
Malam hari para konco Gina hadir untuk temani Kevin menjaga Gina. kesetiaan mereka pada Gina tidak perlu diragukan. Mereka tulus pada Gina sebab biasanya Gina juga tulus pada mereka. semua ada timbal balik.
Kehadiran Gani dkk membuat Kevin punya kesempatan mengintip kondisi papanya. Kevin memang tidak menyukai papanya tetapi Kevin juga tidak mungkin mengabaikan lelaki yang beranjak tua itu. Tanggung jawab sebagai anak tetap tersandang di bahu Kevin. Kevin tak bisa menolak panggilan hukum alam itu. Seburuk apapun papanya tetaplah yang memiliki jasa menghadirkan Kevin ke dunia ini.
Kevin melihat kalau Papanya sudah dipindahkan ke ruang perawatan di kamar lumayan bagus walaupun bukan VIP. Kevin tak tahu itu permintaan Papanya atau memang inisiatif para dokter memasukkan Papanya ke ruangan itu. Kevin melihat kalau bibik berada di situ menjaga papanya.
Kevin tidak perlu meragukan kemampuan sang Bibik merawat Papanya. Bibik pasti akan lakukan yang terbaik untuk papanya. Sampai detik ini Kevin belum bisa menerima papanya dengan hati ikhlas. Tetap saja masih ada ganjalan bergumpal di dalam hati Kevin.
Kevin meninggalkan ruang rawat papanya setelah mengetahui kalau papanya terawat dengan baik di tangan bibik. Tak ada guna berduka panjang karena jalan ke depan masih terjal. Kevin masih harus menghadapi manusia-manusia berhati busuk. Kevin masih bisa toleransi terhadap Mince dan Luna tetapi Kevin tidak bisa berbaik hati kepada Peter yang telah diangkat menjadi manusia mulia. Sayang sekali Peter menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Kevin. Ntah apa yang ada di otak Peter sampai tega khianati Kevin yang tulus kepadanya.
Hari berlalu dengan cepat. Hari-hari panas yang dilalui oleh Kevin segera berakhir karena kondisi Gina makin membaik. Wanita muda itu sudah dibawa ke ruang perawatan tanpa peralatan medis dipasang sana sini. Gina sudah melepaskan semua atribut yang menempel di tubuhnya. Tuhan tak pernah meninggalkan mereka yang berhati baik. Seketika itu juga Allah beri cobaan lihat sampai di mana ketaqwaan umatnya terhadap semua ujian yang dia berikan.
Kevin sudah bisa meninggalkan Gina dirawat oleh Mai. Laki ini harus masuk kantor untuk menyelesaikan semua permasalahan di dalam kantor. Kevin tidak boleh meninggalkan kantor terlalu lama tanpa seorang kapten. Jay dan Gani sudah berusaha yang terbaik namun tetap saja semua keputusan berada di tangan Kevin.
Siang itu udara sangat panas namun tak pengaruhi ruang kantor Kevin yang full AC. Kantor Kevin tetap adam ayem membuat orang yang di dalam merasa betah. Kepala lebih cas bila kepala dingin. Kevin fokus baca laporan dari Jay tentang semua kegiatan di kantor selama dia tinggalkan beberapa hari. Untuk sementara semua tampak berjalan aman. Proyek di pulau Sumatra juga berjalan lancar.
Andaikata yang menangani proyek adalah Peter entah bagaimana pula ceritanya. Kevin yakin proyek itu akan macet bila berada di tangan Peter. Dari awal niat Peter sudah jelek pada Kevin. Orang itu mana mau sia-siakan kesempatan meraup untung sebesarnya masuk ke kantong sendiri. Kevin bersyukur jumpa dengan Gina yang memberi jalannya lebih baik.
Sedang asyik Kevin tenggelam dalam kerja tiba-tiba pintu diketok dari luar. Kevin mengangkat kepala sekilas melihat siapa yang mengetuk pintu. Mata Kevin berubah tajam tatkala melihat siapa yang mengetuk pintu dari balik kaca. Sosok tang paling tak ingin dia jumpai berdiri sok baik dibarengi senyum palsu. Senyum licik sang rubah bertengger di bibir seksi Peter. Kalau bukan ingat ini kantor ingin sekali Kevin layangkan tinju ke wajah Peter.
Untuk sementara Kevin harus pura-pura tak tahu semua tindak tanduk Peter dan komplotannya. Kevin akan kurung mereka bersamaan biar reunian dalam sel.
Peter masuk ke dalam dengan kepedean super tinggi. Kevin muak lihat gaya Peter yang merasa sok penting. Laki ini tak tahu jurang kebinasaan sudah di sudut mata. Tinggal kerling dikit untuk lihat lebih jelas.
Seluruh tubuh Peter menebar wewangian aroma khas lelaki jantan. Kalau wanita genit tercium wewangian ini pasti akan klepek-klepek jatuh cinta pada sosok culas ini. Sayang penampilan tak sinkron dengan isi hati. Dari luar tampak sempurna namun dalam penuh belatung.
Kevin tidak bergeming tetap duduk santai hanya menatap tajam ke arah laki ini tunggu gimana reaksi dia selanjutnya. Peter melebarkan senyum langsung berdiri di depan Kevin sambil merentangkan tangan sok kangen.
"Halo bro...apa kabar? Kok tampak kusut?" sapa Peter dengan agya khas selalu hangat. Saking hangat mau bakar Kevin hingga hangus.
Kevin memanjangkan tangan ke depan minta Peter duduk gunakan bahasa isyarat tangan. Tanpa sungkan Peter menarik kursi di depan Kevin lalu duduk santai menyilang kaki penuh keyakinan.
"Kapan datang?" tanya Kevin basa-basi padahal sudah tahu Peter sudah lama di sini. Peter sempat bergabung dengan Mince kerjain papanya pasti sudah ada di sini cukup lama. Kevin pura-pura tak tahu akal bulus Peter.
__ADS_1
"Semalam...kudengar Gina ada masalah dengan keluarga papanya. Ada apa?"
"Angela tusuk Gina hampir meninggal." ujar Kevin datar tak menyimpan rahasia.
"What??? Gila ya? Apa belum puas bikin hidup Gina sengsara?"
"Gina sudah kuasai seluruh aset Mahabarata maka Angela marah. Untung dia tak apa-apa."
Peter terheran bagaimana Gina yang orang awam bisa kuasai harta Mahabarata. Apa Subrata telah wariskan semua harta pada Gina? Gina telah menjadi orang tajir kalau begitu.
"Kok bisa Gina kuasai harta Subrata? Subrata sudah wariskan semua pada Gina?"
"Bukan...aku juga tak tahu kalau Gina itu keponakan pak Julio. Opanya juga orang tajir pemilik perusahaan besar. Kini semua sudah ada di tangan Gina. Tak kusangka asisten pribadiku adalah orang super tajir. Dia kuasai seluruh saham Mahabarata dan perusahaan opanya. Dia komisaris..."
Muka Peter berubah warna dengar berita aktual ini. Tinggal di Bali menutup semua berita heboh dari telinga Peter. Dia tertinggal pesawat untuk mengenal Gina dari dekat. Andai dia ada di sini pasti akan dekat dengan gadis perkasa itu. Sayang dia tak tahu apa-apa mengenai Gina.
"Sedikitpun aku tak sangka kalau Gina punya latar belakang kuat. Kau lihat Gani...gayanya seperti orang dari kalangan paling menyedihkan. Kita terkecoh oleh penyamaran mereka." gumam Peter kesal kehilangan kesempatan dekati Gina.
"Iya...dia itu hebat! Perusahaan ini juga sudah dikuasai." Kevin lanjut mop mental Peter agar makin tertekan.
"Kau gila ya Vin?" desis Peter masih syok perusahaan Kevin telah pindah tangan.
"Perusahaan kita rugi terus maka aku jual saham pada Gina. Dia minta aku tetap duduk di bangku Ceo sampai dia mampu gabungkan tiga perusahaan besar jadi satu. Semua cabang akan dia audit bila sudah sehat nanti."
Peter kontan berdiri saking kaget. Bagaimana mungkin Gina akan audit semua cabang perusahaan yang bertebaran di beberapa kota besar. Apa gadis itu mampu melebarkan sayap terbang dari satu perusahan ke perusahaan satunya lagi. Peter tak percaya seorang gadis muda mampu meraup semua kegiatan setiap anak perusahaan.
"Termasuk hotel yang aku kelola?"
"Aku tak tahu...itu sudah menjadi kebijakan Gina. Aku hanya bisa turuti saja. Terserah dia mau melakukan apa karena semua ini sudah menjadi miliknya." kata Kevin cuek anggap semua ini adalah hal wajar bila seorang pemilik baru memantau setiap kegiatan anak perusahaannya.
Peter berkacak pinggang bingung sambil geleng-geleng kepala untuk hilangkan rasa kaget. Peter tak sangka kehadiran dia di kantor hanya untuk dengar berita buruk. Peter pikir dia akan memindahkan aset Kevin dengan satu tanda tangan laki ini. Peter rencana minta persetujuan Kevin renovasi hotel maka butuh teken Kevin. Niatnya belum terlaksana malah kena pukulan bebas langsung ke jantung.
Untung Peter masih muda sehingga tidak terkena serangan jantung. Coba kalau yang dengar itu laki berumur jantung auto berhenti berdetak. Peter paling hanya merasa dunianya hampir kiamat. Rencana belum terlaksana langsung dipatahkan oleh Gina dan Kevin.
__ADS_1
"Lalu aku gimana?"
Kevin mundur menyandarkan punggung ke sandaran kursi menatap Peter tanpa beban. Kevin tertawa dalam hati menikmati kegundahan Peter. Kevin bersorak dalam hati senang lihat wajah Peter berubah-rubah warna. Dari merah ke putih lalu ke hijau. Kalau diteruskan bisa hitam saingi arang.
"Kamu tenang saja. Gina tak mungkin pecat kita. Buktinya dia masih percayakan aku duduk di bangku Ceo. Dia tak mungkin handel segitu banyak perusahaan. Belum lagi pak Julio mau dia ikut dalam perusahaan dia. Gina mendadak jadi wanita mahal. Aku bangga bisa dekat dengan dia. Untung aku tidak alergi pada Gina sehingga kami bisa saling kontak fisik."
"Apa maksudmu kontak fisik gimana? Kau dan Gina ada hubungan apa?" Peter menatap curiga pada Kevin. Sudah sampai di mana hubungan kedua orang ini sampai kontak fisik. Peter tahu kalau Kevin hanya bisa dekati satu-satunya wanita di dunia ini yakni Gina tapi setahu Peter hanya sebatas bos dan anak buah. Walaupun kini mendadak Gina jadi orang kaya.
"Hubungan apa? Terserah kau mau pikir apa! Kau tak usah heboh gitu. Duduk saja."
Peter masih termakan rasa penasaran pada hubungan Kevin dan Gina. Baru ditinggal tak lama banyak sekali perubahan yang tak Peter ketahui. Peter bagaimana bisa tenang kalau guna menurunkan tim auditor untuk mengaudit hotel di Bali. Dia pasti akan ketahuan telah bermain belakang selama berada di Bali. Di mana akan disimpan wajah gantengnya bila ketahuan sama Gina tilep uang perusahaan.
"Vin...kau sedang goda aku ya?"
Kevin mencibiri Peter pikir dia sedang bercanda mengenai peralihan kekuasaan perusahaan. Laki ini mesti dikasih pelajaran agar otaknya tidak berisi tinja melulu.
"Apa kau pikir aku ini jeruk makan jeruk? Ngapain lagi goda kamu? Najis tau.." sungut Kevin.
"Bukan itu maksudku...aku bilang kamu sedang bercanda denganku bukan? Dulu kamu bilang mau sumbang seluruh harta ke yayasan bila terjadi sesuatu padamu. Sekarang lain pula. Gina pula bos di atas kita. Omongan kamu yang mana bisa kupegang?"
"Oh itu...sejak aku masuk dalam proyek pak Julio keuangan jadi seret maka kualihkan saham pada pak Julio. Ternyata disambut oleh Gina yang merupakan keponakan pak Julio. Aku juga tak tahu kalau Gina punya backing sekuat gini. Aku mau hidup tenang maka tak ragu berikan saham pada Gina. Kau tahu keluarga papa aku merongrong hidupku. Ada saja ulah mereka usik ketenangan aku. Suatu saat mereka akan kena batu. Tuhan itu tak tidur pasti akan balas semua kejahatan mereka." ujar Kevin tancapkan mata ke wajah Peter mau lihat bagaimana reaksi laki itu.
Peter tampak agak gugup tak bisa langsung menjawab. Peter tahu semuanya namun tak mau unjuk diri jadi salah satu komplotan Mince. Peter bukannya tak tahu kalau Kevin sangat benci pada Mince.
Lama berdiam diri barulah Peter mengendurkan wajah berusaha rilex. Sekarang Peter hanya bisa pura-pura prihatin pada nasib Kevin. Peter sengaja tunjuk ekspresi sedih imbangi sandiwara yang sedang dia lakoni.
"Aku kenal kamu Vin...jalan yang kamu lalui tidak mudah. Oya.. Apa kau ada kunjungi dokter Clara? Kau masih butuh konseling agar bisa sembuh total. Tak mungkin juga kau begini sampai tua."
Kevin tertawa kecil ingat dokter yang telah menipunya selama puluhan tahun. Kasih obat bukan tambah sembuh malah membuatnya makin gila. Untung Gina cerdik cepat menangkap gelagat tak baik sari dokter Clara dan Peter.
"Aku sudah sehat...aku sudah lama tak konsumsi obat penenang. Aku merasa jauh lebih sehat tanpa mengkonsumsi obat-obat dari dokter Clara. Aku hanya perlu segelas teh hangat bila sedang tidak enak badan." cerita Kevin menerawang ke masa lalu penuh perjuangan. Makin konseling dirinya makin kacau. Kini semua telah berakhir.
"Syukurlah! Tapi kusarankan kau kunjungi dokter Clara untuk cek kejiwaan kamu. Beliau pasti akan memberi solusi bila kamu sedang resah."
__ADS_1
"Ya nanti kapan-kapan aku akan mengunjungi dokter Clara untuk mengucapkan terima kasih telah merawat aku selama ini. Tapi aku merasa jauh lebih baik tidak konsumsi obat-obat dari dokter Clara. Malahan aku merasa kalau obat dokter Clara itu sangatlah tidak cocok dengan diriku. Kalau minum obat dokter Clara maka aku akan berhalusinasi. Sejak kutinggalkan obat itu segalanya makin membaik. Kadang aku merasa kalau dokter Clara itu tidak berniat menyembuhkan Aku malahan ingin membuatku tenggelam dalam frustasi." Kevin sengaja omong begitu agar Peter ngerti kalau dia tahu obatnya ada masalah.
"Itu hanya ilusi kamu Vin...dokter Clara itu obati orang bukan celakai orang. Kau terlalu banyak pikir. Jangan-jangan kamu ini tak minum obat sehingga bangun bayangan buruk! Besok kutemani kamu ke dokter Clara." tegas Peter hendak tunjukkan kalau dia perhatian pada Kevin.