JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Buka Topeng Lucia


__ADS_3

Kevin sudah duga Gina akan tolak barang mewah yang akan dia berikan. Gina bukan gadis bertatto duit. Tak ada lambang duit di dalam diri gadis ini.


"Aduh nona cantik! Sudah di belikan baju harus dipadu dengan sepatu dan tas serasi. Kalau tidak sia-sia kenakan gaun mahal." Amelia tak menyerah bujuk Gina untuk borong lebih banyak. Kuncinya berada di tangan Gina. Andai Gina mau tak mungkin Kevin akan menolak.


"Terima kasih mbak! Aku sudah punya sepatu. Kurasa lebih baik kita kembali ke kantor pak! Masih ada pekerjaan kita belum selesai." Gina tak sabar ingin terbebas dari tempat tak sesuai levelnya. Gina terbiasa hidup apa adanya merasa bersalah telah hamburkan uang Kevin.


"Kau yakin?" Kevin juga ragu melihat Gina menolak pemberiannya.


"Insyaallah yakin! Bukankah kita harus menyiapkan semua plan proyek kita?"


"Kau benar. Ayoklah! Oya mbak Amelia! Kirim secepatnya ke kantor. Kami menunggu di kantor."


Dengan dirundung rasa kecewa tak berhasil bujuk Gina minta lebih banyak. Amelia iyakan perkataan Kevin. Gina bukanlah gadis mudah dibujuk dengan barang mahal. Matanya tidak melirik sedikitpun pada barang pajangan Amelia.


Gina duluan keluar dari butik Amelia melenggang santai ke mobil. Kevin menghela nafas jumpa gadis berhati batu. Terbuat dari apa hati gadis ini tak tertarik pada perlengkapan wanita tampil wah.


"Aku pergi dulu mbak! Kirim barangnya serta tagihan. Ingat jangan pakaian norak! Dia bukan gadis pada umumnya."


"Aku lebih percaya. Oya.. di mana Lucia? Sudah jarang muncul sejak skandal ibunya mencuat ke publik. Lucia pasti terpukul ya?"


"Tak baik gunjing keburukan orang. Aku permisi." Kevin segera pergi tak enak dengar gosip Lucia. Gimana pun Lucia termasuk salah satu karyawan perusahaannya.


Gadis itu memang manja dan keras kepala. Wajar Lucia angkuh karena dia adalah pewaris tunggal perusahaan besar Mahabarata. Subrata hanya memiliki seorang anak itulah Lucia. Sayang Lucia tidak begitu tertarik pada perusahaan karena dia berkecimpung di dunia perhiasan.


Gina sudah dalam menunggu kehadiran Kevin. Sebenarnya Gina sangat tidak senang Kevin membelinya pakaian karena dia berhutang budi kepada lelaki itu. Namun untuk pengobatan Kevin Gina membutuhkan gaun-gaun itu untuk menunjukkan sisi feminimnya. Dia menerima pemberian Kevin juga karena ingin membantu lelaki itu. Kalau untuk pribadi Gina takkan terima sampai kapanpun. Hanya buat makin berhutang pada laki ini.


Gina tutup mulut tak mau ajak Kevin ngobrol. Ngobrol buntutnya akan adu mulut. Di depan orang Kevin berbuat seakan sayang Gina, di belakang selalu bully gadis ini. Dari mana muncul rasa simpatik Gina pada Kevin. Peter lebih lumayan dari Kevin. Masih ada nilai kemanusiaan.


"Oya...kami minta ijin produksi perhiasan kamu! Kamu akan dapat bayaran. Kalau ada ide perhiasan boleh kau jual pada kami. Kamu akan jadi designer freelance perusahaan. Tapi begitu kau dapat uang hasil karyamu mutlak milik kami."


Gina senang sekali karyanya dihargai Kevin. Terbayang pundi-pundi emasnya akan segera diisi dengan bunyi duit. Gina akan gunakan uang itu untuk membayar Pak Haji agar rumah itu cepat menjadi milik Bu Sarah.


"Aku tak masalah asal bayaran cukup."


"Kita akan buat surat pernyataan kau jual pada kami. Jangan setelah terima uang kamu klaim itu adalah milikmu!"


Gina kurang senang dianggap sebagai seorang wanita yang culas. Mana mungkin setelah menerima uang orang Gina akan klaim itu adalah miliknya lagi. Dia bekerja sama dengan Lucia beberapa kali tidak ada hitam putih namun Gina tidak pernah membuat ulah.


"Kalau bapak ragu lebih baik tidak usah kita lanjutkan kerjasama ini. Bapak pikir aku ini orang yang tak punya kredibilitas? Aku masih punya harga diri tahu mana hak orang." ketus Gina dingin.


"Kita ini adalah orang dalam lingkaran bisnis. Semua harus tertuang dalam perjanjian tertulis." Kevin tersadar kalau Gina tersinggung dianggap orang suka main curang. Harusnya Kevin sadar orang model Gina itulah orang setia. Dia serahkan gambar tanpa takut Kevin jiplak gambarnya. Gina berikan sketsa gambar tanpa syarat.


"Nanti kita bincang lagi. Aku juga mau tahu berapa harga gambar aku!"


"Gimana kalau kuharap dua puluh juta? Kalau nanti laku di pasaran maka kamu akan mendapat bonus lagi."


"Bukankah bapak bilang aku akan dapat tiga kali lipat bila lolos dari pemeriksaan pengawas kalian?"

__ADS_1


"Apa aku ada omong gitu?" Kevin pura-pura bodoh pernah janji demikian pada Gina. Padahal waktu itu ada Peter sebagai saksi dari janji Kevin.


Dasar manusia licik. Dia buat janji dia ingkar sendiri. Gina bukan tergiur oleh puluhan juta berkali lipat melainkan cara Kevin meremehkan orang.


Laki itu tak tahu kalau selama ini perusahaannya gunanya hasil karya Gina melalui Lucia. Sayang Gina tak punya hak klaim itu karyanya lagi karena sudah jual pada Lucia.


"Kuharap bapak punya hati sedikit. Kita batalkan janji kita dulu! Sketsa aku jangan digunakan! Biarlah jadi koleksi aku saja!" Gina pula jual mahal biar Kevin kapok. Jangan mentang-mentang jadi Bos bisa seenaknya membully anak buah. Kevin harus tahu kalau anak buahnya yang ini seluruh badannya terdiri dari duri-duri landak. Siap membalas bila diganggu oleh orang lain.


"Mana bisa gitu? Kau sudah janji berikan gambar itu sekarang kok berubah pikiran?" seru Kevin jengkel.


"Aku akan berikan gambar itu untuk dijadikan bahan produksi dengan catatan sesuai dengan harganya. Aku tidak akan minta lebih dari 20 juta tetapi harus 3 kali lipat jadi 60 juta. Gimana? Deal?" Gina melirik Kevin dari balik kaca pion.


Wajah laki itu berkerut-kerut melihat keberanian Gina melawannya. Dari mana nyali anak ini menyerang balik.


Gina tidak menambah kalimat setelah beri penawaran pada Kevin. Mau terima atau tidak itu hak Kevin. Gina takkan memaksa biar tak dianggap karyanya murahan.


Lama Kevin diam memikirkan untung rugi terima tawaran Gina. Kalau perhiasan rancangan Gina laku di pasaran uang segitu bukanlah nominal besar. Dalam sekejap akan balik modal. Cara Gina menekan Kevin bikin laki ini kaget. Mana ada anak buah yang sok jual mahal.


"Baik...60 juta. Sore ini teken kontrak."


"No problem. Any time asal ada bunyi uang. Cash ya!"


"Segitu miskin kah kamu sampai tergesa-gesa harus cairkan dana."


"Kalau aku kaya tak mungkin mau dibodohi! Aku ini miskin maka harus rajin bekerja." sahut Gina tanpa beban walau dianggap miskin. Untuk apa malu mengaku kalau miskin. Justru lebih memalukan bila miskin mengaku kaya.


Sesampai di kantor Kevin langsung meminta pengacara perusahaan buat surat perjanjian dengan Gina. Kevin harus gerak cepat sebelum anak ini berubah pikiran.


Peter dipanggil untuk jadi saksi perjanjian antara Gina dan Kevin. Setelah terima uang maka rancangan Gina mutlak jadi milik perusahaan Kevin. Gina akan mendapat bonus bila penjualan lancar.


Gina tak peduli segala bonus. Yang penting dia telah dapat untuk setor pak Haji bulan ini. Makin cepat bayar makin tenang pikiran Gina. Akhirnya mereka akan punya rumah sendiri walaupun kecil.


Gina pulang ke rumah setelah terima uang dari Kevin. Tujuan Gina adalah ke rumah pak Haji. Gina akan setor semua uangnya buat Pak Haji biar cepat lunas. Untuk uang sehari-hari masih ada uang warung Bu Sarah dan uang gaji Gina di bengkel.


Untuk sementara Gina bisa lega sedikit karena uang belanja di rumah sudah ditanggung oleh ayah tirinya. Om Sabri ambil alih biaya hidup keluarga mereka. Keuangan keluarga mereka akan makin membaik dari hari ke hari. Bu Sarah tak perlu kuatir dagangan tak laku. Om Sabri akan jadi tulang punggung mereka.


Tak lama Gina pulang datanglah Lucia bersama papanya pak Subrata. Lucia datang ke tempat Kevin tentu saja dengan dukungan kuat dari Subrata. Saatnya Lucia kembali kerja setelah bertapa di villa.


Lucia sudah kangen pada Kevin. Beberapa lama tak jumpa membuat rasa rindu menggunung dalam dada. Lucia belum pede jalan sendirian ke kantor Kevin maka meminta papanya temani dia. Lucia gunakan power Subrata untuk tekan tatapan cemooh orang lain.


Lucia langsung jumpai Kevin di ruang kerjanya. Tentu saja bersama Subrata yang memang datang ingin lihat keadaan Gina dan Gani. Subrata ingin sekali merangkul kedua anaknya yang konon multi talenta. Subrata ingin jadikan mereka pembantu di kantornya. Sayang harapan Subrata tak segampang apa yang dia pikirkan.


Lucia dipersilahkan masuk karena kebetulan Kevin ingin bahas rancangan Lucia yang sudah dimodifikasi oleh Gina. Kevin tetap minta ijin walaupun perusahaan berhak revisi setiap rancangan designer.


Kevin masih jaga jarak karena belum tahu sampai di mana reaksinya terhadap wanita. Kalau dia kumat di hadapan Subrata dan Lucia hanya bikin malu saja.


"Sudah sehat Cia?" tanya Kevin basa-basi setelah sekian lama tak jumpa.

__ADS_1


"Sudah... penataan mental!"


"Ayok duduk! Silahkan pak Subrata!" Kevin mempersilahkan kedua tamunya duduk di sofa tamu.


"Terima kasih nak! Gimana perkembangan kantor?"


"Alhamdulillah lumayan! Kami siap meluncurkan perhiasan terbaru kemilau Mentari. Cuma sudah kami revisi sedikit. Dari segi warna dan pengait. Kuharap Lucia tidak keberatan."


"Kalau terbaik untuk kantor tentu tidak masalah." sahut Lucia manis.


"Terima kasih. Mau minum apa?"


"Tak usah repot. Kamu juga baru minum kopi. Besok aku akan kembali kerja. Aku tak mau di dalam kantor gunjing masalah salah paham di pesta dulu. Itu hanya rumor mau hancurkan nama baik keluarga kami. Kami Mahabarata keluarga baik-baik." kata Lucia dengan sikap gusar pada orang yang sebar berita mamanya mantan psk.


"Aku akan usaha. Seiring waktu semua akan berlalu. Oya...kudengar di Paris ada perlombaan design perhiasan. Kulihat kamu cukup berbakat untuk ikut lomba. Aku akan daftar kamu wakili perusahaan kita. Kalau kau menang merek perhiasan kita akan lebih terkenal." ujar Kevin.


Perut Lucia menegang diminta ikut lomba. Dia bisa apa diikut sertakan dalam lomba. Jangankan ikut lomba hasilkan satu sketsa bagus saja dia belum tentu bisa. Semua karya Gina.


"Maafkan aku mas Kevin! Aku belum bisa konsentrasi menggambar. Aku masih trauma dengan kejadian dulu. Aku butuh waktu. Mungkin dalam waktu dekat ini aku takkan merancang." kilah Lucia dengan licik. Untuk sementara dia tak bisa hubungi Gina karena Gina tak open padanya. Berkali dia kirim email pada Gina namun Gina tidak balas.


Kevin tidak memaksa memaklumi kondisi jiwa Lucia. Dia sendiri mempunyai problem dengan kejiwaan maka maklum kesulitan Lucia. Kevin juga tidak kuatir karena telah memiliki Gina yang berbakat di bidang ini.


"Baiklah! Kau bisa bekerja setelah kau yakin. Kita di sini juga telah ada seorang designer dadakan. Dia bukan designer tapi hasil karyanya sangat bagus. Dia baru beri aku satu sketsa bagus. Sudah kuminta bagian produksi luncurkan perhiasan ini. Semoga diterima di pasaran."


Lucia terhenyak ternyata telah ada saingan baru merebut posisinya. Satu sketsa saja sudah langsung tembus penilaian. Orang itu pasti memiliki sesuatu buat Kevin berani ambil resiko gunakan sketsa orang itu.


"Siapa dia?" tanya Lucia galau.


"Dia itu Gina alias Gino. Kau kenal Gino kan?"


"Gino? Banci kalengan itu?" seru Lucia tak bisa tidak berseru. Orang yang dia anggap sampah ternyata punya talenta tersembunyi.


Kevin tertawa dengar Lucia masih anggap Gina itu banci. Lucia tak tahu banyak hal terjadi setelah dia menghilang satu waktu.


"Dia bukan cowok melainkan cewek yang suka berdandan cowok. Aku saja tertipu olehnya."


"Cewek? Dia kan pernah tidur satu kamar dengan kamu. Gila ya?" Lucia menggeleng tak paham apa yang telah terjadi. Mengapa Gino mendadak berubah jadi cewek. Parahnya tidur satu ranjang dengan Kevin. Apa yang mereka lakukan di hotel tempat menginap.


"Saat itu aku juga pikir dia cowok maka biarkan dia di kamarku. Aku betulan kira dia cowok. Setelah pulang sini baru tahu dia itu anak gadis. Terdengar konyol tapi itu fakta. Gina itu anak super pintar. Serba bisa. Semua tugas dilahap tanpa kesalahan. Aku rekrut dia ganti Gani sebagai asisten. Dia tetap bekerja untuk kita."


Lucia merasa dadanya terbakar hingga gosong. Sebelumya Kevin selalu menolak asisten cewek. Giliran Gina datang direkrut jadi asisten. Apa sih hebat anak itu. Lucia jadi penasaran mau tahu tampang Gina setelah berubah cewek.


"Pecat dia! Aku akan ganti dia sebagai asisten. Aku juga bisa lakukan apa yang dia lakukan. Aku juga cewek."


"Tak bisa Cia. Dia itu borong semua pekerjaan. Kau takkan mampu bekerja tugas segitu banyak. Kasihan tubuh mungil kamu. Kamu tetap jadi designer saja. Kamu lebih. berbakat di situ."


Lucia manyun buang muka tak mau menatap Kevin. Lucia memeluk tangan ngambek musuhi Kevin. Kalau Kevin rekrut dia jadi asisten dia tak perlu pura-pura jadi designer lagi. Terbebas dari kebohongan besar.

__ADS_1


"Sayang...apa yang dikatakan nak Kevin itu betul. Seorang asisten itu harus siaga dua puluh empat jam. Kau takkan sabar mengulik bertumpuk file. Dengar kata papa! Tetap merancang. Anak papa berbakat dan pintar." bujuk Subrata.


__ADS_2