
Jay tak iri sedikitpun pada Gina mendapat perhatian dari pak Kevin mereka. Gina sudah berbuat banyak pada Kevin. Hadiah tak seberapa buat Kevin itu bukanlah satu nilai untuk mengukur semua jasa Gina kepada Kevin. Gina pantes mendapat semuanya. Jay segera melaksanakan permintaan Kevin membeli ponsel pintar untuk Gina. Cuma Jay belum tahu apa Gina mau terima atau tidak. Itu tergantung kepintaran Kevin memberi barang mewah itu pada Gina.
Sebelum lepas jam kantor Kevin mengajak Jay pulang duluan untuk jemput gadis keras kepala itu pulang ke rumah. Apa kata orang seorang komisaris bermotor ria sepanjang jalan dengan helm hitam di kepala. Kursi mewah peninggalan Pak Mul menjadi tidak berarti apa-apa bila diduduki oleh gadis bengal ini.
Kevin sengaja meluangkan waktu menjemput Gina untuk pulang bersama. Kevin mau menaikkan pamor Gina sebagai seorang komisaris dengan jemputan seorang CEO dari perusahaan lain. Kevin sengaja melakukan ini agar orang lain tidak memandang rendah kepada Gina. Kevin tahu kalau Gina tak peduli pada semua tatapan mata orang namun Gina juga tak boleh merusak reputasi pak Mul berbuat seenak dengkul muncul di publik sebagai komisaris paling nyentrik.
Sesampai di depan kantor Gina yang super keren Kevin meneleponi wanita muda itu kasih tahu kalau dia sudah di bawah menjemput dia. Biarlah orang bertanya-tanya siapa lelaki yang jemput dia. Kevin dengan senang dihubungkan dengan Gina. Gina memang bukan yang terbaik namun dia telah mengukir tinta emas di hati Kevin.
Jay dan Kevin masih dalam mobil menunggu Gina menyambut panggilan Kevin. Suasana kantor masih sibuk oleh pergerakan para karyawan. Belum ada tanda-tanda pegawai kantor ini akan segera bebas dari pekerjaan.
"Assalamualaikum nona komisaris..."
"Waalaikumsalam...kok telepon terus? Lagi banyak pulsa telepon ya? Atau bapak sudah jatuh cinta padaku? Rindu terus."
Kevin tak dapat menahan tawa diolok oleh Gina. Tak ada guna dia mengaku kalau dia memang selalu kangen pada gadis ini. Nanti malah dapat jawaban bikin hati jengkel. Lebih baik patahkan dugaan penuh kegeeran Gina.
"Siapa lagi kangen. Aku cuma kasihan pada komisaris kantor kalian. Hidup kayak gelandangan. Nih aku di bawah! Jemput kamu pulang."
"Mau lamar jadi asisten aku atau jadi suami aku?"
"Duanya...kau mau?"
"Ogah...aku belum mau terikat kontrak seumur hidup. Aku masih ingin bebas nikmati hidupku. Males terikat kontrak seumur hidup. Dalam hidup aku cuma boleh kad nikah sekali seumur hidup sampai ajal memisahkan kami. Bapak tak masuk kriteria aku karena bapak hidungnya ada cat belang." sahut Gina ringan bikin kuping Kevin panas. Gina mau katakan Kevin laki hidung belang doyan wanita.
Sejak dewasa Kevin hanya pernah dekat dengan seorang wanita yaitu Gina sendiri. Dari mana muncul dugaan Kevin penebar cinta maut. Itu hanya karangan bebas Gina. Dia karang sesuka hati untuk tolak Kevin.
"Kok aku merasa hidungku seperti pelangi. Pelangi itu hanya untuk kamu." gombal Kevin membuat Jay tersenyum sendiri. Jay puji semangat Kevin mengejar Gina. Bukan dikit laki kepincut Gina namun sayang gadis itu selalu cuek tak open setiap panah dewa amor diarahkan padanya. Jay sendiri dulu juga pernah tergila pada Gina namun perasaan itu perlahan terkikis sadar Gina bukan wanita gampang diraih.
"Pelangi itu datang hanya saat hujan. Aku tak suka hari kelabu warnai hidupku walau akhirnya ada pelangi. Aku butuh cahaya terang sinari hidupku biar tak ada kekelaman lagi. Dan stop menjawab. Aku segera turun. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam..." Kevin mematikan ponsel menggeleng kepala agar sadar kalau dia baru saja ditolak lagi oleh Gina. Kapan Gina akan hidup normal sebagai wanita muda butuh pacaran. Kalau bahas cerita Gina butuh pelindung itu cerita nihil. Justru Gina yang lindungi orang lain. Dia tak butuh perlindungan manapun.
Jay melirik Kevin dari balik kaca pion mobil. Jay mau beri komentar namun tak punya nyali. Yang duduk di belakang itu bosnya yang kasmaran pada anak buah sendiri. Jay menangkap kegelisahan Kevin tak bisa luluhkan hati Gina. Kasihan juga lihat orang kasmaran kena penolakan tunai.
"Apa Gina sudah punya pacar?" mulut Kevin meluncurkan pertanyaan yang sudah lama tersimpan dalam hati. Kevin takut Gina sudah pujaan hati makan dingin pada laki lain.
"Setahu aku belum tapi kalau sekarang aku tak tahu. Kalau akmi di kampung tak ada yang berani sama dia. Takut bonyok. Salah sedikit kepala bakal ada bakso gede." kata Jay jujur takut jadi pacar Gina. Cuci mata lihat cewek lain mata bisa pindah arah. Juling ke kiri atau ke kanan.
Kevin tertawa kecil bayangkan kalau dia beneran jadi pacar Gina. Sudut mata mengerling cewek lain bisa bawa bencana besar. Orang yang berdiri di samping Gina harus punya jiwa teguh tak berselingkuh dari gadis itu. Kevin sendiri ragu bisa bersih dari keisengan lirik cewek.
__ADS_1
"Apa dia itu ada kelainan jiwa tak suka lelaki?"
"Kurasa tidak...yang kami tahu dia paling benci orang tak setia. Dia tak segan hajar kami kalau ketahuan selingkuh dari pasangan kami. Itu Naruto pernah rasakan tendangan Gina sampai tak bisa bangun seminggu gara pacar Naruto lapor pada Gina kalau Naruto jalan sama cewek lain. Gina itu anak baik cuma mungkin dia punya masalah dengan perselingkuhan. Kami duga itu gara ibunya diselingkuhi ayahnya maka dia jadi gini. Kelakuan orang tua melukai hatinya." Jay papar apa yang dia ketahui tentang Gina.
Kevin yakin semua ini bermula dari kesalahan Subrata serong dari Bu Sarah. Kejadian itu telah merobek hati Gina membentuk luka menganga. Kevin merasa Gina harus keluar dari masalah lalu barulah bisa hidup normal seperti gadis umum. Peka terhadap hubungan laki dan wanita. Kini Gina tak ubah seperti robot tak punya perasaan cinta. Cintanya telah pergi bersama masa lalunya ibunya.
"Itu dia!!! Sudahin obrolan ini!"
Gina berjalan santai hampir mobil Kevin. Tas murahan bergantung manja di bahu tak takut orang tahu itu barang ratusan ribu. Bukan level untuk seorang komisaris. Tapi Gina mana peduli orang mau nilai apa. Bagi dia cukup tepat guna.
Gina mengetok pintu kaca mobil tak tampakkan seorang pemimpin baru pulang kerja. Malahan dia tampak seperti karyawan biasa sedang cari tumpangan.
Jay menurunkan kaca mobil menyembulkan kepalanya. Gina tersenyum sambil melontarkan mata ke jok belakang. Kevin melihat senyum Gina seperti sedang melihat film horor. Apa lagi terbersit dibotak anak itu permainankan dirinya. Kevin kok merasa bulu kuduknya berdiri ditatap Gina plus senyum aneh.
"Aku nyetir. Aku belum laksanakan tugas aku sebagai asisten. Kini giliran aku layani tuan muda Kevin. Kau pulang dengan motor aku Jay! Hati-hatilah bawa motor termahal sedunia. Itu terbeli dari keringat darah aku."
Jay membuka pintu sambil mencibir. Motor segitu dibilang termahal. Masih banyak yang lebih mahal tapi orang tidak lebay kayak Gina.
"Tidak akan kunaiki...kudorong sampai rumah saja." ujar Jay sewot.
"Itu bukan ide bagus. Ntar kamu minta ganti rugi sepatu kamu aus. Kurasa kau cari ojek online kirim motor aku ke rumah. Tolong packing yang bagus ya!" sahut Gina makin ramah bikin Jay dan Kevin pusing tujuh keliling. Kadang Gina berbakat jadi pelawak berbakat, kadang mengerikan seperti monster. Yang mana jiwa asli Gina hanya dia yang tahu.
Jay menyerahkan kunci mobil lantas berjalan tinggalkan kedua pembesar kantor. Jay merasa tak ada guna berada di antara dua orang yang memang sangat dekat. Kevin sudah terangan nyatakan suka pada Gina apa masih ingin terjepit jadi nyamuk dalam mobil?
"Woi...kunci motor!" teriak Gina mengalahkan teriakan Tarzan. Gina acungkan kunci di udara membuat Jay harus rela memutar badan balik lagi ke arah Gina.
Jay menyambar kunci yang bergantungan di jemari Gina. Jay menebalkan iman tabah jumpa Bos muda model Gina. Gina belum ada gaya seorang komisaris perusahaan besar. Toh masih konyol seperti biasa.
"Nanti malam suruh Kupret jumpai aku ya! Aku mau pekerjakan dia di perusahaan sini."
Jay menyipitkan mata kasihan pada nasib Kupret harus bekerjasama dengan Gina. Jamin hidup Kupret selalu diintai rasa was-was kena kemplang telapak tangan Gina.
"Kupret harus asuransi jiwa dulu."
"Maksudmu apa? Aku pemimpin tirani?" Gina majukan badan menantang Jay yang pilih mundur. Jay mundur bukan takut pada Gina melainkan segan pada Kevin bila harus adu fisik dengan wanita muda ini.
"Apa bukan?"
"Aku perlu orang kepercayaan di kantor ini. Aku tak bisa setiap hari di sini maka Kupret harus jadi pengganti aku." ujar Gina tak masalahkan kecurigaan Jay kalau Gina akan anarkis pada Kupret. Gina tahu Jay tidak serius anggap dia bos tirani. Hanya dalam mulut doang. Gina memang kejam namun selalu setia kawan.
__ADS_1
"Untuk bekerja kukira tak masalah tapi kalau untuk ganti kamu mungkin Kupret belum sampai ke tahap itu. Dia itu orang baru di dunia bisnis dan lagi keahliannya bukan duduk di meja kantor. Nanti kita pikirkan itu. Pulang dulu bos! Nanti malam kami ke tempatmu. Jangan ngebut Bray!" Jay melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Jay bukan iri pada Kupret dapat tawaran menggiurkan sebagai pengganti Gina di kantor. Anak itu hanyalah pekerja kasar yang lugu. Mana ngerti trik bisnis yang saling memakan. Nyali Kupret belum capai tahap diangkat sebagai atasan. Dia harus mengenal kantor dari bawah dulu. Kupret bisa dampingi Gina sebagai langkah awal masuk yang masih asing baginya. Jay tak mau menjerumuskan Gina dalam kesulitan.
Gina tertegun dengar saran Jay. Kupret memang orang baru dalam dunia bisnis. Mana mungkin dia mampu berhadapan dengan dewan direksi yang licik-licik. Habis anak itu dimakan rekan yang culas.
Gina tak mau lama melamun segera ambil tempat duduk
di belakang kemudi. Gina memutar leher menoleh ke belakang lihat apa bosnya masih ada di belakang. Takutnya telah diculik peri cantik di bawa ke alam gaib.
"Tenang...masih ganteng kok." gurau Kevin membuat bibir Gina membentuk garis tipis. Gurauan ringan namun berhasil mengukir senyum di wajah Gina yang tampak cukup lelah.
"Pikir sudah luntur kena polusi. Kita ke mana? Langsung pulang atau mau singgah ke satu tempat."
"Pulang...nanti malam aku akan traktir Lucia makan malam. Dia sudah serahkan rancangan sangat indah." kata Kevin senang.
Gina tak tahu Kevin senang makan malam dengan Lucia atau senang Lucia sudah berhasil berikan rancangan baru. Ntah mengapa Gina tak suka Kevin bahagia menyebut nama Lucia. Ada yang tercinta di dalam tubuh. Sedikit nyeri namun bisa ditahan.
Gina sudah menduga Lucia tak sabar ingin beri gambar pada Kevin. Wanita itu telah sukses masuk perangkap Gina. Gina akan dengan mulus bongkar rahasia Lucia di depan Kevin. Tapi Gina tak mau terburu-buru buka topeng kebohongan Lucia. Gina akan pura-pura ikut senang biar Kevin tak curiga ada aktor di balik kehancuran Lucia.
"Oh baguslah! Semoga bisa menjadi trend kekinian." sahut Gina apa kadar. Gina tahu persis gambar apa yang diberikan Lucia pada Kevin. Tentu saja gambar jebakan yang diberikan Gina pada Lucia.
"Kamu kapan telorkan karya lagi."
Gina hidupkan mobil memutar stiur agar mobil tinggalkan gedung kantornya. Untuk sementara ini Gina mana bisa fokus pada design perhiasan. Dia sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk salurkan hobi mencetak karya indah memukaukan para wanita. Padahal Gina ingin ikutan lomba design perhiasan internasional tapi terkendala oleh dendam juga nasib Kevin.
"Aku sangat sibuk...kadang aku lupa hari sudah malam. Segitu banyak hal harus kutangani. Aku tak tahu yang mana harus kujalani dulu." kata Gina pada Kevin.
"Kau manusia Gin! Kau harus punya waktu istirahat. Nanti malam kita pergi makan malam bersama ya."
"Bukankah bapak sudah bilang tadi sewaktu telepon. Aku ikut namun tak ikut duduk semeja dengan kalian. Aku tunggu di mobil."
"Mana boleh gitu? Aku juga ingin traktir kamu sekalian. Kamu sudah banyak bantu aku. Aku ingin balas jasa baikmu ajak kamu makan malam."
Gina membunyikan klakson mobil tanpa sebab. Apa otak Kevin sudah terendam banjir rob? Mengundang dua wanita makan malam bersama untuk berterima kasih. Gina boleh tutup mata tak persoalkan hal ini. Di pihak Lucia belum tentu berpikir sederhana macam dia. Salah-salah Lucia akan sangka Gina tak tahu malu merusak acara makan dia bersama Kevin.
"Bapak sudah ajak Lucia jadi hargai dia. Jangan campur aduk undangan untuk dua orang beda karakter! Buntutnya akan timbul prasangka. Aku dan bapak tiap hari makan malam bersama jadi tak perlu diulang di luar. Besok malam kita bisa makan malam di rumah. Jadi tak perlu capek pikir traktir aku."
Kevin sudah duga Gina akan tolak bila di samakan dengan Lucia. Gina itu anti banget sama Lucia bahkan menjurus rasa benci. Masih untung Lucia tidak usik wilayah Gina di kantor. Kalau tidak bisa meletus perang antar kepala suku cewek beda sifat.
__ADS_1