JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Lucia Merana


__ADS_3

Lucia terpana tak sangka Kevin memilih tinggal di tempat yang menurutnya lebih mirip gubuk. Untung Lucia tak selipkan kata gubuk derita yang pasti akan mendapat perlawanan dari Gani. Gani sudah gemas pada Lucia yang soknya minta ampun. Pantes Gina tak suka pada wanita itu. Gina punya sejuta alasan untuk tak hargai Lucia. Ternyata Gina tak bersalah bila tabuh genderang perang lawan Mahabarata.


"Mas...kau masih waras kan? Aku tak tahu rumah Gani type berapa. Yang pasti bukan tempat manusia normal. Ayoklah mas! Kita pindah ke rumah aku! Di sana lengkap semua fasilitas dan pastinya nyaman bersamaku." Lucia tak putus asa merayu Kevin untuk tinggal bersamanya.


"Kau betul nona Lucia. Yang tinggal di tempat kami bukan manusia normal tapi manusia berakhlak. Yang tinggal di tempat mewah normal tapi keturunan Dajjal. Penghuninya manusia sejuta umat dan wanitanya tak tahu malu undang laki tinggal di rumah normal penuh maksiat. Tanya hati nurani seberapa normal kalian?" sekak Gani mulai dengan mulut comberan nyaplak sesuka hati. Gani jengkel dihina terus oleh Lucia. Mereka miskin tapi tak pernah meminta termasuk meminta Kevin bergabung di rumah mereka.


Jay tersenyum dukung Gani semprot Lucia. Kalau diizinkan Jay mau acung jempol puji Gani seketika. Namun Lucia duduk di samping tak beri kesempatan buatnya ekspresi rasa senang Gani jatuhkan harga orang sombong.


"Hei Gan...apa adikmu yang konyol itu tidak murahan ajak mas Kevin tinggal bersama?"


"Wow...itu beda mbok!!! Kak Kevin yang maksa mau satu rumah dengan wanita pujaan hati. Kak Kevin sudah tembak Gina kok. Mereka sudah resmi pacaran. Yee tinggal berita sih! Katanya aktif di medsos tapi ngak up date berita teranyar. Kacian deh lho!" Gani sengaja bergaya kebancian untuk bikin Lucia keki.


Kalimat mematikan Gani nyaris membuat Lucia tersedak oleh ludah sendiri. Tak mungkin Kevin suka pada gadis kasar tak punya modal bisa dipamerkan. Apa Kevin tak malu jalan sama gadis kusut tak pandai dandan.


"Mas...apa yang dikatakan Gani itu benar?"


"Iya...aku suka sekali pada Gina. Dia membuatku nyaman dan merasa aman." Kevin akui perasaan kepada Gina supaya Lucia tutup niat ingin habiskan waktu tua bersamanya.


Lucia kontan membeku dengan luka menganga dalam hati. Luka tanpa darah menembus sampai ke jantung. Mimpi seribu kali Lucia tak sangka Kevin serius pada Gina. Dulu Lucia mengira Kevin hanya tertarik pada sikap cool Gina. Berlalunya waktu pesona Gina akan memudar di hati Kevin.


Bukannya memudar malah makin tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Berkembang menggoda orang untuk segera cicipi nikmatnya jamur langka.


"Antar aku pulang!" kata Lucia sambil mendesah sedih. Hati Lucia hancur berkeping-keping namun Lucia tak bisa luapkan emosi detik ini. Paling nanti lapor pada Subrata agar tangani Gina agar jauhi Kevin. Lucia harus dapatkan Kevin dengan cara apapun. Tak peduli trik apa dia harus menang lawan Gina.


Jay memutar mobil turuti permintaan Lucia. Kaki ini tak perlu tunggu perintah Kevin. Suasana dalam mobil memang sudah tidak kondusif. Andaikata Lucia masih berada di dalamnya maka gadis itu yang akan memendam rasa sakit tak terhingga. Gani pasti akan menyerangnya habis-habisan karena laki gemulai itu sudah terlanjur ilfil kepada Lucia. Selalu dia juga terlalu menghina keberadaan keluarga Gani.


Mungkin Lucia belum tahu kalau sekarang Gina telah diangkat menjadi komisaris satu perusahaan besar. Kuku tangan Gina sudah runcing siap menancapkan racun ke tubuh Subrata. Kini Gina telah siap maju ke Medan laga lawan bapak kandungnya.


Kevin sangat menyesal mengacaukan acara makan malam. Semua ini murni kesalahan Lucia yang provokasi emosi Gani. Wajar saja kalau Gani menjadi perang karena terusan dihina oleh wanita yang dikatakan adalah kakaknya.


"Maaf Lucia! Semua jadi kacau. Lain kali aku akan bayar untuk semuanya." ujar Kevin setelah di depan rumah Lucia. Kevin terpaksa turun dari mobil untuk hargai perasaan Lucia. Kevin paham kalau Lucia pasti marah pada pengakuan dia terhadap Gina.


"Mas...aku tunggu niat baik mas. Aku tahu mas hanya terbawa arus penasaran pada Gina. Aku yakin cepat atau lambat mas akan paham siapa yang cocok untuk mas. Gina bukan level kita."


Kevin malas membantah lagi. Siapa Gina adanya mungkin Kevin lebih ngerti. Gina tak perlu pura-pura jadi orang lain untuk mendapatkan cinta Kevin. Kevin yang ngebet padanya malah Gina yang menolak cinta persembahan Kevin.

__ADS_1


Kevin hadiahkan anggukan kecil buat Lucia tanpa beri kepastian. Kevin harus paham kalau sekarang perasaan Lucia sedang galau. Dia tak boleh menambah garam di atas luka Lucia. Mencintai siapa pun itu hak semua orang. Cinta tak bisa diintervensi karena cinta itu merdeka tanpa pungut bayaran.


"Masuklah! Udara sudah sangat dingin tak baik untuk kesehatan. Kita jumpa di kantor besok bahas rancangan baru kamu. Aku perlu penjelasan Kevin detail mengenai karya kamu. Selamat malam.


Perpisahan ini akan lebih manis bila adanya pelukan hangat dari Kevin seperti dalam kisah sinetron. Sebelum berpisah sang cowok akan beri kecupan mesra di kening sang kekasih untuk dijadikan kenderaan menuju mimpi indah. Sayang seribu sayang adegan itu tak pernah terjadi dala hubungan Lucia dan Kevin.


Kevin pergi begitu saja tinggalkan Lucia mematung di depan pagar rumah. Mata Lucia menatap nanar pada mobil yang ditumpangi oleh Kevin melaju tinggalkan rumah dia. Lucia ingin sekali berteriak memanggil Kevin agar jangan pergi. Kevin pergi tentu saja masuk ke pelukan Gina. Hanya itu yang terbayang di benak Lucia.


Perlahan mobil Kevin menghilang di telan kegelapan malam. Semua jadi hening menyisakan luka mendalam dalam hati Lucia. Lucia sungguh apes harus jumpa Gina di monster yang telah siap lumatkan seluruh keluarga Mahabarata.


"Cia...kok sudah pulang?" tegur seseorang membuat Lucia menoleh. Air mata Lucia auto turun begitu ditegur oleh sang mama yang keluar menyambut sang putri tersayang.


Lucia tak menjawab hanya melengos masuk ke rumah dengan wajah murung. Angela terpaksa mengejar langkah anaknya penasaran apa yang telah terjadi. Pergi dengan ceria pulangnya mendung tebal.


Lucia melempar tas ke atas sofa lantas berteriak keras keluarkan emosi yang telah lama tersimpan di dada. Angela kaget melihat anaknya mendadak menggila. Sebagai ibu Angela tak rela anaknya bersedih walau apapun masalah.


"Sayang...cerita pada mama ada apa?" Angela memeluk anaknya yang histeris.


"Ma... Kevin..." tangis Lucia meledak. Lucia menangis dalam pelukan Angela. Lucia sudah tak sanggup menahan kesedihan. Semua yang dia lakukan untuk menaklukkan hati Kevin terbuang sia-sia. Kerja keras dia tak dapat apresiasi dari Kevin. Dia mengenal Kevin cukup lama namun tak bisa luluhkan hati laki itu. Laki itu justru menitip cintanya kepada wanita yang baru dia jumpai.


"Dia tidak cinta padaku..Dia mencintai Gina." kata Lucia di antara Isak tangis.


Darah Angela mendidih mendengar nama Gina hadir lagi dalam keluarga mereka. Masalah kantor belum selesai kini muncul masalah asmara pula. Angela sakit hati anaknya diperlakukan tak adil oleh Gina. Dia harus cari Gina bikin perhitungan telah membuat anaknya menangis sedih.


Subrata muncul mendengar suara Lucia menguak ketenangan rumah. Subrata sedang pusing mikirin cara lunasi hutang Gina yang jatuh tempo. Mereka punya surat kontrak secara tertulis maka punya kekuatan hukum. Gina bisa lapor kecurangan Subrata kapan dia mau.


"Ada apa lagi?" tanya Subrata lemas. Laki itu hempaskan badan ke sofa memandangi anak isterinya sedang lakoni adegan haru biru. Mereka sedang akting apa lagi. Kadang Subrata lelah hadapi semua akting anak isterinya yang selalu ingin tampil menjadi terbaik.


"Apa lagi? Itu anak haram kamu bikin anak kita menangis. Dia merebut Kevin dari tangan Lucia." seru Angela tak sadar sedang omong apa. Perkataannya sedang wakili kondisinya namun dia tak sadar sedang omong apa.


Kening Subrata berkerut-kerut agak marah Angela sebut Gina anak haram. Justru Gina dan Gani anaknya yang sah. Lucia yang jadi anak haram karena lahir tanpa ikatan pernikahan. Mengapa otak Angela jadi macet tak sadar sedang omong apa.


"Jaga mulutmu! Gina bukan anak haram. Dia terlahir dari ikatan pernikahan kami. Hati-hati kalau ngomong! Ini bisa bumerang untukmu."


"Jadi papa mau biarkan Lucia sakit hati? Kevin pilih Gina daripada anak kita yang elite. Mungkin kita harus lenyapkan anak itu sebelum kita ditekan habisan."

__ADS_1


Subrata sudah tahu cinta Kevin untuk Gina. Kevin sudah pernah mengaku kalau dia lebih cinta pada Gina daripada Lucia. Itu dulu sebelum Gina diangkat jadi komisaris. Cinta Kevin tulus menerima Gina apa adanya tanpa lihat status.


"Kuingatkan kamu jangan coba-coba sentuh Gina dan Gani. Mereka itu korban kita. Tuhan sedang uji kita kasih tahu gimana rasa sakit Sarah waktu kita selingkuhi. Karma itu sudah datang."


Angela terdiam diingatkan oleh Subrata tentang cerita masa lalu yang cukup tragis. Yang jadi korban wanita muda tanpa daya. Subrata dan Angela tertawa bahagia sedangkan Sarah terlunta-lunta di jalanan.


"Itu perbuatan kalian. Dasar apa aku yang harus tanggung dosa kalian. Aku memang benci Gina dan Gani tapi kuharap mama jangan tambah dosa lagi. Jangan dikit-dikit mau celakai orang! Nanti aku juga kena imbas. Kalau boleh pilih aku tak mau dilahirkan dari rahim mama. Memalukan punya mama model mama." seru Lucia meninggalkan ruang tamu berlari masuk kamar. Lucia bukannya terhibur malah makin terpuruk dengar pengakuan jujur Subrata. Artinya kedua orang tuanya memang bersalah pada keluarga Sarah.


Wajar kalau Gina dan Gani mendendam. Lucia tak bisa salahkan mereka seluruhnya.


Wajah Angela berubah hitam disalahkan Lucia. Keegoisan masa lalu jadi karma buruk di masa kini. Anak-anak Sarah telah bangkit lempar granat ke arahnya untuk bom dia sampai hancur. Subrata tak bisa bela Angela karena itu semua adalah fakta. Siapa mau dilahirkan oleh seorang perempuan malam. Sudah gitu jadi pelakor pula sebabkan orang lain hidup menderita.


"Kau jangan ikut campur urusan anak muda. Biar mereka selesaikan sendiri masalah cinta mereka. Kamu fokus urus keluarga saja dan jangan banyak keluar rumah karena kamu sedang disorot! Aku mau istirahat." Subrata bangkit tinggalkan Angela yang tak tahu harus bagaimana. Angela seolah mendapat buah busuk yang dia tanam. Kini dia sedang panen buah yang sudah dia tanam puluhan tahun lalu. Sayang bukan panen buah baik melainkan buah busuk bau bangkai.


Di tempat lain Kevin tetap ajak Gani dan Jay pergi makan malam walau bukan restoran mewah seperti rencana semula. Kevin malu bila harus pulang numpang makan di rumah Gina. Anak itu pasti akan tertawa terbahak-bahak bila tahu Kevin dan Lucia batal makan malam hanya karena perang mulut antara Gani dan Lucia. Jamin Gina akan mengejeknya sebagai laki pelit tak tulus undang orang makan malam.


Kevin tak mungkin bercerita kalau mereka batal makan malam hanya karena pengakuan cinta Kevin kepada Gina. Lucia sangat tersinggung maka membatalkan rencana makan malam bersama. Kevin wanti-wanti pesan kepada Jay dan Gani untuk tidak membicarakan masalah ini di rumah. Kejadian malam ini cukup sampai di sini tak perlu ada lanjutan.


Sebelum jam 09.00 Kevin CS sudah kembali ke rumah. Suasana rumah sepi tak ada orang di ruang tamu. Mungkin masing-masing telah masuk kamar untuk istirahat karena penghuni rumah ini jarang begadang. Mereka hidup teratur tidur cepat dan bangun juga subuh. Kevin mulai terbawa pola hidup sehat ini maka kesehatannya juga banyak kemajuan.


"Gani...tolong lihat apa Gina sudah tidur?"


"Mau apa? Mau lapor kalau Lucia ngambek?" bisik Gani takut terdengar Gina. Rumah mereka demikian kecil hampir tak ada rahasia tersembunyi.


"Kamu gila ya? Sudah kubilang harus rahasia. Ini kok mau lapor. Aku mau ajak dia bahas rancangan perhiasan baru." Kevin mendelik kesal pada laki ini.


"Oh...aku akan lihat. Jam segini mungkin belum tidur. Dia itu kayak alarm tepat waktu. Jam sepuluh dia akan langsung tidur." Gani ringankan langkah masuk ke kamarnya merangkap kamar Gina.


Kevin masuk ke kamar mengambil rancangan Lucia serta ponsel yang sudah dia sikan untuk hadiahkan pada Gina. Beli sendiri mungkin belum terpikir oleh gadis itu. Ntah pelit atau memang tak ada uang. Tak ada uang hal tak mungkin. Kevin baru saja transfer uang cukup banyak untuk Gina sebagai gaji dan bonus hasil penjualan perhiasan rancangan Gina. Kevin mau lihat apa alasan Gina bila sudah dapat ponsel pintar. Di sini Kevin akan temukan jawaban mengapa Gina menolak ikut kemajuan teknologi.


Sewaktu Kevin keluar kamar membawa kertas rancangan Lucia, di ruang tamu sudah ada Gina memakai setelan baju training warna kuning muda. Ini sesuai dengan warna anak muda masa kini. Rambut Gina digulung ke atas bentuk konde mungil menambah keremajaan gadis itu. Malam ini Gina tampil wajar seperti gadis muda umumnya. Mata tajamnya tampak teduh tanpa tersirat amarah.


"Kok cepat pulang? Tak cocok selera?" tanya Gina melihat tangan ke dada menanti jawaban Kevin.


"Lucia kurang enak badan maka akan dilanjut lain hari. Aku punya sesuatu untukmu!" Kevin angsurkan kotak ponsel warna hitam.

__ADS_1


__ADS_2