
Lucia berjalan menyusuri lorong menuju ke ruang kerja Gina. Lantai ruang kerja Gina sepi jauh dari pegawai lain. Yang ada hanya seorang sekretaris duduk menanti kehadiran kamu ataupun perintah dari Gina. Lantai ruang kerja Dina memberi kesan menyeramkan apalagi ditambah tiupan angin AC yang cukup dingin.
Tanpa sadar Lucia menyentuh kuduknya merasa serem dengan suasana tempat kerja Gina. Tak ada kata menyenangkan di lantai ini. Ini sangat sesuai dengan karakter Gina yang keras dan tidak bersahabat. Gina tidak bersahabat dengan orang yang dia anggap tak pantas. Selebihnya orang di sekeliling Dina malah merasakan Kalau Gina adalah sosok yang sangat setia kawan.
"Halo... apa di sini ruang kerja Gina?" Lucia duluan menyapa Dinda yang sedang menekuni pekerjaannya.
Dinda yang tak mendengar langkah kecil Lucia segera mengangkat kepala melihat siapa yang datang. Dinda meninggalkan pekerjaannya menyambut kehadiran Lucia sesuai dengan perintah Gina.
"Nona Lucia?" Dinda memastikan orang yang datang sesuai dengan perintah Gina.
Lucia mengangguk meyakinkan sekretaris Gina bahwa dia adalah orang yang telah membuat janji dengan Gina. Senyum manis segera mengembang di bibir Dinda mempersilakan Lucia menuju ke ruang kerja Gina.
Dinda mengetuk pintu sebelum mempersilakan Lucia masuk ke dalam. Hal kecil ini tetap harus dilakukan oleh Dinda walaupun setiap menit dia masuk ke dalam ruang kerja Gina. Ini untuk menghormati privasi Gina sebagai seorang komisaris.
"Masuk..."
Lucia tahu persis itu suara adik tirinya. Suara berkesan dingin namun tak melukai hati. Dinda persilahkan Lucia masuk lalu menutup pintu tak ikut masuk. Dinda hanya diminta mengantar Lucia ke dalam tidak disuruh masuk ke dalam maka Dinda tak berani ikut masuk. Wanita itu kembali menekuni kerjanya yang tak pernah selesai.
Gina sudah menunggu kehadiran Lucia tanpa bersikap ramah. Lucia tidak terkejut dengan sikap adik tirinya itu. Sudah berkali mereka bertemu sikap Gina tidak pernah berubah dari waktu ke waktu. Tetap saja enggan dekat dengan Lucia.
"Duduk. Subrata ada masalah?" tanya Gina datar seakan dia yang tua. Lucia hanya adik kecil mesti patuh pada kakak. Lucia menjadi kerdil di mata Gina.
"Papa sehat. Tadi dia mau ke kantor. Aku datang hanya ingin jumpa denganmu. Banyak waktu kita terbuang gara-gara masa lalu tak indah. Aku tak mau bela diri menjadi duri dalam daging kalian tapi aku juga tak kuasa membuat kisah indah."
Lucia benar dia juga korban dari kebodohan Subrata. Gina tahu kalau Lucia tidak sejahat mamanya cuma punya sifat sombong. Bangga akan harta orang tua. Tak ngerti arti mengais rezeki halal. Gina tak bisa membenci Lucia atas perbuatan mamanya.
"Tak usah ungkit itu lagi. Yang tanam pohon busuk sudah panen hasil busuk. Kapan kau akan balik ke kantor pak Kevin? Sudah resign?"
"Kau mau ejek aku?" Lucia tersindir sebab Gina tahu persis dia tak bisa menggambar design. Karyanya hasil jiplakan karya Gina.
"Kenapa tak percaya diri? Kamu punya potensi cuma kamu abaikan. Kulihat ada beberapa design aku kau koreksi sebelum diberi pada Pak Kevin. Itu artinya kamu punya pandangan sendiri."
"Aku tak ngerti maksudmu? Memangnya selama ini aku dapat gambar dari kamu?" Lucia masih dilanda kebingungan. Orang misterius tempat dia beli design tak pernah buka jati diri. Mengapa Gina mengetahui kalau dia merombak beberapa gambar yang diberikan oleh orang misterius itu.
Gina tertawa kecil lalu buka laptop berikan semua hasil desain dia buat jadi santapan mata Lucia. Satu persatu gambar tertata rapi dalam file laptop Gina. Perlahan mata Lucia membentuk bulatan indah saking kagetnya melihat semua desain Gina. Ada sebagian pernah dia klaim itu hasil karyanya. Dia beli demi meraih simpati Kevin walau akhirnya hancur.
"Kau...kau yang jual gambar pada kakak?" Lucia tak henti kaget.
__ADS_1
Gina mengangguk manis tanpa dosa walaupun pernah menjebak Lucia menjadi bahan tertawaan Kevin. Waktu itu Gina memang sengaja ingin menjatuhkan nama baik Lucia di hadapan Kevin. Dendam masih menyala dalam dada membuat Gina tega turun tangan kejam pada Lucia.
"Ya Tuhan..." Lucia mengusap wajah berkali-kali tak percaya perancang perhiasan berbakat itu adiknya sendiri. Lucia sama sekali tidak mempersoalkan jebakan yang dibuat oleh Gina menyebabkan Dia kehilangan muka di perusahaan Kevin.
Lucia benar-benar surprise memiliki adik multitalenta. Gina dibawa ke mana saja tetap menjadi bintang. Bintang tetap bintang bertengger angkuh di langit memandang ke bawah melihat mereka yang puas dengan posisi di bawah. Salah satu orang itu adalah Lucia yang lebih mementingkan gengsi ketimbang isi dalam.
"Aku akan kembalikan sebagian uang kamu. Ada sebagian sudah kugunakan beli rumah. Kau tak keberatan bukan? Aku tak menipu kamu."
"Siapa bilang kamu nipu? Kita transaksi secara sah. Tidak.. Itu uang milik kamu. Aku tak punya hak minta kembali."
"Gunakan uang itu perjuangkan nasib mama kamu." kata Gina tanpa perasaan.
Lagi-lagi dibuat kaget oleh pernyataan Gina. Gina menyuruhnya menggunakan uang untuk menyelamatkan mamanya berarti Gina tidak benar-benar ingin menghukum mamanya dengan hukuman berat. Satu keberuntungan sedang berpihak kepada Lucia dan mamanya. Betul kata Kevin kalau Lucia itu pada dasarnya adalah seorang wanita yang sangat lembut hati. Keras hanyalah casing di luar untuk menutupi kerapuhan jiwanya.
"Uang itu tak ada guna bila kau menuntut mama dengan berat. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan dia dari hukuman mati. Menurut Aa' Ardi mama punya potensi kena ancaman hukuman mati karena dianggap pembunuhan berencana."
Gina tidak tertarik pada ancaman hukuman Angela. Ada hal lain lebih menarik membuka kuping Gina untuk mendengar lebih jelas panggilan Lucia terhadap Pak polisi. Betapa merdunya panggilan Aa' terhadap polisi itu. Sejak kapan nama Ardi mendapat embel-embel Aa' terdengar begitu merdu keluar dari mulut Lucia.
"Aa' Ardi? Sudah tumpengan ganti nama?" olok Gina walau nadanya tetap cool.
Lucia menunduk malu tanpa sadar telah buka kartu punya link dengan Ardi. Hubungan mereka baru dalam wacana belum jelas mau di bawa ke mana. Ardi belum nembak secara resmi bagaimana Lucia berani anggap polisi itu sebagai pacar.
"Iya kakak...kakak yang punya Aa' berpistol. Sejak kapan peresmian panggilan Aa'? Mengapa tak ada pengumuman." Gina makin gencar usilin Lucia. Gina bersyukur juga Lucia telah move on dari Kevin. Dia tak perlu was-was lagi diusik oleh Gina yang memang mencintai Kevin.
Gina bukannya takut Kevin akan berpaling kepada Lucia melainkan kasihan kepada Lucia yang mengharap sesuatu yang tak mungkin diraih. Kalau Kevin suka pada Lucia tentu saja bukan menunggu sampai hari ini baru dia menyatakan rasa suka itu. Kevin sudah cukup lama mengenal Lucia tetapi tidak pernah membeli respon positif kepada gadis itu. Itu tandanya Kevin tak pernah mencintai Lucia.
"Pernah rasa disambel cabe rawit? Jadi adik tak boleh cerewet. Patuh sama kakak."
"Ok... sekarang kamu bisa mengandalkan Aa' untuk membantu Mama kamu lepas dari jeratan hukum."
"Dia bukan orang gitu. Menurut kata Aa' Ardi yang bisa membantu mamaku hanyalah kamu. Dia hanya menjalankan semua prosedur hukum sesuai dengan pasal-pasal yang tertera di dalam hukum negara kita. Jujur aku datang ke sini juga ingin membicarakan hal ini. Aku tak meminta kamu membebaskan Mama aku tapi janganlah sampai dia kena hukuman mati ataupun penjara seumur hidup. Sekarang dia sudah cukup menderita gara-gara terbawa arus nafsu sehingga seluruh mata hatinya tertutup. Papa sudah menceraikan dia berarti seluruh hidup Mama sudah hancur. Izinkan dia bertobat disisa hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar." Lucia berkata panjang lebar hanya untuk mendapat simpati dari Gina.
Lucia tahu kalau Gina bukanlah orang yang bisa diajak berbasa-basi ataupun dirayu dengan pujian kosong. Katakan apa adanya mungkin lebih mendapat simpati dari adik tirinya itu.
Gina menarik nafas dalam-dalam mengisi rongga dadanya dengan udara agar bisa berpikir dengan lebih jelas. Gina juga tak mengharap Angela dihukum mati. Kalau Angela dihukum mati berarti secara tak langsung Gina telah menjadi seorang pembunuh seperti Angela. Gina Tak ada niat menanggung dosa yang bisa dia hindari.
"Aku bukan pembunuh... mamamu tidak akan dihukum mati karena mati terlalu gampang buat dia. Biar dia rasakan dan memahami apa makna dari kata sakit."
__ADS_1
Kalimat yang diucapkan oleh Gina terdengar tidak manis tetapi membawa harapan buat Lucia. Secara tak langsung Gina ingin mengatakan kalau dia juga tidak menginginkan kematian Angela. Kalimat dari bibir Gina ini sangat berarti buat Lucia.
"Terimakasih Gin...sudah kuduga kau ini anak baik. Sekali lagi Kak Cia meminta maaf atas perlakuan mama yang menyakiti kalian selama ini. Tuhan telah menjawab penderitaan kalian dengan memberi yang terbaik untuk kalian dan memberi ganjaran kepada Mama yang telah berbuat jahat." Lucia berkata dengan mata berkaca-kaca ingin menangis sangat terharu pada kebaikan hati Gina.
Lucia tak perlu memohon pada Gina untuk melepaskan mamanya namun Gina telah duluan memberi respon positif. Kehadirannya di kantor Gina tidak sia-sia karena mendapat pengakuan dari Gina juga pengampunan untuk Angela.
"Kita semua telah menerima hikmah dari semua kejadian yang menimpa kita. Kurasa sudah cukup. Aku pun sudah sangat lelah bertikai dengan kalian."
"Aku juga... bagaimana hubungan kamu dengan Kevin? Apa tak ada rencana diresmikan secara besaran?"
"Apa itu perlu?"
"Sangat perlu... Kevin adalah orang ternama di kalangan pebisnis. Tak mungkin juga kalian bermain kucing-kucingan menyembunyikan hubungan kalian. Gimana kalau tiba-tiba perut kamu melendung sebesar genderang? Ini akan membawa dampak negatif terhadap nama baik kalian berdua. Tidak semua orang bisa menerima pasangan tanpa status."
"Siapa bilang tanpa status. Kami telah menikah secara resmi dan terdaftar secara sah. Apa masih penting peduli gunjingan orang?"
"Gina...kakak tahu kamu ini tak open semua nama kosong. Tapi hargailah posisi mas Kevin di kalangan pebisnis. Orang-orang akan mengira mas Kevin menyimpan kamu sebagai piaraan tanpa ada ikatan. Tak perlu pesta mewah yang penting adanya pemberitahuan bahwa kalian telah meresmikan hubungan kalian."
Kuping Gina sudah gatal mendengar saran dari Lucia. Gina paling alergi pada acara-acara resmi yang menyita waktu dan tenaga dia. Apalagi bila harus menjalani berbagai prosesi adat yang cukup ribet bikin kepala puyeng.
"Nanti kupikirkan...kamu dan Aa' Ardi kapan resmi? Aku akan sumbang kado besar untuk kalian. Tiket ke Nusakambangan."
Tangan Lucia sudah gatal ingin mencaplok kepala Gina yang suka mengganggu dia. Ada saja cara Gina memancing emosi dia. Sejak kapan ada orang berbulan madu di Nusakambangan. Kalau ingin ke sana tak perlu membeli tiket cukup berbuat jahat pasti akan diantar ke tempat narapidana kelas Wahid itu.
"Kamu ini... pantesan Gani bilang kamu ini seperti monster selalu ingin menerkam orang. Oh iya apa kabar dengan Gani? Aku sudah lama tak jumpa dia. Mulutnya 11 12 dengan mulut kamu. Kalian tentu bahagia bisa bercanda setiap hari. Saling menyayangi dan memberi perhatian. Aku iri pada kalian."
Gina kasihan juga kepada Lucia yang dibesarkan dengan materi tetapi miskin kasih sayang. Beda dengan dirinya dan Gani yang dibesarkan dengan limpahan kasih sayang dari Bu Sarah dan Om Sabri. Mereka begitu bahagia walaupun hidup pas-pasan.
Punya banyak harta belum tentu seseorang itu bahagia. Huru-hara hanyalah tameng untuk menutupi kekosongan jiwa tanpa roh bahagia itu. Contoh nyata adalah Lucia yang berada di depan mata Gina saat ini.
"Ya kami bahagia walau harus kerja keras. Aku kerja apa saja asal halal. Kamu juga sudah cukup membantu aku memberi gambar sehingga aku bisa menutupi kekurangan di dalam keluarga. Dengan uangmu aku telah membeli rumah yang telah kami tempati walaupun dilunasi oleh ayah kami. Masih ada sebagian uang kamu tidak berani ku gunakan karena takut suatu saat kamu akan menuntut kembali uang itu."
Lucia goyang tangan menolak meminta uang itu dari Gina. Lucia merasa itu adalah hak Gina sepenuhnya karena dia yang meminta Gina menjual karyanya. Sedikitpun Lucia tidak menyesal telah membeli karya Gina karena uang itu telah berguna buat Gina.
"Itu uangmu..jerih payah kamu. Aku akan belajar hidup sederhana seperti kalian. Aku tidak pernah menyesal memiliki adik-adik sebaik kalian. Berilah aku kesempatan untuk menjadi seorang kakak yang baik buat kalian." kali ini suara Lucia seperti memohon kepada Gina untuk memberinya kesempatan menjadi seorang kakak. Mata Lucia tidak berkaca-kaca lagi melainkan mengeluarkan cairan bening membuat Gina ikut terharu.
Dina bangkit dari tempat duduknya berjalan ke arah Lucia lalu mengangkat kakaknya dan mendaratkannya ke dalam pelukan. Tubuh Gina lebih tinggi dari Lucia maka Lucia yang bersandar kepada dirinya. Gina bukan orang yang tidak memiliki perasaan tak mau memberi kesempatan kepada orang yang telah berkali-kali memohon kepadanya. Biarlah yang berlalu berlalu seperti tiupan angin berhembus ke arah lain.
__ADS_1
Lucia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Gina. Momen ini yang telah dia tunggu-tunggu setelah tahu kalau Gina dan Gani adalah adik-adiknya. Betapa damainya Lucia berada di dalam pelukan adik yang dia idam-idamkan. Pupus sudah dendam yang membara selama bertahun-tahun di dalam dada Gina.