
Kevin segera bangkit untuk tinggalkan hotel menuju ke kantor. Dia harus meyelesaikan rencana menikah dengan Gina. Yang terlintas di benak Kevin adalah membeli cincin kawin agar Gina tidak merasa tak berharga. Kevin ingin mengikat Gina seumur hidup maka ingin memberi yang terbaik buat gadis itu. Berapapun harga cincin pasti akan dia bayar tanpa menawar. Itu nazar Kevin bila pergi ke toko perhiasan.
Kevin menyalami keluarga Gina dengan takzim tinggalkan semua kedudukan sebagai seorang CEO. Di mata keluarga dia tetap seorang anak mantu wajib hormat pada yang lebih tua.
Semua kelakuan Kevin makin menimbulkan respek di hati opa dan Oma. Mereka makin tenang tinggalkan Gina kepada Kevin.
Kevin melangkahkan pergi dengan langkah ringan. Tugas terberat dalam hidupnya telah terselesaikan. Kini dia hanya tinggal menyusun rencana ke depan bersama wanita pujaan hati.
Jay masih setia menunggu Kevin di parkiran. Jay berharap Kevin sukses merebut hati keluarga Gina. Gina juga punya hak untuk bahagia setelah lewati hari-hari super sulit. Jay melihat Gina tumbuh dari hari ke hari dan tahu perjuangan gadis itu untuk bisa sampai hari ini.
Mata awas Jay menangkap ada cahaya kemilau terpancar dari raut wajah Kevin bertanda baik. Kabar gembira akan segera sampai di telinga Jay. Jay tak ragu kalau Kevin telah mendapat apa yang dia harapkan. Jay ikut senang bila Kevin telah berhasil taklukkan keluarga Gina.
"Ayo kita ke toko perhiasan terbaik!" ajak Kevin begitu tiba di depan Jay.
"Sukses ya."
"Alhamdulillah sukses..." sahut dibarengi senyum bahagia.
"Selamat ya pak! Kami serahkan bos kami pada bapak. Kami harap bapak jangan kecewakan dia karena Gina pantas bahagia." ujar Jay serius minta agar Kevin jaga Gina dengan tulus. Harapan Jay nyaris sama dengan harapan om Sabri. Mereka semua inginkan kebahagiaan Gina.
"Insyaallah aku akan amanah." kata Kevin sambil buka pintu mobil untuk mencari cincin kawin buat mereka. Kevin tak tahu kapan mereka bisa ijab kabul namun mempersiapkan dari sini lebih aman ketimbang harus sibuk mencari secara tergesa-gesa.
"Kita ke mana pak?" Jay ikut masuk ambil posisi di supir.
"Ke toko perhiasan. Jalan saja aku akan tunjuk jalan."
"Apa kita tak perlu minta pendapat nona monster. Bapak harus tahu lingkaran jari serta selera nona monster. Bapak tak bisa ambil keputusan sendiri karena ini milik bersama."
Kevin tertawa merasa bodoh tak paham cara menyenangkan cewek. Malah Jay yang dibilang preman lebih paham kemauan para cewek. Untunglah Jay ingatkan Kevin untuk minta pendapat Gina. Gina tentu merasa lebih dihargai karena Kevin tak sok berkuasa ambil keputusan sendiri.
"Terimakasih Jay. Aku hampir salah ambil keputusan. Biar kuteleponi nona monster kalian." Kevin bersyukur cepat disadarkan oleh Jay tak boleh main koboi memilih cincin sepihak.
"Kurasa itu lebih bagus. Kita cabut ya!" Jay stater mobil keluar dari parkiran hotel.
Di jok belakang Kevin mengeluarkan ponsel mencoba hubungi Gina. Semoga saja Gina sudah gunakan ponsel pemberian dia agar bisa video call. Kevin tak sabar mau lihat reaksi Gina secara live bila diberitahukan kalau orang tuanya sudah restui mereka berdua. Tampang gadis itu pasti akan malu-malu kucing bila mendapatkan restu untuk jadi istrinya.
Cukup lama Kevin telepon baru diangkat. Gadis itu sedang sibuk atau malas angkat telepon Kevin. Kalau Kevin berada di samping gadis itu pasti akan cubit pipi sang pujaan hati tega abaikan telepon dari calon suami.
"Assalamu'alaikum nona cantik! Sibuk ya!"
"Waalaikumsalam..sudah tahu masih tanya. Ada apa pak?" tanya Gina lugu tak ingat kalau Kevin sedang perjuangkan cinta mereka.
"Ya Tuhan... mengapa ada cewek tak peka model kamu. Aku ini sedang berencana ke toko perhiasan. Aku mau jemput kamu untuk pilih cincin nikah kita."
"Oh itu...terserah bapak saja. Kalau repot sekali gunakan cincin penutup minuman kaleng juga boleh. Aku takkan protes."
"Kau ini...kau pikir suamimu ini kere. Masa harus sampai gunakan cincin penutup minuman kaleng. Menghina sekali."
__ADS_1
"Itu hanya simbol duniawi. Cincin yang asli telah terlingkar dalam dada. Itu yang penting."
Kalimat Gina yang menohok bungkam kan Kevin. Jelas sekali Gina mau katakan dia tak open dengan segala kemewahan perhiasan. Dia hanya butuh ketulusan.
"Iya nyonya tapi aku tetap ingin memberimu satu kenangan manis. Aku pilih atau jemput kamu untuk lihat bersama."
"Bapak pilih saja sesuai dengan panggilan hati bapak. Kalau kita memang sehati aku pasti akan suka."
"Tapi aku tak tahu lingkar jari kamu. Aku tak mau kekecilan maupun longgar. Aku mau pas."
"Sampai sana bapak vc saja. Aku akan beri petunjuk pada bapak untuk ukuran cincinnya. Aku sedang sibuk banget. Ini masalah internal perusahaan."
"Baiklah! Terimakasih sudah percaya padaku. Apa kau tak tanya mengenai pertemuan dengan keluarga kamu?"
"Apa perlu ditanya lagi kalau bapak sudah berani ambil keputusan beli cincin. Anak kecil saja bakal tahu jawaban kalau sudah ada yang berani melangkah lebih jauh."
Kevin anggap jawaban Gina sangat tidak romantis. Maunya Gina bertanya manja gimana hasil pertemuan dengan suara bikin Kevin tersenyum sendiri. Ini resiko punya pacar orang keras tak bisa basa-basi layak cewek lain. Jawaban Gina hanya cerminkan kecerdasan seorang komisaris.
"Iya nona...sinis amat! Aku sudah jumpa ayah dan ibumu serta opa dan Oma. Mereka restu kita dan menitip kamu ke aku. Kau harus patuh padaku ya. Aku sudah timbang terima tugas berat ini dari ayah kamu."
"Ok...aku akan lindungi kamu...Sudah ya! Assalamu'alaikum."
Kevin melongo Gina langsung menutup telepon tanpa beri dia kesempatan untuk balas salam. Asli wanita berwatak monster. Apa Kevin sanggup hidup dengan wanita besi ini. Untuk mundur sudah terlambat. Kevin tak punya jalan mundur lagi selain harus siapkan mental dijajah oleh wanita muda itu.
Jay melirik ke belakang melihat mengapa Kevin mendadak diam. Reaksi wajah tolol Kevin bikin Jay mau tertawa ngakak. Kevin pasti baru saja kena mop mental dari monster kampung mereka.
Beginilah hasil mau pacaran dengan gadis tak punya jiwa feminim. Mungkin Gani lebih feminim dari Gina. Naluri kewanitaan Gani lebih mencuat bila dibandingkan Gina.
Kevin mengatur nafas agar tak terbawa rasa kesal diabaikan Gina. Kevin harus latih diri agar terbiasa hadapi sikap cuek Gina.
Kevin menyebut salah satu toko perhiasan ternama langganan orang kaya dan bintang terkenal. Perhiasan di situ tak ada yang harganya di bawah seratus. Rata-rata di atas ratusan juta karena memang produk berkelas. Kevin ingin memberi yang terbaik buat Gina supaya gadis itu tahu betapa berharganya dia buat Kevin.
Jay arahkan kenderaan ke tempat yang di tuju oleh Kevin. Orang macam Jay mana ngerti di mana tempat orang beli cincin kawin paling top. Itu level kelas tinggi buat mereka yang berkantong tebal. Ntah kapan giliran Jay belanja di tempat begitu untuk pujaan hati. Jay harus makin rajin menabung untuk menyaingi Kevin memanjakan pujaan hati. Sayang sampai sekarang Jay belum punya gadis nyangkut di kalbu.
Toko yang dimaksud Kevin berada di salah satu pusat perbelanjaan terkenal di kota. Dari luar saja sudah tampak betapa high class toko perhiasan itu. Pengunjungnya memang tak banyak mungkin karena harganya bisa merusak kantong. Bagi Kevin itu bukan masalah karena kantongnya terbuat dari kulit Badak anti bocor.
Kevin mengajak Jay ikut masuk agar ada kawan kasih saran mana yang cocok untuk dia dan Gina. Kevin prioritas utama keinginan Gina. Gadis tak menuntut tapi Kevin tak mau beri perhiasan abal-abal.
Hawa sejuk AC menyambut Kevin dan Jay masuk toko perhiasan berbau harum itu. Pramuria toko langsung tarik bibir ke atas bentuk senyum ramah menyambut pelanggan. Yang berani masuk toko ini pasti bukan orang kere. Tulang punggung sudah cukup kokoh baru sanggup belanja di toko serba mahal ini.
"Selamat datang pak...silahkan!" sang pramuria menyapa super ramah.
Netra Kevin melihat pajangan perhiasan yang tersusun rapi di etalase kaca. Kilauan batu permata terpantul oleh cahaya lampu terang benderang. Jay ikutan melihat siapa tahu kelak punya gambaran cincin model apa bisa dia persembahkan pada pujaan hati.
"Aku butuh cincin nikah model terbaru." ujar Kevin berharap sang penjaga toko bisa kasih saran.
"Oh ada pak...ini produk kami yang terbaru. Sederhana tapi elegan." sang pramuria mengeluarkan sebuah kotak warna keemasan tertata sepasang cincin warna putih.
__ADS_1
Modelnya memang sederhana berhias batu berlian mungil tiga butir berbaris rapi. Yang lebih menarik batu itu tidak terlalu menonjol membuat yang memakai nyaman tidak terhalang oleh batu bila aktivitas. Kevin meraih benda mahal itu tunjukkan pada Jay seraya minta pendapat.
"Gimana? Apa cocok sama sekeras monster kalian?"
Jay tertawa geli Kevin ikutan panggil Gina sebutan monster. Apa laki ini baru sadar sedang bahayakan diri sendiri melamar monster.
"Kalau aku sih rasa ini cocok. Tidak ribet tapi lebih baik bapak kirim gambar pada Nona monster. Minta pendapat dia."
"Kau benar...tunggu!" Kevin meletakkan kotak cincin di atas kaca etalase mencari ponsel di saku celana. Laki ini tak sabar mau kasih tahu Gina dia sudah dapat cincin yang dimaksud. Tinggal tunggu ACC Gina apa setuju dengan pilihan Kevin.
Kevin lakukan panggilan video call biar Gina bisa lihat langsung cincin pilihan sang pramuria toko. Kevin juga suka modelnya sederhana tidak terlalu menyolok.
Kevin lakukan panggilan berkali-kali namun belum ada jawaban dari seberang sana. Sesibuk apa Gina sampai tega abaikan calon suami yang semangat mau menyenangkan calon istri. Kevin tak tahu kalau Gina sedang berperang melawan para tikus pengerat di kantor. Gina tak mau lengah kasih hati pada orang berhati culas. Gina memang sibuk sekali sampai tak bisa angkat telepon Kevin.
Jujur Kevin sangat kecewa pada Gina abaikan niat baiknya. Namun jangan hanya karena masalah sepele dia merusak rencana indah mereka. Kevin haru banyak belajar kata sabar serta dalami sepatah kata itu.
"Dia tak angkat telepon." gumam Kevin sangat kecewa.
"Mungkin dia sibuk pak! Atau nanti kita balik lagi. Kita ke kantor dulu." usul Jay biar Kevin tidak bosan menunggu balasan Gina.
"Tak perlu...kita pilih beberapa macam dan bawa pulang saja. Nanti di rumah biar Gina yang tentukan." Kevin punya pandangan sendiri tak mau repot bolak balik ke sini.
Jay terbelalak takjub dengar betapa gampang Kevin bilang pilih beberapa macam. Apa semuanya dikasih gratis sehingga boleh bawa pulang sesuka hati. Mungkin juga Kevin terlalu kaya tak anggap uang untuk Gina jadi mubazir.
"Bagus di bapak saja." Jay tak punya pendapat bila menyangkut masalah uang. Dia memang kere tak punya modal. Ini untung dapat kerja tetap walau harus merangkap asisten.
"Nona...tolong pilih dua macam lagi agar aku bisa bawa pulang untuk diperlihatkan pada tunangan aku! Aku akan kembalikan bila sudah terpilih yang cocok selera tunangan aku." ujar Kevin bikin pramuria toko sangsi apa Kevin sanggup bayar semua harga perhiasan. Tak mungkin perhiasan dipinjamkan tanpa pembayaran. Kevin harus bayar semaunya baru bisa bawa pulang.
"Maaf pak...bapak harus bayar ketiganya baru boleh bawa pulang. Aku tak bisa tanggung jawab izinkan bapak pinjam perhiasan ini." Pramuria itu berkata sedikit segan. Tentu saja dia takut dianggap kurang ajar pada pelanggan padahal itu wajar dia lindungi barang titipan dari majikan alias pemilik toko.
Kevin tak marah malah senang penjaga tokonya amanah bertanggungjawab pada pekerjaan. Pegawai begini sudah mulai langka di zaman ini. Banyak yang bekerja asalan tak peduli seberapa besar kerugian majikan.
"Aku maklum...panggil manager toko kalian bair aku yang bicara langsung dengan Bu Cahaya."
"Oh bapak mengenal Bu Cahaya? Bapak tunggu di sini biar kupanggil ibu. Beliau ada di belakang." Pramuria itu menyimpan kotak cincin ke dalam kaca etalase untuk amankan barang yang baru dipegang oleh Kevin. Dia tak kenal Kevin maka harus hati-hati agar tak terjadi hal tak diinginkan.
Kevin manggut-manggut memuji ketelatenan gadis penjaga toko. Sudah manis punya talenta tinggi.
"Kau lihat Jay? Kau harus belajar dari nona penjaga toko. Dia sangat hati-hati dalam sekecil apapun."
Jay angguk setuju kalau kerja tak boleh setengah hati. Maunya mengabdi sepenuhnya agar kerja sempurna.
Dari balik pintu kaca muncul satu sosok wanita anggun berkacamata putih. Wanita itu tertawa lebar melihat siapa yang dimaksud penjaga toko. Sudah wanita ini duga yang datang pasti bukan sembarangan orang. Berani keluar mulut mau pinjam perhiasan tentu sudah ada persiapan ditolak.
"Pak Kevin...tumben turun gunung secara pribadi?" sapa wanita itu akrab dengan Kevin.
"Bukan turun gunung tapi naik gunung gali perhiasan untuk calon istri."
__ADS_1
Wanita itu mendekap mulut surprise Kevin mengatakan ada calon istri berarti Kevin akan segera melepaskan masa lajang. Cahaya belum pernah dengar Kevin. dekat dengan wanita dan kini mendadak sebut adanya calon istri.
"Siapa wanita beruntung itu? Aku patah hati." olok Cahaya menyebabkan Kevin tertawa.