JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pengacau


__ADS_3

"Pulang bentar ambil pakaian! Bik...apa selama aku pergi mereka ada datang?" Kevin menatap sang bibik dalam-dalam minta suatu kejujuran. Bibik langsung ngerti siapa yang dimaksud Kevin. Siapa lagi kalau bukan papa dan istrinya yang kemaruk harta.


"Setiap hari datang namun tak diladeni sama satpam. Itu istrinya ngotot mau masuk hendak tinggal di sini. Katanya rumah mereka sudah ditarik oleh pihak bank. Satpam tak mau bukakan pintu. Asal sudah sore mereka sudah datang bikin ribut. Tapi sudah dua hari mereka tak datang." lapor bibik apa adanya.


Kevin mengangguk maklum. Tak bosannya keluarga papanya usik dia. Padahal selama ini Kevin tak pernah menuntut apapun dari mereka selain menyimpan rasa dendam.


"Eh..di luar kok ribut?" kata bibik mengalihkan mata ke arah pintu.


Kevin ikut pasang kuping dengar keributan di luar rumah. Kevin agak kaget mengapa di luar mendadak seperti pasar malam. Dengan diiringi rasa penasaran Kevin dan Bibik keluar lihat apa yang terjadi. Baru saja mereka nikmati ketenangan sekarang muncul pula keributan.


Kevin terpana melihat papa dan Mince menuding Gani dan Gina yang berdiri di samping mobilnya. Kevin menutup mata merasa dadanya sesak oleh pemandangan tak dia harapkan.


Sadar kalau Kevin sudah muncul kedua orang tua itu meringsek masuk dekati pintu rumah Kevin. Gina yang menyadari bahaya sedang mengancam Kevin segera menyusul kedua pasangan itu. Mau apa datang kesini ganggu hidup Kevin lagi. Kevin sudah ingatkan mereka untuk tidak datang mengusik hidupnya. Mereka tak kapok-kapok menganggu Kevin.


"Aduh nak...akhirnya kamu datang juga! Kami berencana pindah ke sini untuk menjaga kamu. Hari ini juga ya!" Mince berusaha meraih lengan Kevin sok akrab. Sungguh wanita tak tahu malu. Lupa. Kalau dia adalah kuman penyakit buat Kevin. Karena dialah Kevin menderita seumur hidup.


Kevin mundur beberapa langkah tak mau bersentuhan dengan wanita licik itu. Gina segera hadang Mince untuk dekati Kevin. Gina takut penyakit Kevin kumat menyentuh orang yang paling ingin dia hindari. Gina berdiri diantara Kevin dan Mince dengan kokoh.


"Maaf Bu...kalian tak boleh tinggal di sini. Kalian bukan siapa-siapa Kevin jadi sadar diri. Silahkan pergi jangan bikin onar di sini!" kata Gina dengan nada suara dingin. Tak ada guna ramah tamah dengan orang tak punya hati.


"Kau siapa berani larang kami tinggal bersama anak kami? Kevin itu anak kami." Mince bersuara lantang menantang Gina.


"Siapa aku itu tak penting. Yang penting adalah kalian segera pergi karena kehadiran kalian tak diharapkan."


Mince besarkan mata tak senang Gina lancang melarang mereka numpang hidup pada kemewahan Kevin. Mereka mungkin sudah lupa kejadian dulu yang sebabkan Kevin menderita.


"Ini adalah papa Kevin. Orang yang paling berhak atas Kevin. Dan aku ini mamanya."


"Maaf sekali lagi...kata papa sudah tak ada dalam kamus Kevin. Aku bukan orang sabar terhadap pecundang macam kalian. Aku tak tahu motif apa kalian mau numpang hidup di sini tapi yang aku tahu adalah kalian tak berhak injak rumah ini. Pergilah sebelum aku berbuat kasar!" Gina masih berusaha menahan diri tidak berbuat kasar pada kedua orang itu.


"Nak...usaha papa sudah hancur. Sekarang kami terlunta-lunta tak punya tempat tinggal. Rumahmu besar jadi papa kira kamu takkan keberatan kalau kami tinggal di sini. Papa bisa bantu kamu di kantor. Papa menyesali semua yang telah terjadi. Minta maaf juga tak ada guna bukan?" papa Kevin bersuara. Suara laki itu bergetar seakan memang memendam rasa penyesalan dalam.


"Tidak....aku tak ada hubungan dengan kalian. Sejak mama kandung aku meninggal maka hubungan kita sudah putus. Tak perlu menyesal karena itu prestasi anda yang paling hebat. Silahkan nikmati hidup bahagia bersama wanita yang kau anggap bidadari surga. Mamaku hanyalah wanita pinggiran yang tak bisa dibanggakan. Anda punya istri yang hebat bukan? Ini terakhir kali aku ingatkan kalian untuk tidak ganggu aku. Aku akan lapor polisi bila kalian masih ganggu aku. Silahkan!" ujar Kevin berusaha kuat. Padahal Kevin sudah gemetaran jumpa orang paling dia benci.


"Kau anak durhaka Kevin. Ini papa kamu...kamu harus tanggung jawab terhadap hidup kami. Anak Luna sekolah di luar negeri butuh biaya besar. Kalau kau tak bantu gimana dia lanjut sekolah?"

__ADS_1


Gani sangat geram lihat cara ibu tiri Kevin minta bantuan. Semua derita mereka sekarang seakan hasil perbuatan Kevin. Kevin wajib tanggung jawab terhadap hidup mereka sampai sedetailnya.


"Woi Bu...yang sekolah siapa yang biaya siapa? Apa hubungan Kak Kevin dengan anak Luna? Ngak nyambung...sudah..sudah pergi Sono! Ganggu acara orang saja." Gani menarik lengan Mince agar jauhi Kevin dan Gina. Gani takut kalau ibu ini kelewatan ngoceh bisa kena bogem mentah Gina. Perkara jadi panjang bila sudah main tangan.


Papa Kevin menghela nafas berat sadar kalau Kevin memang tak mau kenal dia lagi. Laki ini tak bisa memaksa Kevin menerima dia. Kesalahan dia di masa lalu memang tak bisa dimaafkan karena demi seorang wanita cantik dia tega campakkan anak istri.


"Baiklah...papa tidak akan ganggu kamu lagi tapi beri papa pekerjaan. Jadi apa saja boleh asal ada kerja."


"Bikin lamaran kerja pak! Aku akan pertimbangkan kalau bapak punya kualitas untuk dipekerjakan." Gina yang menyahut. Kevin tetap bungkam tak mau beri kesempatan pada orang yang telah menoreh luka mendalam di hati nya.


"Hei dasar apa kamu yang bicara? Aku sedang urusan dengan anak kami." semprot Mince kesal banget pada Gina.


"Perusahaan sudah dijual pada Gina. Sekarang dialah pemilik perusahaan dan seluruh aset aku." ujar Kevin buka mata kedua orang itu.


Mince dan suaminya terpana tak sangka cerita telah berubah arah. Harapan untuk numpang hidup pada Kevin terhapus sudah. Kevin sama saja dengan mereka bila perusahaan telah dijual. Kevin tak punya apa-apa lagi.


"Kau bohong nak?" tanya Mince gemetaran. Hatinya menciut sadar jalan hidup mereka akan sengsara. Pakai apa Kevin bantu mereka bila tak punya apa-apa lagi.


"Untuk apa bohong? Di perusahaan banyak penyimpangan maka keuangan agak goncang. Maka itu aku jual semua saham pada keponakan pak Julio ini. Gani dan Gina adalah keponakan pak Julio." Kevin sengaja menggunakan nama Pak Julio untuk menakuti kedua orang ini.


Mince menelan air ludah tak menyangka kalau gadis keras di depannya adalah keponakan Pak Julio yang terkenal kaya raya. Pantesan Gina sangat angkuh ternyata dia memiliki backing yang sangat kuat.


"Itu urusan anda Bu...sama kami tak ada hubungan apapun. Kami masih banyak pekerjaan jadi silahkan kalian tinggalkan rumah ini. Dan kuingatkan agar jangan datang usik kami lagi. Cuci otak kalian hendak masukkan Luna dalam hidup Kevin. Di dunia ini bukan cuma ada Luna, masih banyak wanita lain yang lebih berharga dari anak anda."


Mata papa Kevin buram menahan rasa sedih. Inilah waktu paling kritis dalam hidupnya. Segala yang dia bangun dengan susah payah dari muda telah kandas karena lupa daratan. Tak ingat suatu saat akan jatuh terpuruk sampai tak punya apa-apa. Mungkin ini karma telah berbuat kejam pada anak istri. Tamat sudah niat ingin nempel kemewahan pada Kevin. Sama sekali tak ada peluang itu.


"Kevin... papa ingatkan kamu agar jangan ulangi sejarah buruk papa. Wanita yang sederhana itulah pendamping kamu menuju ke surga. Papa janji takkan ganggu kamu lagi tapi berilah papa pekerjaan." ujar papa Kevin dengan nada memelas. Tentu saja dengan harapan Kevin tersentuh mau bantu dia hidup layak seperti dulu. Sayang hati Kevin sudah terlanjur membeku untuk akui laki itu sebagai keluarga. Kevin sudah punya keluarga yang menyayangi dia tanpa syarat. Tak perlu keliling sana sini mencari lagi.


"Minta kerja sama Gina saja! Dialah pemimpinnya!" Kevin kontan tolak jadikan Gina sebagai perisai.


Papa Kevin mengangguk paham. Memang tak jalan lain selain mohon belas kasihan Gina. Itu kalau Gina sedang berbaik hati mau memberi peluang kepada laki itu walau kesempatan itu sangat tipis.


"Aduh papa...jadi karyawan bisa apa? Berapa gajinya? Biaya hidup kita sebulan saja ratusan juta. Itu belum termasuk uang sekolah anak Luna dan belanja Luna. Apa papa tega lihat Luna dihina orang sebagai janda miskin? Sudah...Kevin nikah sama saja Luna. Habis cerita."


Gani ingin sekali gampar mulut Mince yang seperti rem bolong. Nyerocos tak tahu kalau mereka sudah terpuruk. Masih saja ingat hidup mewah seperti dulu. Gani rasa papa Kevin bisa bangkrut karena gaya hidup mereka yang terlalu mewah. Lebih besar pasak daripada tiang.

__ADS_1


"Bu...Luna itu apa? Apa sepadan dengan kak Kevin yang masih muda dan ganteng? Ngaca Bu...kalau tak ada duit beli kaca biar aku jadi donatur beliin ibu kaca. Kak Kevin sudah punya pilihan yang jauh lebih heboh dari Luna ibu. Yang pasti bukan janda. Pilihan kak Kevin itu barang original. Ngapain kawini janda sisaan orang. Kayak dunia ini stok cewek sudah kosong." Gani potong niat kurang waras Mince. Mana ada orang maksa nikahkan anaknya pada sembarangan orang. Mince berbuat seolah-olah anaknya tak ada harga sedikitpun. Main Sorong saja seperti barang sisaan sortiran.


Mince mendelik Gani hina anak kesayangan dia. Bagi Mince anaknya itu adalah bidadari paling heboh di dunia ini. Semua laki harus bertekuk lutut pada anaknya.


"Kau ini emang tahu anakku Luna? Dia adalah gadis paling cantik di bumi ini."


"Gadis??? Hello...janda emang masih gadis? Mimpi kali ya? Ibu kelewat banyak halu sih? Janda dianggap masih gadis. Knalpot sudah bolong Bu.." Gani berkata dengan gaya kocak bikin Bibik terpaksa memalingkan wajah tak bisa tahan tawa. Kalau Gina dan Kevin sudah terbiasa dengan mulut ember Gani jadi tak merasa heran laki gemulai itu sekak Mince.


Papa Kevin menarik tangan istrinya untuk berlalu dari hadapan para anak muda sebelum makin malu. Sudah saatnya Mince rasakan hdup di bawah tekanan ekonomi. Dia harus bayar kesengsaraan Kevin. Herannya masih punya muka datang mengemis agar diajak tinggal di rumah mewah Kevin.


Mince keberatan diajak pergi. Wanita itu berusaha bertahan di rumah Kevin agar punya kesempatan tinggal disitu. Rencana Mince ajak Luna tinggal di situ agar dekat dengan Kevin. Siapa sangka Kevin punya pelindung yang jitu membuyarkan rencana jahat Mince.


Mobil papa Kevin pergi meninggalkan rumah Kevin. Masih punya mobil belum termasuk miskin sekali. Gina tidak kuatir keluarga papa Kevin akan jadi pengemis jalanan. Paling tidak mereka masih punya aset untuk dijual.


Satpam segera kunci pintu pagar begitu orang itu pergi. Satpam cukup kaget tatkala pasangan itu menerobos masuk sewaktu Gina akan keluarkan mobil dari halaman rumah. Begitu pintu terbuka mereka menerjang masuk.


Setelah menutup pintu gerbang Mito si satpam langsung minat maaf telah lalai dalam bertugas. Pasangan itu sempat lolos ke rumah juga.


"Maafkan aku pak Kevin... mereka menerjang masuk tadi." ujar sang satpam dengan kepala menunduk.


"Bukan salah kamu! Mereka sudah ancang-ancang dari sebelumnya. Kamu kembali bertugas saja. Lain kali lebih hati-hati ya!" Kevin pilih tak salahkan satpam. Mince sudah intip dari beberapa hari untuk masuk ke rumah. Begitu ada kesempatan mereka langsung masuk.


"Siap pak!" satpam kembali ke pos jaga tinggalkan keluarga inti Kevin.


"Gani...kau pergi ke rumah dengan taksi saja. Aku di sini temani bang Kevin saja,"


Gani paham situasi tak membantah perintah Gina. Saat ini Kevin butuh orang yang bisa menetralkan kegundahan hati. Belum tahu bagaimana reaksi Kevin nanti setelah jumpa lagi dengan Mince.


Gani segera buka ponsel cari aplikasi panggil taksi online. Kegembiraan mereka terganggu sesaat. Harusnya mereka akan habiskan hari ini dengan kegembiraan ternyata muncul tukang kacau.


Gina mengajak Kevin masuk diikuti oleh Bibik. Wajah Kevin memang tak secerah sewaktu pulang. Namun kondisinya juga tidak terlalu buruk. Gina menolak ikut Gani untuk berjaga-jaga kalau Kevin kumat dari penyakitnya. Selama ini Kevin tak pernah kumat lagi walaupun tidak konsumsi obat-obatan. Laki itu banyak berubah sejak jumpa Gina. Seluruh hidup Kevin berubah cerah.


Bibik masuk ke dapur ambilkan Kevin minuman hangat untuk menenangkan jiwa yang sedikit terguncang. Biasa Kevin harus minum obat bila terguncang. Kini cukup dengan kehadiran Gina segala akan lebih baik.


Kevin duduk di sofa sambil mengusap wajah berkali-kali. Jelas Kevin ingin menghapus semua kenangan buruk yang berlalu di dalam hidupnya. Gina berdiri di samping Kevin menunggu kalau Kevin butuh sesuatu.

__ADS_1


"Peluk aku Gin!" pinta Kevin bersuara parau. Ntah memang butuh pelukan hangat Gina atau cari kesempatan minta dipeluk istri yang dingin.


Tanpa ragu Gina duduk di samping Kevin lalu rentangkan tangan biarkan tubuh kekar Kevin berlabuh di pelukan. Kevin meletakkan kepalanya di bahu Gina sambil merem meresapi harum keringat Gina. Hatinya tenang bersandar pada istri yang kuat. Ketenangan ini yang dibutuhkan oleh Kevin.


__ADS_2