
Laki itu tergugu begitu juga karyawan yang berdiri di situ. Mereka mana menyangka gadis muda yang cantik itu cucu pemilik perusahaan. Selama ini jarang yang tahu latar belakang keluarga pak Mul yang agak tertutup. Kini muncul gadis muda datang bikin heboh dengan pengakuan cucu komisaris.
"Kalau kau git kau harus naik gunakan lift paling ujung. Lift itu khusus untuk dewan direksi. Kau bisa naik langsung ke sana." Cowok itu tunjuk lift ketiga dari deretan tiga lift. Gina tak tunggu segera geser ke lift yang ditunjukkan oleh cowok tadi.
Para karyawan yang jumpa Gina merasa bersyukur telah kenal keluarga pak Mul yang jarang terekspos. Mereka salut pada Gina yang tak sombong pamer kekayaan keluarga. Kalau gadis lain mungkin sudah sombongnya selangit.
Lift Gina duluan sampai siap angkut gadis ini menuju ke puncak gedung. Sebelum masuk ke dalam Gina sempat melambai ke arah tumpukan karyawan sebagai tanda bersahabat. Lambaian Gina mendapat balasan hangat dari para karyawan. Mereka senang dapat respon positif dari pemilik perusahaan.
"Gadis muda bersemangat!" ujar sang cowok tadi.
"Cucu orang kaya apa kau yakin masih gadis?" ujar salah satu cewek berambut panjang agak sinis.
"Apapun dia bukan giliran kamu kritik dia! Sebagai cucu orang kaya dia sudah sangat humble. Mau menyapa kita. Coba kalau kau yang jadi pemilik perusahaan mungkin kami ini kau tempatkan di belakang gedung." timpal sang cowok bela Gina.
"Iya sirik amat! Orang cantik alami sedangkan kau cantik bantuan kosmetika. Coba cuci muka mungkin masih cantikan nenek aku!" cowok muda lain ikut menyindir gadis sirik yang sembarangan umbar opini.
Karyawan lain tertawa senang berhasil sekak gadis kesayangan salah satu petinggi perusahaan. Para karyawan tak ngeh kalau Gina adalah mimpi buruk bagi mereka yang suka main curang. Di balik wajah lugu Gina tersimpan senjata mematikan siap diluncurkan ke arah musuh. Tertawalah selagi ada kesempatan. Dalam hitungan jam tawa itu akan lenyap bila terungkap mereka ikutan korupsi di perusahaan.
Gina telah mencapai lantai dua puluh langsung disambut seorang wanita berumur tiga puluhan. Kelihatannya wanita itu juga sudah dapat perintah dari opa Gina untuk menyambut kehadiran cucu beliau.
Wanita itu tersenyum ramah sambut kehadiran komisaris baru mereka walaupun belum diumumkan. Status Gina sebagai cucu opa sudah pantas dapat apresiasi.
"Nona Gina?"
Gina tertawa disambut lagi secara sopan oleh wanita yang lebih tua darinya. Gina agak segan mendapat perhatian berlebihan dari perusahaan opa.
"Pasti pesanan opa bukan?"
"Iya..pak komisaris sudah pesan ajak kamu ke ruang kerjanya. Silahkan nona Gina!"
Mata wanita itu memperhatikan semua gerak gerik Gina yang jauh dari kesan orang kaya. Tas yang ditentengnya mungkin cuma harga ratusan ribu. Itupun warnanya sudah agak memudar. Gina jauh dari kesan cucu orang kaya. Tapi aura keras Gina mampu menundukkan perhatian orang.
Gina dibawa ke ruang kerja paling besar di kantor ini. Wanita itu mengetuk pintu sebelum dapat izin masuk ke dalam.
"Masuk.."
Wanita itu membuka pintu beri jalan buat Gina masuk duluan. Opa Gina senang lihat orang yang dia nanti telah hadir untuk memulai satu babak baru dalam perusahaan.
"Sini sayang...opa sudah tunggu dari tadi. Dari mana saja kamu sampai jam gini baru sampai sini?" Pak Mul atau opa melambai meminta Gina mendekat.
Gina tersenyum tipis sambil tunjukkan tangan yang tertutup kain kasa. Opa menurunkan kacamata melihat tangan Gina yang tampak sedikit bermasalah.
"Kau terluka sayang?"
__ADS_1
"Lukanya sudah lama. Tadi ke rumah sakit buka jahitan benang. Tapi semua sudah ok."
"Ok apanya? Anak gadis tangan ada bekas luka. Laki mana tertarik pada kamu. Nanti pulang ke Jerman operasi di sana. Ibumu pasti setuju kau dioperasi."
"Aduh opa! Luka segini diributkan. Kita jadi rapat? Gin masih ada tugas lain di tempat pak Julio."
Pak Mul menyipitkan mata tak percaya Energie anak ini full setiap saat. Belum kelar masalah di sini dia sudah ingat pekerjaan lain. Apa Gina ini manusia besi tak kenal kata lelah?
"Sayang...kau selesaikan dulu di sini baru ke tempat paman kamu! Jangan bilang kau sudah buat janji mau ketemu pamanmu itu?"
"Tidak janji opa...cuma mau antar sedikit berkas. Ayok kita mulai antar Gin ke puncak dunia!" kata Gina sedikit guyon.
Sekretaris pak Mul hanya bisa diam lihat interaksi opa dan cucu itu. Sekretaris itu bisa menangkap kalau Gina bukanlah sembarangan anak muda hanya tahu huru hara. Buang uang hanya untuk cari jati diri sebagai anak remaja. Gina bukan anak model gitu. Di kepala Gina hanya ada ingin sapu bersih orang culas.
Pak Mul bangkit dari kursi mewah yang sebentar lagi akan jadi milik Gina. Pak Mul akan segera boyong anak mantu kembali ke Jerman bila Gina telah sukses tangani kemelut dalam tubuh perusahaan.
"Dinda...siapkan ruang rapat! Semua direksi harus hadir."
"Sudah siap pak! Tinggal tunggu perintah bapak kapan dimulai." sahut sekretaris yang ternyata bernama Dinda.
"Baik..kita mulai. Aku kan datang sepuluh menit lagi. Bawa semua berkas yang telah aku siapkan serta pak Junaidi pengacara kita harus hadir."
"Siap pak!" Dinda mengundurkan diri melaksanakan perintah Pak Mul. Sebentar lagi akan muncul pertunjukan spektakuler yang akan merubah wajah perusahaan Pak Mul.
Pak Mul melihat cucunya agak gugup segera menepuk bahu gadis itu agar tegar. Kalau Gina kuat tak seorangpun bisa intervensi dia untuk berbuat sesuka para pejabat perusahaan yang sudah terbiasa korupsi. Pak Mul tak tahu kalau Gina itu dasarnya kejam terhadap orang jahat.
"Opa doakan Gina ambil kembali dana segar perusahaan sebanyak 3 triliun. Semua masuk kocek dua direksi. Mereka punya aset cukup mumpuni. Punya mobil mewah sampai puluhan unit, rumah bertebaran seperti sarang semut. Anak isteri melalang buana hampir separuh bumi ini. Gina akan tagih kembali semua itu. Opa tak boleh ikut campur kalau Gina mandikan mereka. Kalau mereka tega korupsi mengapa kita tak tega antar mereka tidur nyaman di hotel gratis."
Pak Mul mengangguk merasa tak salah angkat Gina gantiin dia sebagai pemimpin perusahaan. Dalam tempo cukup singkat gadis ini telah berhasil kumpulkan keranjang dosa direktur yang dia angkat.
"Opa serahkan padamu. Opa akan lepas tangan. Kau juga harus hati-hati karena mereka pasti sudah punya persiapan hadapi kamu."
"Opa doakan saja! Kalau Gina keras opa tutup kuping saja. Gina tak mau hak ayah dilangkahi orang. Kalau Gina tak mampu melindungi keluarga sendiri apa gunanya menjadi seorang anak. Gina akan kembalikan harkat ayah yang diinjak orang selama ini. Gina sebagai anak wakili ayah beri pelajaran pada mereka."
Opa meraih tangan cucunya salut pada tekad anak muda ini. Untunglah bukan Gani yang diangkat jadi pemimpin. Anak itu belum punya keterampilan untuk sikat para tikus. Hanya Gina yang punya aura itu.
"Kita ke sana. Opa umumkan pengunduran diri Opa lalu mengangkat kamu sebagai pemimpin baru. Pengacara kantor akan melegalkan kepemimpinan kamu saat ini juga."
"Gina yakin kalau opa juga yakin. Ayok!" Gina membalas gandengan tangan pak Mul melenggang ke ruang rapat untuk melakukan keputusan besar perusahaan ini.
Keduanya tersenyum melangkah bersama sampai ke pintu ruang rapat yang sangat luas dan bersih. Bau harum buahan menyegarkan ruangan bikin otak sedikit plong. Gina merasa tertolong oleh aroma penenang pikiran itu.
Semua yang ada dalam ruangan segera berdiri begitu Gina dan pak Mul masuk. Kehadiran Gina menjadi satu daya tarik dari mata para peserta rapat. Hanya pak Junaidi sang pengacara yang tahu siapa gadis muda ini. Pak Mul sudah siapkan berkas pengalihan kepemimpinan kepada Gina. Sebagai pengacara yang mengurus semua ini pasti tahu kalau sebentar lagi perusahaan ini akan ada pemimpin baru. Namun untuk saat ini dia tak bisa membuka mulut sebelum Pak Mul mengumumkan kalau Gina akan mengganti dia sebagai pemimpin.
__ADS_1
Pak Mul duduk di meja paling ujung khusus untuk pemimpin rapat. Saat itu suasana masih adem ayem belum tahu kalau ancaman besar sedang menanti para tikus pengerat. Semua masih sok baik di depan pak Mul. Mereka tentu saja berharap pak Mul segera kembali ke Jerman agar hidup mereka tetap makmur.
"Terimakasih sudah hadir. Aku ke sini hanya untuk memperkenalkan cucu aku yang bernama Gina. Selama ini Gina tak pernah muncul karena masih mencari jati diri. Dan sekarang cucu aku sudah matang siap dipetik untuk lakukan hal besar."
Semua yang hadir masih setia dengar pidato pak Mul yang mereka anggap sebagai basa basi tunjukkan dia punya cucu sudah gede. Gina hanya menarik bibir melengkung ke atas bentuk senyum tipis. Gina berdiri di samping pak Mul tanpa ada niat duduk di salah satu kursi yang kelilingi meja rapat.
Gina seperti kucing imut ikut majikan dengar rapat penting pagi ini. Tak ada tanda-tanda Gina gadis ganas mampu lumatkan orang.
"Wah pak Mul beruntung punya cucu sangat cantik! Apa selama ini tinggal di Jerman juga?"
"Tidak..dia bantu di perusahaan tunangan dia. Aku telah tarik dia ke sini untuk lanjut kebijakan aku memimpin perusahaan ini. Mulai detik ini Gina akan jadi komisaris perusahaan ini. Semua gerakan perusahaan harus tunduk pada perintah cucu aku. Hanya perintah dia yang harus kalian dengar. Mulai detik ini aku telah mengundurkan diri dan serahkan perusahaan pada cucu aku." ujar pak Mul tenang tanpa emosi.
Para pejabat kaget hanya sekejap saja. Mereka seperti bersyukur pemimpin baru mereka hanya anak kemarin yang mudah dikelabui. Artinya tak ada bahaya mengancam mereka. Hidup dalam gelimang harta akan lanjut.
"Kami dukung kebijakan pak Mul. Memang saatnya beri kesempatan pada yang muda untuk unjuk gigi. Kami senior pasti akan beri masukkan baik untuk nona Gina. Nona tak perlu takut kalau kami akan tinggalkan kamu." salah satu di antara direksi cari muka sok baik.
Dia tak tahu kalau dialah target utama Gina. Gina menatap tajam ke arah laki berumur limapuluh tahun itu. Kilasan mata membunuh terpancar di mata Gina walau hanya sekilas saja. Lelaki itu bergidik beradu mata dengan gadis muda yang dia pikir hanya gadis muda sedang cari nama besar.
"Bagus...pak Junaidi silahkan keluarkan berkas yang harus kutanda tangan! Secara resmi perusahaan ini dikelola cucu aku. Aku tak tahu kebijakan apa akan dia terapkan untuk bangun perusahaan lebih besar. Aku hanya dukung semua keputusan cucu aku. Dan kalian semua harus patuh padanya walau akan ada perubahan peraturan baru."
Pengacara membuka map tebal berisi dokumen pengunduran diri Pak Mul serta surat pengangkatan Gina sebagai pemilik baru. Kata-kata pak Mul yang terakhir datangkan rasa tak nyaman di hati. Kini mereka takut Gina ngaco buat kebijakan yang bisa merusak hati baik mereka. Bagi mereka yang tulus pada perusahaan pasti berharap ada perbaikan sistem perusahaan yang berkesan di monopoli CEO serta wakilnya.
Acara timbang terima telah usai dan Gina telah jadi komisaris perusahaan di atas CEO. Gina merasa bahunya mendadak berat ketika terima map tebal dari pengacara perusahaan. Pengacara itu menyalami Gina sambil beri seulas senyum damai.
"Selamat ya anak muda! Gebrakan kamu ditunggu." Pak Junaidi salami Gina ucapkan selamat.
"Terima kasih pak!"
Giliran opa memberi selamat pada cucunya itu. Opa memeluk Gina erat-erat layak opa kepada cucu tercinta. Yang lain hanya bisa diam mulai merasakan aura keras sedang menutupi ruang rapat ini.
"Opa percaya padamu! Kau pasti bisa sayang."
"Pasti opa. Kalau tidak rugi dong jadi cucu opa Mul."
"Sekarang kau bicara sedikit dan kenali semua bapak-bapak yang akan kerja sama dengan kamu!" Opa beri tempatnya kepada Gina lalu duduk di salah satu kursi untuk peserta rapat.
Gina tak sungkan berdiri menatap semua dewan direksi yang ada di situ. Dari awal Gina harus tegas agar tak ada yang anggap remeh dia. Gina mau tancapkan kuku langsung ke jantung perusahaan supaya tak ada yang berani punya pikiran negatif terhadap dirinya.
"Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam..." semua menjawab salam Gina. Dari pertama Gina sudah beri kesan dia bukan anak muda doyan huru hara. Masih punya batasan sebagai anak muda ngerti agama.
"Saya ucapkan terima kasih atas dukungan bapak dan ibu yang hadir di sini. Saya bersyukur mendapatkan kepercayaan opa untuk pimpin perusahaan. Saya mohon bimbingan para senior karena aku orang baru di bidang ini." Gina mengedarkan mata ke seluruh wajah para dewan direksi perusahaan. Gina mau kenali mereka satu persatu agar punya data setiap pejabat yang akan kerjasama dengan dirinya.
__ADS_1
"Nona Gina tak usah kuatir. Kami akan sekuat tenaga bantu kamu menjaga perusahaan ini." Satu-satunya wanita yang ada di ruang menyumbang suara memberi semangat pada Gina.