
"Cewek model aku siapa yang mau ngelirik. Cuma kamu yang bodoh tertarik padaku."
Kevin tertawa suka ada cara Gina merendahkan diri. Gina Gina merendahkan diri di sisi lain juga merendahkan IQ Kevin yang dianggap belum cukup target. Kevin tak masalah dianggap bodoh oleh Gina. Kevin rela menjadi orang bodoh selamanya asal bersama Gina. Gina telah menerangi seluruh hidup Kevin yang kelam selama ini. Gina jauh lebih muda darinya tetapi banyak mengajarnya untuk lebih tegar menghadapi seluruh trik-trik yang ada di dalam masyarakat.
"Aku rela bodoh selamanya asal bersama kamu. Semoga debut pertama aku langsung nanti hadirkan Kevin Junior di perut kamu. Umur aku sudah cukup untuk memiliki anak."
Gina tidak terlalu mempedulikan omongan Kevin yang dianggap terlalu dini untuk membayangkan hadirnya seorang anak saat ini. Mereka berdua baru saja memulai mana mungkin langsung mendapat berkah dari Allah.
"Tidur...ini sudah malam! Besok masih banyak tugas menanti kita."
"Besok kita libur sehari karena aku ingin tidur seharian. Ternyata tiduran sangat menyenangkan." kata Kevin dengan suara sedikit genit.
Gina mengetahui kemana arah pembicaraan Kevin yang menjurus ke hal-hal negatif. Serta merta Gina menghadiahkan cubitan di bawah perut lelaki ini. Kevin mengeluarkan suara mengaduh karena cubitan Gina cukup pedih di kulit. Tangan Gina nyaris menyentuh alat pusaka yang baru saja bekerja keras tadi. Sadar akan hari itu Gina cepat-cepat menarik tangannya dari daerah terlarang itu.
"Hampir saja..." ucap Kevin sengaja menggoda biar Gina malu.
"Hampir apa?"
"Rudal balistik aku hampir jadi korban kuku jari kamu. Kalau ngambek nanti emoh disuruh meluncur."
"Ya sudah..gudangkan saja biar karatan. Tunggu perang dunia ketiga baru diluncurkan lagi." sahut Gina sesuka hati buat Kevin besarkan mata.
Kapan perang dunia ke-3 akan dimulai. Gimana kalau perang tidak pernah terjadi maka rudalnya akan membusuk di dalam gudang.
"Tega ya kamu.... baru saja grand opening sudah kamu tutup pasarannya. Gimana kalau aku yang ciptakan perang ketiga. Aku akan perang tiap hari."
Gina mencibir niat Kevin yang menjurus tetap ke arah negatif. Kalau diteruskan obrolan ini tak akan selesai. Putar sana-sini ujungnya tetap menjurus kepikiran kotor Kevin. Untuk saat ini Gina belum punya tenaga untuk melayani libido Kevin yang baru saja terbuka. Gina tahu kalau Kevin baru saja menikmati kehidupan nyata seorang lelaki. Rasa penasaran pasti akan terus-terusan berkembang di dalam hati laki ini.
"Dasar suami cabul...aku capek! Aku mau tidur." Gina balik badan punggungi Kevin.
Kevin terpana sesaat. Mereka baru saja bermesraan kini mendapat punggung. Apa akan begini terus bila Gina katakan capek? Kalau begini bayangan Kevin junior akan menjauh.
Kevin tidak putus asa memeluk Gina dari belakang. Kulit Gina tanpa halangan lain terasa lembut di tangan Kevin. Lembut tidak seperti penampilan luar Gina yang kasar.
Kevin tak banyak mulut lagi selian ingin tenggelam dalam danau berisi riak-riak cinta yang ada pada diri Gina.
Kevin ikut pejamkan dengan seulas senyum terukir di bibir. Kegersangan telah berlalu kini berganti musim semi penuh nada cinta. Kevin tak menyesal telah percaya kan hidup pada Gina.
Adzan subuh berkumandang memanggil seluruh umat Islam agar mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Tak terkecuali sepasang anak manusia yang baru mereguk indahnya cinta.
Gina yang terbiasa bangun subuh tak bisa bermalasan di tempat tidur karena ada yang lebih penting dari sekedar bermalasan.
Gina menggeliat manja sekalian lempar pandangan ke arah lelaki yang telah merubah dunianya. Gina telah utuh jadi istri Kevin. Sekarang Gina tak bisa mengelak tanggung jawab sebagai istri lahir batin.
Kevin tertidur sangat pulas seolah tak ada trauma berat dalam hidup. Dia begitu manis dalam tidur. Gina serasa enggan bangunkan Kevin. Namun Gina tak mau Kevin terbiasa tinggalkan sholat apalagi ini adalah sholat pertama sejak mereka betul-betul bersatu. Mau tak mau Gina keraskan hati bangunkan suaminya.
__ADS_1
Gina menyentuh lembut pipi Kevin seraya membelai wajah laki itu. Belum ada reaksi tanda Kevin benar terlelap jauh ke alam mimpi. Gina yakin Kevin sedang mimpi indah barulah wajahnya sangat rilex dalam tidur.
"Bang....bangun..." ujar Gina menyerupai bisikan halus.
Kevin tersenyum tanpa buka mata. Mungkin mimpinya terlalu indah maka laki ini tak rela bangun untuk hadapi realita yang belum tentu seindah mimpi.
"Selamat pagi sayang..." kata Kevin membuka mata perlahan lihat sosok kesayangan ada di sisinya.
"Mandi dan sholat..." Gina kembali kaku tanpa basa basi mesra layak pengantin baru lain. Tak ada sikap manjalita minta perhatian Kevin.
"Kau tak apa lagi?"
"Aku kenapa?" Gina balik tanya heran mengapa Kevin tanya pertanyaan tak ada manfaat.
"Kamu tak sakit lagi? Semalam kamu merintih sakit.."
Gina mencolek kepala Kevin agak malu diingatkan kejadian semalam. Malam pertama yang indah dan berkesan. Semua serba pertama.
"Cerewet...ayok bangun pak imam! Sekarang Abang adalah imam Gina. Tak boleh tinggal sholat agar makmum ikut rajin."
"Bentar lagi ya! Aku masih malas." Kevin merengek manja tak mau pindah badan dari ranjang.
"Baru diangkat jadi imam sudah lupa daratan. Tanpa campur tangan dari Allah mungkin Abang masih tak bisa move on dari trauma. Ayok bangun! Tak ada kata nanti." Gina menyibak selimut paksa Kevin turun dari ranjang.
Begitu selimut terbuka mata Gina disuguhi pemandangan dua puluh satu tahun ke atas. Kevin telanjang bulat dengan rudal siaga siap diajak ke Medan perang. Gina menjerit kecil menutup mata dengan kedua telah tangan.
Kevin tak dapat tahan tawa merasa bahagia bisa bercanda di pagi buta. Biasa hanya ada kebisuan sambut pagi. Ntah itu cerah atau mendung.
"Sayang...emang kamu ada bajunya?" Kevin tidak bangkit malah menopang dagu dengan sebelah tangan mau lihat bagaimana cara Gina ke kamar mandi tanpa pakaian.
Gina menarik selimut lihat isi dalam. Tubuhnya juga tak ada beda dengan Kevin masih belum ada sehelai benangpun. Rona merah kontan menjalari seluruh wajah Gina. Dalam hati Gina merutuk jengkel tak ingat semalam tak sempat kenakan pakaian. Sekarang bagaimana cara ke kamar mandi. Tetap harus ada yang berkorban. Pelindung mereka hanya selimut. Siapa yang akan pakai selimut dan siapa yang akan telanjang.
"Abang masuk kamar mandi duluan. Gina akan tutup mata."
"Kelamaan sayang. Ayok kita mandi bareng!" Kevin bangkit dari ranjang mengangkat Gina yang terbalut selimut. Lagi-lagi tindakan Kevin membuat Gina menjerit kecil. Untung Gina masih punya akal sehat tidak teriak di pagi buta.
Kevin tertegun sejenak melihat kasur yang berwarna putih gading berhias bercak kotor menyerupai peta tak beraturan. Kevin tidak jijik malah bangga punya istri suci sebelum menikah. Langkah Kevin makin kokoh membopong Gina masuk kamar mandi. Ibarat jenderal baru saja menang di Medan laga.
Gina tidak melawan lagi. Tak ada guna menghalangi niat suami bersatu dengan milik halalnya. Semoga saja Kevin tidak iseng merusak rencana sholat subuh dengan pikiran negatif. Sekali rasa pingin tambah terus.
Kevin tidak malu-malu mandi bersama Gina. Kevin sedang tunjukkan bahwa dia bisa juga menjadi imam yang baik untuk Gina. Hari mereka masih panjang. Kesempatan berduaan masih terbuka. Kevin dahulukan yang penting yang yakni mempertebal iman.
Di tempat terang Kevin leluasa pelajari setiap detail lekuk tubuh Gina yang termasuk indah. Semua tercipta sesuai porsi semestinya. Tak ada yang membuat Kevin merasa kecewa. Gina tidak mau memalukan untuk ditampilkan di umum.
Keduanya menepiskan nafsu dan melaksanakan salat sesuai dengan agama mereka. Setelah sholat Gina mengeringkan rambut agar tidak diketahui oleh Gani. Gina jamin Gani akan kepo kalau dia tahu telah terjadi antara Kevin dan Gina. Mulut bebeknya pasti tidak akan berhenti mengolok-olok Gina.
__ADS_1
Gina memang merasakan rasa tidak nyaman di daerah terlarang dia namun kita berusaha berbuat senormal mungkin agar tidak diketahui oleh Gani. Kevin tidur lagi seusai sholat. Gina tidak terbiasa lakukan hal sama segera keluar untuk melihat bagaimana Sum yang genit.
Gina harus memastikan kalau Sum harus meninggalkan rumah ini agar jangan timbul petaka yang sama. Jiwa Sum tidak sama dengan Mai yang sangat lugu. Dalam jiwa Sum sudah tertanam bibit pelakor maka sulit dienyahkan.
Gina berjalan sendirian ke ruang tamu untuk melihat bagaimana persiapan bibik mengantar Sum balik ke kampung. Semoga saja semua berjalan lancar tidak ada kendala. Sebenarnya Gina juga tidak ingin membesarkan masalah ini asal Sum mau meninggalkan rumah ini. Urat malu Sum putus ntah berapa kali maka tidak perlu diambil hati lagi.
Gina bergerak membuka jendela biarkan rangkuman angin segar berlomba masuk ke dalam rumah. Pagi subuh udara masih dingin namun menyegarkan. Gina layangkan pandangan keluar rumah via jendela. Di luar sunyi senyap bahkan suara binatang serangga juga tak terdengar. Cahaya mentari mulai bersinar walau belum terang benderang.
Selanjutnya apa yang harus Gina lakukan. Tujuan utama salam hidup hampir tercapai. Subrata telah jatuh dan Angela juga diambang kehancuran. Inikah yang dia cari selama ini? Sudah sempurna kah hidupnya dengan dendam ini?
Gina tak merasa bahagia walau titik harapan telah terwujud. Hati kecil Gina tercolek merasa ada yang salah dengan tumpukan dendam yang dia pupuk. Gina tidak bahagia dengan kehancuran Subrata. Dari lubuk hati terdalam Gina timbul rasa sesal membalut diri dengan dendam. Allah tak suka pada umatnya yang menyimpan rasa dendam pada sesama. Allah selalu mengajarkan kasih sayang pada sesama.
"Nak...bangun pagi sekali?" sapaan seorang memaksa Gina memutar badan.
"Ach bibik...aku sudah terbiasa bangun cepat. Gimana Sum? Sudah tenang dia?"
Bibik menunduk tak bisa menyembunyikan rasa kecewa kepada keponakan satu itu. Bibik sudah berpuluh-puluh tahun di situ tercoreng hanya karena sifat buruk Sum. Bibik malu juga pada Gina.
"Maafkan Sum ya Nak Gina... dia begitu karena terobsesi ingin menyenangkan keluarganya dengan uang yang banyak. Ayahnya meninggal terlalu cepat membuat dia menjadi anak yatim. Sum tak tega melihat ibunya banting tulang untuk menghidupi adik-adiknya maka dia mengambil jalan pintas. Sum merasa mencari uang halal butuh waktu yang lama maka dia memilih jalan pendek. Dulu Sum menerima jahitan di kampung tapi sejak mesin jahitnya dijual untuk biaya sekolah adiknya maka dia tak punya kerja. Sum kena bujuk rayu temannya yang telah duluan bekerja di kota. Nyatanya temannya itu kerjanya hampir sama dengan Sum merayu majikan untuk mendapat uang sebanyak-banyaknya."
Gina tercenung tak sangka masih ada sisi baik Sum cuma dia salah ambil langkah.
"Bik... bukannya aku kejam kepada suami tetapi bibik harus mendidiknya agar tahu kalau merusak rumah tangga orang itu berdosa. Dia juga berdosa karena berzina dengan suami orang."
"Iya nak...Mai akan antar dia pulang. Bibik tak bisa tinggalkan nak Kevin dalam kondisi labil. Bibik takut nanti nak Kevin kenapa-napa."
Gina berjalan jauhi jendela bermaksud duduk karena ada rasa tak nyaman di bawah perut. Masih ada rasa ngilu di daerah itu. Itu hasil kenakalan Kevin. Tapi itu hak Kebin sebagai suami. Gina tak boleh menunda gairah laki itu terusan.
"Bik... dasarnya Sum itu anak baik tapi cara pandangnya sudah salah. Aku akan bantu dia beli mesin jahit agar jangan keluar cari kerja lagi. Kalau ada jodoh di kampung biarlah dia menikah di sana saja."
"Jadi nak Gina tidak marah kepada Sum?" tanya Bibik girang mendapat janji Gina siap bantu Sum. Di sinilah kemuliaan Gina jelas terlihat. Sum sudah sangat bersalah tetap saja dapat maaf dari Gina. Bukan cuma itu saja bahkan Gina bersedia membantu Sum mendapatkan mesin jahit.
"Bik..aku bukan orang munafik. Tentu saja aku marah karena dia telah menggoda bang Kevin. Tapi apa dengan cara memaki-maki aku telah mendapatkan apa yang kuinginkan? Itu takkan selesaikan masalah. Kita harus cari jalan agar Sum tidak asyik berpikir goda suami orang dan mau jadi wanita simpanan. Mungkin dengan menyibukkan diri Sum akan melupakan niat busuknya itu."
"Iya nak...bibik akan bicara dengan Sum. Bibik sudah siapkan sarapan pagi. Apa nak Gani dan nak Jay sudah bangun?"
"Pasti sudah. Gani tak pernah tinggalkan sholat."
"Syukurlah! Bibik ucapakan terimakasih sekali lagi. Semoga nak Gina diberi kemudahan dan rezeki melimpah."
"Amin.."
"Bibik ke dalam dulu ya. Panggil saja bibik kalau ada yang perlu."
"Iya bik...Nanti suruh Mai jumpa aku. Biarlah Mai yang pergi beli mesin jahitnya. Aku masih ragu pada Sum."
__ADS_1
"Iya nak.." secara tergopoh bibik segera masuk ke dalam untuk mengabarkan kepada Sum bawah Gina bersedia membantunya. Di mana lagi akan mencari majikan sebaiknya Gina. Sudah disakiti masih mau mengulurkan tangan membantu orang yang membutuhkan.
Gina menghembus nafas lega berhasil kuasai amarah yang kadang menyesatkan manusia. Kadang kalau sudah dilanda emosi top bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sekarang Gina harus pandai mengontrol diri agar tidak meledak-ledak meluapkan emosi. Gina harus petik pelajaran daripada kejadian Subrata.