
Gina membeku tak sangka Peter sama saja dengan yang lain. Gunakan kelemahan Kevin meraup keuntungan pribadi. Gina harus menyelamatkan Kevin dari oknum-oknum tak punya hati itu. Sudah di beri hati masih minta jantung.
Gina harus minta bantuan Pak Julio cegah Peter menipu Kevin. Gina belum tahu apa rencana Peter mencuri uang Kevin. Dengan cara apa dia akan mentilep uang Kevin belum ada gambaran. Namun apapun itu Gina harus menyelamatkan Kevin duluan.
Peter yang kelihatannya manusia baik-baik ternyata musang berbulu domba. Dari casingnya nampak licin dan bersih ternyata dalamnya penuh dengan belatung.
Gina mencoba bertahan biar Peter tidak curiga dia sudah tahu akal busuk Peter. Lelaki itu harus disingkirkan dari hidup Kevin biar tidak jadi parasit mengisap darah Kevin sampai kering.
Sekarang Gina malahan mensyukuri kejadian hari ini karena telah membuka kedok manusia yang paling busuk di dunia ini. Kalau hari ini tidak terjadi sesuatu pada Kevin maka selamanya Kevin dan Gina tidak mengetahui akal licik Peter. Bagusnya Tuhan turun tangan bongkar kedok Peter dengan memberi cobaan pada Gina. Gina tidak menyesal harus terluka demi Kevin.
Gina berdiam diri menunggu Peter pergi menjauh. Derap langkah Peter berangsur menghilang dari pantauan radar telinga Gina. Peter telah jauhi lokasi Gina menahan langkah.
Gina menghembus nafas lega setelah tak terdengar suara Peter. Tampaknya malam ini Gina harus bersama Kevin agar tak ada kejadian tragis menimpa Kevin lagi. Setiap langkah Gina harus diperhitungkan agar jangan terjatuh dalam lubang dibuat oleh kelompok Peter.
Gina kembali ke kamar tempat dia membersihkan diri agar kita tidak curiga padanya ikut mendengar pembicaraan. Kalau Peter pinter bersandiwara maka Gina harus lebih pintar lagi melebihi aktor ternama manapun. Gina tak boleh kalah dari Peter.
Gina bertapa dalam kamar selama setengah jam agar Peter tak sangka dia telah dengar semua pembicaraan. Biarlah Peter masih sangka dia orang lugu hanya tahu pekerjaan.
Gina berjalan berlagak pilon tak tahu apa-apa. Peter masih di ada di ruang tamu sedang main hp. Laki ini menurunkan ponsel melihat ke arah Gina lantas umbar senyum seolah senang lihat Gina.
"Sudah mandi? Pakai baju bos ya?" olok Peter ramah
Gina tersipu malu ketahuan pakai baju majikan. Terdengar janggal ada anak buah pakai baju bos, di rumah bos lagi. Kalau tersiar keluar pasti akan dapat tanggapan negatif. Cuman Gina tak punya pilihan lain. Alur cerita harus berjalan begini.
"Kau sudah makan?" Peter kembali tunjukkan keakraban yang tak didapat dari Kevin. Dasar Kevin laki tak punya perasaan peka. Ngerayu cewek langsung ingin dekat.
Cewek baik-baik pasti akan berpikir 10 kali menghadapi lelaki yang tidak romantis. kecuali mereka cewek yang Asmot alias asal comot.
"Belum..." sahut Gina malu kucing. Gaya malu ini yang paling disukai para cowok dari cewek.
"Ayo pergi makan dulu! Kevin takkan bangun dalam waktu dekat ini. Paling tengah malam dia akan bangun."
"Oh gitu ya! Kebetulan aku sangat lapar. Maklumlah buruh kasar! Perut pantang kosong."
"Ok...silahkan makan!"
"Pak Peter tidak sekalian?"
"Aku sudah di rumah tadi. Kamu saja."
"Oh..kalau kit aku tak segan ya pak!"
Peter mengangguk izinkan Gina mengisi perut. Kasihan Gina harus kelaparan di rumah orang kaya. Sudah kuras tenaga tak diumpan nasi pula.
__ADS_1
Gina mencari ruang makan berdasarkan feeling saja. Rumah Kevin lumayan luas tak mudah cari ruang dimaksud. Apalagi Gina orang asing di situ. Masih perlu waktu adaptasi dengan lingkungan baru.
Rasa lapar berlebihan membawa Gina tepat sasaran karena tercium bau masakan. Gina memang tak bisa tahan lapar karena selalu kerja keras. Tak ada waktu yang disiakan oleh gadis ini. Mumpung masih muda punya tubuh sehat dan pikiran waras maka tak boleh terbuang gitu saja.
Bibik sudah menanti Gina di ruang makan. Bibik mengetahui kalau Gina adalah orang yang sangat berarti bagi Kevin. Kevin telah bawa Gina ke rumah berarti gadis ini punya tempat di hati Kevin.
"Gimana penampilan aku bik? Seperti badut tidak?" Gina memutar badan di hadapan bibik. Bibik hanya bisa tertawa karena senang. Pakaian Kevin agak kebesaran buat Gina namun itu tak halangi pesona Gina mencuat menarik perhatian cowok. Justru dengan kealamian bikin para cowok klepek-klepek.
"Kau tetap manis kok! Ayok segera makan! Nanti dingin tak enak lagi."
Gina tidak sungkan lagi segera memulai menyantap hidangan dari bibik. Lauknya termasuk mewah buat Gina. Di dalam rumah mereka hanya ada menu sederhana tidak berlebihan karena kehidupan mereka tidak sebaik Kevin. Masih syukur bisa makan. Di luar sana masih banyak orang menahan rasa lapar akibat tak punya uang beli makanan. Maka itu syukuri apa adanya karena tak semua orang beruntung punya segalanya.
Bibik menemani Gina makan walau tanpa ikut makan. Perempuan itu hanya memperhatikan cara makan Gina begitu berselera seakan itu makanan terlezat di bumi. Cara makan Gina menghargai tukang masak menu di meja. Yang masak tentu makin bersemangat memasak untuk hari selanjutnya.
"Wah bik...koki jempolan dari mana bikin makanan selezat ini?"
Hidung bibik kempes-kempis mendapat pujian secara tak langsung dari Gina. Gina sudah memuji tukang masaknya berarti masakan orang itu sangat lezat. Si bibik yang menjadi tukang masak tentu saja merasa tersanjung oleh pujian Gina. Selama menjadi asisten rumah tangga di tempat Kevin belum pernah sekalipun orang memuji masakannya. Baik Kevin maupun Peter tak pernah mengungkap rasa syukur pada masakan bibik.
"Bibik yang masak. Dari mana koki segalanya?"
"Wow bibik...artinya bibik koki lihat itu! Hebat...maunya bibik buka restoran biar semua orang bisa menikmati masakan bibik,!"
"Huuusss omong apa itu? Siapa urus nak Kevin kalau bibik pergi. Apa kamu mau ganti bibik rawat nak Kevin?"
Tapi mengingat kebusukan Peter mau tak mau Gina harus selalu melindungi lelaki itu. Gina harus bisa membuka kedok Peter agar Kevin mengetahui kalau saudaranya itu sangat jahat. Dia mempunyai niat tersembunyi untuk menghancurkan Kevin.
"Alhamdulillah nona bersedia menemani nak Kevin. Semoga saja anak Kevin bisa menemukan apa yang dia inginkan. Sebenarnya nak Kevin itu orangnya sangat baik dan pengertian cuma karena berbagai masalah membuat dia menjadi cuek dan menutup diri."
"Aku tahu bik! Malam ini aku akan nginap di sini. Kuharap bibik tidak keberatan dengan kehadiran aku. Memang terdengar tidak baik seorang anak gadis tidur di rumah seorang lelaki lajang. Tapi berhubung pak Kevin sedang kurang sehat maka mau tak mau aku harus berada di sini."
Mata bibik bersinar cerah tatkala Gina bersedia menemani Kevin mencari kesembuhan. Memang itu yang diharapkan oleh bibik supaya hidup Kevin bisa menjadi normal. Mempunyai teman wanita untuk membangkitkan semangat hidupnya.
Piring nasi Gina telah kosong sampai bersih. Gina pandai sekali mengambil hati bibik supaya bibik merasa tersanjung masakannya sangat dihargai orang.
"Tambah nasinya nona?" bibik bermaksud menambah nasi Gina. Gina cepat-cepat goyang tangan menolak nasi tambah. Gina belum mau jadi gentong lemak makan melebihi porsi biasa. Cukup perutnya berisi makanan dalam porsi tepat itu sudah cukup.
"Terima kasih bik! Aku sudah sangat kenyang. Masih ada hari esok bikin repot bibik. Ayo kita cuci piring bersama! Tak enak langsung lupa diri begitu kenyang."
"Tak usah...kamu pergi lihat nak Kevin saja! Siapa tahu dia butuh kamu."
"Gitu ya bik?" Gina kuatir juga pada Kevin bila bersama Peter. Setiap saat laki itu bisa celakai Kevin. Gina sudah tahu akal licik Peter maka harus lebih hati-hati. Setiap saat nyawa Kevin terancam bila terlalu dekat dengan lelaki itu.
Gina segera angkat kaki dari ruang makan menuju ke ruang tamu untuk melihat bagaimana kondisi Kevin sekarang. Apa Peter masih berada di rumah Kevin saat ini.
__ADS_1
Gina menyeret langkahnya kembali ke ruang tamu. Di sana tampak pintar masih duduk santai di sofa sambil main ponsel. Gina tak tahu dengan siapa Peter sedang berhubungan. Mungkin main game ataupun chatting dengan seseorang. Gina mana berani curi mata lihat apa yang dikerjakan laki itu.
Setelah mengetahui kebusukan Peter dalam pikiran Gina terlintas bayangan buruk Peter sedang berkomunikasi dengan seseorang untuk mencelakai Kevin. Hal itu terjadi atau tidak tetap saja menjadi bagian daripada kecurigaan Gina.
"Sudah kenyang nona kecil? Aku salut padamu. Tanganmu diperban sebegitu tetapi kamu tidak tampak goyah sedikitpun. Aku mau memuji mental kamu yang seperti seorang petinju. Tahan banting tahan pukul."
Gina hanya tersenyum tipis dipuji oleh Peter. Gina tak boleh memperlihatkan kalau dia memiliki kelebihan lain karena akan menimbulkan kecurigaan lebih tebal di dalam diri Peter. Dia harus tetap bertingkah seolah-olah dia bukan siapa-siapa dan tetap gadis lugu. Ini untuk menghindari kewaspadaan Peter terhadapnya.
"Pak Peter sudah ke kantor polisi?"
Peter seperti kaget tiba-tiba Gina bertanya soal kantor polisi. Peter bilang dia ingin mengetahui apa motif dari kejadian di mall tadi. Kalau dia sudah sampai ke kantor polisi maka pastilah ada sedikit informasi mengenai penjahat itu. Gina mau tahu alasan apa yang akan dikatakan oleh Peter tentang penjahat itu.
"Oh itu..mereka ingin merampok Kevin. Mereka melihat kalian berbelanja segitu banyak maka berpikir kalian adalah orang kaya. Mereka hanya ingin merampas barang berharga Kevin." Peter menjelaskan dengan santai seakan itu bukan kejadian besar.
Gina sudah menduga Peter akan berkata demikian untuk melindungi kelompoknya. Kalau penjahat itu mengaku ingin membunuh Kevin atas suruhan seseorang pastilah Peter akan terbawa di dalam kasus ini. Semua kejahatan Peter akan terbongkar seketika. Untuk saat ini Gina hanya manggut-manggut seakan memahami apa yang dikatakan oleh Peter. Namun di dalam hati Gina bersumpah akan mencari dalang daripada semua ini. Orang yang berhati busuk tak boleh berada di keliling orang yang baik hati.
"Gimana dengan kawannya? Apa pihak kepolisian akan cari penjahat itu?"
"Tentu saja... orang jahat itu mana boleh kita biarkan berkeliaran di mana-mana. Hari ini kejadian ini menimpa kalian kita tak tahu besok menimpa siapa lagi. Mereka harus dihukum sesuai dengan kesalahan mereka." Peter berkata seolah-olah dia adalah orang yang sangat baik.
Gina memilih tidak membantah membiarkan Peter berada di atas angin dulu. Nanti setelah mendapat informasi dari Om Sabri barulah Gina akan mengkuliti orang-orang jahat itu. Om Sabri memiliki jaringan cukup luas dalam hal bawah tangan. Gina sendiri juga memiliki teman-teman yang tak kalah sangar dalam hal kejahatan. Gina akan membongkar masalah Kevin sampai ke akar-akarnya.
"Syukurlah! Semoga mereka diberi hukuman setimpal. Kejahatan itu memang gampang dilaksanakan kalau dasarnya memang jahat tetapi hukum karma itu tetap berlaku. Siapa pun menanam buah busuk maka dia akan memanen buah yang dia tanam. Tuhan itu tak pernah tidur memantau seluruh umatnya di dunia ini. Biasanya orang yang jahat itu hanya senang sementara setelah itu akan menderita seumur hidup."
Peter agak gugup mendengar kalimat-kalimat bernada mengutuk di dalam kalimat Gina. Secara tak langsung Gina mengutuk orang yang berbuat jahat akan mendapat karma. Peter tentu saja tidak tahu kalau Gina sedang menyindirnya. Lelaki itu mengira Gina memarahi penjahat itu padahal tujuan Gina adalah menyudutkan Peter.
"Kita doakan saja! Sekarang kamu mau pulang atau mau menjaga Kevin sampai pagi."
"Aku di sini saja pak! Aku takut pak Kevin akan mencari aku bila terbangun nanti. Maaf bila aku lancang minta nginap sini! Aku tak ada tujuan lain selain merasa bertanggung-jawab pada pak Kevin."
Peter tertawa lebar melihat Gina tampak gugup minta izin tinggal merawat Kevin. Untuk gadis lain mungkin ini hal biasa namun bagi Gina ini merupakan hal paling tabu. Dia jarang intim dengan lelaki walau berada di lingkungan pekerjaan lelaki. Intinya Gina buta soal pacaran.
"Santai saja Gina! Kamu ini kan sedang dalam tugas menjadi asisten. Menjaga Kevin merupakan sebagian tugas kamu. Baiklah! Kamu di sini maka aku bisa pulang dengan tenang. Besok pagi aku akan datang lihat Kevin." Peter bangkit dari sofa berniat pergi. Lelaki tak perlihatkan sikap aneh apalagi jahat. Kalau Gina tak dengar sendiri tentu tak percaya Peter punya niat jelek pada Kevin. Sikap Peter begitu tulus pada Kevin.
"Iya pak! Apa yang harus aku lakukan bila pak Kevin bangun?"
"Biasa dia akan membaik. Beri dia obat alergi yang ada di dalam kamarnya. Itu akan membuat dia tenang."
"Baik pak! Hati-hati di jalan ya!"
"Tentu anak cantik! Jumpa besok!" Peter berjalan keluar meninggalkan rumah mewah Kevin.
Gina menatap punggung Peter dengan berbagai pertanyaan. Pertanyaan itu hanya ada dalam benak Gina. Gadis ini mana berani langsung bertanya pada Peter mengapa tega sakiti saudara sendiri.
__ADS_1