
"Hei kau jangan sombong anak kecil! Kalau Luna sudah berhasil jadi isteri Kevin maka kau akan kupecat!" seru Mince tersinggung Gina mengusir mereka secara tak sopan.
Mereka tak tahu kalau batas kesabaran Gina sudah habis. Dari tadi Gina sudah berusaha berbuat sopan namun terusan dipojokkan maka emosinya meluap ke ujung bibir. Kalimat tak sedap akan segera meluncur dari bibir tanpa polesan lipstik itu.
"Aku tunggu hari itu tiba! Silahkan pergi!" Gina merentang satu tangan keluar sambil membuka telapak tangan persilahkan mereka pergi.
Mince dan Luna melontarkan tatapan penuh kebencian pada Gina yang mereka anggap tolol. Bekerjasama minta sedikit uang Kevin mungkin tidak kelewatan buat mereka namun Gina bukan orang bodoh mau tanggung resiko untuk hal tak pernah terlintas di otak.
Papa Kevin tak bisa berbuat apa-apa karena Gina tak termakan segala bujuk rayu materi. Gina cerdas tak masuk perangkap diimingi oleh uang.
"Kami akan datang lagi sampai kau kucurkan uang kami!" Mince menunjuk wajah Gina dengan telunjuk dicat warna-warni seperti permen anak kecil.
Gina bergidik mendengar kata Mince anggap uang Kevin itu uang mereka. Gampang sekali mereka klaim milik orang lain sebagai milik pribadi. Pantesan di masa lalu Mince rebut suami orang. Ternyata jiwa perampok sudah mengakar dari zaman dulu. Orang ini sudah tak ada obat lagi.
Ketiga orang itu pergi dengan membawa segudang amarah. Gina tak sempat berpikir ke situ lagi. Persetan dengan segala amarah keluarga sinting itu. Gini Gina makin tak bisa tinggalkan Kevin. Rencana resign akan tertunda lagi sebelum mereka kapok ganggu Kevin.
Gina menarik nafas dalam-dalam isi dada dengan oksigen agar tak kena serangan jantung. Lama orang itu di sini tensi darah Gina akan capai titik didih rebus orang kontan mati.
Gina pejamkan mata menenangkan diri tidak terpengaruh pada semua yang barusan terjadi di kantor Kevin. Dia tak boleh lemah bisa jatuh mental diancam oleh keluarga Mince.
Tiba-tiba ponsel Gina berbunyi membuat gadis ini merogoh kantong mengeluarkan ponsel yang tak pernah lekang di makan waktu. Gina membuka ponsel lipat melihat siapa yang telepon. Bibir Gina mendesis kecil baru menempelkan benda mungil itu di kuping.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...kamu tak apa-apa?" terdengar suara Gani di seberang sana.
"Cepat juga kabar sampai di telinga kamu! Mereka bisa apa tanpa pak Kevin?"
"Tadi aku marahi satpam yang meloloskan mereka masuk ke kantor. Katanya isteri tuan besar memaki-maki di depan kantor bilang dia dianiaya oleh satpam! Satpam jadi takut maka lepas kan mereka masuk! Kuharap mereka tak menyulitkan kamu!"
"Mereka minta aku keluarkan dana dua puluh milyar! Gila ngak?"
"Emang kamu punya kuasa ambil uang dari perusahaan? Dasar sinting! Jangan mau diintimidasi nona monster! Sekarang teleponi pak Kevin!"
"Kau gila ya? Kevin sedang bertugas di kota lain bagaimana mungkin kita menambah beban pikirannya. Tunggu dia pulang dulu barulah kita melaporkan apa yang terjadi di sini! Selama kita masih bisa menangani mereka biarlah kita berjuang dulu!"
"Aku takut mereka menyusahkan kamu!"
"Kita hadapi bersama! Kau tak usah kuatir! Aku bisa jaga diri! Kamu juga jangan sempat terpengaruh oleh mereka kalau tak mau masuk bui! Niat mereka itu sangat jahat!"
"Aku tahu...kamu harus hati-hati ya! Untuk sementara kamu pulang dengan mobil pak Kevin saja! Kita mesti berjaga dari manusia licik itu!"
__ADS_1
Baru kali ini Gina mengetahui kalau Gani memiliki rasa tanggung jawab terhadap saudara. Biasanya dia paling cuek soal keselamatan Gina karena sadar kita bisa melindungi diri sendiri. Tapi kini Gani telah bersikap sebagai seorang Abang yang baik.
"Aku akan hati-hati!"
"Nanti kita pulang bareng ya!"
"Ok..."
Selanjutnya Gina tak ingin memikirkan masalah yang barusan terjadi. Dia lebih fokus kepada pekerjaannya yang masih bertumpuk. Kevin telah percaya kepadanya maka dia harus menjaga kepercayaan itu dengan sebaik mungkin.
Gina yang sudah terbiasa dengan kehadiran Kevin merasa ada sesuatu yang hilang sejak kepergian Kevin. Hatinya mendadak kosong seperti kehilangan sesuatu yang paling berharga. Namun Gina tak ingin larut dalam perasaan yang akan menyakiti dirinya sendiri. Gina harus sadar kalau level Kevin sangat tinggi buat dirinya. Gina bukan apa-apa buat Kevin dan selamanya tidak akan menjadi apa-apa.
Selepas kerja Gina dan Gani segera pulang ke rumah untuk menghindari hal-hal tak diinginkan. Mereka melindungi Kevin berarti telah menambah musuh di dalam hidup. Orang yang ingin menghilangkan Kevin dari permukaan bumi tentu saja akan marah bila Gani dan Gina melindungi lelaki itu. Untuk waktu dekat ini keduanya lebih baik tetap berada di lingkungan yang aman.
Gani dan Gina tertegun tatkala melihat rumah mereka agak ramai oleh suara gelak tawa dari dalam. Kedua anak muda itu menjadi ragu untuk masuk ke dalam. Apa yang sedang terjadi di rumah kecil mereka.
Gina duluan masuk sambil ucapkan salam sebagai umat muslim taat.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." terdengar jawaban dari beberapa suara.
"Ayok kasih salam sama opa dan Oma!" perintah om Sabri wibawa langsung dipatuhi oleh kedua anak muda itu. Gani dan Gina menyalami dua orang tua yang duduk di kursi tamu. Tampang mereka cukup ramah menerima salam dari kedua anak muda di bawah perintah Om Sabri. "Keduanya adalah anak-anak aku! Yang cowok Gani dan adiknya Gina! Mereka saudara kembar!"
Gani dan Gina mengangguk sopan sewaktu diperkenalkan om Sabri. Keduanya berdiri sejajar di belakang om Sabri menunjukkan mereka adalah putra putri om Sabri yang sopan.
"Wah sudah besar ya! Baru pulang kerja?" tanya wanita yang agak tua.
Gani suka lihat wanita tua itu tidak sok gaya cat rambut dengan warna hitam ataupun warna lain untuk tutupi uban yang sudah kuasai seluruh area kepala. Rambutnya masih tebal namun pada putih. Lain pula yang laki, rambutnya sudah pada kabur tinggalkan kepala kilat kena sinar lampu. Kalau ada semut merayap di sana pasti akan terpeleset saking licinnya.
"Iya oma...kami baru pulang kerja! Opa dan Oma baru datang ya?" Gani tetap ramah walaupun dalam hati bertanya-tanya siapa gerangan kedua orang tua ini. Mau tanya takut dibilang tak sopan. Mending menunggu om Sabri yang cerita nanti. Sekarang cukup berbuat sopan untuk tidak mempermalukan Om Sabri sebagai ayah mereka.
"Iya..Oma datang dari Jerman untuk jemput ayah dan ibu kalian untuk tinggal di sana! Oma ingin merawat sendiri adik kalian yang bakal segera lahir ke dunia ini!"
Gani dan Gina saling berpandangan kaget mendengar permintaan wanita tua yang disebut Oma. Tak pernah terlintas di dalam mereka akan berpisah dari Bu Sarah. Keduanya Tak rela kalau ibu mereka dibawa pergi sangat jauh dari mereka. Mereka berdua juga tidak ingin meninggalkan tanah air mengikuti ibu mereka tinggal di luar negeri.
"Lalu kami gimana?" tanya Gina sedikit bodoh.
"Kalian boleh ikut ke sana ataupun kelola perusahaan kita yang di sini! Opa dan Oma akan serahkan perusahaan pada kalian untuk kelola! Kalian sudah dewasa pasti bisa kelola perusahaan kita yang selama ini dipercayakan pada orang lain!" kata lelaki botak dengan nada lemah lembut.
Kini kedua saudara kembar itu mengerti kalau kedua orang tua ini adalah orang tuanya Om Sabri. Mereka datang dari Jerman untuk bawa Bu Sarah menetap di sana! Kedua anak ini belum siap ditinggalkan oleh Bu Sarah maka mereka harus berjuang pertahankan om Sabri dan Bu Sarah di tanah air.
__ADS_1
"Opa...kami berdua belum mampu pimpin satu perusahaan jadi kami rasa biarlah papi kami yang jadi pemimpin perusahaan. Papi bisa jaga perusahaan dengan baik kok!" Gani ungkap isi hati sebelum kedua orang tua itu menaruh harapan besar pada mereka berdua.
"Papi kalian sudah cerita kalau kalian ini anak berbakat! Untuk sementara papi dan mami kalian akan di Jerman sampai adik kalian lahir! Setelah itu baru pulang sini setelah adik kalian tamat sekolah!"
Gani dan Gina melongo. Perkataan papanya om Sabri sama saja memisahkan mereka dengan ibu mereka dalam waktu sangat panjang. Adik mereka belum lahir tapi sudah terpikir masa depan adik mereka. Tunggu janin yang belum lahir tamat sekolah butuh waktu panjang dan berliku-liku. Berapa puluh tahun mereka harus berpisah dengan ibu mereka?
Om Sabri menjadi kasihan melihat kedua saudara kembar itu terdiam seribu bahasa mendengar permintaan papanya Om Sabri. Permintaan itu terdengar sangat tidak masuk akal karena keduanya harus menunggu waktu cukup panjang untuk bisa berkumpul kembali dengan keluarga . Namun Om Sabri juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang telah cukup lama mendambakan kehadiran seorang cucu.
"Kalian dua ikut saja ke Jerman! Tunggu setelah adik kalian lahiran maka kalian boleh balik ke sini!" Om Sabri menengahi kebingungan kedua saudara kembar itu.
Gina menggeleng karena semua misinya belum berjalan baik bahkan tersendat karena butuh waktu untuk merencanakan kehancuran Subrata. Gina tak ingin semua yang sudah dia rancang hancur berantakan hanya karena ingin ke Jerman. Andaikata Gani ingin berangkat bersama ibunya mungkin Gina akan membiarkan kakaknya itu berangkat ke sana.
"Gin tetap di sini karena tak mungkin biarkan pak Kevin berjuang sendirian. Gani boleh ikut kalau mau!"
Gani menatap adiknya dekat-dekat dari samping. Gani mana tega meninggalkan Gina sendirian di rumah bersama Kevin yang bukan suaminya. Gani merasa bertanggung jawab untuk menjaga Gina walaupun gadis itu lebih kuat dari dirinya. Dia tetap harus tunjukkan sikap seorang Abang walau bukan apa-apa dibanding Gina.
"Aku juga tinggal!" tukas Gani cepat.
Mata Bu Sarah menjadi sendu sadar akan berpisah dari kedua buah hati. Mereka sangat jarang berpisah kecuali suatu Gina kuliah di tempat lain serta Gina mendapatkan bea siswa ambil S 2 di Perancis. Kini mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Bu sarah juga tidak enak melawan perintah dari kedua orang tua Om Sabri. Dia dan Om Sabri telah mendapat restu dari kedua orang tua Om Sabri maka mereka harus pandai mengambil hati kedua orang tua itu.
Dari dulu orang tua Om Sabri tidak merestui hubungan Bu Sarah dengan om Sabri maka mereka tidak pernah melanjutkan jenjang lebih serius. Om Sabri tidak pernah meninggalkan Bu Sarah walaupun ditentang habis-habisan oleh kedua orang tuanya. Om Sabri telah menunjukkan cinta sejati yang tak pernah lekang dimakan waktu. Harusnya Bu Sarah bahagia mendapat suami yang sangat baik terhadap dirinya dan anak-anak. Maka itu Bu Sarah tak boleh menolak permintaan dari keluarga Om Sabri.
"Bagus... besok opa akan membawa kalian menemui dewan direksi di perusahaan kita agar kalian menjadi pemimpin di sana!"
Dalam hal ini Gani meragukan kemampuan diri sendiri untuk pimpin satu perusahaan. Menjadi seorang manajer saja dia sudah sangat kewalahan apalagi harus memimpin puluhan anak buah. Dan lagi mereka tidak mengetahui perusahaan opa mereka bergerak di bidang apa.
"Opa...aku menyerah soal ini! Aku belum punya kemampuan naik ke jenjang lebih tinggi. Mungkin Gina lebih mampu! Otaknya lebih besar dari otak aku!" Gani menolak takut tak mampu melaksanakan amanah dari kedua orang tua Om Sabri dengan baik. Biarlah Gina yang lebih mampu menjadi pemimpin di sana.
Gina menginjak kaki Gani dengan keras karena tak suka Gani rekomendasi dirinya menjadi pemimpin. Gani mau berteriak namun tertahan takut jadi bahan tertawaan. Gani mendekap mulut biar suara tak keluar. Cukup tekan kembali masuk ke lambung.
"Opa dan Oma..kemampuan kami belum capai taraf itu. Kurasa perusahaan itu biarlah dipimpin oleh orang yang kompeten!" kata Gina juga menolak dijadikan pemimpin.
Opa tertawa mendengar kedua anak tiri Sabri menolak tampuk pimpinan perusahaan. Keduanya jelas katakan kalau mereka bukan orang tamak akan nama besar. Penolakan ini makin memicu hasrat opa untuk jadikan salah satu di antara mereka menyambut kursi pimpinan perusahaan mereka. Opa juga melihat potensi Gina lebih besar dari Gani. Pancaran sinar mata Gina tajam sanggup membunuh orang lewat kilatan sepasang mata itu.
"Kalian berdua harus belajar dari sekarang! Perusahaan ini adalah untuk kalian dan adik kalian. Selama ini kita percayai orang lain dan tak tahu seberapa banyak uang mengalir keluar tanpa kita sadari!"
Gani dan Gina terdiam mendengar perkataan opa yang nyatakan perusahaan ini untuk adik mereka kelak. Mereka berdua ditugaskan menjaga aset yang akan diturunkan kepada adik mereka setelah dia dewasa.
"Tapi kami masih bekerja untuk pak Kevin!" kata Gina masih tetap ingat pada Kevin yang sedang diselimuti aura gelap.
"Opa tak paksa kalian harus resign! Kalian berdua cukup hadir dua tiga hari sekali cek semua pembukuan serta cek roda perekonomian perusahaan. Tanda tangan kalian yang akan berlaku di perusahaan jadi tak ada yang bisa keluarkan uang perusahaan tanpa izin kalian."
__ADS_1