JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Keangkuhan Subrata


__ADS_3

Gina hanya perlihatkan gambar dia lombakan. Gambar lain tak boleh diperlihatkan karena banyak berisi gambar yang sudah dijual kepada Lucia. Gina masih punya hati untuk tidak buka kebusukan Lucia. Dia sudah terima uang Lucia maka harus profesional akui itu bukan karyanya lagi.


Kevin tidak putus mengagumi karya Gina yang memang tampak luar biasa. Kalung dengan lambang hati susun tiga. Yang utama dirancang lebih besar sedang berjuntai dua hati kecil. Ketiga lambang hati disambungkan dengan daun-daun indah seakan ingin katakan bahwa ketiga hati tak bisa dipisahkan oleh apapun. Mereka bersatu karena cinta tulus.


"Ya Tuhan...tangan kasar mu hasilkan karya demikian spektakuler. Sungguh aku tak percaya kamu mampu hasilkan gambar seindah ini." Kevin tak bisa pindah mata dari monitor laptop.


"Itu karya aku untuk keluarga aku! Hati utama adalah ibuku. Sedang kedua hati kecil adalah aku dan Gani. Karena ingin dihubungkan oleh alam maka kugunakan hiasan dedaunan. Sudah ada beberapa perusahaan ingin beli hak cipta aku ini namun aku tak ingin jual."


Kevin mengusap wajah masih kagum pada karya Gina. Kini pupus sudah semua keraguan terhadap Gina. Kevin harus akui Gina lebih baik dari Lucia. Cuma Kevin tak habis pikir apa yang diinginkan Gina terhadap hidup ini. Dia menolak semua kemewahan lebih memilih hidup dalam kesengsaraan. Banting tulang tak kenal waktu cari uang. Ada jalan lebih pintas namun dia tutup jalan itu.


"Kuharap suatu saat kau berubah pikiran akan jual rancangan ini."


"Bapak sudah janji tidak akan bahas soal kemenangan aku di Perancis. Aku ini tetap asisten bapak."


"Aku janji...mulai besok kau resmi kerja satu hari."


"Kasih aku waktu selesaikan masalahku dulu. Aku harus cari gitu ganti untuk muridku. Dan lagi aku harus kembalikan posisi sinpai di klub karate."


Kevin tak ingin memaksa. Semua ini terjadi terlalu mendadak. Gina memang harus selesaikan pekerjaan yang sudah lama dia geluti. Paling tidak Gina harus bertanggung jawab pada murid-murid les biar muridnya tidak terlantar. Gina sungguh anak baik. Bertanggung jawab terhadap apa yang dia kerjakan.


"Kuberi waktu seminggu. Kuharap sketsa yang kau janjikan segera terealisasi. Atau kau sudah punya stok gambar?"


"Stok memang banyak tapi tidak jawab tantangan dari bapak. Aku buat yang baru saja. Kalau tak ada apa lagi aku harus pulang pak!"


"Pulanglah! Besok tepat waktu masuk kerja."


"Iya pak!" Gina angkat kaki setelah mengangguk sopan pada Kevin.


Kevin menatap punggung Gina menghilang di balik pintu. Misteri apa sedang disimpan oleh anak ini sampai rela menyimpan potensi besar dalam dirinya. Gina rela tak dikenal untuk hal yang belum diketahui oleh Kevin. Namun Kevin berjanji tidak akan menyia-nyiakan bakat Gina yang luar biasa ini.


Kevin sudah berjanji akan menutupi semua rahasia Gina maka Kevin akan melakukannya. Kalau memang Gina menyimpan sesuatu maka Kevin wajib membantunya karena gadis ini tidak pernah merugikan perusahaan. Kevin harus bisa mendapat kepercayaan dari Gina agar kerjasama selanjutnya bisa terealisasi.


Gina mengendarai motor matic nya menuju ke bengkel Om Sabri. Gina masih harus menyelesaikan beberapa mobil yang sedang dia tangani. Gina tak bisa lepas tangan begitu saja karena sudah memegang mobil tersebut dari awal.


Kalau ditanya rasa lelah yang dirasakan oleh gadis ini tak dapat diukur dengan kalimat. Kadang Gina merasa sangat capek namun ini adalah kenyataan yang harus dia hadapi agar kehidupan mereka tidak terpuruk. Gina tidak akan membiarkan keluarga Subrata menertawai kemiskinan mereka.


Baru saja motor matic Gina memasuki gerbang bengkel terdengar suara memanggilnya dengan suara parau. Gina parkir motornya lantas menoleh ke arah suara yang jelas dimiliki oleh lelaki berumur.


Gina mendesah melihat makhluk laknat yang paling dia benci berdiri dekat mobil mewah di luar pintu gerbang bengkel.


Lelaki itu berjalan hampiri Gina yang cuek pada dirinya. Gina tidak menunda langkah menanti orang itu. Gina melenggang santai masuk ke dalam bengkel tak anggap orang itu ada.


Orang itu mendecak tak senang Gina tidak hargai dirinya. Subrata sudah terbiasa disanjung agak tersinggung dicuekin oleh anak kecil yang merupakan anak kandungnya.


"Gina..." seru Subrata lebih keras biar Gina merasa dipanggil.


Kali ini Gina menoleh pasang muka bodoh pura-pura tak kenal setan dari neraka itu. Itu anggapan Gina. Faktanya Subrata itu manusia cuma berkalang noda.

__ADS_1


"Anda memanggil aku?" Gina bersikap biasa anggap Subrata orang asing. Gina sedikitpun tak mau maju hampiri Subrata. Siapa yang berkepentingan dia yang harus datang.


"Ya kamu..." tegas Subrata tajam mau intimidasi Gina.


"Ada apa anda cari aku? Kayaknya aku tak pernah berhutang pada anda."


Subrata menggeram lihat cara tak sopan Gina jawab dia. Subrata menilai Gina kurang pendidikan maka tak sopan. Terhadap orang lebih tua harusnya punya sopan santun. Laki ini tak tahu kalau dendam di hati Gina melebihi tinggi gunung Himalaya.


"Aku mau bicara."


"Dari tadi kan sudah bicara. Mau bicara apalagi? Aku sibuk..."


Subrata gregetan cara Gina perlakukan dia. Kalau bukan demi Lucia diundang datang ke situ Subrata juga ogah. Bengkel kumuh tak punya masa depan.


"Aku mau kamu serahkan hak cipta gambar pada kakak kamu Lucia."


Gina besarkan mata menatap Subrata dengan tatapan tidak percaya. Tiada badai tiada angin datang mengaku Lucia sebagai kakaknya. Apa otak orang ini sudah pernah tergilas truk tonton sehingga hancur tak bisa berpikir secara waras lagi.


"Maaf ya! Aku tak punya kakak bernama Lucia. Kakak aku hanya saudara kembar aku soalnya ibuku hanya pernah melahirkan kami berdua. Anda salah alamat. Silahkan pergi jangan ganggu pekerjaan aku!" ujar Gina tegas tanpa belas kasihan.


"Aku ini bapak kandungmu."


"Oya? Bapak kami adalah pak Sabri. Maaf... kami orang miskin tak pandai sandiwara ngaku anak orang kaya. Kami orang jujur tak pernah menipu apalagi zholimi orang."


"Gina...kau ini anak kurang ajar! Apa orang tua kamu tak pernah didik kamu hargai orang tua? Aku ini bapak kandungmu dan Lucia itu kakakmu. Kau harus bantu dia."


Subrata merasa Gina bukan lawan gampang digertak gunakan kebesaran keluarga Mahabarata. Gadis ini sama sekali tidak peduli dengan siapa dia sedang hadapan. CEO kaya raya yang kuasai sebagian pasaran bisnis.


"Lucia sedang dalam kesulitan. Kudengar kamu juga bisa merancang perhiasan maka kau harus bantu dia. Apa kau mau saudara kamu malu di depan umum?"


"Sudah kubilang aku tak punya saudara bernama Lucia. Anda harus pulang bersihkan telinga agar dengar lebih jelas. Silahkan pergi! Di sini bukan tempat orang kaya macam anda." Gina meninggalkan Subrata sebelum emosinya capai ubun-ubun. Gina takut silap hajar orang di depannya sampai mati.


"Hei kau...anak durhaka!" seru Subrata menarik perhatian seluruh pegawai bengkel.


Semua menatap heran pada Subrata tiba-tiba datang sebut Gina anak durhaka. Siapa yang didurhakai Gina? Seingat mereka Gina itu anak baik sopan pada yang lebih tua.


"Orang gila .." desis Gina masuk ke ruang ganti pakaian. Gina harus menjaga pakaian bersih agar jangan kena kotoran oli berhubung pakaian Gina tidak satu lemari seperti anak gadis lain.


Subrata terbengong melihat Gina sedikitpun tidak segan padanya. Nama Mahabarata yang disegani oleh seluruh pengusaha tidak berlaku pada Gina. Subrata tak lebih seonggok sampah di mata Gina.


Subrata ngeloyor pergi dengan malu dipandangi kasihan oleh pegawai Om Sabri. Dari pakaian laki itu jelas orang kaya namun Gina cuek padanya. Apa salah laki ini pada Gina di hati batu itu. Mengapa Gina tampak benci padanya.


Subrata kembali ke mobilnya langsung pulang ke rumah. Hati Subrata kesal tak dihormati oleh Gina. Gani masih ada sopannya waktu jumpa. Yang ini luar biasa cuek bahkan tak hargai Subrata sedikitpun.


Di dalam mobil Subrata menghubungi Lucia untuk beri kabar dia gagal minta Gina serahkan gambar pada Lucia. Mereka harus bekerja lebih keras cari perancang lain untuk tipu Kevin. Kalau sempat Lucia tak bisa menelorkan sketsa dalam waktu dekat maka tamat riwayat Lucia di tempat Kevin.


"Halo nak! Papa gagal minta sketsa pada Gina. Anak itu tidak bisa diandalkan. Sombong..."

__ADS_1


"Papa minta gitu saja? Beli dong! Orang miskin model dia itu matanya ijo lihat duit. Beri dia penawaran bagus. Cia dengar gambarnya mulai diproduksi oleh Mas Kevin. Masa Cia kalah sama asisten."


"Cia...Gani dan Gina itu adikmu! Ibu mereka adalah perempuan yang dicerai papa karena mamamu."


"What? Adik-adik aku? Kenapa papa tak cerita dari awal? Mereka hidup seperti gelandangan sedang kita hidup plus-plus. Papa kebangetan deh!"


"Papa juga baru tahu sewaktu kau masuk rumah sakit. Mereka sih tak mau akui kita sebagai keluarga. Itu bisa papa maklumi karena memang salah papa. Tapi harusnya mereka mau ngerti kakak mereka sedang dalam kesulitan."


"Ya ampun pa! Bukan Cia bela mereka ya! Siapapun tak sudi punya papa model papa. Sekian lama abaikan orang tiba-tiba muncul mengaku sebagai bapak. Cia juga ogah. Papa pasti kasar pada mereka baru tidak disambut baik. Papa harus sabar baru bisa rebut hati mereka."


"Papa panik ingat nasib kamu nak! Tadi papa memang sedikit keterlaluan."


"Itulah pa! Tak semua bisa kita tekan. Seingat Cia papa hanya bilang adik laki kenapa sekarang jadi dua?"


"Gani dan Gina kan kembar. Mereka berdua adalah adik kamu. Gani lebih mudah didekati sedangkan Gina seperti musuh bebuyutan lihat papa."


"Cia rasa Gina sudah tahu siapa papa maka dia agresif benci papa. Makin sulit kita dapatkan sketsa darinya. Gini saja pa! Biar Cia dekati dia. Baik buruk dia adalah adik Cia."


"Papa takut kau akan sakit hati bila bicara dengannya. Dia bukan ramah."


"Papa tak usah kuatir. Cia akan merebut hatinya. Paling Cia jejali dia dengan barang mahal. Kita lihat bagaimana dia bertahan dengan godaan pemberian Cia. Toh mereka juga punya hak atas harta papa. Bahkan papa harus kasih lebih untuk tebus kesalahan papa di masa lalu."


"Terserah kamu. Cuma papa ingatkan kalau Gina bukan gadis mudah didekati. Keangkuhan dia bikin perut kita sakit."


"Ya sudah biar Cia yang urus dia!"


Dalam bayangan Lucia kalau Gina itu sama saja dengan gadis lain yang tergila pada barang mewah. Lucia belum kenal sifat Gina maka bikin dugaan sendiri. Lucia akan menyesal sendiri bila buat asumsi sendiri Gina gampang ditaklukkan. Lucia tak tahu Gina sedang pasang bom atom untuk musnahkan keluarga Subrata. Tak ada belas kasihan dalam diri Gina terhadap lelaki yang porak poranda kehidupan ibunya.


"Hati-hati ya nak! Papa segera pulang. Kamu di mana sekarang?"


"Di salon bersama teman. Kulit Cia agak kusam karena stress maka coba manjakan diri di salon. Papa pulang aja deh! Tak usah banyak ngelayap biar tak kumat penyakit nakalnya."


"Ngomong apa kamu ini? Papa sudah tua mana terpikir ke situ. Mikirin adik-adik kamu saja papa sudah cukup stress. Kamu tak berbakat di perusahaan, mana bisa teruskan usaha papa. Yang bisa tak mau dekat pula."


"Kudengar Gina jauh lebih berbakat dari Gani. Gina itu seperti cowok sedangkan Gani seperti cewek. Adik-adik menarik."


"Ntahlah! Kamu juga jangan asyik ngelayap. Sudah selesai langsung pulang ya!"


"Iya."


Subrata termenung setelah memutuskan percakapan. Lucia begitu gampang terima kedua adiknya namun justru sebaliknya kedua adiknya tak mau akui kalau mereka punya hubungan darah dengan Subrata. Mereka memilih hidup apa adanya tanpa bantuan Mahabarata. Memang sudah begitu pilihan Gina tak mau kenal dengan keluarga yang telah sakiti ibunya selama dua puluh tahun lebih.


Masih terbayang di mata Subrata kalau Sarah tak banyak berubah walaupun waktu telah lari jauh. Wanita itu tetap cantik dan awet muda. Tak seperti Angela yang hidup dari kosmetika. Ntah berapa ratus juta telah dikucurkan Subrata untuk beli alat kosmetik buat Angela alias Poniyem.


Andaikata Sarah bersedia kembali kepadanya dengan senang hati Subrata akan menerima kehadiran Sarah di dalam hidupnya. Demikian dia bisa merangkul kembali kedua anak kembarnya dan hidup damai. Subrata yakin Angela tidak berani melarang Subrata bila ingin menikah Sarah kembali. dari awal memang Angela yang telah menikung Sarah dan memfitnahnya.


Sayang Subrata tidak mengetahui kalau kedua anaknya bergerak lebih cepat menikahkan ibunya kepada Om Sabri yang menyayangi mereka selama ini. Gani dan Gina tidak sudi memiliki orang tua yang tega mencampakkan istri demi seorang perempuan murahan. Mereka lebih memilih Om Sabri yang telah menemani mereka selama 20 tahun ini.

__ADS_1


Terlepas dari itu Bu Sarah telah hidup bahagia bersama pilihan anaknya. Sabri menyayangi kedua anaknya tidak ubah seperti sayang pada anak kandung. Ayah kandung saja belum tentu setia macam om Sabri. Kesetiaan Sabri sudah teruji. Tahan banting tak lekang dimakan waktu.


__ADS_2