JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Lucia salah kaprah


__ADS_3

"Hei..cs itu pakai rok atau celana panjang?" tanya Gina mulai aksi detektif.


"Pakai celana panjang...kenapa? Apa aku tak boleh lindungi orang pakai celana panjang?" Gani bertanya dengan wajah tanpa dosa.


Gina menahan nafas jengkel ternyata orang yang dia pikir cewek itu ternyata seorang cowok. Pantesan Gani matian ingin tegakkan keadilan demi seorang cs laki.


"Jadi csnya itu jantan?"


"Ishhh kamu ini mulut kayak preman kaki lima! Dia itu manusia bukan hewan. Mana ada jantan betina. Cewek atau cowok gitu! Citra preman belum hilang ya!" sungut Gani tersinggung Gina gunakan tata bahasa amburadul.


"Kamu ini...asal ada hubungan dengan cowok semangat banget! Dasar makhluk ampibi."


Gani berkacak pinggang tersinggung disebut makhluk ampibi. Ini merupakan penghinaan terbesar sebagai seorang cowok. Gaya Gani lengkap seperti emak sedang berantem rebut tukang sayur ganteng di pinggir jalan.


"Hei preman panuan...apa aku ada bilang cs itu cowok. Semua cs di kantor kerja pakai celana panjang. Apa sudah ada peraturan baru cs kerja pakai rok mini? Mau pamer semua perabotan biar karyawan cowok ngak fokus kerja?" Gani berkacak pinggang menantang Gina busungkan dada yang rata. Suara Gani cukup lantang membuat Kevin menyeberang melihat perang saudara sedang meletus di kamar sebelah.


Kalau betulan berantem Gani pasti bonyok kena bogem Gina. Tapi kalau berantem pakai mulut Gina pasti kalah lawan emak jadian itu. Mulut Gani persis emak kejatuhan uang receh di pinggiran jalan. Ngomel sampai mulut tak tahu harus mencong ke arah mana.


Gina tertawa nakal sudah salah sangka. Perkataan Gani seratus persen benar. Semua pekerja bawahan memakai celana panjang demi keamanan bekerja. Gina coba bayangkan cs sedang ngepel pakai rok mini. Paha putih atau burik bakal terpapang jelas goda mata para pejantan nakal. Mereka pasti akan cuci mata kendatipun pemandangan tak seindah panorama di pantai maupun gunung.


"Sedang apa kalian?" tegur Kevin


Gani dan Gina menoleh ke arah pemilik suara secara serentak. Kevin berdiri di depan pintu menyaksikan Gani berkacak pinggang sedang marahi Gina. Yang dimarahi malah tertawa cengengesan. Kalau Gina masih bisa tertawa artinya semua aman terkendali. Kedua saudara itu sering bercanda kadang kelewatan batas.


"Begini pak Kevin yang terhormat. Gani merana melihat seorang cs di bully karyawan lain. Dia mau tegakkan keadilan buat cs itu. Apa pendapat pak Kevin?"


"Yang salah harus di peringatan. Jika terlalu kelewatan Kita pecat saja. Di dalam kantor tidak ada boleh berbuat semena-mena kepada sesama rekan kerja. Aku setuju saja bila Gani memecat karyawan yang kurang ajar itu." sahut Kevin tak mau lindungi orang bersalah.


Mata Gani kontan berbinar-binar mendapat restu dari pimpinan untuk bertindak tegas kepada mereka yang selalu berbuat sesuka hati di dalam kantor. Gani dengan senang hati akan melindungi CS yang mendapat tekanan dari karyawan senior.


"Terima kasih kak! Besok akan kusikat mereka yang sok penting."


Kevin mengangguk ikut terbakar api amarah. Ternyata di kantornya masih ada orang merasa lebih tinggi derajat dari yang lain. Kevin tak suka ada orang berhati sempit berada di lingkungan kantor.


"Bapak mandi dulu. Bapak kan mau ajak Lucia makan malam. Bersiap dulu biar tidak telat jemput buah hati." Gina menekan kata buah hati supaya Kevin ngerti Gina sedang menyindir.

__ADS_1


"Buah hati apa? Hatiku tidak pernah berbuah karena kuserahkan pada kamu sebagai pemilik tunggal. Selamanya takkan bercabang apalagi hasilkan buah lain." gombal Kevin bikin Gani baper. Bukan Gina yang kesemsem melainkan Gani meleleh kena rayuan maut Kevin. Coba kalau rayuan itu diarahkan kepadanya. Dunia kontan berwarna cerah.


"Duh yang kasmaran! Hatiku terpanah deh! Kalian lanjut saja saling gombal. Aku pergi mandi dulu." Gani mengambil handuk lalu lewati Gina yang masih terbengong kena gombalan Kevin. Gombalan maut bikin cewek keplek-keplek.


Kevin yang jarang interaksi sama cewek ternyata mampu menggombal dengan ahlinya. Gina yang risih kena gombalan Kevin. Selama ini siapa berani rayu anak ini. Mulut yang keluarkan gombalan akan dibuat sariawan oleh Gina.


"Nanti minum obat biar waras. Ayo pergi sono! Aku mau ganti baju."


"Mau kubantu?"


"Kayaknya bapak ini keturunan kucing punya nyawa rangkap. Ayo pergi atau aku berubah jadi cat woman cakar wajah bapak biar tak bisa jumpa pujaan hati."


"Ini sudah jumpa.." Kevin makin berani melihat Gina tidak segalak macan. Taring utamanya belum keluar koyak mangsa. Sejauh ini Kevin dalam zona aman.


"Kevin songong... keluar!" teriak Gina habis kesabaran digombali terus oleh Kevin. Anak itu terserang virus apa asyik keluarkan jurus dewa mabuk cinta. Dari tadi gombal tak henti.


Kevin tersenyum sudahi acara gombal menggombal untuk hari ini. Tampaknya Kevin harus nekat bila ingin mendapatkan hati Gina. Gina itu tidak bisa dibeli dengan materi melainkan dengan ketulusan. Kevin berkewajiban memperlihatkan ketulusannya kepada gadis ini barulah akan mendapat respon positif.


Kevin pergi makan malam mengajak Gani sebagai pengganti Gina. Gani yang tak tahu kata malu itu tentu saja dengan senang hati temani Kevin jumpai Lucia. Mereka dikawal oleh Jay sebagai aspri Kevin.


Mereka bertiga pergi menjemput Lucia di rumahnya. baru hari ini Gani mengetahui tempat tinggal ayah kandungnya. Selama ini Bu Sarah memutuskan kontak dengan lelaki itu serta tidak memberitahu kepada mereka siapa sesungguhnya ayah kandung mereka. Bu Sarah ingin menghapus semua kenangan bersama Subrata sampai sebersih-bersihnya. Namun tak Dia berkata lain mereka berjumpa lagi setelah sekian tahun tidak pernah bertemu. Pertemuan ini justru akan mengantar Subrata ke jurang kehancuran. Gina telah merancang jalan buat Subrata meluncur bebas ke jurang.


Jay turun bukakan pintu buat Lucia. Kevin sudah atur tempat kalau Lucia duduk di jok depan bersama Jay. Kevin belum mampu berdekatan dengan seorang wanita maka pilih menghindar duluan sebelum terjadi hal memalukan.


Muka Lucia yang telah dirias dengan cantik menjadi hitam gara-gara Kevin tidak mengijinkan dia duduk di sampingnya. Lucia sangat kecewa mendapat penolakan halus dari lelaki itu. Sia-sia dia berdandan secantik mungkin untuk menarik perhatian Kevin namun justru mendapat perlakuan tidak dia harapkan. Harusnya Lucia tidak kaget mendapat sambutan tak sesuai harapan karena telah mengenal Kevin cukup lama. Kevin jarang mau bersentuhan dengan cewek manapun selain Gina. Hanya Gina bisa bertahan di sisi laki itu.


"Kamu sangat cantik Lucia." puji Kevin akui penampilan Lucia bak langit dan bumi dengan Gina. Penampilan Lucia mencerminkan dandanan seorang high class. Sangat jauh beda dengan Gina yang tampil apa adanya tanpa memikirkan segala ***** bengek kemewahan.


Kalau sudah begini Lucia lebih pantas berdiri di samping Kevin yang terkenal sebagai seorang CEO berbakat. Mereka akan menjadi pasangan yang serasi bila dipasangkan sebagai pasangan. Namun sayang Kevin telah mencurahkan segala isi hati kepada Gina. Takkan ada orang mampu menggoyah keputusan Kevin untuk bersama Gina. Kevin sudah bertekad akan membangun mahligai rumah tangga bersama Gina yang sederhana itu.


"Terima kasih..mas Kevin. Mas juga ganteng." Lucia tersipu malu dipuji Kevin. Setiap wanita akan bangga dipuji oleh lelaki yang merajai hati mereka. Sama halnya dengan Lucia berbunga-bunga dipuji oleh Kevin walau ada ganjalan karena Kevin ajak dia pengawal ikut makan malam. Masih untung Gina tak ikut.


"Kita makan di mana?" tanya Kevin minta pendapat Lucia.


"Mas belum pilih tempat? Gimana kalau kita pergi makan seafood saja? Aku sudah lama tidak makan seafood bersama mas Kevin. Aku senang ingat mas kupas udang dan kepiting untukku."

__ADS_1


"Ok..." Kevin beri arahan pada Jay untuk menuju ke restoran seafood terkenal demi menyenangkan Lucia. Kevin belum tahu kalau dia akan rasakan rasa kecewa luar biasa menemukan fakta mengerikan tentang design Lucia. Kevin masih punya waktu nikmati suguhan kebohongan Lucia.


Jay menjalankan mobil ke tempat yang diminta oleh Kevin. Jay tak punya hak menolak karena tugasnya hanyalah melayani Kevin sebaik mungkin. Lucia melirik Jay yang lumayan menarik walau tak setampan Kevin. Setiap lelaki punya daya tarik sendiri dengan karakter berbeda. Untuk ukuran wanita umum mungkin Jay sudah termasuk kategori lumayan. Namun wanita sekelas Lucia seleranya tentu jauh beda dengan wanita lain.


"Senang kerja sebagai asisten Mas Kevin?" tanya Lucia usir rasa bosan.


"Senang Bu...pak Kevin sangat baik dan lagi kami tinggal berdekatan jadi bisa irit ongkos pulang pergi kantor."


Lucia mengernyit alis belum ngerti maksud Jay dia tinggal dekat rumah Kevin. Seingat Lucia tempat tinggal Kevin rata-rata orang dari kalangan the have. Di mana rumah Jay bisa dekat dengan Kevin.


"Kau tinggal dekat rumah mas Kevin? Tajir dong!"


"Lingkungan kami rata orang sederhana. Kami bukan orang kaya. Bukankah Pak Kevin tinggal di rumah Gani? Ya pasti dekat dengan rumahku." ucap Jay jujur apa adanya.


Lucia kaget bukan main dengar Kevin tinggal bersama Gani. Tinggal bersama Gani berarti tinggal bersama Gina. Gani dan Gina saudara kembar pasti tinggal serumah. Apa maksud Kevin pindah ke rumah kecil Gani? Pingin dekat dengan Gina atau punya tujuan lain.


"Mas Kevin...apa maksudnya mas tinggal bersama Gani?" Lucia memutar kepala ke belakang untuk lihat wajah Kevin secara langsung. Lucia sangat penasaran mendengar Kevin berada di rumah Gani.


"Iya..aku tinggal bersama Gani sudah cukup lama. Aku punya sedikit masalah dengan keluarga aku. Mereka teror aku maka aku pindah ke tempat aman. Sejak aku tinggal di tempat Gani mereka tak pernah datang lagi. Keluarga Gani tak keberatan aku tinggal di situ. Sejauh ini aman saja." Kevin berkata jujur merasa tak ada guna menutupi semua ini dari Lucia. Cepat atau lambat Lucia akan tahu kalau Kevin tinggal bersama Gani dan Gina.


"OMG...kenapa harus di sana? Kau bisa tinggal ditempat aku yang lebih layak. Besok pindah ke tempat aku saja. Taraf hidup kita selevel jadi mas takkan kesulitan beradaptasi. Apa yang bisa mereka berikan pada mas?"


Gani mencibiri keangkuhan Lucia merendahkan keluarga mereka. Keluarga Lucia belum tentu sebaik keluarga mereka. Dari awal saja keluarga Lucia sudah menyimpang menghancurkan rumah tangga orang. Di mana nilai kebaikan orang kaya itu.


"Kami memang tak punya apa-apa tapi kami punya harga diri tak merampok hak orang. Setiap butir beras yang kami masak itu halal. Tidak seperti orang yang klaim orang tajir tapi hasil perampokan." ujar Gani mulai sewot tak dipandang sebelah mata oleh Lucia. Jangan mentang kaya bisa seenak perut hina orang lain.


"Hei Gani...kamu ini adik aku! Apa sopan ngomong gitu sama kakak? Seharusnya kalian sadar diri tak memaksa menampung mas Kevin. Malam ini juga mas pindah ke rumah aku. Kita tak usah makan malam lagi. Kita putar balik ambil pakaian mas pindah ke rumahku. Di sana banyak kamar kosong."


"Aku tak merasa punya kakak. Aku cuma punya adik kembar yang pintar. Bukan orang mengandalkan make up cari perhatian." Gani mulai ikut jejak Gina tak mau akui punya hubungan darah dengan Lucia akibat kesombongan wanita itu. Boleh kaya tapi janganlah hina orang miskin seakan hidupnya sangat sengsara.


"Gani...aku sudah baik hati mau anggap kamu dan Gina sebagai saudara. Tak usah belagu. Kalau aku mau bisa saja pecat kamu dan Gina dari perusahaan mas Kevin. Aku masih punya hati kecil tak mau pecahkan piring nasi kalian. Tanpa kerja apa kalian bisa hidup layak? Tak usah berdebat dengan aku lagi. Kita putar kepala Jay. Aku mau ambil barang mas Kevin dari rumah Gani." Lucia berkata dengan sok seolah Kevin sudah pasti akan pindah ke rumah dia. Lucia merasa punya hak seratus persen atas Kevin.


Kevin menutup mata sesali rencana makan malam damai menjadi ajang adu mulut antara Gani dan Lucia. Mereka memang saudara satu ayah lain ibu. Pola hidup mereka bagai langit dan bumi. Satu keluarga merakyat budidayakan kasih sayang sebagai landasan hidup. Satunya lagi hidup dalam tumpukan harta namun tak punya hati tulus.


Kevin mana mungkin masuk ke keluarga yang sama hancurnya dengan keluarga papanya. Kevin sudah tenang berada di sisi Gina mana mau tinggalkan tempat hangat penuh rasa cinta itu.

__ADS_1


"Stop Lucia...aku antar kamu balik kalau batal makan malam. Aku takkan pindah dari tempat Gani. Aku tinggal di situ atas keinginan aku sendiri. Di sana ada kehangatan yang tak ada di kehidupan kita. Setiap udara yang ku hirup di sana melegakan dada. Jangan memandang rendah orang Lucia. Mereka memiliki banyak kelebihan yang tak kita miliki." kata Kevin mematahkan niat Lucia paksa dia tinggalkan rumah om Sabri.


Susah payah Kevin masuk situ dan sekarang disuruh pindah hanya alasan tak masuk akal. Kevin bukan orang bodoh mudah masuk perangkap Lucia. Kevin bukan tak tahu Lucia suka padanya namun sayang Kevin tak suka. Kevin hanya anggap Lucia rekan kerja juga teman baik.


__ADS_2