JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Raibnya keangkuhan Angela


__ADS_3

Angela menangis darah pun tidak ada guna lagi. Subrata telah bulatkan tekad untuk menceraikan wanita yang telah memporak ponda kan seluruh hidupnya. Dari awal Subrata sudah salah memasukkan Angela ke dalam hidupnya. Laki ini tak sadar nafsu sesaat telah renggut semua jalan cerita hidupnya hingga jatuh terpuruk sedemikian rupa. Masih untung yang ambil alih kekuasaan perusahaan adalah anak kandungnya.


Angela pantang menyerah tahu kalau dia keluar dari Mahabarata semua keglamoran dia akan sirna. Siapa akan pandang seorang mantan psk sebagai wanita sosialita bila tak ada tulang belakang kuat.


"Pa..mama sudah silap. Beri mama satu kali lagi kesempatan. Mama janji akan berubah dan patuh pada papa. Kita lupakan yang sudah-sudah dan mulai hidup baru apa adanya. Paling tidak papa masih memimpin perusahaan. Perlahan bisa kita atur anak kecil itu." Angela berkata selembut mungkin agar Subrata melemah dan bersedia lupakan semua kejadian tak menyenangkan ini.


"Sudah terlalu banyak rekayasa dalam hidupmu Angela. Kau pikir aku orang bodoh bisa kamu kelabui lagi? Aku sudah cek tempat kau sering kumpul dengan ibu-ibu genit. Kalian sering undang anak muda untuk penuhi nafsu bejat kalian. Aku pikir kamu bisa tobat setelah lalui hari-hari kelam di masa lalu. Aku usaha lupakan semua keburukan kamu tapi kamu malah makin menjadi. Pergilah sampai pengadilan kirim panggilan untukmu!"


Angela terhenyak diusir oleh Subrata. Untuk sementara dia tak punya tempat untuk berteduh. Dari dulu dia memang tak punya rumah karena tinggal di rumah kontrakan sambil terima tamu. Ke mana dia akan bawa badan yang telah hancur lebur akibat kebodohan dan keangkuhan sendiri.


"Pa...sebelum kita benaran bercerai secara hukum mama masih berhak di tinggal di rumah kita. Masih ada harta Gono gini harus papa berikan pada mama." Angela gunakan jurus terakhir Agra bertahan di rumah mewahnya. Mungkin dalam masa perceraian dia bisa meraih cinta Subrata lagi. Angela harus pandai gunakan kesempatan mencuri cinta Subrata lagi.


Subrata tak bisa mengelak alasan Angela untuk pindah dari rumahnya. Apa yang dikatakan Angela adalah kebenaran tak bisa diganggu gugat. Subrata harus menahan diri untuk sementara waktu.


"Kamu boleh tetap di rumah namun kita takkan sekamar lagi. Kamu tidur di kamar tamu." ujar Subrata dingin.


Angela merasa kuduknya diterpa serangkum angin dingin. Begitu dingin menyusup ke dalam kalbu. Dalam nada suara Subrata tak ada sedikitpun tersisa rasa sayang seperti biasanya. Yang ada hanya kebekuan.


"Baiklah! Mama akan patuh tapi ijinkan mama merawat papa sampai sembuh. Gimanapun kita masih suami istri dalam hukum."


"Tidak perlu...haram bagiku menyentuh barang sampah."


Hati Angela sakit sekali dihina Subrata. Beginilah rasanya sakit hati diabaikan suami? Sarah sudah pernah rasakan kepedihan ini. Kini giliran Angela kenal yang namanya sakit hati. Semua buah busuk yang ditanam Angela mulai dipanen satu persatu. Dia akan kehilangan segalanya.


"Kenapa papa omong gitu? Apa papa lupa siapa yang dampingi papa selama puluhan tahun ini?"


Subrata tertawa sinis, "Apa pengabdian kamu tulus? Kalau bukan karena uangku mungkin dari dulu kau sudah pergi dengan laki lain. Kau pikir akan mulus dapatkan harta gono-gini? Aku punya bukti perselingkuhan kamu jadi mungkin kamu takkan dapat sepeserpun dariku."


Lagi-lagi Angela kena hantaman mental untuk kedua kali. Subrata seperti parang tak punya perasaan menyakiti Angela bertubi-tubi. Subrata rasa Angela layak dapat semua hinaan setelah lalui semua kejadian memalukan ini.


Angela hanya bisa tergugu sedih. Dalam hati memaki ketololan Subrata tak bisa hargai wanita sekelas dia. Angela pikir Subrata akan terpuruk bila tak bersama dia. Pikiran angkuh yang akan antar dia ke jurang paling dalam. Jauh dari cahaya terang.


"Papa tak bisa gitu sama mama. Bagaimana hidup Mama bila papa tidak memberi Mama sedikit pegangan?"


"Bukankah kamu banyak teman siap tampung kamu? Kau tahu berapa besar kartu kredit yang kau gunakan? Hampir setengah milyar. Apa itu bukan uang?"

__ADS_1


Angela hampir pingsan dengar besaran duit yang dicuri laki sialan yang temani dia tidur semalam. Tidak tanggung-tanggung menguras seluruh hartanya. Angela bersumpah akan cari laki itu untuk balas dendam. Semuanya jalan di berantakan gara-gara kenikmatan sesaat. Kalau Angela mau berpikir secara logika tak bisa salahkan orang lain. Yang salah adalah Angkara murka yang kuasai seluruh nafsu bejat.


"Mama pulang dulu...papa cepat sembuh ya! Mama tunggu papa di rumah."


Subrata tidak menjawab hanya mendengus kurang sopan pada Angela. Subrata sudah gregetan lihat kehadiran Angela yang belum sadar akan kesalahannya. Masih tetap angkuh pikir Subrata akan takluk seperti yang sudah-sudah. Subrata sudah bertekad untuk pisah dari wanita ini. Tak ada guna piara ayam tua yang masih suka loncat pagar. Kalau Subrata mau masih banyak ayam-ayam yang segar siap menantinya.


Angela keluar dari kamar rawat Subrata melewati Lucia yang duduk termenung di bangku stainless. Angela melirik sekilas ke arah anaknya yang tidak memperdulikannya. Lucia yang sudah mendengar apa yang dikatakan oleh kedua orang itu dari balik pintu. Lucia tidak menyalakan Subrata yang secara tegas memberi talak kepada mamanya. Ini adalah murni permintaan namanya secara tidak langsung.


"Dasar anak durhaka... Mama membesarkan kamu dengan susah payah inikah yang kamu balas untuk mama?" rutuk Angela kepada Lucia.


Lucia mengangkat kepala menatap mamanya dalam-dalam. Sebenarnya Lucia juga tidak tega melihat mamanya terpuruk sampai kehilangan segalanya namun semuanya adalah kesalahan Angela sendiri. Siapa yang harus dijadikan kambing hitam dalam masalah ini.


"Ma... Cia bukannya tidak mau membela mama tapi mama telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Suami mana yang suka melihat istrinya berselingkuh dengan lelaki lain? Kalau papa dengan gampang memaafkan mama artinya papa tidak memiliki harga diri. Mama harus sadar itu."


"Kamu belum berkeluarga maka tak tahu gimana rasanya kehilangan sesuatu yang penting bagi kehidupan rumah tangga. Papa kamu tak bisa penuhi kebutuhan biologis mama maka terjadi hal ini. Coba kalau papa kamu perkasa mungkin Mama tidak akan melakukan hal ini."


Lucia sangat geram mendengar pengakuan Angela. Beginilah manusia yang hidup daripada nafsu duniawi. Lucia merasa sangat jijik dengan mamanya yang tidak tahu malu itu.


"Hebat...umur sudah setinggi gedung pencakar langit masih ingat nafsu! Betapa memalukan kamu ma...seusia mama harusnya banyak zikir cari jalan menuju ke surga. Bukan korek lubang cari jalan ke neraka. Cia dukung papa PHK mama."


"Cia...kamu kurang ajar!" bentak Angela tersinggung dipandang rendah oleh anak kandung sendiri. Harga diri Angela tercabik-cabik oleh perkataan Lucia. Sia-sia dia memanjakan Lucia dari kecil. Balasan dari Lucia sungguh di luar dugaan Angela.


Sudah di tahap ini dia merasa seperti seorang pemulung hanya bisa mengais sampah untuk menafkahi diri sendiri. Dia bisa apa? Tak ada satupun keahlian nyata. Semua hanya semu akibat pengaruh orang tua tak benar.


"Kok kamu nyalahin mama? Kamu yang mau kenapa mama yang salah? Kamu datangi saja saudara kamu minta jatah harta supaya ada laki bersedia menikahi kamu. Selama kamu kaya semua berjalan mulus."


Lucia sudah tak tahu dengan cara apa buka otak Angela untuk lihat betapa kacau kehidupan mereka. Penuh kepalsuan dan kebohongan.


"Mama gila ..." Lucia pilih belik badan malas lanjut berdebat dengan orang tak punya akal sehat. Kini Lucia makin paham kalau Angela memang orang tak punya moral. Pantes dirinya juga kehilangan moral sebagai seorang manusia normal. Bangga jadi orang kaya sampai hamburkan uang untuk satu hal tak pasti. Semua pengorbanan dia selama ini untuk Kevin sia-sia. Kevin bukannya menghargai dia justru meninggalkannya untuk Gina yang sederhana.


Angela puas telah pukul mental Lucia kendatipun itu anak kandungnya. Angela tersenyum tipis lalu dengan langkah gemulai tinggalkan ruang rawat Subrata. Angela masih punya waktu cukup panjang untuk susun strategis taklukkan Subrata sekaligus merampas harta Gina. Apapun cara dia tak boleh hidup sengsara.


Lucia mengepal tinju memaki kebusukan Angela. Papa sungguh buta telah pilih seorang wanita tak punya moral macam Angela. Andai Subrata tak kenal Angela mungkin Lucia takkan lahir dari rahim wanita itu. Lebih bagus dia terlahir dari rahim Bu Sarah yang welas santun itu. Sayang takdir berkata lain. Lucia memang harus terlahir dari wanita memalukan.


Kita tinggalkan Lucia dan Angela yang sedang dilanda galau kelas wahid. Kehancuran keluarga ini sudah diambang mata. Sebentar lagi Angela akan musnah dari gabungan ibu sosialita. Siapa mau ajak dia bergabung lagi bila telah dicerai oleh Subrata. Nama Angela akan tinggal kenangan di antara ibu-ibu sosialita. Bukan cuma itu mungkin Angela akan jadi bahan omongan emak-emak kelebihan waktu.

__ADS_1


Di rumah Kevin tampak agak adem. Tak ada gejolak yang bikin kepala tambah berat. Kondisi Kevin membaik setelah dirawat oleh istri kesayangan. Gina sengaja tak beri Kevin obatan supaya lakinya sembuh secara alami. Yang penting Gina bisa berikan rasa aman pada Kevin.


Gina temani Kevin dalam kamar sampai sore. Kevin juga betah berduaan di dalam kamar bersama wanita yang dia harapkan. Gina tak peduli Gani dan Jay tiba di rumah lebih cepat untuk kasih kesempatan pada Gani untuk belajar nyetir mobil. Komplek perumahan tempat tinggal Kevin tak begitu ramai maka aman untuk belajar nyetir. Gina biarkan saja Gani belajar nyetir agar lelaki itu bisa membawa mobilmu hilang berangkat ke kantor.


Gani sudah punya jabatan lumayan bagus jadi sudah waktunya belajar nyetir biar bertambah wibawa. Soal mobil di tempat Kevin terparkir beberapa mobil jarang dipakai jadi Gani punya kesempatan untuk bawa mobil ke kantor.


Kevin masih sandaran manja pada Gina cari kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi mendapat pelukan sayang dari Gina kalau bukan perpanjang masa sakit. Gina pasti akan manjakan dia bila sakit. Maunya tidak cepat sembuh biar dapat jatah lebih lama.


"Bang....kita pergi ke rumah sakit lagi nanti malam?" tanya Gina di sela waktu berduaan.


Kevin mengelus pipi Gina yang dekat dengannya dengan ujung jari. Kevin belum siap jumpa Lucia untuk saat ini. Kevin masih trauma dengan wanita itu. Keberanian Lucia membuat Kevin takut kepada wanita itu.


"Kau pergi dengan Gani saja! Abang istirahat di rumah saja. Ajak Gani jumpa Subrata." Kevin sengaja tak gunakan kata papa karena tahu Gina tak suka anggap Subrata sebagai papa. Gina terlalu keras untuk segera akui Subrata. Gina tega hancurkan Subrata tentu lebih tega menyingkirkan nama Subrata sebagai orang tua.


"Sebenarnya aku malas balik ke sana. Di sana pasti sudah ada nenek peyot itu. Tak mungkin juga dia tak datang lihat suaminya."


Gina sudah duga kalau Angela pasti datang temani suaminya. Gadis ini tak tahu kalau dunia Angela diambang kiamat. Tak lama lagi dia akan dengan bangga menyandang gelar janda tua. Mengenai kehidupan Angela selanjutnya menjadi misteri karena Subrata bertekad bikin Angela kapok dengan segala kemewahan yang pernah dia cicipi.


"Kalau kau tak mau pergi biarlah Gani dan Jay yang ke sana. Nanti kamu malah perang dengan wanita itu di rumah sakit. Abang takut dia serang kamu."


"Dia berani? Aku kuliti dia biar telanjang..."


"Sadis....gimana kalau Abang stress kuliti kamu sampai telanjang?" goda Kevin ciptakan kenyamanan agar Gina tidak asyik pikir gimana dorong Angela masuk jurang.


"Bakalan ada orang kehilangan indera penglihatan." jawab Gina santai membuat Kevin menarik bibir bentuk senyum tipis.


"Kapan kau mau jadi istri Abang yang manjakan suami?"


Gina angkat kepala berpikir sejenak apa yang diinginkan oleh laki itu? Gina mencoba meraba ke mana arah omongan Kevin. Tak urung pipi Gina bersemu merah setelah ketemu arah angin omongan Kevin.


"Dasar cabul..."


"Cabul kamu suka kan? Abang ingin ajak kamu liburan ke danau Toba sekaligus lihat proyek kita! Kita belum nikmati hari liburan secara permanen. Hari kita selalu di isi oleh kesibukan. Kapan ada waktu untuk kita?"


Gina benarkan kata Kevin. Mereka terlalu sibuk sampai tak kenal kata liburan segarkan otak. Dari hari ke hari hanya pikir pekerjaan dan kantor. Kapan mereka akan rasakan liburan hakiki menyatukan hati mereka.

__ADS_1


"Setelah Subrata baikan kita pergi lihat proyek. Mungkin kita bisa percayakan kantor pada Gani dan Jay. Aku akan minta tolong pada Pak Julio kontrol kantor opa."


Kevin menepuk paha Gina dengan hati gembira. Kevin tak bisa menyimpan kegembiraan dalam hati saking senangnya. Liburan kali ini membawa misi mulia mengembangkan proyek kelanjutan silsilah keluarga. Keluarga Kevin tak boleh punah begitu saja karena Kevin adalah satu-satunya keturunan langsung keluarga terhormat walau sang papa terjebak dalam kemelut perselingkuhan.


__ADS_2