JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pemburu Maling


__ADS_3

Gina tersenyum lalu mengangguk sopan. Gina harus segera buka mata para senior agar jangan sekali-kali punya niat jelek terhadap dirinya.


"Di awal kepimpinan saya ada satu yang akan kukatakan! Mulai detik ini tak ada yang boleh sembarangan buka kontrak kerja tanpa sepengetahuan aku. Dan lagi tak ada yang boleh urus uang keluar masuk perusahaan selain aku. Aku tutup semua akses keuangan dari semua karyawan sini. Hanya aku yang akan urus keuangan dibantu bagian keuangan."


Beberapa dewan kontan hitam mukanya. Mereka tak sangka Gina cepat sekali lakukan kebijakan baru yang merugikan mereka. Tapi siapa berani membantah. Gina punya kuasa bikin peraturan baru sesuka hati. Kalau mereka tak dukung berarti ada udang dibalik rempeyek.


"Dan lagi saya menemukan beberapa kontrak sudah mati tapi masih ada pengiriman barang. Serta pembayaran tak lunas padahal orderan dua tahun lalu. Barang sudah diterima tapi pembayaran tersendat. Untuk hal ini saya akan tindak perusahaan yang tak benar itu. Saya akan tempuh jalur hukum. Banyak sekali kekurangan perusahaan kita. Saya hitung dalam tiga tahun ini perusahaan kehilangan dana segar 3 triliun lebih. Saya tahu persis ke mana dana itu mengalir. Saya punya bukti lengkap siapa yang lakukan penipuan terhadap perusahaan. Saya beri waktu tiga hari untuk kembalikan dana perusahaan tanpa ekspos siapa dalang hilangnya dana perusahaan. Saya sudah lapor pada pihak imigrasi untuk cekal orang yang saya anggap bertanggungjawab terhadap hilangnya dana segar perusahaan. Dan perusahaan yang melanggar kontrak kerja akan saya lapor pada pihak berwajib. Untuk selanjutnya tunggu kebijakan baru yang akan kuterapkan. Terimakasih sudah maklumi pimpinan baru kalian." Gina berkata dengan suara keren tanpa jeda.


Mimpi buruk sudah mulai merajai perusahaan ini. Bagi mereka yang tak bersalah tak rasakan kalau Gina itu seperti monster. Gina memang monster bagi mereka yang buat curang. Di kampung saja Gina dijuluki monster. Mungkin di sini Gina juga akan dapat gelar sama.


Tak ada yang bersuara jawab pidato keras Gina. Mimpi seribu kali juga tak sangka anak bawang ternyata pedas juga. Pedasnya melebihi cabe rawit yang lagi top yakni cabe rawit bencong. Pedasnya menyesakkan ulu hati.


"Kalian sudah dengar apa yang dikatakan cucu aku? Aku terpaksa serahkan perusahaan pada cucu aku karena dari tahun ke tahun perusahaan kita merugi terus. Ternyata uangnya telah mengalir dalam tubuh perusahaan namun masuk kantong pribadi. Kalau tak mau lawan hukum kuharap kalian bijak kembalikan dana perusahaan agar perusahaan ini tak ditutup. Pikirkan nasib ratusan karyawan perusahaan yang bakal di PHK bila perusahaan bangkrut." Pak Mul sumbang suara berharap ada itikat baik dari mereka yang telah curi uang perusahaan.


Tak ada yang jawab. Bagi mereka yang bermasalah tentu saja ketar ketir dapat serangan fajar. Gina ternyata datang untuk jernihkan kerugian perusahaan. Gina bukan anak bodoh mudah disetir.


"Tapi laporan tahunan kita perusahaan selalu untung banyak! Pasokan alat berat serta onderdil alat berat juga lancar. Di mana kerugian kita?" tanya seorang dewan lelaki.


"Pertanyaan bagus...bapak ini siapa?" Gina balik tanya mau kenal laki yang tak merasa perusahaan merugi.


"Aku ini Hamdan bagian keluar masuk barang dan alat berat. Selama ini semua lancar ditangani pak Hartono. Cuma soal pembayaran bukan wewenang kami."


"Bagus...dana penjualan masuk hutang rekanan kerja. Ada yang hutang dua tahun lalu belum lunas tapi barang masih lancar dikirim buat pengutang tersebut. Saya sudah catat beberapa perusahaan masuk daftar blacklist dan akan segera ambil tindakan hukum. Saya akan sita perusahaan yang mau bodohi kita. Kalian lihat saja saya akan apakan mereka yang telah menipu seluruh karyawan perusahaan kita. Mati pun terlalu enak buat tikus parit itu." ujar Gina mulai lunturkan keimutan dia. Gina yang duduk di bangku Komisaris bukanlah tahu gampang dibenyek.


"Nak Gina...kontrak sebagian rekanan bisnis memang sudah mati tapi itu hanya formalitas. Mereka masih berbisnis dengan lancar kok!" Hartono angkat suara merasa terancam.


"Formalitas? Lalu apa Gina kita gaji pengacara untuk urus kontrak kerja perusahaan? Minta pak Junaidi makan gaji buta? Lalu gimana hutang dua tahun lalu belum selesai sementara kalian masih kirim barang untuk mereka? Bukankah harus kita tempuh jalur hukum? Dan dana yang mengalir ke kantong petinggi perusahaan harus segera kembali sebelum saya bertindak mempermalukan orang-orang licik. Sudah saya bilang kasih tempo tiga hari untuk kembalikan dana. Saya punya bukti ke mana dana itu mengalir." lidah tajam Gina terus keluarkan kalimat hujam hati para maling berdasi.


Hamdan tertawa dalam hati telah hadir penyelamat perusahaan. Mereka tak punya daya hadapi CEO dan wakilnya. Dewan direksi lain bukan tak tahu permainan kedua pembesar yang hidup dalam gelimang harta dari uang perusahaan.


Hartono dan Mandala serta wanita yang tadi sok baik mengalami syok berat jumpa anak kemarin yang berhati kejam. Bicara pekan namun menusuk kalbu. Kini mereka sadar Gina telah selidiki mereka sebelum masuk sini. Ternyata pak Mul sudah persiapkan segalanya untuk hadang para maling perusahaan.


"Rapat ini kita sudahi. Ingat...saya ini bukan opa yang punya sejuta kata maaf. Kata itu tak ada dalam kamus saya. Aku hanya tahu kejujuran bawa berkah. Saya tunggu itikat baik dari kalian. Satu lagi..saya akan menata posisi baru di perusahaan ini dalam waktu dekat. Kalau mau bertahan tunjukkan kalau kalian pantas dipertahankan. Terima kasih!" Gina akhiri kalimat sambil membungkuk hormat pada mereka yang lebih tua. Gerakan ini bikin mereka yang betulan ingin bela perusahaan angkat topi. Gina masih muda namun tahu sopan santun. Keras pada tempatnya. Gadis mengagumkan.


Satu persatu peserta rapat tinggalkan ruang rapat. Ada yang senang dan ada yang galau habis. Masa gemilang mereka akan segera tamat. Bila tak kembalikan uang perusahaan maka penjara sudah menanti mereka. Gina sudah buat persiapan sangat matang hadapi maling ini. Semua ini berkat arahan pak Julio yang jauh lebih berpengalaman terhadap kebusukan maling perusahaan.

__ADS_1


Opa salut pada gerakan kilat Gina tangkap pencuri tanpa permalukan mereka. Ini sikap bijaksana seorang pemimpin. Gina pantas dapat pujian dari opa sebagai pemula mampu bikin para maling sport jantung.


Pak Junaidi tepuk tangan setelah ruangan bersih dari dewan pimpinan yang diangkat pak Mul. Kini pemimpin sejati hanya satu yakni Gina.


"Hebat cucu pak Mul. Dalam satu gerakan tangkap semua maling." pak Junaidi kontan beri pujian.


"Ach pak Junaidi suka besarkan masalah kecil. Sekarang pak Junaidi harus kirim surat panggilan buat tiga perusahaan rekanan bisnis untuk bayar hutang yang sudah karatan. Kita kasih tempo seminggu untuk bayar lunas. Tak ada toleransi penundaan pembayaran. Atau kita serahkan pada pihak berwajib sita perusahaan mereka. Oya...beri peringatan keras kepada perusahaan Mahabarata. Kirim semua surat hari ini juga. Terimakasih pak Junaidi!" Gina beri hormat bikin pak Junaidi tak bisa ngelak menunda surat yang diminta Gina.


Opa ketawa lihat cara halus Gina paksa orang ikuti perintahnya. Menekan tapi beri kesan menghormati kerja keras orang lain. Pak Mul makin suka pada cucu tirinya ini. Kejam tapi menurut jalur benar.


"Baik nona kecil. Bapak patuh pada pimpinan baru. Hari ini juga surat akan bapak antar ke perusahaan yang bermasalah. Puas?"


"Sangat puas. Senang kerja sama dengan pak Junaidi yang profesional."


Pak Mul dan pak Junaidi tertawa lihat cara Gina menghormati hasil kerja keras orang lain. Pak Junaidi tidak perlu kuatir menemukan anak muda hanya pamer tampang tanpa ada isi otak. Gina malah sudah lewat batas kepintaran seorang remaja muda.


"Opa mau pulang atau mau tetap di sini?" tanya Gina setalah semua ada kejelasan.


"Opa pulang saja. Oma masih menunggu di rumah. Opa akan segera balik ke Jerman. Kau harus hati-hati terhadap mereka yang punya niat jahat. Opa harap kamu bijak tangani perusahaan."


"Opa tak usah kuatir. Cucu opa ini badak. Tak tahu malu dan pemberani. Gina akan peras mereka kembalikan uang perusahaan dalam keadaan utuh. Jika perlu Gina Dita aset mereka. Terdengar kejam sih tapi ini harga yang harus mereka bayar."


Opa manggut-manggut setuju. Semua kesalahan ada konsekuensi. Mereka berani berbuat harus punya nyali bertanggung jawab.


"Opa serahkan padamu. Kau takkan nangis bukan kalau ibu dan ayahmu pulang ke Jerman?" olok opa sambil bangun dari kursi hendak keluar.


"Jamin nangis sampai mata sebengkak mata ikan koki. Apa ayah dan ibu tak bisa tinggal di sini? Ayah kan bisa kawal Gina rawat perusahaan ini."


"Ngak bisa sayang. Oma kamu tak mau ambil resiko kehilangan adikmu. Ibumu tak bisa diam di rumah jadi oma mu kuatir. Ayok kita pulang! Kita kasih waktu mereka berpikir untuk buka kejujuran."


"Opa pulang dulu. Gina di sini dulu sampai sore untuk kenal lingkungan kantor. Opa pulang dengan supir ya! Mari Gin antar opa ke parkiran!" Gina membantu Opa berjalan seolah opa mendadak jadi jompo.


Opa senang saja digandeng cucu luar biasa ini. Opa menyesal juga mengapa tidak dari dulu akui keluarga anaknya. Ternyata Sabri bukan laki bodoh asal comot isteri. Bu Sarah dan kedua anaknya punya kualitas mumpuni sanggup bantu opa pecahkan kekacauan perusahaan.


Gina bergandengan dengan Pak Mul timbulkan sejuta pertanyaan di mata para karyawan. Gadis resepsionis yang jumpa Gina paling pertama cukup syok ternyata Gina benaran cucu komisaris mereka.

__ADS_1


Banyak yang belum tahu kalau pemimpin mereka telah diganti oleh gadis sederhana ini. Dari penampilan luar bersikap masa bodoh tetapi di dalam tersimpan sejuta akal untuk menjatuhkan mereka yang bermain curang di perusahaan.


Gina antar pak Mul sampai ke pintu mobil bersama pak Junaidi. Gina sendiri yang menutup pintu mobil untuk yakin opanya dalam kondisi aman. Gina melambai ke arah mobil yang melaju tinggalkan kantor.


Gina menghela nafas setelah opanya pergi. Pak Junaidi perhatikan Gina yang seperti menyimpan sesuatu dalam hati. Pak Junaidi menanti apa yang akan dilakukan gadis ini memaksa para maling segera kembalikan uang perusahaan.


Lama Gina melamun di pelataran parkir tanpa buat gerakan. Ntah rencana apa lagi tersimpan di otak kecil itu.


"Nak Gina...mau jadi daging panggang?"


Gina tersadar oleh joke ringan Pak Junaidi. Laki itu tentu ingin ingatkan Gina matahari sudah mulai tinggi siap bakar semua yang berada dalam cengkeraman dia.


"Pak Junaidi ini lucu juga ya. Aku mau pak Junaidi panggil pak Hartono CEO kita yang hebat. Suruh dia temui aku. Dia itu pangkal kehancuran perusahaan." kata Gina dingin mau langsung beri pelajaran pada CEO yang angkuh itu.


Pak Junaidi tepuk tangan puji insting Gina yang luar biasa. Baru sehari datang sudah bisa tebak siapa aktor dari bocornya keuangan perusahaan.


"Hebat kau nak! Apa yang akan kau lakukan pada rubah itu?"


"Cabut bulunya biar kedinginan. Saya tunggu di ruangan." Gina melangkah pergi hendak naik ke ruang kerja barunya. Pak Junaidi ikut dari belakang bisa rasakan aura keras terpancar dari tubuh gadis muda ini. Aura habisin orang kental tercetak dalam jiwa muda Gina.


Gina melewati Denada penjaga meja resepsionis lalu melambai ramah pada gadis itu. Pak Junaidi ikut dari belakang menyakinkan Denada kalau Gina orang penting di perusahaan.


Gina masuk ke lift khusus untuk pejabat teras. Gina sendirian masuk lift karena Pak Junaidi bertugas memanggil Hartono. Masa keemasan Hartono telah pudar. Auranya telah redup kena aura pimpinan baru mereka. Pak Junaidi yakin tidak sulit bekerja sama dengan Gina asal berjalan di jalan terbuka. Tak perlu belok ke lorong gelap.


Gina disambut Dinda selalu sekretaris pak Mul. Kini Dinda menjadi sekretaris Gina bantu gadis muda ini mengurus semua masalah perusahaan. Dinda sudah tahu gadis muda ini kini menjabat presiden komisaris perusahaan. Jabatan paling vital dalam perusahaan.


"Ada yang bisa kubantu nona Gina?" Dinda cepat tanggap ikut masuk ke dalam ruang kerja Gina.


"Berikan semua roda gerakan perusahaan selama lima tahun ke belakang. Aku mau tahu semua pengeluaran dan masukan perusahaan serta daftar nama seluruh pegawai perusahaan. Tak ada yang boleh lewat termasuk daftar nama ob dan cs."


"Baik nona...ada yang bisa kubantu lagi? Apa nona perlu sesuatu seperti teh atau kopi?" Dinda masih tunjukkan kesetiaan seorang sekretaris jempol.


"Aku mau teh saja. Sedikit gula biar suasana hatiku tenang. Oya...kalau Hartono datang segera suruh masuk. Hanya dia saja."


"Baik..." Dinda mengundurkan diri persiapkan semua permintaan Gina. Dinda dapat rasakan akan ada pertunjukan menarik. Gadis yang dia anggap hanya gadis muda penghias pesta ternyata seorang pemburu sejati. Tangkap tikus dan rubah dalam sekejap mata. Gadis menarik yang harus dilestarikan.

__ADS_1


Orang yang dipanggil oleh pak Junaidi telah datang. Hartono datang sendirian dengan wajah lesu. Tampaknya laki ini sudah tahu apa yang bakal dibahas Gina saat ini. Lonceng kematian sudah berdentang memanggil nama Hartono.


__ADS_2