JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Draft


__ADS_3

Bu Sarah perlu dengar pendapat Gina. Bu Sarah anggap Gina bisa jadi kepala rumah tangga karena anak itu lebih tegas.


Keadaan menjadi hening menunggu kehadiran Gina. Om Sabri sebenarnya senang dapat kesempatan menikahi Sarah walaupun caranya ekstrim. Ditangkap seperti pasangan liar sedang selingkuh. Padahal tak ada yang diselingkuhi karena mereka adalah orang merdeka tanpa ikatan pernikahan.


Tak butuh waktu lama Gina datang dengan wajah sok lugu. Pura-pura tak tahu apa-apa biar tidak dicubit ibunya. Bu Sarah pasti marah besar bila tahu kedua anaknya merupakan sutradara dari sinetron tanpa naskah ini.


Gina menyalami para tetua kampung dengan sopan. Anak ini berhenti di sisi Bu Sarah tak berani menantang mata ibunya takut ketahuan sedang akting. Gina bukanlah Gani pintar bersandiwara. Gina tetap di kaku sangar.


"Bu...Ibu bersedia menikah dengan om Sabri? Ibu jawab saja dengan panggilan hati. Bila Ibu bersedia maka kita lanjutkan acara ini. Gin dan Gan akan mendukung semua keputusan ibu." kata Gina lembut. Gina tak mau ibunya makin galau berhadapan dengan massa kampung.


Bu Sarah edarkan mata ke wajah semua orang yang hadir di balai desa. Semua menunggu jawaban sang ibu. Om Sabri menanti dengan hati kebat-kebit apa yang akan dijawab Bu Sarah. Kalau kali ini Bu Sarah masih menolak artinya seumur hidup Om Sabri tak bisa dapatkan hati wanita itu.


Bu Sarah paling akhir singgah di wajah Om Sabri. Kedua mata saling menatap siratkan kalau Om Sabri sangat berharap Bu Sarah iyakan harapan semua warga.


Gina tak kalah gelisah takut rencana mereka gagal. Andai Bu Sarah menolak berarti Bu Sarah masih mencintai Subrata. Lelaki setan yang bikin hidup mereka sengsara.


"Kita lanjut." akhirnya muncul juga jawaban sesuai harapan semua orang. Gina kontan memeluk ibunya. Ini harapan terbesar dalam hidup Gina lihat ibunya dijaga lelaki tepat.


"Alhamdulillah.." terdengar koor panjang dari mulut seluruh warga.


Gani keluar dari persembunyian sambil menyusut air mata saking terharunya. Gani ingin ikutan pelukan tapi takut dibilang banci kondang maka hanya melihat dari jauh.


Mata Gina mencari bayangan Gani untuk duduk bersama dampingi sang ibu ijab Kabul bersama Om Sabri. Mata Gina menangkap abangnya berdiri tak jauh dari pintu masuk balai desa. Wajah Gani sumringah tanda ikut bahagia.


Gina melambai agar Gani mendekat. Tugas mereka berdua adalah dampingi ibu mereka menempuh hidup baru Songsong kebahagiaan yang tertunda.


Gani melewati warga untuk capai meja tempat Bu Sarah dan Om Sabri akan langsungkan akad nikah. Bu Sarah ulurkan tangan sentuh tangan putranya minta doa restu. Gani adalah anak sulung sekaligus putra satu-satunya. Wajar Bu Sarah harap restu dari anaknya itu.


"Selamat ya mami!" kata Gani dengan gaya norak.


"Huusss...belum akad kok sudah selamat! Duduk manis di situ." semprot pak RW gemas cara Gani luapkan rasa suka cita.


Gani tertawa kecil tak marah dimarahi pak RW. Gani sudah kebal kena semprot jadi ditambah malam ini tak jadi soal. Besok pasti kena lagi.


"Berhubung semua sudah setuju maka kita mulai acara penting ini. Dengan ucapkan bismillah kita mulai akad nikah Sabri Jagat dengan Sarah binti Ibnu Hasan." Pak RW paparkan data kedua pasangan ini dengan lengkap.


Pak Penghulu segera ambil aba-aba untuk melangsungkan ijab Kabul. Ntah dari mana sudah ada seperangkat alat sholat untuk dijadikan mas kawin.


Kini Bu Sarah mulai paham kalau acara malam ini adalah unsur kesengajaan. Semua telah dipersiapkan secara matang. Bahkan di luar sudah ada acara makan-makan dengan menu lengkap. Bu Sarah tak tega mengecewakan niat semua warga maka pilih ikut saja. Toh Om Sabri bukan orang baru dalam hidupnya. Lelaki itu sudah mendampinginya lebih dari 20 tahun. Lelaki itu tanpa kenal lelah selalu menjaganya beserta kedua anaknya. Tak ada salahnya Bu Sarah membalas kebaikan Om Sabri dengan merawat lelaki itu.


Hati Gina bergetar mendengar Om Sabri mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang dan disahkan oleh semua saksi. Beban berat yang selama ini menghimpit dada Gina serasa diangkat oleh tangan Om Sabri. Kini Gina sudah boleh tenang karena ibunya telah ada yang menjaga.


Air mata Gina hampir runtuh tatkala om Sabri menyematkan cincin ke jari manis ibunya. Tanda kepemilikan telah tersemat di jari ibunya berarti Bu Sarah secara resmi menyandang status isteri Om Sabri.


Gani memeluk Om Sabri lalu memeluk Bu Sarah. Gina juga lakukan hal sama telah akui om Sabri sebagai ayah mereka. Tepuk tangan bergema karena akhir drama happy ending. Semula semua khawatir Bu Sarah akan menolak Om Sabri. Bertahun mereka hanya melihat Om Sabri dan Bu Sarah berteman secara murni. Sopan tanpa ada unsur-unsur maksiat.


Penantian Om Sabri selama 20 tahun ini berbuah hasil. Akhirnya dia berhasil mempersunting wanita yang dia cintai. Om Sabri sangat berterima kasih kepada kedua anak Bu Sarah dan warga yang kompak. Mereka berjuang mempersatukan dua hati agar bersatu selamanya.

__ADS_1


Om Sabri mengecup kening Bu Sarah kayak pasangan pengantin baru lain. Inilah pertama kali mereka dekat sekali. Hati Om Sabri berdegup kencang merasa bahagia tak bisa dilukis di atas kanvas.


"Sekarang kita berpesta!" seru pak Rw semarakkan acara selanjutnya.


Satu persatu orang dalam balai keluar untuk santap hidangan yang telah disediakan oleh ibu-ibu sekampung. Gina keluarkan sebagian uang tabungan untuk sukseskan acara ibunya. Rencana beli ruko dipending dulu karena ada yang lebih penting.


Gina tak mau Subrata ganggu ibunya lagi maka nikahkan ibunya pada lelaki yang sangat baik. Selanjutnya adalah tugas Om Sabri lindungi ibunya. Hati Gina lega Bu Sarah berada dalam lindungan orang tepat.


"Selamat ya Bu!" Gina kembali peluk ibunya. Bu Sarah mengusap kepala anaknya dengan hati terharu. Bu Sarah tebak ini adalah hasil karya Gina dan Gani. Gina tentu berperan lebih banyak karena tahu Gani takut pada adiknya.


"Kau bahagia nak?"


"Bahagia sekali. Gin sudah ayah. Om jagalah ibu ya! Kami percayakan ibu pada Om." ujar Gina pada om Sabri.


"Masih panggil om?" olok Om Sabri.


"Oh maaf! Maksudku ayah! Titip ibu ya!"


"Tak usah kuatir! Ayah akan jaga kalian semua. Lain kali tak perlu bikin heboh satu kampung. Cukup kalian utarakan niat baik kalian. Ayah dan ibu akan berusaha penuhi keinginan kalian." ujar Om Sabri cari muka di depan Bu Sarah.


Gina mencibir lihat om Sabri nya mulai sok karena misinya nikahi Bu Sarah telah berhasil. Sekarang sudah bisa besar mulut. Sebelumya minta bantuan mereka berdua.


"Apa iya cerita awal begitu? Apa bukan dayung sampan tak bisa capai tepian. Didorong rame-rame baru merapat." sindir Gina melirik Gani yang tersenyum simpul.


"Sampan apa?" dengus Om Sabri sok hebat. Laki ini mana mau hilang pamor di depan isteri barunya.


Persiapan warga sangat matang sampai tempat nginap susah tersedia untuk pengantin baru.


"Apaan kalian ini? Buang uang saja."


"Ya ampun papiku sayang. Ini hasil sumbangan warga lho! Tidak dipakai artinya tak hargai pemberian warga. Tuh Bu Ani sampai rela jual panci demi bantu bayar sewa kamar." ujar Gani seraya kipaskan kartu itu di depan mata om Sabri.


"Itu belum seberapa. Pak RW bahkan gadaikan ****** Bu RW untuk ikut nyumbang." timpal Gina buat lelucon.


"Emang ada yang mau ****** triple XL itu?" tanya Gani menambah lucu. Bu RW tubuhnya luar biasa subur tentu saja pakaiannya serba gede. Daleman pasti ikut lebar.


"Kalian ini...dosa lho ejek orang tua! Pergilah makan! Ini sudah malam!" Bu Sarah menyudahi obrolan konyol yang takkan berhenti bila diperpanjang. Kedua anaknya sama konyol.


"Ok mami tercinta. Mau kami bawakan makanan?" tawar Gani ingat ibunya belum makan. Biasa mereka akan makan bersama bila kebetulan berada di rumah. Yakin mereka belum makan akibat syok kena grebek warga kampung.


"Biar ayah yang bawakan untuk ibu kalian! Tugas perdana sebagai suami." Om Sabri berdiri dengan gagah akan layani sang isteri untuk pertama kali.


Kali ini biarlah Om Sabri memanjakan ibunya anak-anak. Bu Sarah juga pantas dimanja sebagai pengantin baru. Sudah dia puluh tahun baru kembali menikah. Merajut benang yang pernah terputus kendatipun diikat dengan benang lain. Semoga saja ikatan itu lebih kokoh dari yang dulu.


Gina biarkan Om Sabri dan Gani keluar mencari makanan. Gina ditinggal berduaan dengan ibunya. Ada rasa janggal setelah Bu Sarah menikah. Gina seperti kehilangan kekuatan cinta ibunya. Cinta ibunya akan segera terbagi pada orang lain.


"Gin...kau yang atur semuanya?" tanya Bu Sarah di sela kesempatan berdua.

__ADS_1


"Bukan Bu..ini insiatif warga. Mereka agak risih ibu dan ayah sering berduaan. Mereka tahu ibu dan ayah punya moral tapi tetap saja tidak etis mama mereka gotong royong ciptakan pesta ini." Gina berbohong demi kebaikan ibunya.


"Kau ikutan!" tebak Bu Sarah.


"Kenapa ibu berpikir gitu?"


"Tak ada yang kebetulan nak! Kau lembur lalu ibu digrebek! Lantas acara ini.. apa artinya kalau bukan kalian ikutan?"


Gina berjongkok di depan lutut Bu Sarah memohon maaf. Bu Sarah belum ngerti kalau Gina lakukan semua ini untuk kebaikan ibunya. Bahaya besar mengancam bila Bu Sarah tak ada pelindungnya.


Untuk sementara Gina tak bisa bongkar kalau dia kenal Subrata. Masih banyak yang ingin Gina lakukan untuk membalaskan sakit hati Bu Sarah. Gina pastikan keluarga Mahabarata harus membayar semua kesalahan mereka di masa lalu. Gina akan sikat mereka sampai tuntas.


"Bu...Ayah adalah orang paling tepat untuk kami. Dia tulus pada kami. Dia anggap kami anak kandungnya. Siapa lagi bisa lindungi kita kalau bukan ayah. Ibu jangan bikin ayah sedih ya! Itu beliau sudah datang." Gina menunjuk ke arah om Sabri yang sekarang jadi ayahnya. Lelaki bawa dua piring makanan untuk dia dan Bu Sarah. Suami setia pantas dicintai.


Om Sabri menyerah satu piring kepada Bu Sarah barulah duduk di kursi untuk isi perut. Kelihatannya om Sabri sudah sangat lapar sampai tak sabaran ingin cepat makan.


Gina tahu diri tidak ganggu pasangan baru itu lagi. Perlahan Gina meringsut pergi bergabung dengan kelompok Gani. Di luar suasana sangat ramai penuh tawa canda. Semua berseri-seri ikuti kebahagiaan kedua pengantin baru.


Gina merasa tidak sia-sia korek kantong sangat dalam demi kebahagiaan sang ibu. Sekarang Gina masih harus pikir cara kumpul uang untuk bayar pak Haji. Paling Gina akan jual motornya sebagai angsuran beli rumah pak Haji.


Netra Gina melihat pak Haji ikut larut dalam pesta syukuran ibunya dan Om Sabri. Gina menimbang apa etis ngomong masalah uang di pesta malam ini.


Tidak etis juga harus ada solusi pada pak Haji agar tak ragu dia sedang usaha cari uang. Kalau pak Haji bersikeras paling banter Gina gunakan uang dari Lucia.


Gina hampiri pak Haji dengan keraguan bergelayut dalam dada. Dia harus kuat menghadapi semua cobaan ini. Gina tak ingin kambing hitamkan siapapun dalam perjalanan hidupnya yang tak mulus ini. Gadis ini menganggap semua ini adalah cobaan dari Allah SWT menguji seberapa tebal imannya.


"Assalamualaikum pak Haji. Maaf ganggu."


"Nak Gina...ayo duduk!" pak Haji menyambut kehadiran Gina dengan ramah.


"Terimakasih pak Haji." Gina duduk di samping Pak Haji dengan setengah hati. Dari mana dia akan memulai percakapan mengenai pembayaran rumah Pak Haji.


"Kau sungguh anak berbakti. Aku salut pada kesetiaan kamu pada ibumu. Sudah jarang anak muda setaat kamu." ujar pak Haji tanpa tinggalkan makanan di piring. Mulut cuap gigi bergoyang potong setiap makanan yang masuk.


"Ach pak Haji...ini tugas kami sebagai anak! Kalau boleh aku ingin minta tolong pada pak Haji mengenai cicilan uang rumah pak Haji." kata Gina ngeri-ngeri sedap. Hal ini tak bisa dia hindari. Cepat atau lambat dia tetap harus bincangkan hal ini.


"Oh itu...tak usah kamu pikirkan! Anak pak Haji sudah dapat dana untuk bangun rumah. Kau bisa cicil seperti biasa. Pak Haji takkan desak kamu. Pak Haji sudah melihat kegigihan kamu mencari rezeki untuk menutupi cicilan rumah. Pak Haji sangat terharu dan memberimu kelonggaran."


Gina bersyukur jumpa orang sebaik pak Haji. Tahu saja Gina sedang kesulitan mencari dana sangat besar untuk bayar sisa uang rumah. Ternyata setiap doa orang tersisih dijabar oleh Allah.


"Terima kasih pak Haji.. anda sangat baik."


"Huusss pak Haji tak sakit tentu saja baik. Tak usah kamu pikirkan asal setiap jatuh tanggal kamu transfer seperti biasa."


Gina tersenyum di antara rasa haru. Pak Haji pantas disebut orang bijak tahu kesusahan orang lain.


❤️❤️❤️🌹🌹🌹❤️❤️❤️

__ADS_1


Assalamualaikum. Mulai besok ada cerita baru. Mohon dukungan pembaca Budiman. Jangan lupa beri like, vote dan komen membangun. Judulnya CINTA MENEMBUS WAKTU. Terimakasih.


__ADS_2