JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Toleransi Gina


__ADS_3

Kevin ngerti kalau Gina sedang menolak tawarannya untuk menjadi pasangan hidup. Bukan hanya sekedar asisten. Jujur Kevin belum mengerti arti cinta sejati karena dia jarang dekat dengan wanita. Untuk sementara wanitanya hanya Gina. Gina pun tak mau jadi alat penukaran rasa aman Kevin. Hidup bersama orang tak punya perasaan terhadap pasangan bukanlah satu keputusan mutlak untuk menjadi sepasang suami istri. Gina paling sensitif cerita soal berkeluarga. Gadis ini trauma lihat masa lalu ibunya maka super hati-hati bila satu hubungan menyangkut kisah seumur hidup.


"Kau menolak aku?"


"Bukan menolak tapi menjaga diri. Bapak belum mengenal banyak wanita jadi belum paham sifat wanita. Aku bukan lah pilihan terbaik untuk bapak. Masih banyak gadis lain akan hadir setelah bapak sembuh. Ayok kita pergi ke tempat dokter Clara!"


Bibik salut pada Gina tidak silau oleh harta Kevin. Kevin sudah terangan ingin jalin hubungan lebih jauh dengan Gina namun gadis itu menolak tanpa pikir panjang. Gadis ini juga bijak dalam menyikapi kehidupan jangka panjang.


Selesai berkata Gina berjalan jauhi ruang makan menuju ke ruang tamu Kevin. Gina menunggu di luar sengaja memberi kesempatan pada Kevin dan bibik bicara. Mungkin mereka ada hal rahasia tak mau didengar oleh orang lain. Gimanapun Gina termasuk orang asing di rumah itu. Dia ada karena Kevin sakit.


Ternyata apa yang dipikirkan oleh Gina tidak terjadi. Kevin menyusul Gina sampai ke ruang tamu dengan langkah panjangnya. Laki itu tampak lebih baik dari sebelumnya. Wajahnya tidak sepucat semalam.


"Gin...kau bisa pergi? Bukankah kau demam?" Kevin kuatir kondisi Gina kurang fit. Kevin tak boleh egois kuasai seluruh hidup Gina. Gina juga manusia biasa punya kelemahan serta punya titik rendah kesehatan.


"Demam gini tak bisa bunuh aku! Aku makin sakit bila disuruh bengong. Saking bengong nyawaku bila tak sadar kabur bersama malaikat maut."


"Huuusss bercanda kok kelewatan...Aku tak mau disebut bos tirani peras anak buah sedang sakit."


Gina cuek saja tak open perhatian dari Kevin. Kalau dimasukkan ke hati Gina bisa baper. Mending tutupi diri dengan kubah sampai tugas Gina kelar semua. No love untuk saat ini.


"Emang santan pakai diperas segalanya. Aku ini Gina." Gina berkata sambil mengenakan sepatu yang mulai usang. Gina memang sulit ditampilkan di ajang bergengsi karena dandanan sangat parah. Kalau diajak ke resepsi kelas atas pasti akan mencoreng nama Kevin sebagai pengusaha muda.


Gina mana terpikir ikut Kevin ke pesta kaum jet set. Tak pernah ada dalam pikiran Gina masuk lebih jauh dalam kehidupan Kevin selain melindungi laki itu. Di samping Kevin haruslah wanita berkelas punya penampilan setara bintang film top.


Kevin bukannya tak tahu kalau Gina payah diajak tampil di tempat lebih berkelas tapi Kevin membutuhkan anak ini untuk bisa hidup normal layak laki lain.


"Kau tidak malu keluar pakai baju aku?" Kevin ingatkan Gina kalau di badan anak itu masih melekat baju bekas Kevin. Celana juga kedodoran seperti baju hasil curian.


"Aku tak malu..kalau bapak malu biar aku pulang ganti pakaian dulu!" Gina keluarkan jurus wajah sinis. Gina tak biarkan orang menilai dia hanya dari pakaian. Bagi Gina berpakaian mewah belum tentu mewah otaknya. Kadang di luar tampak berkilauan tapi di dalam karatan. Contohnya seperti Lucia. Penampilan mentereng namun isinya otak tai semua. Bau busuk.


Kevin mendapat ancaman halus hanya bisa urut dada. Gina selalu berada di atas angin karena Kevin memang membutuhkannya. Kevin tak berkutik bila Gina sudah berkata sinis.


"Terserah kamu sajalah!" Kevin mengalah izinkan Gina berbuat sesuka hati. Paling Kevin tebalkan muka bila ada tatapan penuh tanda tanya dari orang sekeliling. Lakinya keren sedangkan ceweknya kayak gembel pemulung.


Melihat Kevin sudah bungkam artinya keadaan sudah kondusif. Gina melangkah dengan gagah menuju ke mobil yang masih setia menunggu pemilik mobil masuk ke dalamnya. Kevin ikut tanpa berkata apa-apa lagi. Ikuti arus saja. Gina sudah bersedia bantu Kevin menemukan jati diri sebagai lelaki normal itu sudah harus bersyukur. Mau tuntut lebih mungkin agak sulit bagi Gina.


Satpam melihat mobil Kevin sudah dinyalakan berarti bos akan segera keluar. Pintu gerbang besar dibuka agar mobil yang dikendarai oleh Kevin dan Gina bisa lolos dari rumah. Satpam belum sempat berikan hasil rekaman pada Gina dan Kevin karena keduanya terlanjur sibuk hendak pergi. Satpam berencana menunggu keduanya kembali baru tunjukkan bukti kejahatan papa dan ibu tiri Kevin. Sebagai satpam rumah Kevin dia juga harus jaga keselamatan penghuni rumah.


Di jalan raya mobil Kevin sudah meluncur menuju ke tempat praktek dokter Clara. Kevin tak tahu apa dokter bersedia menerima mereka atau tidak soalnya mereka datang tanpa janjian dulu. Biasa Kevin akan buat janji dulu dengan dokter sebelum hadir di tempat dokter itu.

__ADS_1


Kevin tersenyum sendiri membayangkan betapa terkejutnya dokter Clara bila dia datang tanpa janji. Kevin sudah anggap dokter Clara sebagai keluarga sendiri karena sudah tangani penyakitnya dalam periode cukup panjang. Dokter Clara demikian sabar hadapi dia yang kadang emosi tidak terkontrol.


Gina jalankan mobil tanpa bersuara. Sifat dinginnya kembali warnai suasana dalam mobil. Gina fokus laksanakan tugas sebagai supir Kevin walaupun badannya agak meriang. Gina mesti profesional kerjakan tugas dalam segala medan tersulit sekalipun.


Sebelum tiba di tempat praktek dokter Clara mata Gina menangkap bayangan mobil Peter meninggalkan tempat praktek dokter Clara. Mobil itu tancap gas sebelum mereka tiba. Tampaknya Peter juga baru saja ke tempat praktek dokter Clara. Apa yang dia lakukan di tempat Kevin berobat. Ikutan berobat? Mengapa sangat kebetulan Peter ada di situ setelah Kevin alami peristiwa tak mengenakan.


Apa kecurigaan Gina kalau Dokter Clara dan Peter bekerja sama merusak kejiwaan Kevin? Dokter Clara bukan menyembuhkan melainkan meracuni kejiwaan Kevin. Gina berdoa semoga Kevin juga melihat kalau mobil Peter baru saja tinggalkan praktek dokter Clara. Dengan demikian Kevin bisa buat kesimpulan sendiri model apa saudaranya itu.


Gina hentikan mobil beberapa meter sebelum praktek dokter Clara beri waktu pada Kevin mengungkapkan sesuatu. Gina yakin Kevin melihat mobil saudaranya meninggalkan tempat dokter Clara. Semoga saja otak laki ini berfungsi normal bisa memilah masalah yang dia lihat.


"Kurasa kita tak usah masuk ke praktek dokter Clara." lirih Kevin seakan baru bangun dari mimpi buruk.


"Maaf pak! Aku sudah curiga pada pak Peter dan dokter itu dari tadi. Maka itu aku ajak bapak ke sini untuk memastikan resep obat bapak. Kurasa mereka kerja sama tak ingin bapak sembuh." ujar Gina ungkap kecurigaannya pada kedua orang itu.


Seluruh badan Kevin lunglai dapati kenyataan orang yang paling dia percayai juga menginginkan dia tetap berada di dunia trauma. Bertahun Kevin menaruh harapan Peter bisa menjadi sandaran lalui badai kegelapan. Namun bukan menjadi sandaran Kevin melainkan mendorong Kevin menjauh sampai terperosok dalam jurang.


"Kita kembali ke rumah." perintah Kevin dengan segunung rasa kecewa. Kevin ingin sekali berteriak luapkan amarah menjadi target saudara sendiri. Kini Kevin benar-benar merasa sendirian di dunia ini. Tak ada orang siap gandeng dia lewati jembatan rusak sepanjang jalan hidupnya. Dia harus meniti jalan rusak itu sendirian.


Gina menjalankan mobil lewati tempat praktek dokter Clara dengan membawa sejuta rasa benci. Seorang dokter tega biarkan pasien hidup dalam ketakutan demi keuntungan pribadi. Mereka bisa saja melaporkan dokter Clara sebagai dokter malpraktek. Dokter itu bisa kena hukuman cukup mengerikan, izin praktek dicabut serta kena hukuman penjara.


Separuh nafas Kevin tersedot oleh kebusukan Peter, Kevin tak sangka orang yang begitu dia percayai tega melakukan hal demikian keji. Ingin menguasai harta Kevin dengan meracuni Kevin dengan obat-obatan. Manusia apa itu? Kevin biayai seluruh hidup Peter dengan tujuan laki itu bersedia menjadi teman dan keluarga Kevin yang sebatang kara di dunia ini.


Namun harapan Kevin pupus hanya godaan materi. Kevin tak punya dendam pribadi dengan Peter. Sangat jauh kemungkinan Peter lakukan ini hanya karena dendam pribadi. Ini pasti menyangkut kekayaan Kevin. Peter cari keuntungan dari penyakit Kevin.


Kevin langsung masuk kamar begitu tiba di rumah. Gina tahu diri tak ganggu Kevin untuk sementara ini. Laki itu ketenangan untuk meredakan amarah yang pasti memuncak dalam dada. Bisa jadi laki akan menangisi perbuatan Peter.


Pada kesempatan ini Gina meneleponi pak Julio supaya hentikan pembangunan proyek di kota M sebelum Kevin menjadi korban dari kejahatan Peter. Gina ceritakan semua rencana Peter namun Gina tak cerita soal penyakit Kevin. Gina tak mungkin pertaruhkan nama baik Kevin di dunia bisnis. Perusahaan Kevin bakal hancur bila tersiar Kevin punya masalah dengan kejiwaan. Siapa berani kerjasama dengan orang punya kejiwaan labil.


Pak Julio cepat menyambut panggilan Gina. Paman Gina itu tak sabar selalu ingin keponakannya mau bergabung dengan perusahaannya karena merasa Gina juga punya hak di situ. Namun Gani dan Gina menolak hidup mengandalkan paman mereka itu. Keduanya ingin sukses dengan sepasang tangan mereka sendiri.


"Assalamualaikum pak!"


"Waalaikumsalam...apa kabar nak?"


"Alhamdulillah baik pak! Bapak sehat?"


"Sehat dong! Kalau tidak mana bisa ngobrol dengan kamu. Kapan mau seberang ke tempat bapak?"


"Nanti pak! Gina punya permintaan pada bapak!"

__ADS_1


"Minta apa? Mobil sport?"


"Iiishh bapak ini...ngak punya duit isi bahan bakar. Gini pak! Gina mau bapak tunda proyek di kota M. Masalahnya cukup pelik. Ada orang mau sabotase proyek ini untuk keuntungan pribadi."


"Bapak tak ngerti maksudmu nak? Bukankah proyek ini bapak berikan seratus persen kepada Kevin?"


Gina ceritakan semuanya pada Pak Julio mengenai rencana jahat Peter. Pak Julio tercengang mendengar cerita Gina. Pak Julio tak sangka Peter yang tampak baik serta gentle itu tersimpan rencana jahat. Maka itu jangan menilai orang dari penampilan Mulus di luar belum tentu sejalan dengan isi dalam.


Akhirnya pak Julio tahu mengapa Gina meminta rencana pembangunan dipending. Ini untuk kebaikan dua pihak. Pak Julio takkan dirugikan secara materi dan Kevin tidak dirugikan nama baik dan juga materi. Peter pasti akan korupsi besar-besaran demi keuntungan pribadi.


"Baiklah. Bapak akan minta sekretaris bapak hubungi kantor Kevin katakan bahwa proyek ini dipending karena ada perubahan tata ruang. Kau tak usah kuatir nak! Bapak selalu dukung yang baik. Sekarang bapak ngerti mengapa kau mau tetap di samping Kevin. Kamu ingin melindungi laki itu bukan?"


"Pak Kevin itu orangnya baik walaupun arogan. Dia punya alasan untuk arogan. Gina ucapkan terima kasih bapak sudah mau bantu. Tunggu kabar dari Gina baru kita buat rencana baru."


"Baik nak! Kapan kita sekeluarga makan malam bersama? Ibu di rumah terusan tanya kamu. Adik-adik kamu juga tak sabar ingin belajar ngaji dan karate."


Gina tertawa sedih tak bisa penuhi janji pada saudara sepupunya karena dia memang sangat sibuk. Dia hampir tak punya waktu untuk istirahat. Sekarang terjebak dalam kemelut hidup Kevin pula. Dia tetap harus bantu Kevin keluar dari trauma agar dirinya juga bisa terbebas dari kesulitan Kevin.


"Akan Gina usahakan pak! Sampaikan kata maaf Gina dan salam untuk ibu dan adik-adik."


"Baiklah! Kali ini bapak bantu kamu tapi lain kali bapak tak bisa bantu kamu bicara lagi pada mereka. Kau harus jumpai mereka. Bawa Gani ya!"


"Siap pak! Terima kasih ya! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Gina menyimpan ponsel jadulnya sambil termenung. Mata Gina mengarah ke dalam kamar Kevin yang tak ada suara. Suasana agak mencekam karena rumah seluas ini tak ada suara sedikitpun. Persis rumah kosong tanpa penghuni. Gina bisa bayangkan betapa sepi Kevin menghitung hari sendirian dalam rumah tanpa ada yang menemani.


Kejiwaan Kevin makin memburuk bila tak ada teman berbagi duka. Dia pendam semua dalam dada sendirian akan menambah buruk kondisinya. Gina harus memikirkan cara bawa Kevin keluar dari trauma berkepanjangan ini.


Lama Gina berpikir akhirnya dia menemukan solusi bantu Kevin tanpa harus banyak keluar biaya. Kali ini Gani harus berkorban untuk muluskan jalan Gina wujudkan rencana bantu Kevin. Tanpa ragu Gina keluarkan ponsel kebanggaannya kirim signal ke telepon Gani.


Gayung disambut Gani langsung mengangkat telepon dari Gina. Suara emak-emak kehilangan centong sayur langsung berkumandang di telinga Gina.


"Woi..tidur di mana kau semalam? Hebat ya mau jadi ***** ya?" suara Gani tak bersahabat kontan berkumandang di gendang telinga Gina sampai Gina jauhkan ponsel dari kuping.


"Sejak kapan kamu perhatian padaku? Bukankah kau selalu berharap aku tak di rumah? Biar kamu merdeka!"


"Kita sudah merdeka. Untuk apa merdeka dua kali. Awas kalau kau macam-macam. Aku bisa sate kamu.."

__ADS_1


"Omong kayak sudah benar! Aku mau minta kamu pindah tidur ke bengkel."


"What? Waras ngak kamu? Mau kuasai harta keluarga usir aku dari rumah?" teriak Gani menggelegar.


__ADS_2