JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Angela menggila


__ADS_3

Kevin yang baru saja hendak turun dari mobil tercengang mendengar teriakan satpam yang seperti orang melihat setan di singa bolong. Hati Kevin menciut melihat punggung Gina tertancap sebilah pisau dapur cukup panjang. Angela masih memegang gagang pisau tidak bergeming seakan tak sadar apa yang dia lakukan itu akan merenggut nyawa orang.


Perlahan Gina memutar badan menoleh ke arah Angela lantas gunakan sisa tenaga menampar wanita itu sampai terjerembab ke lantai. Pegangan pisau terlepas dari tangan Angela tertinggal di punggung Gina. Pemandangan menjadi mengerikan karena perlahan baju Gina perlahan berubah warna merah. Namun Gina masih berdiri tegak tidak bergeming.


Kevin histeris segera menghampiri Gina. Laki ini sudah tak tahu harus bagaimana lihat keadaan istrinya yang mulai sekarat. Satpam dan beberapa penjaga lain segera mengamankan Angela sedangkan kedua pengawal Angela berusaha kabur namun dengan cepat ditangkap beramai oleh petugas juga bantuan beberapa orang dari luar kantor. Tak ada perlawanan dari Angela selain wanita itu menatap Gina dengan tatapan nanar penuh kepuasan.


Kevin memeluk Gina yang mulai kehilangan kesadaran. Namun Gina sih sempat beri senyum kepada Kevin.


"Aku tak apa bang! Jangan beri tahu Subrata ya!" lirih Gina pelan lantas terkulai.


"Gina..bertahan sayang. Kita ke rumah sakit!" Kevin tersadar segera membopong Gina masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi kejadian. Kevin sudah tak peduli pada Angela. Yang penting adalah selamatkan nyawa Gina.


Gina tak bisa dibaringkan karena punggungnya masih ada pisau. Kevin terpaksa meminta satpam mencari orang yang memegang Gina. Secepat kilat satpam menarik Denada penjaga meja resepsionis untuk menjaga Gina. Semua pegawai kantor keluar untuk lihat kejadian mengerikan ini. Semua mengutuk perbuatan Angela yang terlalu sadis. Berani bunuh orang di siang bolong begini. Bahkan di kantor orang pula.


Satpam dan beberapa petugas keamanan menghadiahkan tinju granit pada kedua pengawal Angela. Mereka semua kesal pada pengawal yang ikutan dukung perbuatan gila Angela. Di balik rasa iba para pegawai ada juga yang tersenyum senang lihat Gina yang arogan sekarat. Bayangan akan mulai meraup untung dari perusahaan mulai bertalu-talu dalam hati. Kalau bisa Gina tak perlu balik ke kantor. Berkunjung ke tempat malaikat maut kek. Mungkin itu harapan mereka yang licik.


Satpam meneleponi polisi untuk bawa Angela dan kedua begundalnya ke kantor polisi. Angela harus bertanggungjawab apa yang dia lakukan di depan hukum. Hukuman untuk Angela bukan ringan sehubung dia telah rencanakan pembunuhan ini dari awal. Terbukti dia bawa senjata tajam.


Di pihak lain Kevin melarikan mobil sekencang mungkin ke rumah sakit terdekat. Kondisi Gina makin buruk karena darah mengalir tak henti. Kevin tak bisa berpikir apapun selain bawa Gina mencari pertolongan medis.


"Gimana kondisi istriku?" tanya Kevin melirik Gina yang mulai tampak pucat.


"Ibu mulai lemah. Tubuhnya dingin pak!" ujar Denada terbata. Gadis ini takut bukan main melihat keadaan Gina yang sekarat. Seluruh tubuh Gina telah berwarna merah. Mereka tak punya cara tepat untuk hentikan pendarahan. Mereka orang awam tak punya pengetahuan medis.


Kini hanya berharap pertolongan dari yang maha kuasa memberikan Gina kekuatan untuk pulih. Kevin tak henti berdoa semoga Tuhan berbaik hati pada Gina. Kevin belum siap kehilangan orang yang dia cintai. Semalam mereka baru saja mereguk indahnya cinta mereka. Belum dua puluh empat jam sudah datang musibah. Apa Kevin ini pembawa sial buat orang yang dia cintai.


Apapun adanya kini tetap memohon kemurahan hati yang maha kuasa. Semoga Tuhan mengasihani Kevin tidak mengambil orang yang dia sayangi untuk kedua kali.


Kevin memasukkan mobil ke pelataran parkir rumah sakit lumayan besar. Kevin langsung parkir di depan pintu besar masuk rumah sakit. Tanpa buang waktu Kevin buka pintu berteriak seperti orang gila. Kevin sudah lupa sopan santun dan rasa malu. Mau dibilang Tarzan kota sudah tak jadi soal. Yang penting Gina tertolong.


"Tolong istriku!" teriak Kevin memecahkan ketenangan rumah sakit.


Penjaga pintu rumah sakit tanggap membantu Kevin membuka pintu mobil dan mendorong brankar untuk sambut Gina. Para petugas medis tertegun lihat kondisi pasien yang terluka cukup parah. Tak ada jalan lain untuk bawa Gina masuk selain telungkup Gina di atas brankar. Beberapa perawat tanggap karena kondisi Gina memang sudah jauh dari kata Oke.


"Tolong istriku!" seru Kevin belum berhenti walau Gina telah dibawa ke dalam. Kevin ikut dari samping sambil memegang tangan Gina yang sangat dingin.


"Pak...kami akan berusaha. Bapak tunggu di sini biar kami lakukan yang terbaik." seorang perawat perempuan membujuk Kevin agar tenang. Perawat bisa lihat kalau keadaan Kevin juga tidak sedang baik-baik. Sangat wajar seorang suami syok lihat istri terkapar dengan sebilah pisau tertancap di punggung.


Gina disorong ke dalam ruangan tertutup. Kevin tak diijinkan masuk sebelum ada tindakan dari para dokter. Pintu ruangan tertutup rapat tak ada peluang buat Kevin untuk intip ke dalam. Kevin mondar mandir di depan pintu dengan wajah pucat. Denada hanya bisa bersandar pada dinding rumah sakit untuk menopang tubuhnya yang lemas. Di mata Denada bosnya ini adalah orang baik walaupun tegas. Gina tegas atas kebenaran.


"Pak...apa tidak hubungi keluarga?" tanya Denada mengingat kalau Gina mempunyai beberapa saudara yang cukup terkenal di dunia bisnis.

__ADS_1


Pertanyaan Denada membuat Kevin tersentak segera sadar harus menghubungi pak Julio dan Gani. Mereka berdua adalah orang yang sangat penting dalam hidup Gina maka harus tahu kondisi Gina yang sedang sekarat. Kalau Kevin tak kasih berita seumur hidup Pak Julio dan Gani akan benci pada dia walaupun bukan dia penyebab Gina terluka.


Kevin mengeluarkan gawai dari saku celana mencari kontak Pak Julio duluan. Pak Julio adalah pengganti orang tua Gina di sini maka dia yang haru dilaporin duluan.


"Halo... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...tumben telepon Kevin? Ada hal penting?"


"Maaf pak...saya mau kasih kabar kalau Gina masuk rumah sakit. Bapak segeralah datang ke sini!" kata Kevin menahan tangis. Suara sengau Kevin cukup menggelitik hati Pak Julio. Apa yang sedang terjadi membuat Kevin sampai menahan tangis.


"Gina kenapa?"


"Bapak ke sini saja. Saya sangat takut pak!"


"Baiklah. Kau harus tenang ya. Jangan gugup!" Pak Julio ingat kalau Kevin punya penyakit trauma akut. Takutnya kejadian ini membangkitkan rasa trauma lagi itu lagi.


"Iya pak. Tolong segera datang."


"Baik." Julia menangkap ada yang tak beres dengan kondisi Gina. Kalau tidak tak mungkin Kevin demikian drop melaporkan keadaan Gina.


Tanpa mengucapkan salam Kevin segera menutup pembicaraan karena ingin melapor kepada Gani pula. Tangan Kevin gemetaran memegang ponsel. Gerakan motorik Kevin mulai terganggu karena gangguan mental perlahan mulai menjalar di dalam tubuhnya. Denada yang melihat keadaan suami bosnya ikut prihatin memahami kalau Kevin sedang dilanda rasa panik berat. Namun sayang Denada tak bisa bantu apapun.


"Halo... assalamualaikum Gan! Ini kak Kevin...datanglah ke rumah sakit."


"Bukan...Gina dirawat."


"Astaghfirullah....Monster sakit? Bukankah kita tinggalkan masih sehat?"


"Dia diserang Angela sampai terluka. Kau datanglah! Aku sudah tak sanggup tahan diri." Kevin tak bisa tahan tangis. Gani pula panik dengar Kevin menangisi Gina. Permasalahan pasti bukan sederhana kalau bisa memancing tangis majikannya itu.


"Sialan nenek sihir itu. Aku segera datang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..." Kevin mematikan ponsel menyusut air yang tergenang di kelopak mata. Kevin sudah hilang rasa malu jadi lelaki cengeng. Semua tak sebanding dengan harga Gina di hati Kevin. Gina adalah ratu di atas ratu. Tepatnya Maharani di hati Kevin.


Belum sempat mengatur nafas pintu ruangan yang tertutup tiba-tiba terbuka. Seorang perawat keluar mencari penanggung jawab pasien.


"Bapak ini siapa pasien?"


"Saya suaminya."


"Silahkan bapak urus administrasi! Pasien harus segera dioperasi. Kalau bisa bapak bantu cari darah cadangan karena di sini darahnya tidak mencukupi. Pasien kehilangan terlalu banyak darah. Bapak tak usah kuatir karena pisaunya tidak menembus organ penting lain."

__ADS_1


Ada sedikit ruang lega di hati Kevin mendengar laporan dari perawat itu. Semoga saja ada keajaiban turun kepada orang sebaik Gina.


"Terima kasih sus. Lakukan yang terbaik! Tak usah pikir biaya. Kami sanggup."


"Kami percaya...nanti setelah selesai bapak balik sini untuk tanda tangan ijin operasi."


"Iya sus!" Kevin pergi cari tempat mendaftar pasien. Tanpa lengkapi persyaratan mana mungkin pihak rumah sakit mau tangani pasien. Apalagi operasi Gina lumayan besar.


Kevin tidak memikirkan biaya yang harus dia keluarkan untuk operasi Gina. Kevin lebih mementingkan keselamatan Gina dibanding dengan materi. Kevin melengkapi segala persyaratan agar kita bisa segera dioperasi. Makin cepat makin bagus mengingat setiap detik adalah nyawa bagi seorang sakit.


Gina sudah didorong ke ruang operasi barulah Pak Julio dan Gani datang. Pak Julio datang sendiri sedangkan Gani datang bersama teman abadi Jay. Wajah mereka tegang ingat Gina belum ada kabar jelas. Cuma Gani sudah tahu penyebab Gina harus tertidur di meja operasi. Gani makin benci pada keluarga Mahabarata yang tak habis-habisnya cari masalah dengan mereka.


Pak Julio memeluk bahu Kevin untuk memberi kekuatan kepada pemuda itu. Mungkin inilah yang dinamakan pukulan batin kedua setelah kejadian ibunya meninggal karena bunuh diri. Kevin belum tentu siap menerima kalau terjadi sesuatu hal tidak diinginkan pada Gina. Semoga saja bayangan buruk tidak terlintas di dalam diri Gina.


"Pak..." suara Kevin tertahan di kerongkongan. Mau bicara panjang tak keluar suara. Semua tertelan kembali ke dalam perut. Kevin mengalami goncangan cukup berat.


"Percayalah Tuhan sayang pada umatnya yang taat. Gina tak mungkin meninggalkan kota tanpa pesan. Dia gadis yang kuat." Pak Julio menguatkan Kevin agar tabah.


"Apa yang dilakukan oleh nenek sihir itu?" tanya Gani emosi. Gani sudah tak bisa tahan diri untuk diam saja. Dia harus bela saudaranya walaupun tak punya kuku tajam. Saatnya Gani jadi superhero buat saudaranya.


"Kakak juga tak tahu...sewaktu kakak tiba di kantor Gina di sana sudah ada Angela dan pengawalnya. Sewaktu Gina berjalan hampiri kakak tiba-tiba Angela menyerang dari belakang menusuk punggung Gina." Kevin menceritakan apa yang dia lihat.


Gani mengepal tinju menahan emosi. Sungguh gila Angela berani bunuh Gina di saat Gina lengah. Mungkin Gina tak terpikir kalau Angela sanggup lakukan hal di luar akal sehat. Tak sembarangan orang bisa lukai monster itu kecuali Gina sudah hilangkan rasa waspada. Gina juga salah memandang remeh kepada Angela. Akibatnya sungguh fatal.


Pak Julio menghela nafas tak menyangka kalau keadaan makin runyam. Pak Julio pikir semua akan aman karena Subrata tidak menyalahkan Gina. Tak terlintas di benak Pak Julio kalau Angela akan nekat setelah merasa hartanya dicuri Gina.


"Sekarang Angela di mana?" Pak Julio menggeram marah melihat keponakan kesayangan jadi korban manusia tamak.


"Mungkin sudah dijemput pihak berwajib. Aku tak sempat lihat karena harus bawa Gina ke sini. Oya Gani...kamu bersiap diambil darah karena Gina kehilangan banyak darah. Gina butuh banyak darah."


"Siap kak... jangankan hanya darah nyawa pun akan kuberikan kepada adikku itu! Kita tidak boleh lembut hati kepada wanita jahat itu. Dia harus mendapatkan ganjaran untuk perbuatan jahatnya."


Kevin mengangguk menyetujui perkataan Gani yang ingin Angela dihukum seberat-beratnya. Apa yang dilakukan oleh Angela tidak dapat dimaafkan.


"Sudah...itu urusan bapak. Kau pergilah ke ruang UTD untuk donor darah untuk adikmu! Untuk sementara tidak perlu melapor ke Jerman dulu. Ibu kalian belum tentu bisa menerima berita ini. Kita harus menjaga segala kemungkinan agar tidak terjadi korban lagi."


Baik Kevin maupun Gani hampir melupakan ibu mereka yang berada di Jerman. Gani tak bisa bayangkan reaksi Om Sabri dan Bu Sarah bila tahu Gina tertimpa musibah berat. Taruhannya ada dua nyawa masih di dalam perut ibunya. Untunglah pak Julio mengingatkan mereka untuk tidak mengabari Bu Sarah tentang Gina. Semoga tidak terjadi apa-apa kepada Gina sehingga tidak perlu memberi kabar sampai ke Jerman.


"Kami akan ingat itu...ayok Jay temani aku ambil darah untuk monster." Gani mencolek Jay yang masih belum percaya kalau bos preman tergeletak di meja operasi.


"Lapor dulu kalau itu untuk Gina yang sedang dioperasi." seru Kevin sebelum Gani menghilang ke ruang ambil darah. Gani beri tanda ok dengan acung jari.

__ADS_1


Dalam hati Gani belum puas memaki Angela namun saat ini dia tidak bisa memikirkan itu karena harus segera memberikan darahnya kepada Gina. Nyawa Gina lebih penting dari apapun. Gani masih punya banyak waktu untuk membalaskan rasa sakit Gina.


Pak Julio tampak terpukul kalau keluarga Subrata sanggup berbuat kriminalisasi pada Gina. Mungkin Subrata pikir Gina lembut hati maka biarkan keluarganya berbuat sesuka hati. Pak Julio tidak tahu kalau Subrata telah menceraikan Angela. Angela berbuat begini karena putus asa menghadapi kenyataan telah dicampakkan oleh Subrata.


__ADS_2