JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Ruangan Baru


__ADS_3

Kevin sudah cukup kenal Gina tentu saja tak masalahkan sifat keras anak itu. Gina keras tentu ada sebabnya.


"Ibu tak perlu kuatir. Aku sudah hafal sifatnya. Dasarnya dia itu berhati emas namun ada kenangan pahit membuatnya jadi menutupi kelembutan dengan topeng baja."


Jawaban Kevin melegakan Bu Sarah. Kalau Kevin kenal Gina maka dia tak perlu kuatir lagi. Kevin pasti bisa jaga Gina.


"Satu lagi nak! Bawalah Gina ke rumah kamu biar dia bisa lupakan kenangan pahit di rumah ini. Ibu takut tanpa ibu dia akan tidak terkendali. Ibu tahu dalam jiwanya tersimpan satu memori buruk tentang masa lalu ibu. Ibu yang salah tak bisa beri dia satu kehidupan nyaman." kata Bu Sarah hampir meneteskan airmata. Om Sabri menjadi panik lihat istri tercinta menangisi Gina. Kata dokter bumil pantang bersedih agar janin tumbuh sehat.


Om Sabri serta merta memeluk Bu Sarah menenangkan wanita hamil itu. Bagi Om Sabri semua yang ada pada Bu Sarah adalah nyawa baginya.


Kevin meringis grogi takut terjadi sesuatu pada mertuanya itu. Om Sabri demikian mencintai Bu Sarah, apa Kevin bisa seperti itu pada Gina? Kevin sangat ingin belajar pada om Sabri hanya punya satu cinta untuk satu wanita.


"Bu...aku janji akan bawa Gina keluar dari semuanya. Dia adalah tanggung jawab aku saat ini. Semua yang dia lakukan menjadi pr buat aku."


"Ibu percaya...jagalah Gina seperti kau jaga nyawamu sendiri!"


"Nyawa Gina lebih berharga dari nyawa aku Bu! Sekarang di adalah pemilik dua perusahaan besar jadi dia sangat berharga."


Bu Sarah baru teringat kalau Kevin sudah serahkan semua asetnya kepada Gina. Sekarang Kevin tidak memiliki apapun selain Gina. Andai Gina perempuan jahat lantas usir Kevin itu sah saja. tapi Kevin percaya kalau Gina bukan manusia seperti itu. Kevin sengaja mempercayakan semua asetnya kepada Gina agar ingatkan diri sendiri bahwa dia tidak memiliki apa-apa. Kalau dia berbuat curang maka dia akan menjadi pengemis di jalanan. Kevin melakukan semuanya agar tidak pernah salah melangkah seperti Subrata dan ayahnya sendiri. Kevin memetik pelajaran dari masa lalu orang tua yang tidak amanah.


"Terimakasih nak! Kalau kamu membawa Gina sekalian bawa Gani karena mereka tidak pernah berpisah."


Kevin mengangguk mengiyakan permintaan mertuanya. Kevin mana mungkin membiarkan Gani hidup seorang diri tanpa pengawalan mengingat anak itu memiliki kekurangan sebagai seorang lelaki. Gani masih membutuhkan Gina sebagai alarm pengingat bahwa ada hukuman bila berbuat salah.


"Iya Bu...ibu tenang saja di Jerman. Kami akan kirim kabar setiap hari."


Bu Sarah sangat lega mendengar janji Kevin. Bu Sarah percaya kalau Kevin tidak sembarangan mengubah janji mengingat lelaki itu adalah seorang pemimpin perusahaan yang cukup disegani.


Om Sabri tak kalah senang melihat wajah istrinya berangsur kembali cerah setelah mendapat janji-janji muluk dari Kevin. Semoga saja ini bukan hanya sekedar janji dari seorang lelaki yang sedang dimabuk cinta. Begitu masa mabuk berlalu semua janji pupus bak bensin terkena uap panas.


"Sarapan..." terdengar seruan Gina dari dapur memanggil penghuni rumah untuk sarapan pagi. Pembicaraan menjadi terputus karena himbauan Gina.


Om Sabri segera membantu istrinya bangun padahal Bu Sarah bukan orang jompo yang tidak bisa berbuat apa-apa. perlakuan Om Sabri kepada bu Sarah hanyalah satu perhatian terhadap istri tersayang yang sedang hamil muda. Kevin sangat tersentuh melihat adegan mesra kedua orang tua Gina. Kevin menyimpan semua ini jauh ke dalam lubuk hati dan berjanji akan meniru semua kemesraan ini sampai hari tua.


Gani yang paling akhir muncul di meja makan. Wajah anak ini kurang cerah ntah apa penyebabnya. Gina mengerut kening melihat saudara kembarnya tak bahagia. Kemarin waktu dia menikah anak itu masih ceria ikut menikmati pesta. Tidur semalam tiba-tiba sudah berubah arah angin.

__ADS_1


Gina mau tegur namun ada Bu Sarah di sekitar maka tak berani merusak mood ibunya. Takutnya masalah merebak besar membuat sang ibu berpikiran terhadap mereka. Gina pilih bungkam dulu sampai ibunya berangkat.


"Ayok dimakan nak Kevin! Untuk hari dan selanjutnya kamu akan dimasakin oleh Gina. Walau bukan masakan restoran mahal namun masih cukup renyah di lidah." Bu Sarah promosi anak gadisnya kepada mantu.


"Aku sudah sering makan masakan Gina Bu. Cukup enak kok! Aku yang beruntung bisa punya istri Gina." kata Kevin sambil melirik Gina. Gina tidak angkat kepala sama sekali walau dipuji oleh Kevin. Anak itu masih tekuni butiran nasi di piring memikirkan mengapa saudaranya murung. Apa yang sudah menimpa Gani. Gina tak rela orang merundung saudara kembar tersayang.


"Gina dan Gani harus patuh pada nak Kevin ya! Juga omongan paman kalian. Kalau diajar oleh paman kalian jangan melawan. Ibu tak ajar kalian jadi pelawan orang tua." Bu Sarah lanjut beri wejangan sebelum bertolak ke Jerman.


"Iya Bu...ibu tak usah kuatir! Kami akan baik saja! Bukankah begitu Gan?" ucap Gina mengarah ke Gani.


"Mami tak usah kuatir. Kalau monster kumat ada pawangnya kok. Aku bersyukur di rumah ada pawang monster."


Gina mendelik perlihatkan mata indahnya membesar. Gani meringis namun tak takut. Kevin yang terpancing senyum merasa kakak adik itu tetap lucu. Tinggal bersama mereka tidak akan sepi. Hiburan alam tanpa perlu keluar fulus.


"Satu lagi...kalian tinggallah di rumah Kevin! Sampai kapan kalian mau berdesakan dalam kamar kecil. Ayah percaya rumah nak Kevin mampu tampung kalian berdua." Om Sabri membantu Bu Sarah beri peringatan pada Gina dan Gani untuk tinggal di tempat Kevin sampai mereka balik sini. Kalau Om Sabri sudah buka mulut kedua anak itu mana berani membangkang. Keduanya takut kepada Om Sabri walau kadang dipenuhi candaan. Kali ini om Sabri berkata serius tak mau dibantah.


"Lalu rumah kita ini gimana? Kan merana dia tak ada penghuni." sanggah Gani kurang nyaman tinggal di tempat asing. Di sini dia punya teman satu geng. Kadang bisa konyol cari sensasi.


"Kan bisa sekali-kali pulang bersihkan rumah sampai ayah dan ibu balik sini bersama adik kalian. Nanti kita kumpul lagi."


Gani malas membantah sadar tak ada guna melawan om Sabri. Ibunya pasti akan dukung semua sabda suami. Gani heran betapa kompak laki bini itu. Tak habis-habisnya bermesraan tiap hari. Setiap hari pacaran walau sudah menikah.


"Huuusss... sembarangan omong." Bu Sarah memarahi Gani. Marah sayang. Bu Sarah mana tega keras pada buah hati kesayangan.


Gina tidak marah diejek demikian sadis. Gina malah bersyukur Gani tidak murung lagi. Sebelumnya Gina susah hati lihat saudaranya hilang gairah hidup tapi begitu bercanda lapu yang nyaris redup kembali bersinar.


"Bu...tak usah dengar suara bebek berkwek-kwek. Apa saja boleh asal adik sehat. Ibunya juga sehat."


Bu Sarah tersenyum. Dia sudah bisa tenang lanjut berangkat ke tempat mertua. Om Sabri juga lega kalau Gani dan Gina tak banyak bikin ulah buat masalah. Yang kena imbas tentu Kevin. Kini Kevin wajib jaga dua anak yang konyolnya bikin kepala pusing.


Tak lama berselang mereka pergi menjemput opa dan Oma di hotel untuk bertolak ke bandara. Mereka berangkat agak sore namun sebelumnya sudah harus ada berada di bandara jauh jam sebelum pesawat take off.


Jay yang supiri Kevin jemput opa dan Oma sementara Gina bawa kedua orang tuanya dan Gani. Mereka harus segera ke bandara untuk cek in karena mereka akan transit di negeri tetangga sebelum menuju ke Jerman. Gani dan Gina bersedih namun tak berani perlihatkan kesedihan agar ibu mereka tidak ikutan leleh air mata. Mereka sudah gede tak pantas hari biru tangisi kepergian sang ibu untuk sementara waktu.


Makin dekat waktu berangkat Bu Sarah makin galau pikir buah hati yang tertinggal di tanah air. Namun itu hanya untuk sementara. Tak sampai setahun mereka akan segera jumpa lagi. Semoga tiba waktunya semua dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun.

__ADS_1


Cerita dipersingkat akhir Bu Sarah dan Om Sabri take off ke negara tetangga untuk transit ke Jerman. Gina dan Gani menahan rasa haru dalam lubuk hati. Mereka berdua tak berani perlihatkan wajah sedih agar ibu mereka berangkat dengan tenang.


Mereka beramai berangkat ke kantor Kevin sebelum Gina berangkat ke kantor sendiri. Gina masih ada tanggung jawab di kantor Kevin karena masih banyak pekerjaan berada dalam naungan dia. Gina harus jelaskan pada Jay untuk lanjutkan semua yang telah dia susun. Sebenarnya Gina tak enak pada Kevin merangkap kerja di dua kantor. Gina beri kesan tamak mau injak kaki di dua perahu. Lebih tepat makan gaji buta di kantor Kevin. Namun Kevin rela Gina berbuat demikian apalagi sekarang status Gina naik satu level jadi nyonya bos bahkan bos besar.


Beriringan mereka masuk kantor diiringi tatapan puluhan pasang mata. Mereka tentu iri pada Gina yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Mereka tak tahu sampai di mana hubungan Kevin dan Gina. Bahkan mereka tak tahu kalau kepemilikan telah berpindah tangan. Gina sedikitpun tidak anggap itu miliknya. Dia tak punya apa-apa selain laksanakan amanah opa dan juga kini tambah Kevin.


Mereka berpisah di lift karena tempat kerja Gani berbeda dengan lantai tempat Kevin dan Gina bekerja. Tempat kerja Gani berada di lantai bawah maka Gani tak ikut naik ke lantai paling akhir. Sebelum Gani naik ke atas Gina menarik tangan laki itu membuat Gani hampir terjerembab jatuh. Tenaga seribu kuda lawan tenaga marmut imut ya kalah total.


Gani kesal bukan main pada Gina seenak perut bully dia. Ibu mereka belu jauh terbang Gina sudah mulai gaya bajak laut rampok kemerdekaan Gani.


"Hei nyonya...baru sehari naik pangkat sudah tambah arogan. Aku ini abangmu." Gani berkacak pinggang menantang Gina setelah menguasai diri berdiri tegak.


Kevin dan Jay tak tahu apa keinginan Gina persulit Gani. Sifat Gina sulit ditebak. Bisa baik bisa kejam dengan alasan sendiri.


"Kamu ada masalah apa? Kenapa muka lhu seperti kena kaporit


lecek?" tanya Gina pelan tanpa ada tanda-tanda mau bully Gani.


Gani menurunkan kedua bendera di pinggang langsung loyo begitu Gina bertanya. Laki ini tampak memang ada masalah. Gina tak tahu itu soal pribadi atau dalam tugas. Maka itu Gina mau tahu siapa nakal bikin abangnya muram durja.


"Oh itu...kau ingat cs yang kuceritakan? Tanpa setahu aku dia sudah dipecat. Padahal dia itu anak baik dan sopan. Aku tak tahu kesalahan dia." cerita Gani dengan wajah murung.


"Gitu...panggil bagian HRD temui aku di atas. Biar kita telusuri siapa yang salah. Aku kan bos besar sekarang. Aku monster pembela kebenaran. Kau hubungi cs kamu agar ke kantor hari ini juga. Kutunggu kamu di atas." Gina sok hebat menepuk bahu Gani beri spirit agar berada di jalur kebenaran. Gina akan minta Kevin berbuat adil terhadap semua pegawai. Gina tak mau tahu orang itu berpangkat apa. Salah tetap salah."


Wajah Gani berubah ceria kalau Gina mau turun tangan dibantu oleh suami bayangan. Suami tapi bagai orang asing.


"Siap Bu Gina monster...tunggu aku ya!" Gani memencet tanda panah lift untuk bertindak tegakkan keadilan buat karyawan yang kena bully. Senyum cerah terparkir di wajah kemayu itu. Dia akan segera jumpa lagi dengan cs manis pembawa angin mamiri penyejuk Sukma.


Gina menggeleng ikut bahagia bisa bantu Gani. Ternyata Gina tidak seseram yang mereka bayangkan. Gadis itu hanya kerja menurut peraturan perusahaan. Tak boleh gunakan kekuasaan menekan mereka yang jabatan lebih rendah.


Kevin dan Gina lanjut naik ke lantai atas bersama Jay. Gina mau beri arahan pada Jay untuk lanjut semua telah dia susun. Jay tinggal lanjutkan saja karena jauh hari Gina sudah tulis semua dalam draft kasar. Kevin masuk ke ruang kerja sementara Jay dan Gina mulai dengan tugas mereka.


Di dalam ruangan Kevin berteriak kaget melihat ruang kerja dia sudah berubah seperti ruangan rias untuk cewek cantik. Wallpaper dinding berganti warna kuning telor dan meja juga berubah warna kuning dipadu cream. Di samping meja Kevin sudah tambah satu meja hampir sama dengan meja kerja Kevin. Pokonya bukan seperti ruang kantor perusahaan melainkan kamar bermain gadis remaja.


Jay dan Gina kaget mendengar teriakan Kevin. Tanpa tunda langkah keduanya berlari hampiri bos mereka. Gina takut terjadi serangan mendadak di ruang Kevin. Niat hati orang siapa yang tahu. Keselamatan Kevin adalah segalanya buat Gina. Tanpa pikir panjang Gina menerjang masuk ke ruangan Kevin di susul Jay.

__ADS_1


Langkah keduanya terhenti tatkala lihat dekorasi ruang kerja Kevin seperti rumah permen. Warna cerah menyolok cerah bikin sakit mata. Gina tak dapat tahan tawa lihat Kevin terpaku mematung tak bisa ngomong apa-apa lagi.


Orang yang bertanggung jawab perubahan ruang ini tak tampak sama sekali. Kevin ingin sekali jitak kepala Lucia bikin ruang kerjanya berantakan.


__ADS_2