
Sekarang Peter baru menyadari telah terlibat dalam permainan orang-orang tak punya akal. Harusnya Peter menyadari kalau dia telah berdiri di tempat yang salah. Bujukan dan rayuan Luna telah membutakan hati Peter sehingga tega mengorbankan Kevin yang baik padanya. Sayang kesadaran yang baru datang sangat terlambat karena Peter sudah terlanjur basah. Kini Peter hanya bisa bertaruh melawan nasib yang belum tentu gimana kelanjutannya.
"Terserah kalian saja. Untuk hal ini aku tak mau terlibat karena hukuman penjara akan menanti. Kau tahu akibat serobot harta orang lain? Kalau ada yang lapor maka tamatlah kalian."
Peter mendengar dengusan Luna menganggap remeh Papa Kevin. Luna dan Mince terlalu yakin mampu menangani Papa Kevin yang sekarang tak tahu rimbanya.
"Si tua bangka itu saja tak tahu di mana. Siapa yang akan lapor kami? Di mana sih semangat culas kamu? Asal kamu tahu ya Peter. Anak kita butuh biaya besar untuk lanjut sekolah. Dia itu sekolah di luar negeri butuh uang tak sedikit. Dan lagi setelah semua selesai aku kan pergi jenguk anak kita dulu baru ikut kamu ke Bali."
Peter pesimis bisa kembali ke Bali. Andai Gina kirim auditor kemungkinan besar dia akan dipecat. Tak ada jalan lain selain dekati Gina kalau mau cari aman. Persetan dengan Luna dan Mince. Lindungi diri sendiri lebih penting ketimbang mengingat kehebatan Luna layani dia di ranjang.
"Kalian cari dulu papa Kevin baru buat rencana baru.Kalian hati-hati. Kevin bukan orang bodoh mudah kalian kelabui. Tutup dulu. Aku lagi pusing."
"Tunggu dulu...aku minta uang. Aku mau ke salon untuk refreshing."
"Bukankah baru kemarin transfer sepuluh juta? Masa sehari sudah habis?" keluh Peter mulai merasa jadi sapi perah Luna. Apa hanya karena punya anak dengan wanita ini dia harus kuras kantong sampai bolong?
"Sepuluh juta bisa beli apa? Sandal aku saja lima juta, belum lagi kemarin beli paketan kosmetik. Aku malah pakai uang pribadi untuk membeli keperluan dapur. Di mana tanggung jawab kamu sebagai seorang lelaki?" nada suara Luna meninggi menghujam ke jantung Peter.
"Luna... aku hanya bertanggung jawab kepada anak kita bukan mengizinkanku kamu berfoya-foya dengan uang aku. Aku tak punya uang lagi. Adikku mau pesta butuh biaya besar jadi semua uang sudah kuserahkan kepada ibu aku."
"Kau gila ya? Adikmu pesta kenapa kamu yang sibuk?" bentak Luna memancing ikan di air keruh. Kepala Peter yang sedang sakit makin berdenyut-denyut memikirkan akibat dari kebodohan dia. Kenapa dia bisa sampai terlibat dengan perempuan yang tak punya otak seperti Luna. Isi kepalanya hanya ada uang dan berfoya-foya.
"Kau tahu aku sudah tak punya ayah maka adik aku adalah tanggung jawab aku. Kamu yang gila...gila uang." Peter menutup ponsel tanpa beri kesempatan pada Luna untuk protes. Makin bicara makin sakit tengkorak Peter.
Saat ini Peter tak bisa menjauhi Luna karena memiliki seorang anak dengan perempuan itu. Peter menjambak rambut menyesal telah terlibat dalam kehidupan perempuan yang serba kacau ini. Andai dia tidak punya anak dengan Luna maka dengan gampang dia campakkan parasit tersebut. Peter tak bisa ingkari kalau anak Luna adalah anaknya. Mereka berhubungan setelah Luna menjanda maka lahirlah anak perempuan cantik.
Makin dipikir kepala Peter akan meledak. Untuk sesaat Peter harus pikir cara cari muka di depan Gina. Syukur kalau bisa saingi Kevin merebut perhatian Gina. Sayang Peter tak pernah terpikir kalau Gina adalah milik Kevin. Sah dunia akhirat. Peter masih dipengaruhi oleh ilusi akan berdiri di samping Gina berdiri di puncak tangga dengan tumpukan dolar. Sekarang tugasnya adalah berdoa semoga Gina cepat pulih agar mencari muka di depan Gina. Jika perlu lancarkan aksi keji fitnah Kevin agar muluskan jalan menuju ke Gina. Ini adalah jalan orang-orang berhati sempit. Sesempit lahan kuburan dia kelak.
Kevin harus mengatur tempat tinggal untuk papanya setelah keluar dari rumah sakit. Mince dan Luna tak boleh menemui Papanya sebelum ada laporan penganiayaan terhadap papanya. Kevin sudah siapkan semua berkas untuk gugat Mince agar tinggal serumah dengan kecoa dan tikus di hotel prodeo. Wanita itu tak perlu sibuk pikir gimana cari makan lagi karena semua gratis.
Kevin memanggil Jay untuk minta laki itu segera siapkan satu rumah untuk papanya. Makin terpencil makin bagus biar Mince tak terpikir kalau papanya berada di tempat yang jauh dari dugaan dia.
Jay siap dipanggil untuk laksana semua perintah Kevin asal tidak menyimpang dari hukum. Jay dkk sudah kapok berhadapan dengan hukum sewaktu jadi preman. Memang bukan hukuman berat namun tetap saja tak enak tinggal di tempat dingin tanpa lihat matahari terbit.
Jay berdiri dengan sopan di depan Kevin menunggu perintah dari sang majikan. Sebenarnya Jay kasihan pada Kevin yang hidupnya selalu dipenuhi awan kelabu. Ternyata tak selamanya jadi orang kaya itu enak. Ada masanya lalui kerikil-kerikil tajam menusuk kulit kaki. Jalan yang dilalui Kevin penuh kerikil tajam sampai muncul sandal kuat melindungi Kevin dari ketajaman cobaan.
"Jay...papa aku akan keluar dari rumah sakit. Dia tak boleh tinggal di rumahku. Pasti akan ada orang incar dia. Kau cari tempat aman untuk dia." Kevin to the point utarakan niat hati ungsikan papanya sementara waktu.
__ADS_1
"Pak...papa anda butuh perawat. Siapa yang akan rawat dia selama masih kurang sehat. Tak mungkin kita biarkan dia tinggal sendirian."
Perkataan Jay mengandung kebenaran. Papanya masih bekum fit seratus persen. Siapa yang akan urus dia makan dan yang lain. Kevin yakin papanya tak bisa apa-apa karena terbiasa hidup gelimang harta. Sekali jatuh semua hancur berantakan.
"Kita cari suster rawat dia?"
Jay ikut membantu Kevin cari solusi di mana akan tempatkan papa Kevin. Bukan hal gampang bilang cari rumah langsung dapat yang sesuai dengan keinginan.
"Aku punya solusi. Bukankah rumah monster kosong? Kita tempatkan beliau di sana. Nanti ibu dan adikku yang akan rawat beliau. Ibuku akan antar nasi dan cuci baju beliau. Adikku yang akan tidur dengan dia untuk berjaga-jaga." ujar Jay semangat telah pecahkan masalah Kevin.
"Apa boleh gitu? Nanti malah merepotkan ibumu."
"Repot apa? Bapak sudah kasih aku kerja ibu sudah sangat bersyukur. Kalau nanti ada lowongan biarlah adikku juga kerja di sini. Cuma adik itu tamatan SMK. Bukan sarjana."
"Kita lihat nanti. Tidak bisa kerja di sini masih ada tempat monster kalian. Jaga gudang dia juga bisa. Jaga gudang kan tak perlu ijazah sarjana. Monster kalian sekarang sudah jadi monster tajir. Aku yakin dia takkan biarkan kalian hidup terlunta-lunta. Cuma sekarang dia memang sedang banyak masalah. Maklumi kondisinya ya!"
Jay mana berani menyalahkan Gina. Dia punya mata lihat betapa Gina sedang perjuangkan perusahaan yang sedang goyah. Mungkin belum terpikir di pikiran Gina ajak teman bekerja secara halal. Namun sudah ada sebagian telah pakai dasi seperti Hadi, dia dan Naruto. Suatu saat Gina pasti akan buka lowongan buat mereka yang belum dapat kerja.
"Aku kenal Gina dari kecil. Gina itu setia kawan walau galak. Dia galak juga karena kami suka berontak. Ujung-ujungnya Gina juga yang tampil ke depan selesaikan masalah kami. Dia bagai ibu buat kami. Kapan papa bapak pulang?"
"Baik pak. Aku akan cerita pada Gani. Nanti kusuruh ibu bersihkan rumah Gani biar bebas dari debu."
"Pergilah! Aku akan kunjungi Gina mungkin tak balik sini lagi. Kau selesaikan semua dan langsung pulang ke rumah ya."
"Siap pak!" Jay balik badan tinggalkan ruang Kevin. Dalam hati Jay iba pada Kevin. Laki tak gampang berjuang sendiri. Di saat begini lah dia butuh teman setia. Jay akan dampingi Kevin dalam suka dan duka karena laki itu tak pandang rendah mereka mantan preman. Dengan lapang hati Kevin angkat mereka dari lembah hitam. Saatnya Jay dkk tampilkan ketulusan bela Kevin dan Gina.
Kevin berberes untuk ke rumah sakit jumpa wanita penghias mimpi. Kevin tak bisa berpaling dari Gina walau nanti ada sejuta wanita cantik berbaris minta masuk dalam barisan wanita Kevin. Tak ada yang bisa goncang hatinya dari pesona Gina.
Kevin mengendarai mobil sendirian tanpa ditemani siapapun. Kevin tak sadar kalau ada sepasang mata mengintai ke mana Kevin akan pergi. Orang itu penasaran ke mana Kevin melangkah. Mau ikuti Kevin takut ketahuan. Cerita akan makin panjang bila Kevin mengetahui niat jahatnya. Peter cuma bisa mengurut dada tenangkan diri sendiri. Ke depankan kata sabar untuk capai hasil maksimal.
Gina begitu bahagia melihat siapa yang datang menjenguknya. Lelaki ganteng yang telah merajai butiran mata Gina. Tak ada bayangan cowok lain terbayang di butiran bening jendela hati manusia.
Kevin masuk tanpa mengetuk pintu karena tahu di dalam pasti hanya ada Gina dan pembantunya. Kevin memberi seulas senyum manis untuk menambah kegantengannya. Harapannya adalah membuat Gina makin tergila-gila kepadanya. Dengan demikian dia tidak perlu kuatir kalau kita akan berpaling kepada lelaki lain.
Mai yang melihat kevin datang tahu diri segera keluar tanpa disuruh. Walau orang desa Mai tahu kalau dia hanya jadi cicak di dinding. Ada tapi diabaikan. Lebih baik ambil langkah seribu cari angin segar di luar sana.
"Hai sayang..." Kevin bergerak maju menciumi ubun kepala Gina. Bau asam lumayan menyengat berhamburan di hidung Kevin. Kevin tak masalah ngerti sudah berapa lama helaian rambut Gina tak tersentuh oleh sampo wangi.
__ADS_1
"Ngapain datang sini?" rengut Gina pura-pura kurang suka Kevin datang. Jauh di lubuk hati berdendang ria jumpa pujaan hati. Itulah munafiknya wanita. Mulut dan hati tidak sinkron.
"Lihat bidadari dong! Sudah enakan?" Kevin duduk di samping Gina membelai tangan yang agak kurusan. Baru sakit berapa hari telah ada perubahan pada tubuh Gina.
"Aku mau pulang."
"Ssttt...kita tunggu hasil Rontgen nanti. Apa lukamu sudah pulih betul. Kamu tak perlu kuatir. Perusahaan kamu ditangani oleh Pak Julio sedang di tempat aku semua berjalan normal. Yang penting kamu cepat pulih agar bisa berjuang lagi."
"Aku kok seperti orang invalid asyik berbaring di sini. Abang berselingkuh di luar aku pun tak tahu."
Kevin membesarkan mata kaget mendengar nada cemburu Gina yang berlebihan. Pikiran dari mana sampai terlintas kalau dia akan berselingkuh. Jangankan berselingkuh memikirkan cewek saja belum terlintas dipikiran Kevin. Masih banyak hal positif bisa Kevin pikirkan daripada memikirkan perempuan lain.
"Ngapain selingkuh kalau kamu ada di depan aku? Satu kamu saja belum habis kumiliki. Test drive baru satu kali. Belum ahli sekali maka mesti dilatih lagi nanti." kata Kevin sambil mengerling genit membuat Gina tersipu malu. Gina bukannya tak tahu ke mana arah omongan Kevin.
Tangan mungil Gina yang kasar mencubit pinggang lakinya menimbulkan suara merdu dari mulut laki itu. Merdu di kuping Gina namun pedih di kulit Kevin. Tangan Gina yang terbiasa pegang alat tukang montir tentu saja tak sehalus tangan Lucia maupun gadis lain. Tenaga Gina tak kalah kuat dari cowok walau dala kondisi tak sehat.
"Duh istri sadis! Bisa patah pinggang aku..." Kevin mengelus pinggang korban tangan keras Gina.
Mereka saling adu mulut namun tetap manis. Pasangan yang baru meresmikan hubungan secara lahir batin tentu saja mengandung madu. Semoga saja racun tak hadir seiring waktu. Setiap pernikahan pasti ada cobaan bertambah usia perkawinan itu. Segala bumbu telah campur hasilkan rasa tak karuan akan picu muncul rasa tak puas dengan citra rasa tak murni lagi. Laki mau cari varian baru dari bumbu yang telah berubah rasa maka timbul perselingkuhan. Itu sudah lumrah dari setiap pernikahan.
Tinggal pasangan saling memilah untuk kembalikan citra rasa asli dari pernikahan dengan ke depan kan komunikasi cari solusi racik bumbu baru yang lebih sedap.
"Awas kalau coa kerling cewek! Kujamin mata abang akan pindah ke lutut."
Sekedar ancaman kecil namun bulu kuduk Kevin berdiri bayangkan tak punya mata di wajah. Bisa lihat apa bila indera penglihatan di tarok di bawah. Lihat kaki doang tanpa lihat wajah. Kaki mulus tapi wajah kayak orang hutan apa jadinya.
"Jamin tidak..."
"Tidak apa? Tidak lupa selingkuh?" todong Gina makin tajam membuat ketombe di kepala Kevin tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Seluruh kulit kepala gatal.
"Tidak selingkuh nyonya Kevin...abang masih sayang pada mata abang. Rugi tak bisa tatap wajahmu yang cantik. Masa mau lihat wajah istri harus angkat lutut. Kan aneh..."
"Cuma sayang mata?" tanya Gina besarkan mata indahnya.
Kevin tak bisa tak garuk kepala sekarang ini. Semua jawaban salah di hadapan Gina. Tak ada jawaban ponten sepuluh. Nol melulu.
"Sayang kamu nyonya Kevin...kalau tak sayang mana mungkin abang tinggalkan kantor khusus temani yayang Gina." Kevin gombal seadanya. Kevin bukan perayu ulung maka kosa kata gombalan terbatas. Hanya ada beberapa kata sederhana. Tak punya inisiatif libatkan bulan bintang seperti laki lain.
__ADS_1