JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Ibu Sakit


__ADS_3

Kevin tak habis pikir Gina ini gadis model apa? Seorang pemimpin sudah beri signal kalau dia mau jalin hubungan serius dengannya tetapi dengan santainya dia menolak perhatian dari Kevin. Kevin jadi curiga kepada Gina kalau gadis ini mempunyai kelainan jiwa tak menyukai lelaki. Dari segala tindak-tanduk Gina memperlihatkan sikap kasar seorang lelaki. Apa mungkin Gina ini lebih menyukai perempuan daripada lelaki? Gadis normal manapun pasti akan senang digombali oleh seorang CEO kaya raya.


"Baiklah! Besok kamu juga harus ikut rapat dengan Pak Julio agar tahu apa rencana lelaki itu?"


Gina mengangguk kecil lantas memutar badan meninggalkan ruang kerja Kevin. Gina sudah melaporkan apa yang harus dilaporkan maka selanjutnya kembali bertugas sebagaimana biasa. Dia tak boleh lama-lama berada di ruang kerja Kevin untuk hindari tak sedap di kalangan karyawan. Beberapa waktu ini hubungan Kevin dan Gina cukup dekat sudah mendatangkan pertanyaan di dalam benak karyawan. Maka itu Gina harus pandai menjaga jarak agar tidak timbul gosip yang lebih mengerikan.


Kevin tidak melarang Gina meninggalkan ruang kerjanya. Hanya mata Kevin nanar menatap kepergian gadis ini dengan berbagai pertanyaan di dalam otak. Kevin sedang berpikir dengan cara apa dia harus mempertahankan Gina yang memang tampak tidak terlalu tertarik bekerja di perusahaan. Kalau bukan karena Gani Kevin yakin Gina takkan mau datang ke perusahaannya.


Hari ini berlalu tenang sampai sore. Kevin dan Gina tidak banyak interaksi lagi sampai lepas kerja. Di ruang lain Lucia resah tak berhasil pengaruhi Gina untuk bekerja sama. Lucia bersedia berikan seluruh harta asal Gina bersedia membantunya menutup malu. Ini kali terakhir dia akan merancang. Selanjutnya dia akan pura-pura tak punya ilham untuk merancang lagi.


Lucia tidak akan kehilangan pamor bila mengundurkan diri secara terhormat. Kebohongannya selama ini tidak akan terungkap karena dia duluan mengundurkan diri ketimbang ketahuan berbuat curang. Namun sayang justru Gina tidak ingin Lucia berakhir dengan kemegahan membohongi seluruh lapisan masyarakat. Gina mau buka kedok Lucia mempermalukan Mahabarata punya anak pembohong.


Tak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh Gina untuk menjebak Lucia masuk perangkap. Hanya dia yang tahu apa yang terjadi.


Peter sendiri tidak muncul sejak penolakan Pak Julio terhadap proyek yang akan digarapnya. Tak tahu apa yang ada di benak lelaki itu setelah pekerjaannya dihentikan. Lelaki itu juga tidak sadar kalau setiap langkahnya sedang diawasi oleh teman Gina. Gina mau tunggu hasil kerja rekannya. Gina mau hasil terbaik karena dia telah rogoh kantong cukup dalam. Gina tak mau uangnya tersiakan oleh laporan kosong.


Selepas dari kantor Kevin bawa ketiga anak buah Om Sabri itu ke rumahnya. Hadi akan ditinggal di sana untuk mengawasi orang yang datang. Hadi harus tinggal di situ gantian dengan satpam lain yakni Mitro. Gina sudah tepati janji bawa satpam ganti untuk Mitro.


Setelah drop Hadi, ketiganya kembali ke rumah mungil Gina. Suasana rumah agak sepi seperti tak ada penghuni. Tampaknya Gani belum pulang dari kantor dan Om Sabri masih di bengkel. Om Sabri pasti sedang kejar tayang selesaikan mobil orang. Sekarang tiga montir handalnya telah diserobot oleh Kevin. Tangan om Sabri sudah patah sebelah dibuat oleh Kevin. Gina mengajak Kevin main ke bengkel Om Sabri biar tahu kehidupan keras yang dia jalani. Sayang sekarang Gina tak bebas bergerak karena luka di tangan. Dia hanya bisa lakukan kegiatan tak gunakan tenaga tangan. Kalau dia memaksa akan lukai tangannya lebih parah lagi.


Gina terheran melihat suasana bengkel sepi tanpa ada kegiatan. Gadis ini heran ke mana om Sabri dan ibunya. Di rumah tak ada tanda kehidupan, di bengkel juga begitu. Om Sabri biasanya tidak akan teledor tak beri kabar menghilang begitu saja.


Gina agak kuatir juga melihat orang yang dia cari tak ada di tempat. Apa yang sedang terjadi? Tak mungkin ibu dan ayah tinggalkan rumah tanpa pesan. Biasa ibu akan telepon kalau hendak pergi karena tak mau membuat anak-anak menjadi kuatir.


Kevin melihat Gina seperti orang kehilangan barang berharga. Wajahnya berkerut-kerut seperti pakaian belum kena setrikaan.


"Kenapa Gin?"


"Ayah dan ibu tak ada di mana-mana!" Gina tak bisa sembunyikan rasa kuatir berlebihan.


Kevin tertawa kecil melihat betapa khawatirnya Dina terhadap kedua orang tuanya. Om Sabri dan Bu Sarah bukan anak kecil yang bisa diculik tanpa menimbulkan jejak. Mereka berdua adalah manusia dewasa yang tak mungkin raib begitu saja. Mereka berdua pasti pergi ke suatu tempat lupa memberitahu kepada Gina maupun Gani.


"Ya ampun nona cantik...untuk apa ponsel kamu bila tak digunakan! Coba telepon mereka!" Kevin memberi usul masuk akal. Gina tersenyum malu telah melupakan benda canggih penghubung dunia.


Gina mengeluarkan ponsel jadul bikin Kevin gemas ingin tekan benda itu agar raib dari hadapan dia. Di zaman ini masih ada orang gunakan ponsel zaman sang kakek. Kakek kekinian saja sudah ogah gunakan ponsel yang tak bisa digunakan untuk chatting dengan teman.


"Assalamualaikum...ayah di mana?"


"Waalaikumsalam...ya ampun ayah lupa kasih tahu kamu kalau ayah dan ibu ke dokter!"


"Ya Allah..siapa yang sakit? Ayah sakit apa?" buru Gina tak sabar tunggu jawaban om Sabri.

__ADS_1


"Tidak ada yang sakit nak! Cuma ibumu merasa agak lemas dan sedikit pusing maka ayah bawa dia ke dokter! Kami lagi antrian kok! Mungkin ibumu kecapekan! Tak usah kuatir!"


"Ayah yakin ibu tak kenapa-kenapa? Ibu kami cuma satu di dunia ini lho!"


"Yaelah anak sinting...apa kamu pikir cuma kamu kuatir? Ibumu adalah isteri ayah satu-satunya juga! Ayah jamin tak ada masalah! Tunggu di rumah saja. Oya...Gani sudah pulang? Jangan macam-macam di rumah ya!"


"Semacam aja kelewat banyak, mau macam-macam pula! Ayah tak usah banyak pikir deh! Anak ayah bukan gadis seharga seribu dapat tiga. Bukan barang murahan! Mahal lagi.."


Kevin mendengar apa yang dikatakan Gina. Tak usah dipikir Kevin menduga Om Sabri sedang ingatkan Gina tak boleh berbuat macam-macam dengan Kevin di rumah! Gina tak mungkin mau berbuat aneh karena anak itu sangat keras pada diri sendiri juga terhadap keluarga. Kevin tak salahkan om Sabri bila terpikir mereka akan berbuat hal senonoh. Di zaman sekarang akan banyak anak muda terperosok dalam jurang kemaksiatan. Lupa diri juga lupa daratan.


"Ayah percaya...kamu tunggu di rumah saja! Jangan keluyuran lagi!"


"Ini Gin di bengkel nyari ayah dan ibu! Pikir sudah kabur mau kawin lari!"


"Dasar anak sableng...ini orang tua kamu lho! Dosa lho goda orang tua!"


"Iya maaf!!! Cepat pulang ya!"


"Iya... kalau bisa sediakan makan malam! Jangan semua tugas kamu bebankan pada isteri aku! Kamu kan bisa juga kerjakan pekerjaan kecil ini!"


Gina kaget ayahnya mulai hitungan dengan anak-anak. Sejak kapan amg ayah tak izinkan ibu mereka layani mereka. Kenapa om Sabri jadi pelit bagi isterinya kepada anak-anak. Kena setan mana membuat laki itu keberatan isterinya dibagi pada anak-anak?


"Ayah salah minum tadi ya? Air aki batere disangka air putih ya?" ujar Gina sambil layangkan kata kurang senang Om Sabri mulai kuasai ibu mereka.


"Waalaikumsalam..." sahut Gina agak linglung mengapa ayah mereka mendadak berubah over protect ibu mereka. Apa om Sabri sedang perlihatkan sifat aslinya yang pelit. Puluhan tahun dampingi mereka atk pernah sekalipun om Sabri perlihatkan sikap pelit. Bahkan laki itu selalu menolong mereka bila dalam kesulitan keuangan. Kok mendadak berubah?


Kepala Gina menjadi pusing mikirin om Sabri yang tak menyenangkan lagi. Sudah menjadi kok jadi pelit?


"Ada apa Gin?" tanya Kevin lihat Gina mendadak hilang semangat. Apa yang terjadi antara Gina dan Om Sabri. Kevin penasaran menanti jawaban Gina.


"Ayah suruh aku masak! Tak boleh merepotkan isterinya lagi!" sahut Gina putus asa.


Kevin bukannya iba pada Gina melainkan tertawa terbahak-bahak anggap kejadian ini lucu. Seorang suami baik pasti akan lindungi isterinya dari rasa capek berlebihan. Apalagi anak-anak sudah cukup gede untuk merawat diri sendiri. Wajar Om Sabri tak mau anak-anak asyik merongrong sang ibu. Om Sabri sedang menunjukkan cinta kepada isterinya. Hal sekecil ini malah buat Gina bingung.


"Ayok kita pulang masak untuk mereka! Ayahmu itu terlalu sayang pada ibu maka dia tak mau ibumu terlalu capek. Harusnya kamu senang ada orang demikian sayang pada ibu kalian!"


Gina tertegun diketok Kevin pakai kalimat paling sederhana. Mengapa Gina tak mau ambil sisi positif dari perhatian Om Sabri pada Bu Sarah. Gina langsung vonis dengan pikiran buruk pikir om Sabri berubah galak dan pelit. Ternyata ini ada ungkapan kasih sayang untuk isteri tercinta.


Gina menunduk malu lantas tersenyum bangga pada ayah mereka. Kevin berkata betul. Seharusnya dia senang ayah mereka sangat sayang pada ibu mereka. Mengapa otaknya beri signal negatif?


"Ayok kita pulang! Bapak mau makan apa? Biar aku masak untuk bapak?"

__ADS_1


"Emang kau bisa masak?" olok Kevin sambil mengejar langkah kakinya Gina yang telah duluan meninggalkan bengkel. Gerakan langkah Gina begitu bersemangat setelah tahu kalau niat Om Sabri itu sangat baik. Ibunya telah berada di tangan tepat. Gina tidak perlu kuatir akan masa depan ibunya lagi.


Gina memukul kepala sendiri telah suudzon kepada Om Sabri. Om Sabri terlalu cinta pada ibunya maka tak tega lihat isteri banting tulang untuk anaknya yang sudah gede. Namun Om Sabri tak tahu kalau seorang ibu tak pernah anggap anaknya sudah dewasa walaupun umurnya memang sudah dewasa. Di mata seorang ibu semua anaknya tak tetap bayi yang harus dilindungi.


Gina dan Kevin berjalan beriringan menuju ke rumah Gina. Mobil mahal Kevin sudah tak tampak di depan rumah. Mungkin sudah diamankan oleh Jay ke tempat lebih lapang. Halaman rumah Gina terlalu Kevin untuk dijadikan lahan parkiran satu mobil.


Pintu rumah sudah terbuka artinya sudah ada penghuni lain puoang ke rumah. Paling juga Gani telah balik dari kantor. Motor matic milik Gina dan Gani sudah terparkir depan rumah. Kedua anak Bu Sarah telah berada dalam rumah. Kedua anak kembar Bu Sarah tempat termasuk anak baik karena tak menyusahkan ibu walaupun Gani ada sedikit kelainan. Namun itu bukan alasan Bu Sarah bedakan Gani dan Gina.


Gina mengetok pintu sebelum masuk rumah kendatipun pintu rumah sudah terbuka. Tak lupa Gina memberi salam.


"Assalamualaikum..." seru Gina sengaja besar suara agar yang di dalam menjawab.


"Waalaikumsalam..." Gani muncul telah ganti pakaian santai. "Rumah kok sepi? Mana papi dan mami?"


Gina menghempas diri ke sofa sebelum menjawab. Kevin juga ikutan duduk seperti kehabisan ide punya gerakan sendiri. Semua gerakan Gina menjadi gerakan Kevin juga.


"Kata ayah mereka ke dokter!"


"Nah lho! Papi sakit? Tadi pagi masih segar bugar...kok mendadak sakit?"


"Emang sakit punya jadwal pasti? Dia akan datang semaunya. Bukan ayah yang sakit tapi ibu. Tapi kata ayah hanya kelelahan. Sekarang kamu disuruh masak untuk makan malam." Gina limpahkan tugas kepada Gani padahal om Sabri minta Gina yang masak.


"Masak? Tuh di meja sudah ada seabrek lauk pauk! Tinggal panaskan! Anak gadis yang harus kerja di dapur! Ayok sono panaskan makanan di microwave!" Gani tak kalah cerdas balik serang Gina yang suka usilin dia.


"Tanganku sakit. Apa kau tak kasihan pada adik yang sakit? Abang model apa itu?"


"Sakit tapi masih bisa ngelayapan." Gani merepet namun kerjakan juga pekerjaan yang seharusnya dilakukan cewek. Gani hanya merepeti Gina namun dari lubuk hati tetap sayang pada adik. Gani mana tega menambah luka di tangan Gina.


Kevin yang menyaksikan kasih sayang antara dua saudara ini merasa iri hati. Betapa nikmat punya saudara untuk berbagi. Keduanya saling berdebat namun tersimpan kasih sayang tidak tampak dari luar.


Kevin punya saudara tapi pengkhianat. Tega menjual saudara demi kemewahan materi. Peter lupa hubungan darah antara mereka dibutakan oleh Kilauan emas permata. Apapun adanya itu adalah pilihan Peter. Kevin hanya perlu hati-hati terhadap saudaranya itu.


"Bapak silahkan pergi mandi sebelum senja menghilang. Di sini tak ada mesin pemanas air jadi nanti dingin." tiba-tiba Gina membuyarkan lamunan Kevin.


"Oh iya.." Kevin bangkit juga menuju ke kamar Gina yang sekarang jadi kamarnya.


Gina baru merasa ketenangan telah datang setelah Kevin meninggalkan dirinya. Dia dan Kevin makin intensif berduaan. Ke mana saja selalu berdua apalagi sejak ada penyerangan terhadap Kevin. Gina ekstra hati-hati jaga Kevin.


Ponsel jadul Gina berbunyi nada dering standar bunyi merek ponsel tertentu. Gadis ini mengeluarkan ponsel itu dari saku baju dan perhatian layar yang sangat kecil tertera nomor rekannya.


Jantung Gina mencelos ngeri terima laporan rekannya. Gina tak harap kabar buruk karena ini menyangkut keselamatan Kevin.

__ADS_1


"Halo assalamualaikum.."


__ADS_2