauh dalam lubuk hati masih tak bisa angkat dendam pada Subrata. Mana ada suami tega ceraikan isteri dalam kondisi hamil tanpa beri sepeser uang. Pembantu di rumah saja akan dapat pesangon bila dipecat. Tapi Subrata telah lakukan satu kesalahan besar yang harus dia bayar mahal seumur hidup.


"Bapak tak tahu kalau ibu diusir dari dari rumah tanpa satu sen pun dari Subrata. Dia usir ibu tak ubah usir seekor anjing dari rumahnya. Muak piara binatang itu boleh dibuang sesuka hati. Bukankah ini sikap seorang setan?"


Pak Julio terpancing juga dengar penjelasan Gina mengapa dia begitu dendam pada Subrata. Perbuatan Subrata memang tak layak tega melakukan hal demikian buruk pada mantan isteri. Paling tidak beri sedikit harta agar Sarah punya pegangan. Namun Subrata lupa tugas sebagai seorang suami terhadap isteri maupun mantan. Wajar kalau Gina dendam sampai ke tulang sumsum.


"Subrata memang salah. Tuhan akan hukum dia atas semua yang dia lakukan pada kalian. Sekarang telah terbuka jalan buatnya menuju kehancuran. Bapak janji akan mengusut semua yang terjadi di dalam perusahaan ini. Bapak tidak akan tinggal dia membiarkan dia semena-mena merajalela." janji pak Julio pada keponakan yang penuh dengan dendam membara pada Subrata.


"Terima kasih pak! Gina permisi dulu karena masih ada tugas di kantor pak Kevin. Hubungi Gina bila ada yang tak paham soal kecurangan Subrata." Gina bangkit dari kursi hendak pamitan.


Pak Julio ikutan bangkit mengantar keponakan luar biasa ini. Gina menciumi tangan pak Julio sebelum berpisah. Setelahnya Gina pergi tanpa omong apa lagi. Pak Julio hanya menatap kepergian Gina dengan hati gundah. Sampai kapan anak ini akan melepaskan dendam yang telah lama tersimpan dalam dada. Kasihan Gina harus hidup di dalam layanan dendam.


Sebenarnya Pak Julio tidak bisa menyalahkan Gina sepenuhnya ingin membalas dendam kepada Subrata. Perbuatan Subrata memang sudah di luar nilai kemanusiaan. Mengusir seorang istri yang sedang hamil tanpa memberi sedikit harta untuk menyambung hidup. Itu kesalahan Subrata yang tak bisa di maafkan. Pak Julio berjanji akan memberi pelajaran kepada Subrata sesuai dengan kesalahan yang telah dia perbuat. Pak Julio akan menekan Subrata untuk segera membayar semua hutang yang telah ditanam di dalam perusahaan Pak Julio.

__ADS_1


Pagi ini Gina minta izin kepada Kevin untuk berangkat kerja ke perusahaan opa karena ada janji dengan Subrata untuk bertemu. Mungkin Subrata belum tahu kalau dia akan jumpa malaikat maut pagi ini. Gina hanya beritahu pada Dinda minta Subrata datang ke kantor untuk penuhi panggilan mengenai sisa hutang yang telah mengendap selama dua tahun. Gina beri syok terapi pada jantung laki itu biar tahu berapa kuat anak yang dia campakkan dulu.


Pagi ini Gina kenakan setelan pakaian warna hitam padat tanpa ada hiasan warna lain. Pakaian sedikit ketat itu mencetak betapa kokoh tubuh sehat Gina tanpa lemak lebih. Gina tampak cantik serta penuh kharisma seorang pemimpin sejati. Pagi ini Gina datang gunakan motor matic tanpa mengubah kebiasaan nyaman berkendaraan bebas macet.


Denada yang sudah tahu kalau gadis muda yang dia temui sewaktu datang pertama kali telah menjadi pemilik perusahaan. Rasa hormat harus ekstra menurut posisi Gina yang sekarang setinggi langit.


Denada langsung beri seulas senyum manis menyambut bos baru mereka. Gina membalas senyum anak buahnya itu tanpa peduli itu tulus atau hanya penghias bibir biar tampak manis.


"Selamat pagi Bu Gina!" sapa Denada ramah.


"Pagi...yang semangat ya!"


"Iya Bu..."


Gina tanpa pengawalan langsung berjalan sendirian ke arah lift yang khusus untuk pemimpin. Beberapa pegawai yang menanti lift lain mengangguk sopan kepada Gina. Sadar mereka telah punya pemimpin baru nan muda membuat semua sedikit semangat berharap ada perubahan pada cara kerja di perusahaan yang berkesan di dominasi oleh sekelompok orang berkuku.


"Selamat pagi Bu..." sapaan barengan berbunyi menyambut kehadiran Gina di sekitar lift.


"Pagi..yang semangat ya!" sahut Gina ramah tak mau beri kesan arogan sebagai pemimpin baru.


"Baik Bu.."


Lift milik Gina duluan turun berbunyi Ting. Pintu terbuka secara otomatis meminta Gina masuk ke dalam. Di dalam tak ada siapapun tak menyurutkan niat Gina untuk masuk. Dengan langkah pasti gadis ini meninggalkan para pegawai menunggu giliran diangkut ke lantai masing-masing.


"Bos cantik..." puji salah satu wanita sambil senyam-senyum.


"Katanya cucu dari pak Mul. Heran mengapa selama ini cucunya tak pernah muncul. Sekarang baru muncul bikin kejutan." kata yang pria masih menatap lift yang ditumpangi Gina menuju ke atas.


"Mungkin sedang belajar di luar negeri. Sudah selesai ya pulang lanjutkan bisnis keluarga. Semoga saja bawa angin segar. Sapu bersih mereka yang hanya andalkan koneksi." ujar gadis lain sinis ntah pada siapa. Yang merasa kena sindir hanya bisa berdiam diri menunggu kelanjutan nasib mereka bila ketahuan bekerja andalkan orang dalam.


Sesampai di atas Gina disambut oleh Dinda yang tampak lebih segar dari sebelumnya. Dinda mana mau kalah pamor dari bos muda yang memang sudah sangat cantik. Harum minyak wangi Dinda menyegarkan seluruh ruangan membuat Gina berpikir berapa CC minyak wangi ditumpahkan ke pakaian Dinda. Harum sih cuma berlebihan.


"Selamat pagi Bu Gina!"


Sebenarnya Gina sangat tidak nyaman dipanggil ibu dari tadi kan. Orang yang memanggilnya rata-rata berusia di atas nya. Namun berhubung posisinya di atas mereka maka Gina biarkan saja mereka memanggil apa saja asal bersikap sopan. Apa artinya hanya satu panggilan bila tidak dibarengi dengan keikhlasan. Bisa saja di mulut memanggil ibu sedangkan di dalam hati memanggilnya kuntilanak. Sayang Gina tak sempat berpikir sejauh itu.


"Pagi...kalau ada tamu segera beritahu aku!"


"Ya Bu...apa perlu kopi atau teh?"

__ADS_1


"Mungkin segelas teh saja. Sedikit gula saja."


"Ya Bu..."


Gina lanjut ayun langkah masuk ke dalam ruangan kerja. Ruang itu tetap membisu menyambut kehadiran pimpinan baru. Dalam ruangan adem ayem berkat mesin pendingin udara. Ada bebauan aroma teh segar menyegarkan otak.


Gina mengelus pinggiran meja kerja bekas opanya dengan hati galau. Gina sendiri sangsi apa dia bisa memimpin perusahaan sebesar ini tanpa bantuan orang lain. Masih untung dia punya Kevin dan Pak Julio siap back up dia kalau ada yang tak ngerti.


Gina harus pelajari semua tentang perusahaan ini agar paham apa yang menjadi andalan perusahaan ini. Siapa pemegang saham mayoritas serta siapa yang jadi investor. Gina harus paham semua itu. Terpenting Gina harus tahu dengan siapa dia bekerjasama.


Gina menempatkan pantat di kursi mahal yang sekarang jadi miliknya. Kalau bisa Gina tak mau duduk di situ. Cukup setelah hukum Subrata dia keluar dari perusahaan lanjut sebagai Gina si anak montir. Kehidupan santai yang dia idamkan selamanya. Tanpa perlu pura-pura menjadi orang lain. Hidup apa adanya.


Lama Gina melamun barulah buka file yang sudah bertumpuk di meja kerjanya. Mungkin pagi ini Gina sudah harus mulai peras otak mengawali karir di perusahaan ini. Mata Gina mulai jelajahi semua tulisan di atas lembaran kertas putih tertera catatan penting perusahaan.


Gina curahkan semua perhatian pelajari semua yang tertera di situ. Gina langsung tenggelamkan diri dalam tugas dari opa itu. Banyak sekali yang tak dipahami Gina karena dasar pendidikan dia sangat jauh beda dengan seluk beluk perusahaan ini. Namun Gina takkan menyerah mengingat betapa opa dan Oma berharap padanya membangun perusahaan ini agar lebih maju. Gina akan berbuat semaksimal mungkin untuk membanggakan ibu dan ayahnya punya anak seperti dianya.


Hampir satu jam Gina fokus pada semua data dari Dinda. Gina pelajari dengan super hati-hati agar tak gagal paham. Ini bukan permainan anak kecil yang bisa diutak-atik sesuka hati. Gina mesti paham betul baru bisa melangkah lebih dalam ke tubuh perusahaan.


Pintu ruang kerja Gina diketok dari luar membuat suara gedoran kecil sopan. Gina angkat kepala melihat ke pintu siapa yang ganggu konsentrasi kerja dia. Tak ada tampak bayangan siapapun karena ruang kerja pak Mul bukan terbuat dari sekat kaca yang bisa melihat keluar.


"Masuk!" kata Gina singkat.


Perlahan pintu terbuka menyembulkan tubuh Dinda dari luar. Setengah badan wanita itu masih di luar ruangan Gina tanda ingin tentukan izin dari Gina baru berani masuk.


"Bu...ada pak Subrata!"


Tak urung hati Gina tercekat dengar musuh bebuyutan dia telah datang. Moments yang dinanti Gina telah tiba. Saatnya pencet Subrata sampai gepeng. Gina mengisi paru-parunya dengan gelombang udara agar punya sekuat kekuatan lawan manusia tirani itu. Gina berusaha tidak gugup biar Subrata tak bisa menekan dia tahu dia orang baru dalam dunia dagang lebih keren disebut dunia bisnis.


"Suruh masuk!" ujar Gina setelah sukses mengatur pernafasan. Gina tegakkan tubuh tubuh lebih gagah supaya tampak lebih wibawa.


Dinda membuka pintu lebar-lebar memberi jalan kepada Subrata untuk masuk ke dalam. Ternyata Subrata tidak datang sendirian melainkan bersama ular berbisa yang melingkar di tubuh Subrata setiap saat. Gina melontarkan pandangan jijik ke arah Angela alias Poniyem.


Subrata tertegun melihat siapa yang duduk dengan angkuh di kursi pak Mul. Bukan pak Mul seperti bayangan dia melainkan orang yang selalu cari masalah dengannya.


Angela juga tak kalah kaget menemukan rival putrinya berada di tempat sehebat ini. Mereka tentu bertanya mengapa Gina bisa duduk di bangku Komisaris perusahaan.


"Silahkan pak!" Dinda cairkan kekakuan persilahkan Subrata dan isterinya duduk di kursi yang sudah tersedia.


Dengan sedikit keraguan Subrata dan Angela duduk karena memang tak ada yang bisa mereka lakukan selain patuh pada undangan Dinda. Mata Subrata masih menatap Gina lekat-lekat seperti mau tembus isi hati gadis itu.

__ADS_1


Dinda keluar tinggalkan Subrata pada Gina untuk tindak lanjuti panggilan dari perusahaan. Subrata wajib penuhi panggilan bila tak mau melawan hukum. Cuma sayang tak pernah terlintas di benak Subrata akan berhadapan dengan Gina. Dia pikir akan jumpa pak Mul maupun Hartono. Dia akan berbelit seperti biasa untuk tarik ukur bayar hutang.


__ADS_2