
"Itulah kebesaran Tuhan. Yang Maha Kuasa mau tunjukkan kalau wanita itu tidak selamanya indentik dengan lemah lembut."
Baru saja Gina selesai omong ponselnya bergetar dalam saku celana. Gina sengaja silent nada dering biar suara ponsel jadulnya tidak cemari kantor yang mewah.
Gina merogoh saku celana keluarkan benda kecil model lipat itu. Mata Peter serasa ternoda melihat pemandangan langka. Jaman gini masih ada anak remaja gunakan ponsel produk jaman bapaknya.
Gina ini sungguh makhluk aneh bin ajaib. Gadis ini model apa sebenarnya? Jangan-jangan nenek tua hasil oplas jadi muda belia.
Gina tak open tatapan penuh tanda tanya Peter. Dia dengan pede angkat telepon dari orang paling dia segani.
"Assalamualaikum pak!"
"Waalaikumsalam.. kamu ini asisten model apa? Ini sudah jam berapa? Katanya on time jemput aku di rumah. Ada jam tangan tidak?"
"Tidak pak. Maaf aku lupa jemput bapak! Takut terlambat datang ke kantor maka aku buru ke kantor." ujar Gina meringis karena ingkar janji lupa jemput bos di rumahnya. Gina sudah janji akan jemput Kevin di rumahnya. Semua jadi lupa akibat terlalu gugup hendak masuk kantor.
"Kamu sudah di kantor?" suara Kevin mirip teriakan tarzan sedang ngamuk kehilangan Jeanny.
"Iya pak. Ini di lift bersama pak Peter. Aku ke sana ya?"
"Tak usah. Nilai nol untukmu hari ini."
Gina menelan ludah merasa bersalah. Gina bukan takut pada Kevin melainkan bersalah lupa pada janji sendiri. Seenaknya dia janji tapi gampang sekali lupa janji.
"Kenapa? Ada janjian sama bos?"
Gina nyengir kuda. "Kemarin janji jemput beliau di rumahnya tapi aku lupa. Dia punya senjata tembak orang ngak?"
"Ada...pistol air! Sekali kena tembak derita sembilan bulan. Semoga kamu tidak kena senjata mematikan itu."
Gina tersipu malu dicandai Peter. Candaan begitu masih asing di telinga Gina. Itu candaan orang dewasa.
Peter tersenyum-senyum lihat rona merah menjalar di pipi cantik itu. Anak gadis lugu belum bisa diajak bergerilya masalah 21 tahun ke atas.
"Tenang saja! Kevin itu dasarnya tidak galak cuma sok galak. Kamu diam saja kalau ditegur. Bingkem pasti aman."
"Gitu ya pak!"
"Kalau ada yang tak bisa boleh hubungi aku. Cuma kalau aku boleh tanya ponsel kamu itu warisan kakekmu ya?"
Gina melirik ponsel dalam genggaman merasa tak ada yang salah dengan ponsel jadulnya. Masih layak dipakai bahkan awet. Ntah berapa puluh kali jatuh tapi masih berfungsi baik.
"Ini pemberian om Sabri. Dia tukar ponsel baru maka dia kasih ke aku. Aku suka kok ponsel ini. Tahan banting."
"Jangan bilang kamu tak punya aplikasi medsos!"
Gina mengangguk merasa tak butuh semua itu. Dia tak ingin ikutan posting ini itu karena tak rasakan manfaatnya. Cukup bisa SMS dan teleponan. Itu sudah cukup.
"Ini sudah sangat bagus pak!"
Pintu lift terbuka minta beban segera keluar dari badannya. Peter duluan keluar baru menyusul Gina. Peter hentikan langkah memutar badan membuat Gina tanpa sengaja menabrak dada laki itu.
Terdengar suara buk kepala Gina terantuk ke dada Peter. Peter diam saja rasakan sensasi ditabrak gadis cantik nan lugu. Peter suka pada cewek apa adanya. Tidak sok cantik walaupun cantik.
Gina meraba jidatnya yang terasa sakit akibat tabrak dada sekeras dinding beton. Gina tak berani angkat kepala tatap wajah Peter karena malu seluas samudera.
"Sakit?" Peter ikutan raba jidat gadis muda di depannya. Ini sekedar rasa simpatik pada gadis kaku yang belum kenal kata pacaran.
__ADS_1
"Tidak pak!" sahut Gina sembunyikan rasa sakit. Sakitpun harus bilang tidak biar tidak dibilang sok manja. Tabrakan tanpa sengaja timbulkan benih yang baik tumbuh subur di hati Peter.
Dari awal jumpa Gina dia berharap Gina adalah cewek. Harapan itu telah terwujud sekarang tunggu benih yang baru muncul berkembang lebih subur. Tak usah dijabarkan Peter suka pada Gina sewaktu berperan sebagai Gino.
Peter meraih tangan Gina lalu ambil ponsel di tangan gadis itu. Dalam sekejap ponsel jadul itu sudah pindah tangan. Peter perhatikan ponsel itu dengan teliti sangsi benda itu berfungsi baik.
"Buatan tahun berapa?" Peter mengacung ponsel itu ke atas.
"Kurang tahu. Mungkin sembilan puluhan."
"Wah awet banget! Orang yang pakai pasti sabar. Kamu lahir tahun berapa punya barang jadul gini?"
"Tahun 2000 pak! Ini warisan dari om Sabri."
"Kalau gitu kubeli ponsel ini. Buka harga berapa?"
Gina tahu Peter sedang mengejeknya. Siapa lagi mau barang kuno seperti itu. Gina sengaja pakai ponsel gitu untuk hindari hasrat ikutan main medsos yang seperti mata pisau. Dia bisa melukai orang juga bisa bantu orang. Memang tergantung orang yang gunakan aplikasi dimaksud. Semua tergantung kebijakan sendiri.
"Maaf pak! Ini pemberian om Sabri! Tak bisa dibanding dengan materi. Aku akan gunakan ponsel ini sampai dia bingkem. Aku permisi harus segera kerja." Gina ngeloyor pergi tak peduli Peter terpana.
Baru kali ini ada orang tidak mengindahkan permintaannya. Di perusahaan ini siapa yang tidak kenal Peter si pria pujaan semua anak gadis. Jumpa Gina kok dia merasa tak ada harga lagi. Ke mana lari pesona yang dia miliki?
Peter menatap punggung Gina yang berjalan menjauhi dirinya. Anak itu santai saja seolah Peter itu bukanlah sosok yang pantas digandrungi.
Gina merupakan tantangan baru buat Peter. Dia harus menaklukkan gadis ini dengan segala upaya agar tahu bahwa Peter bukanlah pria yang mudah menyerah pada seorang gadis kecil.
Tak lama berselang muncul Kevin dengan wajah masam. Kevin melewati Gina sambil melontarkan tatapan membunuh. Kevin kesal habis diabaikan oleh asisten yang baru diangkat.
Gina mengingat sikap Gani yang selalu memberi hormat kepada Kevin selaku bos perusahaan begitu dia datang. Gina juga bersikap sama membungkukkan badan sikit menyambut kehadiran bos yang sedang dilanda amarah setinggi langit itu.
"Selamat pagi pak!" sapa Gina pura-pura lupa kalau dia baru saja berbuat salah.
"Iya pak!" Gina segera bergeser ke bagian pantry sebelum bosnya ngoceh lebih panjang. "Pahit amat hidup ini. Seperti kopi pahit."
Gumaman Gina terdengar jelas di kuping Kevin. Anak itu jelas sedang mengejeknya. Ibaratkan hidup Kevin seperti kopi pahit orderan beliau.
Peter yang berada di situ tertawa ngakak Kevin ketemu lawan. Sudah ada yang berani menantang laki itu. Gina sedang ukir prestasi unggul di kantor.
"Kau tak menyesal rekrut penyebab serangan jantung di kantor ini? Kujamin kamu akan kena serangan jantung paling tidak stroke ringan."
Kevin menggeleng kepala halau rasa jengkel yang baru saja gerogoti hati. Dia harus sabar hadapi Gina. Bukankah Gani sudah ingatkan pada Kevin kalau saudaranya itu monster kecil. Ungkapan Gani tidak berlebihan. Gina beda dengan cewek umum yang mati sebelah badan lihat cowok ganteng.
"Aku akan meditasi melatih kesabaran. Kalau tak sabar lagi paling kujadikan isteri simpanan."
"Buangan angan kosong mu. Jadi isteri sah belum. tentu dia mau apalagi kamu simpan. Dia itu istimewa."
"Terserah kamu saja! Kita kabari Pak Julio kalau Gina siap bekerja."
"Apa pak Julio sudah tahu Gina ganti jenis kelamin? Kamu harus jelaskan atau minta Gina sendiri bicara dengan konglomerat itu. Ini cukup sensitif karena pak Julio kenal Gino bukan Gina."
"Aku akan bicara dengan pak Julio. Kita undang beliau makan siang bersama."
Peter acung jempol setuju. Peter tidak ikut masuk ruang kerja Kevin lagi. Dia harus kembali ke ruangannya untuk tuntaskan tugas lain. Masing-masing punya tanggung jawab sendiri.
Kevin masuk ke ruangan akan segera lanjut pekerjaan. Tinggal tunggu Gina tunjukkan prestasi gantiin Gani.
Gina masuk bawa kopi pahit pesanan Kevin. Laki itu tahu Gina masuk tanpa ketok pintu namun malas menegur anak itu. Nanti bukannya dapat jawaban baik. Ujungnya pasti kalimat berlawanan dengan keadaan.
__ADS_1
Gina melirik kertas di atas meja Kevin terlihat gambar perhiasan berwarna biru gelap. Gina ingin sekali ngamuk lihat rancangannya yang semula berwarna cerah berubah jadi warna redup. Judulnya Kemilau Mentari tapi batunya warna biru. Di mana otak orang yang mengubah rancangannya jadi amburadul.
Kelihatannya Lucia ingin mengaburkan rancangan asli Gina bikin kreasi sendiri. Sungguh jauh dari bayangan Gina satu sketsa indah berubah jadi rancangan murahan.
"Ini rancangan terbaru bapak?" tanya Gina sedikit gregetan.
"Iya...kayaknya ada yang kurang dari gambar ini. Rasanya sulit diluncurkan padahal Lucia bilang ini rancangan paling baik." Kevin terusan mencari di mana kekurangan sketsa ini.
"Banyak kurangnya pak! Sebenarnya rancangan ini indah cuma penempatan warna dan kunci belakang bermasalah. Judulnya Kemilau Mentari. Apa ada mentari warna biru? Kalau mau pakai batu biru ganti saja judul Lautan Hati Teduh. Dan lagi jangan tebar batu kecil di sekeliling batu utama. Hati tak mungkin berpencar. Cukup batu tunggal. Banyak yang harus direvisi."
Kevin biarkan Gina keluarkan pendapat. Apa yang dikatakan gadis itu masuk akal. Mentari mana ada yang warna biru. Paling tidak kuning ataupun orange.
"Coba kau revisi gambar ini!" pinta Kevin ingin tahu kepintaran asisten barunya.
"Jangan pak! Yang punya rancangan bisa tuduh kita curi design dia."
"Aku yang tanggung jawab. Gambar ini milik perusahaan kita. Kita berhak revisi sampai sempurna sebelum diluncurkan. Kita tak mungkin biarkan produk kita tak jalan di pasaran bukan?"
"Baiklah! Tapi jangan katakan aku yang kerjakan! Bilang saja bapak yang revisi sendiri."
"Ok..kau bisa kerja di sini! Di tempat kamu tak ada keyboard untuk gambar. Gambar sini saja." usai berkata Kevin bangkit dari kursinya beri pada Gina untuk pindah duduk di sana.
Gina agak segan duduk di bangku bos kendatipun bos sendiri tidak keberatan. Kalau dia duduk di situ berarti saat ini yang jadi bos. Kalau Gina jadi bos yang pertama dia pecat adalah Lucia di gadis penipu. Gunakan uang beli ketenaran. Gina akan buka kebodohan Lucia satu persatu biar Kevin tahu wanita itu tak pantas disebut perancang.
Kevin lihat ada keraguan di wajah Gina ganti duduk di kursi mahalnya. Gina tahu diri tidak sembarangan sentuh sesuatu yang bukan miliknya. Dia miskin harta bukan berarti harus miskin sopan santun.
Kevin menarik tangan Gina lalu menekan gadis itu duduk. Sikap Kevin ini memang dominan sebagai bos. Bos kan selalu benar.
Gina tak mau berdebat lagi pilih aktifkan komputer Kevin. Gina meragukan apa rancangan Lucia ada di dalam komputer laki ini. Kalau tak ada lebih sulit bagi Gina untuk bekerja. Dia harus gambar ulang karena tak ada dalam komputer Kevin.
"Apa aku boleh buka barang pribadi bapak?"
"Barang mana? Yang paling vital atau paling rahasia." olok Kevin sedikit mesum.
"Komputer ini. Pikir apa bapak? Aku ini orang cabul?" semprot Gina.
"Kali saja. Buka saja. Semua gambar design Lucia ada di situ. Klik aplikasi jewelry!" Kevin berdiri di belakang Gina mau lihat sampai di mana kemampuan gadis ini. Mungkin mulut besar sok pintar tanpa ada skill diandalkan.
Gina melaksanakan permintaan Kevin mulai rombak rancangan Lucia sesuai aslinya. Itu adalah gambar Gina maka dengan mudah dia kenali setiap sudut gambar yang dia rancang.
Kevin perhatikan jari tangan Gina bergerak lincah di atas keyboard khusus untuk gambar. Bahkan Gina rancang gambar itu jadi 4 dimensi sehingga tampak seperti gambar nyata. Batu permata di perhiasan Gina ganti warna orange dengan pernik batu kecil warna kuning sebagai pancaran Kilauan mentari.
Hasilnya sungguh spektakuler. Kevin melihat seuntai kalung siap pakai telah berada di monitor komputer. Kalung yang sangat indah memantulkan cahaya kemilau sesuai namanya kemilau mentari.
Kelihatannya Gina lebih memahami untaian kalung itu daripada perancang utama yakni Lucia. Lucia dianggap pemilik rancangan karena dia yang beri gambar itu. Gina hanya menambah perubahan warna dan kunci belakang.
"Mengapa harus kunci bisa dipindah? Bukankah mengurangi keeleganan kalung ini." Kevin menunjuk kunci yang dibuat Gina agak memanjang seperti untaian rantai.
"Bapak salah bila buat kunci mati hanya satu ukuran. Kita harus perhitungkan mereka yang subur berleher pendek. Kalau bapak rancang gini jamin yang lehernya penuh lemak tak bisa pakai. Kita harus capai penjualan mencakup seluruh ukuran tubuh. Kunci bisa dipindah akan menarik lebih banyak pencinta perhiasan."
Kevin manggut setuju dengan alasan Gina. Kevin tak sangka baru saja pungut satu butir permata di bidang design. Gina yang tampak cuek bebek ternyata menyimpan potensi tersembunyi. Untunglah Kevin menemukan bakat Gina di bidang ini. Ini menguntungkan perusahaan menambah seorang perancang muda. Kevin makin tak rela Gina pergi dari perusahaannya.
"Kau berbakat jadi perancang selain lihay kutak kutik mesin mobil. Kepandaian apalagi kau miliki?"
"Cuma ini pak. Kunasehati bapak harus ijin dulu sama perancang utama sebelum keluarkan hasil revisi. Ini menyangkut martabat seorang perancang."
"Aku akan beritahu Lucia. Dia sedang dirawat karena stress masalah keluarga terekspos keluar. Tunggu dia sehat aku akan beritahu dia. Kau kembali ke tugas kamu."
__ADS_1
"Baik pak!" Gina angkat pantat dari kursi Kevin. Gadis ini berjalan tinggalkan ruang kerja Kevin menuju ke tempat dia akan habiskan waktu sampai siang.