JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Terbongkar


__ADS_3

Gani dibuat bingung oleh Kevin. Kasih tahu keberadaan Gina sama saja bongkar siapa adanya gadis itu. Dosa Gani akan tercatat dalam catatan harian Kevin. Dipecat tanpa pesangon sedang mengintai dirinya.


"Gini pak! Coba aku bujuk dia. Beri aku waktu beberapa hari." Gani cuma bisa beri jawaban tak pasti untuk menyenangkan Kevin. Gani sendiri tak tahu selanjutnya gimana beri jawaban.


Sudah dipastikan Gina tak mau terlibat dalam urusan kantor. Kalau dia mau kerja di kantor mungkin sejak tahun lalu dia sudah masuk dunia perkantoran. Anak itu malah pilih jalan paling santai freelance.


"Ok..aku harap kau berhasil! Aku akan tempatkan dia jadi asisten."


Gani melongo. Kalau Gina jadi asisten lalu dia jadi apa? Apa dia akan dicampakkan sebagai karyawan umum bersama pegawai lain. Paling tragis jadi resepsionis di lantai dasar. Gani tak bisa bayangkan dipindahkan jauh dari pemandangan indah Kevin.


"Aku gimana pak?" tanya Gani spontan.


"Kau akan kuangkat jadi manager bagian logistik. Kau akan punya ruang kantor sendiri dan beberapa orang anak buah."


"Manager?" Gani tak percaya akan naik pangkat secepat itu. Dari asisten langsung lonjak ke manager. Mimpi apa dia semalam dapat kedudukan penting. Baru liburan sudah dapat tawaran menggiurkan. Berkah dari Tuhan. Namun tantangannya adalah delikan mematikan dari Gina. Dikerling saja bulu kuduk Gani sudah meloncat siaga.


"Gimana? Kau suka kan? Itu kalau kau sukses bawa Gino ke sini. Cari kelemahan dia, paksa dia teken kontrak kerja. Jika perlu main curang dikit."


"Main curang pak?" Gani meraba lehernya yakinkan diri kepalanya tidak akan dipindahkan dari leher. Jangan harap mau kadali Gina! Belum dikadali Gina sudah syukur.


"Kenapa? Takut padanya?"


"Iya pak. Dia itu pemegang sabuk hitam. Sekali dia banting aku jadi kerupuk gepeng."


"Apa dia demikian mengerikan?"


"Banget..." Gani merinding sendiri bayangkan dirinya kena tangan Gina. Tidak remuk pasti lumayan ringsek.


"Pandai-pandailah kamu! Aku tunggu kabar darimu. Secepatnya ya!" Kevin bikin tanda agar Gani keluar dari ruang kerjanya.


"Iya pak!" sahut Gani dengan setengah hati. Ini tugas sangat mematikan. Taruhannya adalah nyawa dia. Gani akan pilih lembur setahun ketimbang bujuk Gina masuk kantor.


Gani menyeret langkah tanpa semangat. Moodnya yang tadi menyala kini padam total. Otaknya harus berputar pikir cara agar Gina mau masuk ke kantor Kevin. Pertanyaannya apa Gina tetap harus jadi cowok atau boleh tampilkan hati diri sebagai cewek sejuta pesona.


Gani galau habis pikirkan tugas dari Kevin. Gara-gara Korea hidupnya jadi terancam. Coba dia tak ke Korea maka Kevin takkan kenal Gina. Tugas deadline juga takkan pernah ada.


Gani nangis darah juga tak ada guna. Kegembiraan harus dibayar sangar mahal. Taruhannya pekerjaan juga kepala bonyok.


Kita tinggalkan Gani yang lagi galau. Kita pergi lihat Gina yang sudah kembali bertugas di bengkel om Sabri. Tugas pertama Gina adalah menderek mobil Pak Julio yang akan diperbaiki di bengkel. Gina mengajak dua orang kawan untuk melaksanakan tugas ini. Gina sendirian tak mungkin melaksanakan pekerjaan yang cukup sulit ini.


Mobil Pak Julio sudah koma cukup lama maka butuh penanganan lebih akurat. Sewaktu Gina pergi menjemput mobil Pak Julio kebetulan Pak Julio tidak ada di tempat maka Gina minta ijin pada isteri pak Julio untuk membawa mobil Pak Julio.


Berkat kerjasama yang baik akhirnya mobil Pak Julio bisa dibawa ke bengkel Om Sabri. Di sana Gina akan lebih fokus mencari di mana penyebab mobil ini tidak mau bernafas dengan baik. Dan lagi ada Om Sabri yang siap memberi pengarahan bila ada yang tidak diketahui oleh Gina.


Seharian Gina berkutat dengan mobil Pak Julio. Banyak sekali kendala mobil itu. Gigi persneling pada copot, di dalam mesin juga ada kendala. Yang bagus cuma bagian gardan. Gina butuh waktu panjang untuk operasi setiap isi dalam mobil itu. Cuma sayang Gina masih banyak tugas lain harus dia selesaikan. Dia masih harus ngajar les dan beri latihan karateka muda yang berguru padanya. Belum lagi bantu ibunya di warung. Gina tak tahu yang mana jadi prioritas utama. Semua sama penting.


Gina bersyukur tak perlu ke kantor jadi dia tak perlu dengar berita tentang Lucia. Anak itu mau tewas pun bukan urusannya. Yang penting dia telah buka aib keluarga kaya itu. Hati Gina puas sekali bisa bikin nama baik Subrata hancur lebur.


Sedang asyik Gina sembunyi di kolong mobil terdengar panggilan om Sabri yang lantang. Suara Om Sabri memang tak ada lawan, kasar visualkan suara lelaki jantan. Sayang nyalinya tidak jantan. Didukung lamar Bu Sarah saja takut. Mau dia temani Bu Sarah tanpa kepastian selama dua puluh tahun lebih. Cinta Om Sabri pada ibunya Gina tak ada dua di dunia ini. Cinta tulus paling murni di jagat raya.


Gina keluar dari kolong mobil seperti kura-kura kena pancingan. Kepala duluan nongol barulah tubuh menyusul.

__ADS_1


Om Sabri berdiri di samping Gina yang masih berbaring di lantai beralas kotak tebal. Gina tidak segera bangkit menunggu apa yang akan dikatakan lelaki itu.


"Ada panggilan kerja! Ada mobil mogok di tengah jalan. Orangnya terburu-buru mau rapat. Kau bawa mobil untuk pinjamkan ke orang itu. Bawa alat lengkap ya!"


"Aduh om! Kan ada kang Asep! Tanggung nih!"


"Kang Asep lagi buru mobil nona Lidya. Kuping Kang Asep nyaris tuli diomelin nona itu. Buruan...pakai mobil terbaik kita! Dia itu orang kaya lho!"


Gina mendelik kecil barulah keluarkan seluruh badan dari kolong mobil. Gina cuci tangan sebelum pergi tunaikan panggilan tugas. Mobil terbaik om Sabri tetaplah satu mobil harga standar. Pasti jauh kelas dari mobil orang kaya.


Orang kaya bisa beli mobil tapi tak bisa ngurus. Rusak dikit panggil montir. Orang model gitu yang bikin kantong Om Sabri makin tebal.


Gina persiapkan semua peralatan untuk berangkat ke alamat diberikan oleh Om Sabri. Gina sudah sering jumpa kasus mobil mogok di jalan. Kebanyakan orang kaya ataupun cewek manja tak ngerti mesin.


Gina pikir semua orang seperti dia multi talenta. Tuhan sudah beri kelebihan hendaknya disyukuri. Tak semua orang dapat berkah seperti itu.


Gina tiba di tempat yang disebut. Mata Gina tertuju pada sebuah mobil warna putih bersih yang harganya bisa beli dua ruko impian Bu Sarah. Bagi mereka yang kaya gampang saja belanjakan uang untuk hal tak penting. Contoh seperti pak Julio, puluhan mobil mahal berderetan di garasi namun belum puas juga. Itu akibat uang berlimpah.


Gina tak butuh rasa iri pada kekayaan orang lain. Dia sudah ada rezekinya. Rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan maka tak usah bangun sifat dengki.


Gina hentikan mobil cari pemilik mobil putih itu. Gina turun dari mobil hampiri mobil bermasalah itu. Mobil baru sudah rusak, yang nyetir pasti manusia badak.


Sinar ultraviolet matahari cukup mengganggu kulit Gina. Masih untung ada topi lindungi wajah jangan sempat jadi santapan sinar yang akan mengukir flek hitam di muka.


Gina mengintip penghuni mobil lewat kaca jendela yang tertutup rapat. Nampaknya pemilik mobil sembunyi dalam mobil hindari paparan sinar matahari.


Gina mengetuk pintu agar pemilik mobil keluar. Siapa di dalam hanya orang Cemen buat Gina.


Orang itu juga tak kalah kaget lihat siapa montir yang akan tangani mobilnya. Dari pintu sebelah lagi muncul sosok lain tak kalah bingung jumpa Gina di suasana begini.


"Gino?" seru Peter surprise lihat Gina berpakaian montir kusam. Tapi ceritanya tak seperti dibayangkan. Gino yang ini ada ekor kuda di kepala ditutupi oleh topi pet.


Gina meringis hendak pergi. Kevin tak mau kecolongan segera tangkap tangan gadis ini sebelum sempat kabur. Peter ikutan tahan Gina agar jangan tinggalkan mereka.


"Kau Gino?" tanya Kevin tak percaya orang di depannya adalah Gino. Yang di depan mereka jelas-jelas seorang anak gadis dengan rambut ekor kuda walau tertutup topi pet.


"Kalian salah lihat orang! Kami orang miskin wajahnya pasaran. Seribu dapat lima." Gina putar-putar kepala kiri kanan agar kedua lelaki dewasa itu tak bisa lihat wajahnya lebih jelas.


Peter tertawa terbahak-bahak karena yakin ini adalah Gino. Hanya Gino suka membantah omongan Kevin. Dari awal Peter menaruh curiga Gino itu cewek. Seluruh bentuk tubuh Gina wakili sosok cewek. Kini dugaan Peter terbukti.


"Baiklah kamu bukan Gino lalu siapa namamu?" tanya Peter coba tenangkan Gina yang gelisah. Gina masih lugu tak tahu .akin gelisah dia makin tunjukkan jati dirinya.


"Aku? Upik.."


"Pakai Abu?? Cinderella dong!" olok Peter makin gembira lihat rona merah menjalar di pipi Gina. Gadis itu tak berkutik berada dalam genggaman Kevin.


Kevin sungguh tak tahu diri masih cekal tangan Gina tak mau lepaskan. Kevin masih terpesona oleh Gina. Betapa bodoh dia kena tipu oleh sandiwara kedua anak muda. Gani tak mungkin tak tahu Gina itu cewek.


"Pak...aku mau kerja! Silahkan pergi dengan mobil bengkel! Mobil bapak akan kami antar ke kantor bapak."


Kevin tak peduli omongan Gina. Dia harus yakinkan diri bahwa orang di depannya adalah Gino yang dia cari.

__ADS_1


"Kamu Gino bukan?"


"Bukan... apa Gino ada buah dada?" Gina busungkan dada pamer bukit kembar yang cukup menonjol. Kevin menelan air ludah tak sengaja melirik bukit Gina yang memang beda dengan punyaan Gino. Punyaan Gino memang rata kayak landasan pacu pesawat. Yang ini lumayan menggoda.


Peter merasa Gina adalah anak gadis paling berani. Tak kenal kata malu pamer keindahan ciptaan Tuhan walaupun terlindungi pakaian cukup tebal. Tetap saja menantang lelaki.


Kevin segera lepaskan tangan Gina meragukan perkataan anak itu. Kevin jadi bingung pada status Gina. Apa hanya kebetulan mirip atau memang dia. Apa di dunia ini ada dua orang mempunyai wajah serupa?


Gina mulai bangkit semangat juang setelah bisa kuasai diri. Dia harus tenang baru bisa kelabui kedua lelaki itu.


Gina serahkan kunci mobil om Sabri agar keduanya segera tinggalkan lokasi supaya dia bisa mulai kerja. Peter yang ambil kunci dari tangan Gina tanpa pindah mata dari wajah gadis itu. Peter merasa dia belum rabun untuk kenali Gina dan Gino. Orangnya sama walau beda tampilan.


Peter dan Kevin memang harus kejar waktu ikut rapat di kantor Pak Julio. Sepertinya mereka akan dapat tender dari pak Julio. Tender sangat penting buat Peter untuk buktikan dia mampu.


"Kami akan meeting dengan pak Julio." Kevin coba pancing Gina lihat gimana reaksi gadis itu.


"Kalian menang tender itu?" tanya Gina lupa kalau dia bukan Gino.


Kevin tak jawab hanya tersenyum simpul. Betapa mudah jebak anak kemarin masuk perangkap. Dipancing sedikit kontan buka siapa diri sendiri. Kevin melangkah pergi dengan hati lega. Dia telah temukan jawaban siapa montir manis ini.


Gina memukul kepala keceplosan jawab kalimat Kevin. Menjawab sama saja kasih tahu Kevin dia tahu soal tender proyek pak Julio. Apa ada montir mendadak ngerti tender?


Peter tak henti ketawa setelah masuk dalam mobil Om Sabri. Hari ini sungguh luar biasa jumpa Gino versi lain.


"Kau tak merasa sesak?" tanya Peter setelah mereka tinggalkan Gina sendirian perbaiki mobil Peter.


"Kenapa harus sesak? Anak itu harus kita kasih pelajaran. Beraninya dia bohongi kita. Untung kau dapat alamat tempat dia bekerja."


"Dia itu girl lho! Bukan boy." Peter ingatkan Kevin kalau dia tidak bereaksi pada Gina.


Kevin tersentak baru sadar kalau dia sangat dekat dengan Gina tapi tidak mual dan muntah. Tak ada keringat dingin dan rasa gatal. Padahal Gina jelas-jelas anak gadis. Apa mungkin dia telah sembuh?


Kevin memeriksa tangannya yang bersentuhan dengan Gina lihat apa ada bintik merah. Tak ada perubahan apapun.


"Aku sembuh?"


"Bisa jadi. Nanti kau coba test sentuh cewek lain apa hasilnya sama dengan sentuh Gino."


"Kau benar...aku harus coba! Oya..kau cari info tentang Upik abu tadi."


"Ok...cukup tekan Gani saja semua akan jelas!"


"Jangan! Kau mulai dari bengkel tempat kerja dia. Nama dan tempat tinggal."


"Baiklah. Sekarang kita fokus pada pak Julio dulu."


Kevin mengangguk. Kevin sangat surprise tubuhnya bisa terima Gina. Tak ada gejala alergi pada Gina. Apa mungkin Kevin sudah familiar dengan bau badan Gino sehingga Gina dianggap Gino.


Kevin harus kaji lebih jauh tentang kehadiran Gina. Apa mungkin dia bisa diobati melalui Gina? Kevin sangat berharap hidup normal seperti lelaki lain. Bisa pacaran dan mencium wanitanya layak orang pacaran. Kevin merindukan hari itu datang.


Kasus penyakitnya mulai terbuka sedikit. Semoga nanti akan terbuka lebar ijinkan Kevin interaksi dengan banyak wanita. Kevin akan mulai dari Gina.

__ADS_1


Mobil Om Sabri melaju mencapai kantor Pak Julio. Harapan besar bercokol di hati kedua lelaki ini. Apalagi kalau bukan proyek tol pak Julio.


__ADS_2