
Walau ragu Gina memilih percaya pada Kevin. Kalau biasanya Gina yang mengayomi Kevin maka kali ini Kevin yang mengayomi Gina. Makin jelas mereka adalah pasangan serasi tak terpisahkan.
Kevin mengulurkan tangan meminta Gina menerima genggamannya. Mungkin dengan demikian akan menambah kekuatan semangat Gina untuk menjumpai Subrata yang sedang sekarat. Kevin sengaja meminta Gina untuk menemui bapaknya karena tidak tahu apa yang akan terjadi satu dua jam ke depan. Semoga saja semua berjalan baik-baik sampai Subrata benar-benar unik.
Kedua berjalan beriringan menuju ke kamar tempat Subrata dirawat. Gina sudah tidak peduli bagaimana Lucia akan memandang hubungan mereka. Cepat atau lambat Lucia pasti akan menerima kabar kalau mereka adalah pasangan suami istri. Mungkin lebih baik Lucia mengetahui lebih awal daripada sakit hati menerima berita ini di kemudian hari.
Mereka berdua telah sampai di kamar Subrata dirawat dan berhenti di depan pintu mengatur nafas memberanikan diri menjumpai orang yang baru sembuh dari pingsan itu. Kevin mempererat genggamannya dan memberi senyum manis kepada Gina agar istrinya itu merasa lebih baik.
Kevin mengulurkan tangan mengetok pintu dengan sebelah tangan lagi. Satu tangan telah penuh dengan genggaman Gina maka sebelah tangan digunakan untuk mengetok pintu. Kevin bisa merasakan tangan Gina sangat dingin memendam kekuatiran.
"Masuk.." terdengar suara sahutan dari dalam yang merupakan suara wanita. Itu pasti suara Lucia wakili sang papa mengijinkan pasangan ini masuk.
Perlahan Kevin mendorong pintu untuk pindah masuk ke dalam. mereka berdua masuk tanpa melepaskan pegangan yang menjadi racun bagi tatapan mata Lucia. Dada Lucia mendadak sesak melihat Kevin dan Gina saling pegangan tangan. Ini pertanda apa Lucia belum tahu. Sekedar beri semangat pada Gina atau keduanya secara diam-diam telah mengukir janji di atas kata cinta. Apapun adanya Lucia sangat tidak bahagia. Ibarat jatuh ketimpa tangga. Mama amburadul, papa terkapar, dan terakhir orang tang dia harapkan menjadi imam selamanya telah gandengan dengan cewek lain.
Pak Julio berdiri tak jauh dari bed Subrata tergeletak tak berdaya. Selang oksigen dan selang infus serta beberapa peralatan medis melekat di tubuh lelaki ini. Sekilas mata kondisi laki ini memang menyedihkan. Kevin jatuh iba tapi tak tahu bagaimana kerasnya hati Gina. Tersentuh atau dendam menang atas rasa iba.
Subrata menoleh menatap Gina dan Kevin yang saling berpegangan tangan dengan hati teriris. Dia telah kehilangan segalanya sampai anak kesayangan juga kena imbas dari kesalahannya di masa lalu. Subrata bukannya tidak tahu kalau Lucia sangat mencintai Kevin. Dan sekarang Kevin terang-terangan menunjukkan bahwa dia dan Gina adalah pasangan. Subrata tidak tahu seberapa sakit hati Lucia melihat adegan ini.
"Bapak memanggil saya?" tanya Gina pelan. Gina menggunakan kalimat lebih sopan sekedar untuk menyenangkan hati laki itu. Gina tetap menjaga jarak tidak ingin terlalu dekat dengan Subrata namun tidak mengabaikan kesehatan lelaki tua itu.
"Iya..papa minta maaf tak bisa dampingi kamu survey kantor. Papa akan meminta staf perusahaan untuk mendampingi kamu bila kamu ingin segera masuk ke kantor."
"Kita tunda dulu pembahasan masalah kantor. Bapak pulihkan kesehatan dulu baru kita jumpa di kantor nanti."
Pak Julio memuji Gina di dalam hati karena kebijakan gadis ini dapat menenangkan Subrata. Di sini Gina berusaha mengatasi kecamuk dendam yang membara di dalam dada. Gina hanya ingin meruntuhkan Mahabarata bukan ingin mencabut nyawa Subrata. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka yang berbuat Dzolim terhadap anak istri.
Subrata menatap Gina penuh penghargaan. Anak yang dia terlantarkan ternyata memiliki nilai kemanusiaan jauh di atas anak yang dia manja dengan harta. Subrata harus akui kalau Bu Sarah telah berhasil mendidik Gani dan Gina menjadi manusia multi talenta.
"Terima kasih nak! Papa akan segera sembuh untuk mendampingi kamu mempelajari seluruh struktur perusahaan Mahabarata."
Gina hanya mengangguk kecil mengiritkan suara. Untuk sementara Gina tak mau menjadi pemicu kematian Subrata. Belum terpikir oleh Gina jadi kambing hitam bila terjadi sesuatu pada Subrata. Lebih baik tiarap menunggu kelanjutan perseteruan dengan Mahabarata.
"Kalau bapak sudah stabil kami minta ijin dulu. Nanti kami akan kembali bersama Gani." Gina sekedar beritahu Subrata kalau dia akan memberitahu pada Gani tentang kesehatan Subrata.
"Tunggu... kuharap kau tinggalkan perusahaan mas Kevin setelah mendapatkan Mahabarata. Jadi orang jangan tamak!" Lucia mencegat Gina yang bermaksud pergi untuk menarik nafas lega setelah lihat kondisi Subrata.
Gina hanya memandangi Kevin tak ingin berbantahan dengan Lucia. Kevin yang berhak bicara karena dia adalah owner dari perusahaan. Gina harus tetap di perusahaan atau harus resign semua tergantung Kevin. Bukan hanya sekata Lucia bisa tendang Gina dari kantor.
__ADS_1
"Lucia...Apapun terjadi Gina tetap ada di kantor kita karena sekarang dia pemilik perusahaan aku." Kevin menjelaskan secara gamblang kalau perusahaannya telah pindah tangan.
Subrata dan Lucia cukup kaget tahu Gina juga yang jadi owner perusahaan Kevin. Beberapa perusahaan besar telah dikuasai oleh Gina sehingga gadis ini menjadi orang cukup kaya. Perusahaan Subrata menjadi sangat kerdil bila dibanding dengan perusahaan Kevin dan perusahaan opanya Gina. Kini semua telah menjadi milik Gina.
"Kau gila mas Kevin? Gina di atas kamu?" Lucia berjalan hampiri Gina dan Kevin yang masih betah gandengan tangan. Lucia hilang kesabaran saksikan pemandangan menyayat hati itu.
"Gina bukan di atas aku tapi dia adalah istriku!" Kevin mengakui status Gina supaya Lucia tidak mengharap yang tak mungkin.
Ruang rawat Subrata kontan hening dan dingin. Lucia merasa hatinya mengecil membuat dia sudah bernafas. Berita yang keluar dari mulut Kevin seperti kabar kematian Lucia. Wanita itu masih tak percaya dengan pendengaran sendiri.
"Katakan sekali lagi mas!" desis Lucia dengan suara kecil namun masih terdengar.
"Aku dan Gina sudah menikah." tegas Kevin tak mau beri harapan kosong pada Lucia.
"Kau bohong...kau mau test keteguhan cintaku padamu?" teriak Lucia kalap tak terima fakta hubungan Kevin dan Gina.
Subrata menghela nafas malu dengan tingkah Lucia. Dari awal Kevin sudah mengaku suka pada Gina walaupun waktu itu Gina bukan siapa-siapa. Cinta Kevin tulus tanpa pandang harta. Subrata tak bisa berbuat banyak untuk bantu Lucia. Cinta itu merdeka tak bisa dijajah. Dia bebas datang ke tempat dia hendak singgah.
"Lucia...jaga sikap! Kau tahu papa masih sakit." tegur Subrata mengingatkan Lucia agar sadar dia berada di tempat orang sakit.
Lucia bukannya reda ditegur Subrata malah besarkan mata merasa diabaikan oleh sang papa. Lucia menangkap kesan kalau Subrata sedang melindungi Gina. Lucia tentu saja tidak terima kalau Subrata membela Gina.
Lucia dengan sigap memeluk Kevin tak peduli tatapan mata yang lain. Dia merasa tak boleh kendor bila mau perjuangkan Kevin. Lucia harus berani mengambil sikap walaupun harus mempermalukan diri sendiri.
Kevin sangat kaget dipeluk oleh Lucia membuatnya kontan gemetaran dan pucat. Tingkah Lucia yang spontan memicu trauma Kevin kumat seketika padahal dari hari ke hari psikis Kevin makin membaik.
Gina yang melihat perubahan wajah Kevin segera menarik Lucia agar menjauhi lakinya. Dina bukannya cemburu melihat Lucia memeluk Kevin melainkan ingin melindungi lelaki itu dari trauma berat yang menimpanya.
Tarikan Gina cukup kuat menghempas Lucia agak jauh hampir tersungkur bila tidak memegang pinggir ranjang Subrata. Gina sudah tak memikirkan nasib Lucia karena tak mau Kevin tampak buruk di muka umum.
Gantian Gina memeluk Kevin untuk menenangkan laki ini. Pak Julio tak kalah kaget saksikan adegan cukup mendebarkan jantung. Lucia terlalu nekat menyerobot orang yang bukan menjadi hak dia. Di lain pihak Pak Julio cukup kaget melihat perubahan rona wajah Kevin yang mendadak pucat pasi. Apa yang sedang disembunyikan oleh Gina dan Kevin?
Lucia makin tersulut api emosi melihat Gina memeluk Kevin dengan erat. Lucia mengira kalau Gina sedang menantangnya sengaja pamer kemesraan di depan hidungnya. Wanita itu bangkit hendak memukul kepala Gina sebagai balasan telah rebut Kevin dari tangannya.
Gina menahan tangan Lucia sambil melontarkan tatapan kejam ke arah kakak tirinya. Gina mencekal tangan Lucia agar hentikan semua kekonyolan ini.
"Hentikan Lucia atau kau akan menyesal. Apa kau tak lihat Pak Kevin dalam kondisi kurang baik? Punya mata gunakan untuk melihat yang baik. Maaf...aku bawa pak Kevin dulu!" Gina membawa Kevin keluar dari ruang rawat Subrata.
__ADS_1
Lucia sendiri tertegun lihat kalau Kevin dalam kondisi buruk. Mengapa dia tak perhatikan apa yang terjadi pada laki itu. Kini Lucia melihat jelas seluruh tubuh Kevin gemetaran. Jelas sekali Kevin sangat buruk.
"Maaf pak Subrata! Aku susul anak-anak itu dulu. Tampaknya Kevin ada masalah dengan kejiwaan dia. Kita tak mungkin biarkan Kevin terpuruk di saat ini." Pak Julio cepat tanggap kalau Kevin sedang hadapi sesuatu yang berat baru mendadak bisa menjadi aneh.
"Silahkan pak Julio! Aku baik-baik saja. Bantu Gina dulu!" ujar pak Subrata berusaha maklum.
Lucia terpaku membeku tak tahu harus bagaimana. Kevin mendadak begitu pasti ada alasannya. Tak mungkin hanya dia peluk laki itu gemetaran. Apa dia sangat tak suka pada Lucia sampai tak terima dipeluk gadis itu. Lucia benar-benar kesal dibuat oleh Kevin.
Kenapa laki itu harus memilih Gina bukan dia yang sudah menunggunya bertahun-tahun. Ada rasa sakit hati menyelinap dalam lubuk hati Lucia. Kevin tega abaikan dia untuk seorang gadis yang baru dia kenal.
"Lucia..." panggil Subrata membuyarkan segala amarah Lucia yang telah capai titik tertinggi.
"Apa? Apa papa mau bela anak setan itu? Kita jadi begini karena dia sekeluarga. Sebelumnya keluarga kita baik-baik saja." Lucia berbalik badan menghadap sang papa yang masih tampak lemah.
Subrata menggeleng mematahkan omongan Lucia. Semua berantakan sejak Subrata main gila dengan Angela. Andai waktu bisa diputar Subrata pilih hidup bersama Sarah dan anak-anaknya yang pintar. Sayang masa itu telah berlalu, hendak menggulung penyesalan juga tak ada guna lagi.
"Yang salah papa...papa mudah tergoda oleh nafsu dunia sehingga menciptakan derita panjang banyak orang. Kau tahu mama kamu sedang bahagia bersama laki lain di hotel?" ujar Subrata tak mau menutupi kesalahan Angela. Angela adalah pangkal derita semua orang. Suami sedang sekarat dia masih happy di hotel bersama berondong. Wanita model apa itu?
Harusnya Subrata kecewa telah piara ular beracun. Racun menebar ke mana-mana ciptakan kekacauan. Lucia menunduk tak bisa bela mamanya lagi. Angela lupa daratan karena harta yang segunung dari Subrata. Akhirnya semua menjadi kacau dan berantakan. Tak ada yang perlu disalahkan selain hawa nafsu serta keangkuhan diri.
"Lalu apa rencana papa?" tanya Lucia lemas. Gadis ini tahu tak mungkin Subrata tinggal diam saksikan istri selingkuh dengan anak muda demi puaskan gairah tua. Laki mana punya sejuta maaf untuk orang yang bela matian untuk jadi teman hidup. Masa lalu Angela yang kelam telah ditutupi namun Angela pilih tetap berjalan di jalan kelam enggan keluar cari cahaya terang.
"Papa akan gugat mama kamu. Papa minta maaf bila kamu merasa papa telah keterlaluan pada mama kamu."
"Cia tidak salahkan papa. Di saat kita terpuruk gini mama masih sempat berbuat dosa. Mungkin dia merasa dosanya belum cukup sempurna maka dia sempurnakan jelang sisa hidupnya."
Subrata sangat berterimakasih pada Lucia mau maklumi harga diri Subrata sebagai seorang suami. Beginilah rasanya bila dikhianati. Subrata baru paham mengapa Sarah demikian benci padanya. Diselingkuhi sangatlah tidak nyaman. Dendam dan sakit hati bersatu dalam dada.
"Terimakasih nak! Kita biarkan saja dia berbuat sesuka hati sampai dia puas. Tak usah kau hubungi dia." tegas Subrata tak mau Angela muncul di hadapannya sekarang ini. Subrata merasa sangat jijik kepada wanita itu. Sudah tua masih tak sadar akan dosa. Sebelah kaki sudah berada di liang lahat masih saja mengumpulkan dosa.
"Tapi pa..." protes Lucia. Gimanapun Angela harus tahu akibat perbuatannya Subrata sampai masuk rumah sakit. Angela yang berulah malah Gina yang kena getah. Lucia berpikir semua ini akibat perbuatan Gina merebut perusahaan papanya.
Ternyata ada yang lebih fatal yaitu perselingkuhan Angela. Lucia tak bisa tinggal diam biarkan mamanya berpesta pora dengan para berondong sementara Subrata bercanda dengan malaikat maut.
"Papa mau istirahat...tak usah bahas lagi." Subrata tak mau sebut nama Angela saat ini. Hatinya masih tercubit terasa perih. Subrata mau tenangkan diri dulu.
Lucia tak katakan apapun lagi melihat papanya memejamkan mata sebagai tanda tak mau bicara. Lucia menyesali perbuatan Angela namun tak punya daya membalikkan kenyataan Angela berkhianat.
__ADS_1
Lucia keluar dari kamar rawat Subrata mencari tahu kondisi Kevin. Lucia sedang ditimpakan kesialan ganda. Papa dan mama akan pisah dan dia juga akan kehilangan Kevin selamanya. Apa ini yang disebut karma? Mamanya merebut suami orang dan sekarang lelaki yang dicintai oleh Lucia direbut oleh Gina. Lucia masih mending baru tahap rasa cinta. Belum membangun mahligai rumah tangga namun itu cukup menyakitkan.