JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Aman


__ADS_3

Dalam hati masing-masing berdoa semoga Gina diberi tetap jadi kesempatan monster yang ditakuti para anak buah bengkel. Gina masih terlalu muda untuk tinggalkan dunia ini. Kiprahnya di dunia ini belumlah tercatat dalam kamus malaikat kebaikan. Gina harus berjuang untuk bisa kembali pada keluarga.


Semua menunggu dengan hati berdebar-debar mau tahu kesehatan Gina. Kevin menggigit bibir menguatkan jantung agar tidak anfal bila terima kabar buruk sekalipun.


Perawat keluarkan dengan tergesa-gesa tanpa menyapa mereka yang keheranan menunggu dari tadi. Mengapa perawat itu berlari kecil ntah ke mana. Keempat pria yang sedang menunggu kabar baik terpana melihat kesibukan perawat. Segudang pertanyaan bermain di benak mereka. Gina mengapa sampai perawat kesetanan mencari sesuatu.


Kevin ingin mengejar perawat itu namun ditahan oleh Pak Julio. Kevin mau cari ke mana perawat itu sedang dia sendiri tak tahu arah mana dituju oleh pegawai medis tersebut.


"Tunggu sini saja." Pak Julio mencekal lengan Kevin agar tak pergi. Kevin ingin melawan namun Pak Julio membesarkan mata minta Kevin tidak gegabah membuat keadaan makin kacau. Pak Julio bukannya tak tahu kapan saja Kevin bisa histeris mengingat kondisi jiwanya yang labil.


Gani bukannya tak paham maksud Pak Julio. Laki itu tentu tak ingin menambah gaduh. Serta merta Gani hampiri Kevin bahu laki agar tenang. Kalau boleh Gani mau peluk Kevin sebagai saudara. Gani buang jauh pikiran nakal doyan bebauan laki macho. Sekarang bukan waktunya bermesum ria.


"Kak Kevin...kita serahkan semua pada yang di atas. Monster bukan makhluk lemah gampang menyerah. Dia akan berjuang untuk kita. Dia tahu kita akan sedih bila dia tak ada. Dia takkan tinggalkan aku dan bengkel warisan papi. Dia itu orangnya amanah. Dia pasti selamat." Gani menghibur Kevin sementara di dalam hati sangat berduka melihat kepanikan sang perawat. Gani bukan orang bodoh yang tidak mengetahui kalau terjadi sesuatu kepada Gina tapi mereka tidak memiliki daya untuk membantu saudara kembarnya itu. Hanya satu yang dapat mereka lakukan yaitu berdoa semoga Gina diberi umur panjang untuk melanjutkan semua tugas yang dilimpahkan ke bahunya.


Perawat datang bersama dua orang berpakaian putih. Mereka masuk ke dalam tanpa menyapa mereka yang berada di luar. Dokter dan perawat pilih bungkam untuk menyelamatkan pasien yang mendadak drop. Mereka akan lakukan yang terbaik untuk selamatkan nyawa Gina. Operasi memang berjalan sukses namun tak menjamin Gina melewati masa kritis. Lever Gina kena tusukan itu yang menjadi kendala penyembuhan.


Keringat dingin mengalir dari pori-pori kulit Kevin tanpa terkontrol. Wajah Kevin terlihat makin memutih seperti menahan sesuatu. Pak Julio cepat melihat perubahan Kevin langsung hampiri laki muda itu. Jangan nanti Gina selamat dari maut Kevin pula bikin cerita baru buat orang panik.


"Vin...kurasa dokter cuma mau memastikan kalau Gina siuman. Tak ada yang perlu kamu kuatirkan." Pak Julio berkata sampai melirik ke arah Gani mengharap laki gemulai itu memiliki sesuatu trik untuk menenangkan Kevin.


Pak Julio sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan Kevin karena selama ini yang menangani Kevin adalah Gina. Gina sedang bercanda dengan bawa maut bagaimana bisa membawa Kevin ke posisi lebih baik. Pak Julio hanya berharap semoga Gani mengetahui apa yang terbaik untuk Kevin.


"Bapak betul kak Kevin. Percayalah kalau monster tidak segampang itu menyerah! Dia kan orang nya mata duitan. Dia mana mau tinggalkan segudang uang tanpa pesan buat kita. Kakak kayak tak tahu Gina saja. Dia itu takkan puas bila tujuannya belum tercapai. Kita sabar dulu ya!"


Kevin tidak menjawab. Hanya matanya saja yang liar memandangi raut wajah Gani seperti memikirkan semua kata Gani. Mata itu agak memerah menahan gejolak kesedihan. Apakah Kevin akan kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kali? Pertama mamanya langsung mengubah dunia Kevin jadi kelam. Andai Gina tidak selamat mungkin dunia Kevin akan segera kiamat.


Jay turut prihatin melihat jalan hidup Kevin yang tak mulus. Memiliki segudang uang belum tentu menjamin orang itu hidup bahagia. Kevin punya uang namun tak mengecap apa arti hidup tenteram. Gelombang besar selalu menghantam kehidupan lagi ini. Badai belum reda menerpa biduk yang sedang di kayuh oleh Kevin untuk mencapai dermaga terakhir.


Keheningan melanda sambil menunggu para dokter menangani Gina. Semua pingin cepat dokter beri keterangan mengenai kondisi Gina yang terakhir. Pak Julio tidak ragu lagi pada kasih sayang Kevin pada Gina. Sudah tepat berikan Gina pada Kevin. Kevin pasti akan menjaga Gina dengan baik bila gadis itu bisa selamat dari incaran maut.


Pintu ruang ICU tempat Gina dirawat tiba-tiba dibuka oleh seorang dokter. Dokter itu tidak ada niat berjalan menjauh malah berhenti di depan pintu seakan ingin memberi kabar kepada keluarga pasien. Kevin paling duluan mendekati dokter itu mengharap ada kabar baik. Bukan cuma Kevin mengharap kabar baik melainkan semuanya.


Dokter itu mengusap wajah sambil menghembus nafas seperti ada beban menghimpit paru-parunya sehingga sulit bernafas dengan baik. Gani yang berdiri paling belakang merasakan ada aura negatif di dalam tingkah dokter itu. Apapun itu mereka tetap mengharap kabar baik.


"Pak dokter... bagaimana kondisi istri aku?" Kevin tidak ragu mengeluarkan pertanyaan yang memang seharusnya dilontarkan paling duluan.


"Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritis. Tadi jadi pendarahan sedikit melalui mulut. Setelah kami periksa ternyata itu adalah sisa gumpalan darah yang tidak tersedot keluar. Untuk menjaga kestabilan pasien kami memohon kalian bersabar dan tidak menemuinya. Yang penting pasien sudah lewati fase kritis. Kini tinggal pemulihan saja."


"Alhamdulillah..." ucapan puji terdengar serentak dari mulut keempat pria itu. Kevin meneteskan air mata sakit bahagianya mendengar keterangan dari dokter yang membawa pesan positif.

__ADS_1


"Sekarang kalian boleh lega. Cuma kami meminta agar kalian tidak mengungkit masalah ini di depan pasien. Apapun yang terjadi tunggu sampai dia betul-betul sehat barulah kalian bahas lagi. Satu lagi...kita terpaksa menolak kehadiran pihak berwajib sampai pasien bisa tanya jawab." dokter itu kembali mengingatkan keluarga pasien agar betul-betul menjaga kondisi guna agar tetap stabil.


"Kami akan upayakan semua nasehat dokter. Kami sekeluarga ucapkan terimakasih atas pertolongan dokter. Lakukan yang terbaik tak peduli berapa biaya perawatan." Pak Julio wakili Kevin kukuhkan agar dokter jangan ragu soal biaya perawatan.


Dokter itu tertawa kecil paham kalau keluarga pasien bukanlah keluarga dari kalangan bawah. Namun sebagai dokter tidak bisa memandang miskin atau kaya dalam menangani pasien. Semua pasien akan ditangani melalui prosedur yang sama dalam memberi pertolongan nyawa pasien.


"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Sekarang kalian boleh pulang istirahat. Tunggu satu dua hari ini untuk memindahkan pasien ke ruang perawatan biasa. Sekarang masih harus berada di ICU untuk memantau semua kegiatan organ dalam pasien. Aku permisi untuk memastikan pasien dalam kondisi stabil." dokter itu balik badan masuk kembali ke dalam ruang ICU di mana Gina sedang dirawat.


Kevin tidak malu bila menangis untuk Gina. Untuk orang tercinta semua pantas dilakukan apalagi hanya menetes air mata untuk ungkap seberapa sedih.


Kini semua bernafas lega. Wajah Pak Julio tidak berkerut seperti tadi. Wajahnya yang biasa tampak welas kini kembali tenang. Pak Julio bahagia tidak ingkar janji kepada kakaknya untuk menjaga amanah sang kakak. Paling tidak Gina terselamatkan.


"Gan..hubungi Lucia kasih tahu kalau Gina sudah aman. Dia sudah menyumbang darah maka dia harus tahu kalau darahnya mengalir tidak sia-sia." Pak Julio ingatkan Gani untuk kabari Lucia sesuai janji mereka sebelum Lucia pulang.


"Iya pak!" Gani membawa badan jauhi depan pintu ICU agar tak ganggu istirahat Gina. Kadang muncul sikap latah Gani bisa berteriak kencang tanpa terkontrol. Gani sudah tahu tabiat sendiri maka cari aman duluan.


Sementara itu pak Julio menepuk bahu Kevin untuk ucapkan selamat kalau istri Kevin sudah menang lawan maut. Kemenangan Gina merupakan kemenangan mereka semua.


Kita kembali pada Gani yang mulai cari kontak Lucia. Rasa benci pada Lucia perlahan memudar berganti rasa ingin berbagi kasih. Lucia juga korban masa lalu. Cuma sayang Lucia terlalu angkuh dengan kekayaan papanya.


"Halo.. assalamualaikum...Lucifer ya?"


"Wuih...panas amat! Sudah sampai rumah belum?"


"Kuatir kakaknya diculik ya?" Lucia terdengar senang Gani beri perhatian. Nada suaranya ceria.


"Ge er amat...balik lihat Subrata ya! Nanti si tua bangka itu merana kesepian."


"Kamu ini...bisa ngak jaga mulut jangan selebar ember! Subrata itu papa kamu. Iya nanti aku balik sana. Aku akan tidur di rumah sakit. Puas? Eh gimana monster? Sudah sadar?"


"Tadi sadar sebentar. Sempat bikin kami sport jantung sih tapi puji syukur dia telah lewat masa kritis."


"Bagus..."


"Kok bagus? Bilang Alhamdulillah gitu! Mau pamer Islam cuma KTP ya? Nanti belajar ngaji sama monster. Dia sangat pintar ngaji."


"Kalian anak pintar dan baik...kalian terdidik mengenal agama sedang aku dididik pakai segepok uang. Kadang materi bikin kita lupa diri. Aku bersyukur punya saudara seperti kalian. Kamu lucu dan ngeselin tapi aku sayang."


Hati Gani tersentuh dengar pengakuan Lucia. Subrata dan Angela sudah salah arahkan Lucia ke jalan tak benar. Untunglah sekarang Lucia sadar kalau dia telah salah jalan. Belum terlambat untuk kembali ke jalan yang diridhoi oleh Allah.

__ADS_1


"Cengeng amat... hati-hati jaga diri! Jangan keluyuran sendirian. Kurangi dugem..."


"Iya adikku sayang yang cantik.."


"Mulut ular...aku ini ganteng tau...sudah.. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Gani masih sempat dengar Lucia jawab salam. Ini awal yang baik untuk seorang yang pernah tersesat ke jalan kiri. Semoga ke depan Lucia menyadari semua salahnya dan tobat.


Gani menyimpan ponselnya dan kembali bergabung ke Pak Julio dan Kevin. Wajah Gani juga mulai cerah walau tidak secerah biasanya. Selama Gina masih berada di ruang ICU hati Gani belum bisa tenang. Kondisi Gina bisa berubah setiap saat bila terjadi pendarahan di dalam organ tubuh.


"Well...bapak pulang istirahat sebentar. Nanti bapak datang lagi bersama ibu. Kalian pantau terus kondisi Gina. Setiap ada perubahan langsung kasih kabar ya!" Pak Julio hendak pulang untuk dinginkan kepala setelah lalui masa sulit kuatir tentang Gina.


"Bapak tenang saja...kami akan jaga Gina!" sahut Gani yakinkan pak Julio dia dan Kevin bisa jaga Gina.


Pak Julio mengangguk percayakan Gina pada pemuda ini. Dia harus pulang kabari keluarga tentang Gina. Pak Julio mau bawa istrinya jenguk keponakan tersayang itu. Pak Julio juga butuh ruang untuk menenangkan diri setelah syok berat melihat Gina dalam kondisi sekarat.


"Assalamualaikum..." pak Julio lantunkan salam sambil melangkah pergi.


"Waalaikumsalam..." koor ketiga laki muda tersebut.


Rona wajah Kevin masih pucat belum pulih dari syok berat. Gani iba juga lihat kondisi jiwa adik iparnya itu. Laki berpenyakit trauma harus lawan gejolak tekanan batin lihat istri sekarat. Gani rasa kebencian Kevin pada Angela tak bisa diukur dengan meteran apapun. Namun itu fakta tak bisa dielakkan. Angela telah sukses antar monster terkapar di meja operasi.


"Kak Kevin pulang sama Jay ya! Biar aku jaga Gina. Nanti setelah kak Kevin istirahat biar gantian aku pulang untuk mandi. Kita gantian jaga Gina." Gani membujuk Kevin pulang untuk dinginkan hati.


"Tapi Gina belum ada kepastian." tukas Kevin belum ingin pergi jauh dari Gina.


"Pak bukankah dokter sudah bilang Gina dalam kondisi stabil. Ada baiknya bapak pulang dulu. Setelah bapak makan dan mandi kita balik sini. Malam ini kita semua jaga di sini." Jay ikut membujuk sedih lihat keadaan Kevin. Seorang Ceo besar kelewat bucin tak bisa berpikir waras lagi. Kevin seperti anak kecil kehilangan induk tak bisa berpikir secara normal. Akalnya telah terbawa ke dalam jiwa Gina.


"Jay betul kak...kita semua bertumpuk di sini juga tak bisa apa-apa. Lebih kakak pulang dan makan dulu. Kalau kakak sakit siapa akan temani monster bila sadar. Yang paling dia butuhkan adalah kakak. Kalau dia melihat kondisi kakak maka dia pun akan ikut bersedih."


Kevin angguk menganggap perkataan Gani mengandung kebenaran. Kalau Gina tersadar melihat kondisinya berantakan wanita itu pasti sangat sedih. Oleh sebab itu Kevin harus tampil fit untuk membuat Gina tenang.


"Ok...kita pulang! Tapi kamu jangan lengah. Begitu ada kabar jangan tunda langsung telepon aku ya!"


"Beres kak! Pulang dan coba tidur. Balik sini sudah harus fit dan segar."


Kevin kembali ayunkan kepala keatas bawah. Jay lega Kevin mau patuh pada mereka. Rasa persaudaraan yang diterapkan dalam dalam organisasi mereka membuat Gani dan Jay tak bisa tutup mata biarkan Kevin terpuruk. Mereka harus saling membahu bangkitkan semangat Kevin.

__ADS_1


Kevin melangkah pergi diiringi oleh Jay. Gani beri kode pada Jay untuk jaga Kevin dengan membuat gerakan tangan memeluk badan sendiri. Jay pasti ngerti maksud Gani balas acungan ibu jari. Gani lega semua berjalan kondusif. Kini dia hanya bertanggung jawab pada Bu Sarah. Tak mungkin juga dia kabari bu Sarah tentang Gina. Bisa pingsan maminya bila tahu Gina sedang bergelut dengan maut.


__ADS_2