JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Tak Tahu Malu


__ADS_3

Mince terdiam karena Kevin sudah keluarkan suara tak mau hubungan dengan mereka. Sungguh tak malu hendak terobos hidup Kevin setelah mereka terpuruk dala kesulitan keuangan. Papa Kevin tergugu malu Kevin dengan tegas tak akui dia sebagai papa. Bagaimana mungkin dia mau bicara lagi kalau Kevin saja tak akui sebagai orang tua. Apa hak dia perintah Kevin patuh pada omongan dia.


"Kevin...aku ini papa kamu! Suka atau tidak dalam darahmu mengalir darah aku! Papa mohon kamu patuh saja pada permintaan mama kamu untuk menikah dengan Luna. Kita semua akan bersatu dan lupakan masa lalu. Kita buka lembaran baru tanpa dendam. Kita semua berhak bahagia!"


Lucia dan Gina naik darah dengar omongan papa Kevin yang seolah tak ada masalah dalam keluarga mereka. Kejadian masa lalu hanya lah satu perkara sepele. Andai Kevin mau ikuti omongan papanya artinya sia-sia semua pengorbanan dia menderita. Semua kesedihan Kevin tak ada artinya lagi.


"Anda siapa berani perintah aku menikah dengan perempuan buangan. Jadi pembantu di rumahku saja tak pantas apa lagi mau jadi nyonya besar di rumah aku. Puluhan wanita muda antri mau masuk ke rumahku! Akhlak dan sifat mereka seribu kali lebih baik dari anakmu yang memalukan ini. Peter..panggil satpam usir mereka! Dan jangan sekali-kali izinkan mereka injak kantor ini!" ujar Kevin dengan amarah setinggi gunung. Dasar manusia tak punya hati. Telah hancurkan seluruh hidup Kevin masih berani ngaku tak ada masalah antara mereka.


"Kau anak durhaka! Kau tahu harta kamu ini ada hak kami karena sebagian peninggalan kakek kamu! Berikan hak kami maka kami takkan ganggu kamu lagi. Lima puluh persen dari semua aset kamu!" teriak Mince makin tak terkendali.


Sementara itu wajah papa Kevin pucat pasi dihina oleh anak sendiri. Di mata Kevin mereka tak ubah seperti limbah harus dimusnahkan. Papa Kevin seharusnya sadar apa yang telah dia perbuat puluhan tahun lalu. Dia telah zolimi anak sendiri sampai menyebabkan isteri meninggal.


"Aset??? Pungut saja di septic tank Tante...kuning-kuning semua! Asal Tante tahu..semua kekayaan pak Kevin hasil dari kegigihan dia! Bukankah kalian juga sangat kaya?" semprot Gina membela Kevin yang teraniaya oleh orang tua durhaka. Gina sangat benci pada orang yang khianati keluarga. Gina juga pernah mengalami persoalan yang seperti dihadapi oleh Kevin. Maka itu Gina tak segan bela Kevin sampai titik darah penghabisan.


"Siapa kamu begitu kurang ajar pada kami? Apa hak kamu bicara dengan kami?" bentak Mince garang pada Gina yang dia anggap usil urus masalah keluarga mereka.


"Ini negara bebas Tan! Semua orang berhak bicara atas nama kebenaran." Gina tak gentar harus hadapi keluarga licik itu. Gina merasa suasana makin tak kondusif segera curi hp Kevin yang tergeletak di atas meja kerja. Secara diam-diam Gina aktifkan rekaman untuk rekam semua perkataan Mince supaya ada alat bukti kelak.


"Kami adalah kebenaran karena Kevin itu darah daging suami aku! Kau hati-hati anak kecil. Kecelakaan bisa saja terjadi kapan saja. Kau juga gitu Kevin! Kamu ini cuma punya kami! Aset kamu bisa jadi milik kami bila kau bersikeras tak mau berdamai!" Mince berkata mengancam.


Gina tertawa sinis senang akhirnya Mince buka kartu ingin kuasai harta Kevin. Kalimat sederhana Mince bernada ancaman untuk keselamatan Kevin.


"Asal kalian semua ketahui! Pak Kevin sudah hubungi pengacara untuk berikan seluruh aset pada yayasan anak yatim-piatu bila terjadi sesuatu padanya. Seluruh aset akan dijual dan dananya untuk anak yatim-piatu yang lebih berhak." Gina wakili Kevin melangkah duluan sebelum muncul niat lebih keji dari orang-orang busuk itu.


Wajah keluarga Mince berubah warna termasuk Peter. mereka tak menyangka kalau Kevin akan mengambil langkah terakhir untuk memberikan seluruh hartanya kepada anak yatim piatu bila umurnya pendek. Satu strategi jitu untuk mop mental para maling harta.


Kevin mau ketawa dalam hati lihat betapa liciknya Gina lawan orang licik macam Peter dan Mince. Otak Gina sangat cas untuk kerjain orang berhati busuk itu. Lucia juga tak kalah kaget mendengar Kevin sudah persiapkan semua rencana masa depan bila umurnya pendek. Dia hidup seorang diri wajar punya pikiran panjang untuk semua asetnya Ayng lumayan banyak.


"Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum semua makin panas! Tak ada yang bisa kalian lakukan untuk mencari keuntungan pribadi. Kevin atk anggap kalian keluarga jadi lebih baik kalian cari akal sendiri selamatkan perusahaan kalian!" ujar Peter melemah tak semangat lagi karena Kevin telah melangkah tanpa gandeng dia. Kevin tidak diskusi masalah sebesar ini dengannya artinya Kevin tak percaya padanya lagi.

__ADS_1


"Kami hanya datang tawarkan kemudahan untuk Kevin melanjutkan hidup. Kami akan membantunya mengelola perusahaan jadi dia tidak perlu pusing-pusing memikirkan perusahaan yang demikian besar. Dan lagi Luna telah bersedia berkorban untuk menjadi istri dari Kevin." ujar Mince tak segarang tadi.


"Woi Tante...anak Tante yang sami mawon dengan Tante mau jadi isteri Kevin? Lebih cocok jadi ibu Kevin. Sudah tua janda lagi! Apa dunia ini sudah tak ada gadis lain? Masak harus nikahi janda seumuran ibuku! Punya uang beli kaca segede layar tancap biar tampak seluruh tubuh. Ada uang asyik oplas! Muka sudah melorot akibat kelebihan benang. Sudah pergi sono!" Lucia buka suara tak kalah judes dari Gina. Kakak adik itu bergabung bela Kevin.


Muka Luna bagai dilempar seonggok tai ayam sampai nyengir bau busuk. Perkataan Lucia sangat menohok jatuhkan harga diri Luna. Di mata Lucia kalau Luna itu tak ubah seperti Tante kecanduan oplas.


Mince mati kutu diserang oleh dua gadis bermulut tajam. Kevin tak perlu ikut berdebat lagi karena sudah wakil akan bantu dia lawan kezoliman anak isteri papanya.


Peter tampak ikutan gugup Lucia menyerang Luna dan ibunya secara brutal. Gina perhatikan reaksi Peter yang tampak bingung Lucia ikutan angkat bicara bela Kevin. Gina menduga Peter kenal baik dengan keluarga Luna dan sedang melakukan sandiwara untuk terlihat baik di depan mata Kevin. Gina menghubungkan percakapan Peter dengan seseorang sewaktu di rumah Kevin. Gina menduga orang itu adalah Mince ataupun Luna yang baru saja melakukan kejahatan terhadap Kevin. Paling tidak Gina telah menemukan sedikit petunjuk tentang hubungan Pieter dengan keluarga itu.


"Pergilah sebelum kalian ditendang dengan tidak terhormat. Satu lagi. Jangan pernah datang ke sini ganggu Kevin lagi. Kalian tak diterima di sisi Kevin." Peter menengahi agar papa Kevin bawa keluarganya tinggalkan kantor Kevin.


"Baik kami pergi sekarang tapi kami tetap akan datang tuntut hak kami atas perusahaan ini! Kami berhak atas seluruh aset Kevin. Ingat ajal itu tak bisa kita duga!"


"Betul ajal itu tak bisa duga. Itu rahasia Allah! Tapi kita juga bukan malaikat maut bisa cabut nyawa orang sesuka hati. Tante juga harus ingat itu. Satu lagi Tan..semua ucapan Tante hari ini sudah kami rekam termasuk kata hiburan hendak jumpa malaikat maut." kata Gina sambil nyengir kuda.


Kini mata Peter terbuka kalau Gina bukan kucing manis yang bisa dipiara untuk jadi hiasan di rumah. Gina justru kucing hutan ganas yang dari jauh tampak jinak namun berbahaya.


"Kau anak setan..." teriak Mince kalap sebab dia dikalahkan oleh seorang anak kemarin sore. Dia terbiasa memerintah kini harus tekan pil pahit kena jebakan batman dari Gina.


"Tante bisa dituntut orang tua aku sebut mereka setan. Jelas-jelas mereka manusia berakhlak tak pernah memaksa kehendak apalagi merampas hak orang. Tante boleh tanya satu RW apa kedua orang tua aku pernah jahatin orang? Jangan orang lain! Sama anak sendiri juga tak pernah keras! Nah mereka bukan setan! Mungkin Tante sudah terbiasa berteman setan maka tahu sifat setan." ujar Gina kalem hendak ledakkan dada orang sirik tersebut.


Dada Mince turun naik menahan emosi. Setiap kalimat Gina ada kalimat sindiran atas perbuatannya di masa lalu. Kalau Gina tahu semua kejadian di masa lalu artinya Kevin telah curhat pada anak ini. Hubungan mereka pasti sangat akrab barulah Kevin mau buka cerita. Gina sangat berbahaya buat mereka.


"Kumohon kalian jangan buat onar di sini! Pergilah!" bujuk Peter merasa kondisi sudah tak kondusif. Luna dan keluarganya bisa dilumat oleh Gina dan Lucia. Mulut kedua gadis itu tajam lontarkan kata hinaan yang bisa pancing amarah mereka.


Luna melirik Peter sekejap lalu keluar tanpa bersuara lagi. Gina bukan tak tahu kalau Peter sedang selamatkan mereka dari masalah lebih besar. Takutnya Gina akan keluarkan ancaman lebih dahsyat bila diteruskan. Gina sudah pegang kartu as untuk jebloskan mereka ke penjara. Gina bisa bawa bukti ancaman Mince dan hubungkan dengan kejadian penyerangan Kevin. Mince cs ada harapan nginap di hotel gratis sampai penyelidikan selesai.


Papa Kevin melirik putranya sekilas. Laki ini tak kalah kesal Kevin tak peduli padanya walaupun tahu perusahaannya dalam kondisi mati ogah hidup segan. Perlu asupan oksigen agar bisa bernafas lega. Kevin buang muka malas bertatapan dengan manusia culas itu. Sekian lama hidup dalam gelimang harta, giliran jatuh hendak cari bantuan darinya. Sepeserpun Kevin tak ingin bagi uang pada mereka.

__ADS_1


Ruang kerja Kevin mendadak hening setelah anggota keluarga manusia berhati septic tank itu berlalu. Peter terduduk mengusap wajah agak takut karena kehadiran keluarga itu. Kevin sendiri duduk di kursinya hampir sama dengan Peter menarik nafas lega. Hanya Gina dan Lucia tak terpengaruh oleh kehadiran orang itu. Keduanya tidak beraksi setelah musuh bebuyutan Kevin menghilang dari pandangan mata.


Gina mengambil air minum lalu berikan pada Kevin. Perhatian sekecil ini sangat menggugah hati Kevin. Gina seperti super girl melindungi Kevin sepenuh hati. Bagaimana mungkin Kevin akan biarkan Gina pergi dari dirinya.


Kevin menerima gelas berisi cairan bening dari tangan Gina lalu meneguk hilangkan kekeringan kerongkongan. Gina memberi perhatian lebih takut trauma Kevin kumat di saat ini. Gina tak mau orang lain lihat sisi kelam Kevin. Kevin seorang pemimpin perusahaan tak boleh tampak buruk di depan orang.


"Sudah enakan pak?" tanya Gina lembut.


Kevin mengangguk lantas kembalikan gelas kosong kepada Gina. Cairan bening telah berpindah ke lambung Kevin untuk diteruskan ke organ tubuh lain.


"Terima kasih Gin! Kau pergilah kerja! Oya...rancangan mu sangat welcome di pasaran. Kuharap kau bisa lebih fokus berkarya. Kau sangat berbakat."


Gina hanya tersenyum tipis tak mau angkuh walaupun dia yakin rancangan dia akan diterima di pasaran. Gina sudah berpengalaman di bidang ini cuma dia lebih pilih bersikap cuek bebek untuk hindari pantauan Mahabarata. Keluarga itu harus dulu baru Gina akan tampil berkibar rebut posisi Lucia di perusahaan Kevin.


"Aku hanya iseng pak! Aku permisi dulu!" Gina melempar senyum pada Peter lantas keluar tanpa menyapa Lucia. Lucia adalah target utama Gina untuk meruntuhkan Mahabarata. Persoalan Kevin mulai ada titik terang kini dia pula akan lancarkan aksi tutup jalan Lucia menjadi orang sukses.


Lucia menghempas badan ke sofa dengan hati mengkal. Satu rancangan Gina langsung diterima di pasaran. Ini merupakan satu prestasi membanggakan buat seorang perancang muda. Lucia salah butuh waktu cukup lama untuk diakui sebagai perancang. Ini anak kemarin terjun ke dunia perhiasan langsung dapat pengakuan Kevin. Tak heran Lucia cemburu pada Gina.


"Apa sih hebatnya anak songong itu?" rengut Lucia pasang wajah masam. Gadis itu menaikkan satu kaki ke atas kaki sendiri duduk dengan anggun supaya dianggap wanita berkelas.


"Dia tidak hebat namun berkelas. Konsumen yang menilai hasil karyanya. Kau kapan mau memberi rancangan baru? Jangan mau kalah sama seorang asisten yang hanya iseng lho!"


Lucia bingung ditanya soal rancangan. Orang yang biasa beri dia rancangan samasekali tak bisa dihubungi. Orang itu bagai raib ditelan bumi. Tak ada reaksi dari orang itu sejak kejadian memalukan yang terjadi pada mamanya. Salah Lucia menuduh orang itu manipulasi video maha karya dia. Padahal video yang ditampilkan sudah diedit oleh editor dia. Lucia gegabah telah salah tuduh orang. Imbasnya orang itu tak mau ladeni Lucia lagi.


"Aku masih belum bisa hasilkan karya mas! Otakku masih blank.. beri aku sedikit waktu untuk buat karya spektakuler."


"Baiklah! Untuk jemput musim liburan ini aku akan gunakan rancangan Gina. Dia sudah ada karya tapi belum dia tunjukkan karena sibuk. Sekarang tangannya terluka pula! Semoga dia cepat sembuh!" Kevin menatap keluar kaca memandangi Gina yang telah fokus di depan meja komputer.


"Gina itu asisten Kevin! Jangan bebani dia dengan tugas yang bukan ranah dia! Dan kau Lucia jangan lelet! Setiap detik adalah uang! Nanti kita cari perancang baru kau pasti tak terima. Jangan terlalu lama berduka! Cepat bangun dan berkarya!" ucap Peter ikut paksa Lucia keluarkan rancangan baru.

__ADS_1


__ADS_2