
Orang-orang mulai berdatangan melihat perkelahian ini. Kawan si penjahat tancap gas setelah lihat temannya terkapar, manalagi satpam dan beberapa pengunjung datang bantu Gina dan Kevin. Mereka meringkus sang penyerang untuk diserahkan ke kantor polisi agar bisa ditindak lanjuti.
"Nona...tanganmu berdarah!" seru seorang pengunjung menunjukkan tangan Gina yang terusan mengeluarkan cairan merah.
"Ambilkan obat hentikan darah dulu kalau tak mau nona ini kehabisan darah." teriak pengunjung lain ikut panik lihat tangan Gina telah dihiasi noda warna merah.
Kevin tersadar dari lamunan. Asistennya itu memang berlumuran darah namun tidak tampak goyah. Dapat dibayangkan betapa keras jiwa Gina. Terluka lumayan parah masih tenang seakan itu hal kecil.
Ntah dari mana satpam bawa obat antibiotik untuk hentikan darah yang bercucuran. Satpam itu menuangkan cairan warna agak kehitaman ke lengan Gina untuk pertolongan pertama.
Tak ada erangan pedih keluar dari mulut Gina. Dia begitu kuasai diri menahan rasa pedih. Sikap tenang Gina mendatangkan rasa kagum orang yang mengelilingi Gina.
"Ya ampun...dagingnya tampak! Bawa ke rumah sakit untuk dijahit dong!" kata seorang wanita menatap ngeri pada luka Gina.
"Ayok segera ke rumah sakit! Kami akan bawa orang ini ke kantor polisi. Minta nomor ponsel biar bisa hubungi kalian." satpam memberi arahan apa yang harus dilakukan oleh mereka untuk membantu Gina duluan.
Gina hanya meringis kecil. Gina sangat penasaran siapa demikian kejam ingin habisin mereka. Target mereka Kevin atau Gina. Gina belum tahu apa tujuan orang itu.
Gina hampiri penjahat itu lalu buka helm orang itu untuk lihat tampang tukang jagal gagal ini. Darah Gina terkesiap melihat wajah orang yang tertutup helm. Gina merasa pernah jumpa orang ini sewaktu terjadi keributan antar kelompok preman di kampung.
Namun Gina tidak omong apa-apa untuk saat ini. Biarlah kejadian hari ini di tangani pihak berwajib. Gina akan cari tahu apa yang terjadi malam ini. Apa motif orang itu hendak melukai Kevin.
"Pak satpam...ini nomor ponsel aku! Nanti hubungi aku bila telah ada jawaban." Gina sengaja beri nomor ponselnya demi lindungi Kevin dari segala kemungkinan. Gina menduga target orang itu adalah Kevin. Cuma sayang mereka tak tahu Gina adalah pelindung Kevin.
"Baik nona! Sebaiknya anda segera ke rumah sakit untuk mengobati luka anda. Dibiarkan terlalu lama akan membawa dampak yang sangat buruk."
"Iya pak! Terima kasih." Gina memegangi tangannya yang mulai berdenyut sakit. Terlalu banyak bergerak membuat darah kembali mengucur karena lukanya cukup dalam.
Kevin seperti orang bodoh tak tahu harus bagaimana menghadapi kejadian yang sangat mengerikan ini. Hampir saja nyawanya melayang bila tidak dilindungi oleh Gina. Gina kembali menjadi pahlawan bagi Kevin.
Gina masuk ke dalam mobil sebelah sopir masih bersemangat membawa mobil menuju ke rumah sakit. Orang yang melihat kegigihan Gina hanya bisa menggeleng dan mengutuk kebodohan Kevin yang seperti orang bodoh. Gina sudah terluka parah masih juga harus membawa mobil. Bukankah ini hal terkonyol yang pernah dilihat oleh semua orang.
"Woi pak...masa orang luka masih bawa mobil! Punya hati tidak?" seru ibu-ibu geram pada ketololan Kevin.
Mereka tak tahu kalau Kevin punya penyakit trauma berat. Kejadian ini kembali menggoncang jiwa laki itu. Jiwa Kevin seakan melayang melihat kekerasan kembali melintas di depan mata. Separoh jiwa Kevin terbawa ke alam lain seolah berada di alam hidup mati.
Gina yang memahami Kevin tidak menyalahkan laki ini kembali terguncang kejiwaan. Gina mendorong Kevin masuk ke dalam mobil baru naik ke mobil melajukan mobil meninggalkan lokasi kejadian. Orang-orang yang melihat bergumam tak puas pada sikap Kevin. Sudah diselamatkan oleh gadis ini namun tak punya rasa iba. Gadis dengan tangan terluka masih harus bawa mobil ke rumah sakit. Manusia model apa Kevin ini.
Gina menjalankan mobil dengan kencang karena tangannya makin perih dan sakit. Untung darah mengucur tidak sederas tadi. Masih netes basahi baju Gina sampai berwarna merah. Gaun pemberian Kevin sudah berubah bentuk jadi tak karuan. Lebih dominan warna merah ketimbang warna aslinya.
Gina tak bisa memilih rumah sakit lagi. Dia cari rumah sakit terdekat untuk balut lukanya agar tidak berakibat fatal. Dengan tangan ini Gina harus mengais rezeki. Tak boleh jadi cacat tak bisa berfungsi, kalau cacat luka buat penampilan jelek itu tak jadi masalah buat Gina. Yang penting berfungsi dengan baik.
Kevin seperti belum sadar sepenuhnya. Masih harus di gandeng Gina keluar dari mobil menuju ke rumah sakit umum tak tidak seberapa besar. Kevin seperti masih linglung setelah kejadian ini.
Gina segera mengeluarkan ponsel meneleponi Peter mengabarkan kejadian hari ini. Kevin hanya punya Peter di dunia ini maka Gina menghubungi Peter adalah paling tepat.
Gina membawa Kevin di samping karena laki itu jauh dari kata ok. Gina makin mengerti kalau Kevin pernah mengalami hal buruk dalam hidupnya barulah cepat syok mendapatkan sedikit masalah.
Setelah Kevin duduk aman barulah Gina minta dokter menangani dirinya. Perawat sampai menggeleng melihat data tahan Gina. Segitu dalam luka masih sanggup menjaga orang. Lukanya seakan tak berarti padahal bisa bawa akibat fatal. Luka Gina bisa infeksi kena kuman serta kehabisan darah.
"Kenapa bisa dapat luka sedemikian dalam? Ini pasti akan tinggalkan bekas jelek." ujar dokter cewek yang menangani Gina. Sebagai sesama cewek dokter itu prihatin pada luka Gina. Tangan yang semula bersih kini akan berbekas luka.
__ADS_1
Gina diam saja malas menyahut. Sekarang gadis ini baru terasa agak pusing karena darahnya terkuras ke bajunya. Bajunya sangar jorok berhias noda darah.
"Sekarang aku jahit ya! Luka kamu cukup dalam jadi harus dibantu jahitan." kata dokter menunggu izin dari Gina.
"Jahit saja dok!" kata Gina pendek. Dia sedang menahan rasa pusing hinggap di kepala. Gina tak boleh drop karena Kevin masih dalam keadaan linglung. Gina bukan tak kuatir kondisi Kevin tapi dia sendiri butuh perawatan.
Gina hanya berharap Peter segera datang urus Kevin karena dia juga dalam kondisi sangat buruk. Dia kehilangan banyak darah. Tapi demi Kevin dia telah berusaha tegar tak perlihatkan kalau dia juga sakit.
Akhirnya tangan Gina berhasil ditangani dokter. Tinggal menunggu seminggu lihat perkembangan jahitan. Kalau semua lancar maka bisa dibuka benang jahitan.
Begitu selesai ditangani, Gina langsung hampiri Kevin yang masih bengong dengan pandangan mata kosong. Gina susah hati tak tahu harus bagaimana urus Kevin. Atau mungkin Gina harus hubungi dokter jiwa Kevin.
Gina mengutuk kebodohan sendiri sampai lupa pada dokter pribadi Kevin. Seharusnya dari awal dia ingat dokter Clara. Dalam kondisi begini Kevin butuh penanganan dokter itu.
Gina segera teleponi dokter pribadi Kevin namun sayang tak ada jawaban. Dokter Clara tidak angkat telepon dari Gina. Gina tak tahu mengapa sang dokter tidak angkat telepon darinya. Mungkin sang dokter lihat nomor asing maka segan berurusan.
Gina terpaksa mengurus Kevin duluan sambil tunggu kehadiran Peter.
"Pak Kevin...ini Gina!" Gina menepuk pipi Kevin tak peduli laki itu suka atau tidak. Gina harus bisa menyadarkan Kevin bahwa semua berjalan normal. Tak ada yang terluka dalam kejadian ini.
Perlahan Kevin memutar kepala menatap Gina. Mata laki itu masih kosong tanpa ada jiwa. Kevin persis manusia tanpa roh. Hanya raga hidup.
Gina menarik tubuh Kevin kepelukan karena biasanya Kevin akan tenang setelah dipeluk. Gina mengorbankan harga diri demi seorang Kevin. Gina lakukan ini demi kemanusiaan tanpa niat buruk pada laki ini.
Tangan Gina menepuk punggung Kevin layak seorang ibu menenangkan anak kecil. Anak kecil yang sedang ketakutan.
"Semua aman sayang!" bisik Gina dengan suara paling lembut agar Kevin sadar.
"Gina..." terdengar suara parau Kevin.
"Kita di mana?"
"Di rumah sakit...tadi aku terjatuh terluka sedikit. Sudah diobati! Lihat ini!" Gina menampakkan tangannya yang terbalut kain perban kepada Kevin.
Mata Kevin liar melihat tangan kiri Gina terbalut kain perban putih. Sangat bersih tanpa noda darah. Kevin tampak agak tenang setelah yakin Gina tidak apa-apa.
Gina tersenyum berbuat seolah dia sehat tak kurang apapun. Sikap santai ini akan mengembalikan Kevin ke alam nyata. Tidak terkurung dalam halusinasi masa lalu.
"Kita pulang." pinta Kevin tak ingin lebih lama berada di tempat asing baginya.
"Ok...duduk manis di sini ya! Aku pergi ambil resep dan bayar uang obat dulu. Sebentar saja!" Gina menepuk pundak Kevin sekilas biar laki itu tidak menduga yang bukan-bukan.
Gina beranjak menuju ke dokter jaga untuk minta resep obat barulah pergi bayar biaya pengobatan. Lumayan bocorkan kantong Gina. Gina pastikan akan minta ganti rugi pada Kevin kalau laki itu sudah waras nanti. Semua terjadi karena laki itu.
Sebelum mereka pergi barulah datang Peter. Peter datang tergesa-gesa menemui Kevin dan Gina yang sudah mau keluar dari rumah sakit. Peter menangkap gelagat aneh pada raut wajah Kevin segera menyentuh saudaranya itu.
"Vin...are you ok?" tanya Peter kuatir.
Kevin angguk sekilas lalu berjalan ke arah parkiran mobil tahu yang mana mobilnya. Kevin tidak peduli pada Peter anggap saudaranya itu bukan siapa dia.
"Gina...kita pulang!" ajak Kevin masih kurang fokus.
__ADS_1
"Iya pak!" Gina membuka pintu mobil untuk Kevin. Gina tak tahu apa dia sanggup bawa mobil atau tidak. Tangannya lumayan perih karena daya bius obat mulai hilang efeknya.
"Kau bisa Gin? Atau kuantar kalian saja!" Peter tak kalah kuatir lihat tangan Gina terbalut perban.
"Lalu mobil bapak gimana?"
"Nanti kita balik ambil! Sekarang Kevin harus minum obat penenang dulu."
"Baiklah!" Gina mengalah. Tak ada guna sok pahlawan di saat ini. Tangannya memang sakit. Dia harus menjaga tangan karena sepasang tangan ini masih harus mengumpulkan pundi-pundi emas untuk Bu Sarah.
Jadilah Peter supir Kevin dan Gina. Peter secara sukarela mengantar kedua orang itu ke rumah Kevin. Kevin butuh istirahat cukup saat ini. Separuh roh Kevin terbang ke alam Maya. Dia kehilangan kepekaan sebagai manusia.
Peter sudah biasa tangani Kevin maka cepat ngerti apa harus dilakukan. Memberi laki itu obat penenang biar tidur supaya besok bisa sadar sepenuhnya.
Gina jadi jatuh kasihan pada Kevin. Seorang lelaki gagah perkasa ternyata punya sisi kelam. Kalau tak lihat sendiri Gina takkan percaya kalau kejiwaan Kevin sangat buruk. Dalam keseharian dia tampak sombong membawahi ratusan karyawan. Sayang kalau lagi kumat tak ubah seperti orang tak punya roh.
Peter meninggalkan Kevin sendirian di kamar setelah beri dia minum obat. Peter kembali menemui Gina di ruang tamu mewah Kevin.
Beginilah hidup! Kevin memiliki segalanya namun kejiwaan kurang beres. Kumat tak ubah seperti orang dicabut jiwa kehidupan. Hanya tinggal seonggok raga berjalan tanpa nyawa. Maka itu kalimat di dunia ini tak ada yang sempurna itu bukan kalimat usapan jempol. Itu kalimat real.
Peter duduk di depan Gina menuntut cerita sesungguhnya. Peter penasaran mengapa mendadak ada kejadian mengerikan yang hampir merengut nyawa Gina. Kalau bukan Gina ngerti ilmu bela diri mungkin sekarang salah satu diantara mereka sedang antri daftar nama pilih ke surga atau neraka. Ntah dapat tiket ke arah mana.
"Gimana sampai gini?"
"Kami baru saja pulang belanja mau ke mobil. Tiba-tiba datang sepeda motor ke arah kami langsung serang dengan senjata tajam. Kalau aku tak cepat mungkin nyawa pak Kevin dalam bahaya."
"Lalu lukamu?"
"Menangkis senjata orang itu!"
"Gin..itu berbahaya! Untung baru luka tangan. Gimana kalau kena kepala?"
"Kan nggak kena..."
"Itu nasibmu lagi mujur. Coba kalau lagi apes? Kepalamu bisa berbunga merekah."
"Belum waktunya berbunga. Masih kuncup." sahut Gina dengan nada canda. Seorang Gina mana mungkin demikian mudah dilukai kalau bukan demi Kevin.
"Nih bocah! Ngeyel...besok tak boleh gitu lagi! Teriak kalau ada orang mau lukai kalian. Aku akan usut kejadian ini. Penjahat itu hanya perampok biasa atau datang bawa misi lain."
"Apakah pernah ada kejadian ini?"
"Dulu pernah terjadi orang mau culik Kevin namun berhasil digagalkan. Bertahun Kevin hidup tenang baru sekarang muncul lagi ancaman."
"Siapa demikian kurang kerjaan mau sakiti pak Kevin? Saingan bisnis atau persoalan cinta? Apakah pak Kevin ada merebut pacar orang?"
Peter menggeleng. Gimana mau pacaran dengan cewek. Bersentuhan dengan wanita saja mau cabut nyawa dia. Masih untung Tuhan turunkan seorang gadis muda bisa disentuh oleh Kevin. Sayang gadis itu bukan gadis manja seperti Lucia. Kevin samasekali tidak bisa merayu Gina untuk praktek apa dia masih punya naluri lelaki.
"Di mana mau cari pacar? Kau kan tahu kelemahan Kevin."
Gina angguk paham maksud Peter. Dia sudah lihat sendiri reaksi Kevin terhadap wanita. Laki itu samasekali tak bisa terima kehadiran wanita di sampingnya.
__ADS_1
"Lantas apa motif orang itu lukai pak Kevin? Tak mungkin perampok berani masuk tempat umum lukai orang. Mereka sudah merancang sempurna untuk lukai pak Kevin."
"Aku juga belum tau..aku akan coba hubungi kantor polisi dulu. Kau jaga Kevin dulu. Aku akan segera balik. Aku takut dia terbangun cari kita."