JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Ketemu Lagi


__ADS_3

Yang menjadi kambing hitam tetap Subrata. Pak Julio menganggap Subrata telah gagal mengatur keluarganya sehingga berbuat anarkis kepada anak tirinya. Kelembutan hati Pak Julio telah disalahgunakan oleh Subrata. Padahal pak Julio hanya ingin mendidik kedua keponakannya menjadi manusia yang mempunyai rasa empati. Pak Julio tak mau Gani maupun Gina menjadi manusia hidup dalam dendam. Maka itu pak Julio mau Gina akhiri semua sengketa masa lalu.


Kali ini Pak Julio tidak akan memperlihatkan rasa toleransi kepada Subrata lagi. Kini nyawa keponakan kesayangan dia berada di ambang maut. Pak Julio ingin keluarga Mahabarata membayar semua perbuatan Angela. Angela harus dihukum seberat-beratnya jika perlu nyawa dibayar nyawa.


Sementara di tempat lain yang merupakan sebuah kantor berisi aparat penegak hukum tampak sedang mengusut kasus rencana pembunuhan terhadap salah satu pebisnis muda. Angela dan kedua pengawalnya tertunduk lesu dengan tangan diborgol duduk di kursi pesakitan.


Beberapa petugas sedang interogasi ketiga orang ini berdasarkan laporan dari pihak korban yakni dari perusahaan Gina. Satpam yang menjadi saksi kejadian ini ikut memberi keterangan berdasarkan apa yang dia lihat. Satpam perusahaan Gina menceritakan sedetil-detailnya semua tindak-tanduk yang dilakukan oleh Angela dan kedua pengawalnya. Kesemuanya memberatkan Angela karena telah berbuat anarkis kepada Gina.


Angela pilih diam seribu bahasa karena memang tidak tahu apa yang telah merasuki otaknya sehingga nekat menusuk Gina. Padahal jauh di lubuk hati Angela tidak terpikir sedikitpun untuk membunuh anak tirinya itu. Hanya karena emosi sesaat hanyalah terjebak dalam nafsu Angkara sendiri.


Seorang petugas polisi berwajah ganteng duduk di depan laptop mencatat semua keterangan yang dituangkan oleh satpam. Polisi ini merasa tidak ada guna mengorek keterangan Angela saat ini. Wanita itu juga tampak cukup syok setelah melalui kejadian tragis ini.


"Bu... apakah ada keluarga yang bisa ku hubungi?" polisi berwajah ganteng itu bertanya langsung kepada Angela.


Angela mengangkat wajahnya menatap polisi itu lantas mengangguk. Pikiran Angela sendiri sudah cukup kacau dengan kejadian hari ini. Rencana hanya ingin menggertak Gina ternyata berakhir di kantor polisi.


"Hubungi anakku. Boleh catat nomor ponselnya." Angela terpaksa minta petugas kepolisian menghubungi Lucia.


Tak mungkin juga Lucia akan mengabaikan ibunya. Siapa lagi bisa Angela hubungi kalau bukan Lucia. Mau langsung menghubungi Subrata adalah hal paling mustahil karena lelaki itu juga terbaring di rumah sakit.


Polisi berwajah ganteng itu segera mencatat nomor yang dikatakan oleh Angela. Keluarga Angela berhak mengetahui kalau ibu mereka telah ditahan di kantor polisi karena perbuatannya. Tanpa ragu polisi itu menghubungi nomor yang dibelikan oleh Angela.


"Halo... selamat siang bu. Apakah aku ini sedang bicara dengan keluarganya Bu Angela?"


"Siang...ini siapa ya? Ada apa dengan mama aku?" terdengar sahutan dari seberang.


"Dengan sangat menyesal kami harus melapor kepada ibu bahwa Mama Anda ditahan di kantor polisi karena telah melakukan pembunuhan."


"Ya Tuhan...mama? Aku segera datang."


"Terima kasih kerja sama anda. Kami menunggu kehadiran anda. Selamat siang."


Kini tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menanti kehadiran Lucia untuk mendapatkan keterangan mengenai Angela. Masih banyak PR yang harus dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengusut kejadian ini. Mereka akan pelajari sebab musabab daripada tindakan kriminal ini. Tak mungkin juga tiba-tiba Angela berbuat nekat membunuh seseorang di siang bolong. Lebih parah lagi melakukannya di tempat umum yang menjadi tontonan puluhan orang. Angela mana bisa lari dari jeratan hukum. Tuntutan hukuman mati maupun hukuman seumur hidup akan disematkan ke tubuh wanita ini.


Lucia tak berani mengatakan hal sebenarnya kepada Subrata. Kondisi Subrata sekarang belum bisa terima kabar mengejutkan. Subrata pasti akan dilanda dilema. Kedua wanita ini adalah orang yang dekat dengannya. Satu anak satunya mantan istri. Lucia pamitan dengan alasan mau cari makan di luar sana. Subrata sama sekali tidak curiga apa yang telah terjadi. Lelaki ini melepaskan Lucia dengan lapang dada.


Lucia bagai kesetanan mengendarai mobil menuju ke kantor polisi. Pikiran Lucia sangat kacau tapi dia harus menguasai diri agar tidak terjadi kecelakaan. Lucia memikirkan nasib dua wanita yang mempunyai hubungan darah dengannya. Dalam hati Lucia berdoa semoga Gina tidak mengalami hal paling buruk. Lucia memang tidak menyukai Gina tetapi Lucia tidak bisa membiarkan saudaranya bercanda dengan malaikat maut.


Lucia sampai ke kantor yang diarahkan oleh aparat polisi. Setiap wilayah mempunyai sektor sendiri maka Lucia harus yakin kantor polisi mana yang harus dia tuju. Mobil Lucia berhenti di kantor polisi. Mobil Lucia bergabung dengan mobil yang kebanyakan dengan plat nomor polisi dari pihak kepolisian.


Lucia mengatur nafas teratur barulah turun dari mobil untuk masuk ke dalam kantor. Seumur hidup baru kali ini Lucia menginjak kantor polisi. Ada rasa was-was dalam diri Lucia karena tempat begini notabene tempat orang yang bersalah. Namun gadis ini tak ada jalan mundur karena mamanya sedang ditahan di situ.


Lucia memasuki kantor yang terbuka lebar dengan langkah yang amat berat. Rasanya untuk mencapai pintu saja butuh waktu berjam-jam. Mau tak mau Lucia harus maju untuk menemui mamanya yang baru saja membuat kemelut mengerikan.


Lucia disambut oleh seorang polwan yang ramah. Polwan ramah itu tersenyum untuk hilangkan kesan kantor polisi adalah tempat angker.

__ADS_1


"Ada yang bisa kami bantu nona?" sapa polwan itu santun. Sosok panutan yang mulai mendapat apresiasi masyarakat karena beberapa waktu ini banyak aparat polisi mengundang rasa simpatik.


"Aku..." lidah Lucia terasa kelu untuk mengeluarkan suara secara mulus. Suara itu terasa terganjal di kerongkongan.


"Perlahan saja nona. Ayok duduk dan katakan apa yang bisa kami lakukan untukmu!" polwan itu tetap simpatik hilangkan keraguan Lucia.


Lucia menelan ludah biar kerongkongan seret baru menjawab.


"Aku datang untuk lihat mama aku yang buat masalah."


Polwan itu sama segera mengerti tujuan Lucia datang ke kantor ini. Kehadiran Lucia memang sudah ditunggu-tunggu dari tadi oleh pihak berwajib. Polwan itu tidak berubah walaupun tahu yang datang adalah keluarga pembunuh. Yang membunuh adalah Angela jadi Lucia tak ada sangkut paut dengan kejadian ini. Lucia hanya akan dimintai keterangan mengenai tindak tanduk Angela.


"Ayok kuantar ke dalam! Nona tak perlu takut. Kita di sini ikuti praduga tak bersalah. Mari!"


Lucia terkesan dengan keramahan polwan itu. Rasa takut Lucia perlahan mulai sirna berganti berani untuk menghadapi semua masalah ini. Semua sudah terlanjur terjadi jadi jalan satu-satunya adalah menghadapi.


Lucia diantar ke dalam satu ruangan yang agak tertutup gimana ada beberapa anggota polisi serta ketiga tahanan yang bakal diselidiki. Salah satu anggota polisi yang sedang duduk di depan meja terbangun begitu melihat kehadiran Lucia. Polisi itu seperti mengenal Lucia.


"Nona Lucia?" tanya polisi itu di antara keraguan.


Lucia sendiri kaget karena polisi itu mengenalnya. Lucia sendiri tidak mengenal polisi itu namun sangat familiar dengan suara polisi itu yang pernah membuat gendang telinganya terasa nyaman. Lucia jadi teringat korban tabrakan dia malam itu. Suaranya persis dengan suara orang itu walaupun hanya keluar dua kata saja.


"Pak Ardi?"


Polisi itu tertawa karena Lucia mengenali suaranya. Malam itu Ardi tidak membuka helmnya sehingga Lucia tidak mengenali wajahnya namun mengingat suaranya. Suara yang begitu seksi masih terngiang di telinga Lucia.


Mata Lucia tidak lepas dari wajah polisi itu. Lumayan ganteng walau tidak seganteng Kevin. Sosok Ardi lebih keren karena memakai seragam polisi membuat lelaki itu menjadi penuh wibawa.


Lucia dipersilakan duduk di depan polisi yang bernama Ardi itu. Sebentar lagi Lucia pasti akan dicerca oleh puluhan pertanyaan mengenai Angela. Sementara itu Angela tidak berani menatap wajah Lucia karena telah menjerumuskan anaknya ke dalam masalah. Gara-gara perbuatannya Lucia ikut terseret ke kantor polisi.


"Mengapa bapak tidak hubungi aku setelah kejadian malam itu? Apa motor bapak sudah siap diperbaiki?"


"Mungkin masih di bengkel. Aku sangat sibuk tak sempat melihat ke bengkel. Sekali lagi maaf kami terpaksa memanggil nona datang ke sini untuk dimintai keterangan. Apa kah benar Bu Angela itu orang tua kamu?"


Lucia mengangguk yakin. Tak ada guna juga mengelak dari kenyataan. Cepat atau lambat semuanya akan terungkap walaupun Lucia berbohong.


"Baik...apa nona tahu kalau mama nona telah melakukan tindakan kriminal dengan menusuk nona Gina hingga koma."


"Gina??? Jadi yang mama aku tusuk adalah Gina. Ya Tuhan... Kenapa mama lakukan itu? Apa salah Gina?" Lucia menoleh ke arah Angela yang pilih bungkam tak mau jawab. Penyesalan datang terlambat.


"Nona mengenal nona Gina? Pihak kami sudah menuju ke rumah sakit untuk pantau kondisi nona Gina. Kita doakan saja dia selamat untuk peringan hukuman mama kamu."


"Sangat kenal..." belum sempat Lucia melanjutkan perkataan ponselnya berdering kencang. Lucia menjadi tak enak hati sedang diinterogasi datang pula gangguan.


"Angkat dulu nona. Mungkin itu penting." Ardi mempersilahkan Lucia menerima panggilan masuk. Sikap Ardi sangat santun datang kan rasa kagum. Kalau ada orang bilang polisi itu sangat mungkin Lucia akan langsung membantah. Yang dia lihat di lapangan adalah aparat penuh dedikasi.

__ADS_1


"Dari adik Gina.." Lucia menyodorkan ponsel biar Ardi melihat siapa yang telepon.


"Angkat dan hidupkan loud speaker! Mungkin ada keterangan yang kita perlukan."


Lucia aktifkan loud speaker ponselnya agar Ardi bisa ikut dengar apa yang akan dikatakan oleh Gani. Lebih baik terbuka untuk permudah masalah ketimbang berbelit-belit cari pembenaran.


"Halo.. assalamualaikum... Lucifer ya?"


"Jaga mulutmu ya! Ada apa Gan?"


"Kamu segera datang ke rumah sakit. Monster butuh bantuan darah. Darah aku sudah kering disedot perawat. Kini giliran kamu. Monster butuh banyak darah. Dia sedang dioperasi."


Lucia harus terbiasa dengan mulut ember Gani. Harusnya Lucia sedih dipanggil Lucifer oleh Gani namun mendengar seenak dengkul dia bilang Gina monster artinya anak ini memang suka nyaplak tak pandang bulu. Semua orang punya nama inisial di bibir Gani.


"Kenapa kamu yakin darah kami sama?"


"Kamu kan anak Subrata. Jangan cerewet! Untung darahku hampir kering jadi tak bisa naik darah untuk marahin kamu. Tak cukup darah untuk marah."


"Gani...kenapa kau tak mau akui aku ini kakak kalian? Apa segitu susah panggil aku kakak?"


"Susah sih kagak tapi berat. Datang ya! Atau kusedot darah si tua Bangka Subrata. Jamin jadi mumi dia!"


"Gani...itu papa kamu! Aku segera datang..." Lucia malas berdebat dengan adik rada sinting itu. Yang ada bikin malu denga semua kalimat konyol dari mulut Gani. Celakanya Ardindan temannya ikut nguping pembicaraan mereka. Gani itu hanya menambah rasa malu Lucia.


Lucia menyimpan ponsel lalu menatap Ardi minta pertimbangan. Gina butuh darahnya untuk menyambung hidup. Lucia tak mungkin biarkan Gina kehabisan darah di meja operasi.


"Korban itu adikmu?"


"Adik tiri. Kami satu bapak lain mama. Apa aku boleh ke rumah sakit untuk donor darah buat Gina? Dia itu adikku."


"Silahkan. Ayok kuantar! Sekalian aku mau lihat kondisi korban. Interogasi kita tunda dulu. Nyawa orang lebih penting. Kita pakai motor saja biar lebih cepat. Takut kena macet jam segini. Anak sekolahan akan padati jalanan."


Lucia tak punya ide untuk membantah. Lucia belum pernah sekalipun naik motor karena tunggangannya adalah roda empat. Ke mana saja Lucia pergi dengan kuda besi beroda empat.


Ardi tidak menanti jawaban ujian melainkan pergi mengambil helm untuk diberikan kepada gadis itu. Sebagai pihak aparat Ardi tak mungkin melanggar peraturan lalu lintas. Peraturan itu dibuat untuk ditaati bukan untuk dilanggar.


Lucia tidak punya kesempatan untuk menolak karena Ardi sudah duluan keluar dari kantor menuju ke parkiran. Polisi itu mendorong motor bertubuh besar sebagai kendaraan mereka menuju ke rumah sakit. Lucia agak ngeri bayangkan naik ke motor yang belum tentu aman.


Ardi menepuk tempat duduk beri kode agar Lucia naik ke atas jok motor. Lucia menyeret langkah dengan segan namun naik juga. Helm dipasangkan ke kepala tutupi rambut Lucia yang selalu dapat perawatan salon mahal. Rambut ikal jadi korban tak punya perasaan. Rambut indah Lucia jadi tak berharga di bawah helm.


"Pegang yang kuat ya nona! Kita balapan biar cepat sampai rumah sakit."


Ardi tak melihat anggukan Lucia cuma merasakan ada sepasang tangan melingkar di perutnya. Sentuhan Lucia lembut mengundang senyum terbit di bibir Ardi yang tertutup helm. Ntah apa yang membuat polisi ini senang mendapatkan sentuhan lembut Lucia. Yang penting antar Lucia selamat sampai ke tempat.


Suara motor Ardi meraung memekakkan telinga. Detik itu juga motor meleset meninggalkan parkiran kantor polisi. Kini keduanya telah berbaur dengan pengendara lain ke tujuan masing-masing. Lucia merasa tegang sampai tak mau buka mata lihat ruwetnya kenderaan simpang siur di jalanan.

__ADS_1


Ardi sangat ahli jadi setan jalanan. Dengan gesit menyelinap sana sini memecahkan kemacetan. Tak butuh waktu lama mereka tiba di rumah sakit. Lucia bersyukur mereka cepat tiba untuk beri pertolongan buat Gina. Lucia dengan senang hati mendonorkan darahnya buat Gina asal gadis itu bisa selamat.


__ADS_2