JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Rencana Peter


__ADS_3

Kevin samasekali tidak tertarik pada tawaran Peter. Kevin bukan orang bodoh yang akan jatuh pada lubang yang sama. Bertahun-tahun dia berobat pada dokter Clara namun tidak ada perkembangan sama sekali. Yang ada dia makin tenggelam dalam ilusi kalau wanita itu racun dunia.


Kevin tak mau langsung menolak niat baik Peter agar laki itu tak curiga kalau dia sudah tahu semua. Kevin akan terus bersandiwara seolah-olah dia tidak tahu apa-apa agar Peter tidak membentengi diri dengan sejuta kebohongan lagi.


"Aku sangat sibuk berapa hari ini. Kalau sudah lapang aku akan hubungi kamu. Oya kok mendadak kamu pulang? Ada acara istimewa?"


"Oh begini Vin...aku berencana renovasi sebagian hotel. Itu butuh persetujuan kamu. Jadi aku sudah bawa proposal untuk kamu teken. Perkembangan hotel mulai bagus maka aku pikir mau tambah sedikit tempat istirahat agar tamu makin betah." Peter menyodorkan map yang dia bawa. Kevin tam sempat perhatikan map itu karena fokus lihat ekspresi Peter setelah jadi maling di perusahaan.


Kevin akui mental Peter berbuat seolah dia manusia paling suci tak tersentuh dosa. Sok beri perhatian namun di belakang beri racun mematikan.


Kevin melihat map di meja tanpa berniat menyentuh benda itu. Anggap saja Kevin telah putus harapan terhadap perusahaan sehingga ogah ikut campur urusan internal perusahaan. Saham sudah dialihkan kepada Gina maka Gina yang berhak tanda tangan.


Kevin menautkan sepuluh jari tangan menatap Peter di barengi senyum paksa. Kevin sedang merangkai kalimat yang tepat untuk menolak tanda tangan. Kevin harus menyakinkan Peter kalau dia tak punya hak apapun di dalam perusahaan. Mungkin Peter belum percaya kalau perusahaan telah jadi milik Gina. Laki masih juga minta Kevin tanda tangan lupa Kevin sudah beri kabar kalau dia tak punya wewenang lagi di sini.


"Kurasa kau lupa kalau aku sudah bilang perusahaan sudah ditangani oleh Gina. Tanda tangan aku tak ada arti lagi. Kau tak bisa mulai kerja tanpa persetujuan Gina. Asal kau tahu kalau Mahabarata juga sudah pindah ke tangan Gina." Kevin kembali limpahkan wewenang pada Gina. Kevin mau lihat apa yang akan dikatakan oleh Peter bujuk dia melepaskan tanda tangan.


"Kau serius Vin? Gina sekuat itu? " ujar Peter dengan nada rendah. Peter harus percaya walau masih dipenuhi keraguan. Peter menimbang antara iya dan tidak Kevin jual perusahaan pada Gina.


"Bukan serius lagi tapi sejuta rius. Aku sudah sangat lelah kelola semua ini. Jiwa juang aku tak sekuat dulu. Aku berjuang sendirian dan akhirnya tetap begini. Lebih baik aku bantu Gina tanpa kehilangan bangku Ceo."


"Kenapa tidak bilang padaku? Kita bisa kelola bersama seperti dulu. Kita saling membahu." Peter menyesali keputusan Kevin jual saham pada Gina. Kevin lakukan semua itu tanpa diskusi dengannya. Peter pasti akan larang Kevin alihkan semua saham pada Gina. Kesempatan dia bermain di keuangan perusahaan pupus sudah. Dia takkan punya jalan cairkan dana sesuka hati lagi. Tertutup sudah pintu jadi orang kaya.


Kevin tertawa dalam hati dengar ocehan Peter penuh keyakinan mampu membawa perubahan pada perusahaan. Bukan merubah malah akan timbun perusahaan ke dalam tanah. Tertanam tanpa tinggalkan jejak. Ratusan karyawan akan jadi pengangguran bila perusahaannya bangkrut.


"Aku perlu dana untuk lanjut proyek pembangunan pak Julio. Jadi aku minta bantuan Gina."


"Bukankah kamu bilang proyek pak Julio dia ambil alih dan kita hanya pelaksana?"


"Belakangan dia kembalikan padaku karena tak sanggup kendalikan lapangan. Ini terlalu mendadak maka aku tak punya persiapan."


Peter tampak gusar Kevin tidak libatkan dia dalam proyek besar ini. Dari dulu Peter ingin garap proyek besar untuk tunjukkan kemampuan dia. Sayang sekali Kevin bungkam pilih melenggang sendiri.


"Kenapa tidak hubungi aku? Aku akan membantumu menyelesaikan proyek ini. Kau tahu aku sangat ingin menjadi pimpro dari proyek besar ini."


"Orang lapangan semua orang Gina. Mereka sangat terampil dan setia. Dalam waktu singkat proyek telah capai 25%. Aku angkat topi lihat perkembangan proyek."


Peter termenung merasa dikalahkan oleh Gina. Gadis cantik yang sempat mencuri hatinya ternyata seorang wanita bertangan besi. Dia mampu mengerjakan semua walaupun bukan bidangnya.


"Aku ingin menemui Gina agar dilibatkan untuk sisa pekerjaan."

__ADS_1


"Silahkan cuma jangan sekarang karena dia masih dirawat! Untuk sementara rencana kamu renovasi hotel juga harus dihentikan. Kita tunggu Gina benar-benar pulih barulah kita bicarakan lagi. Tinggalkan proposal kamu biar kuteruskan pada Gina."


Peter menggeleng meraup map di atas meja Kevin. Sikapnya sungguh mencurigakan seolah ada rahasia tersembunyi dalam map itu. Seperti biasa Kevin pura-pura bodoh dan tidak ambil peduli walaupun mapnya telah diambil kembali oleh Peter. Peter kelihatannya keberatan kalau mau itu ditinggalkan untuk diteruskan kepada Gina.


Kevin tak mau berpikir apa-apa selain bersyukur Peter tidak memaksa lebih lanjut. Mungkin Peter menyadari kalau sekarang dia berada di pihak kalah. Semua rencana jahatnya telah terbaca oleh Kevin.


"Aku kan tunggu Gina sehat dan bicara langsung padanya. Untuk sementara aku di sini sampai Gina pulih. Aku akan kunjungi dia di rumah sakit."


Kevin mengangguk ijinkan Peter menemui Gina. Gina lebih licik lagi mana termakan semua bujuk rayu Peter. Gina yang pertama menemukan kecurangan Peter. Mana mungkin wanita muda itu mau beri kesempatan pada Peter berjalan lebih jauh ke arah kiri.


Sedikitpun Kevin tak kuatir Peter jumpai Gina. Biarlah Gina mop mental Peter sampai jadi tahu busuk. Kevin mungkin masih jaga perasaan Peter agar jangan sampai malu namun kalau jumpa Gina bekum tentu wanita muda itu akan lepaskan Peter begitu saja. Biarlah Peter hancur di tangan wanita. Jumpa dengan Luna sudah merupakan kehancuran awal Peter. Parahnya mau saja diperalat oleh kedua wanita jahat penghancur keluarga Kevin.


Kevin ingin tertawa terbahak ingat Peter mau bicara dengan Gina. Laki itu belum sadar antar diri jadi mangsa empuk Gina. Peter masuk ke kandang macan secara sukarela. Kevin tak berniat larang Peter masuk wilayah berbahaya itu.


"Baiklah...aku akan kabari kamu bila Gina sudah bisa ditemui. Untuk sekarang Gina masih dilarang bicara lama karena ada organ tubuh terluka."


"Apa berbahaya?"


"Cukup bahaya...Angela sedang terjerat hukuman mati. Kini tinggal tunggu kemurahan hati Gina. Pak Julio jelas takkan beri kesempatan pada Angela untuk melihat keindahan dunia luar. Penjara adalah tempat paling tepat untuk merenung semua kejahatan dia. Siapa menabur dia yang akan menuai. Kita boleh berbuat jahat tanpa sepengetahuan orang lain tapi Tuhan itu tak buta. Mata Tuhan itu di mana-mana."


Peter merasa kerongkongan kering kena sindiran Kevin. Padahal Kevin tidak langsung tembak kalau Peter itu bersalah. Perasaan bersalah yang membuat Peter tak nyaman. Perkataan Kevin seolah-olah ditujukan kepada dia.


Peter berusaha menguasai diri agar jangan terpuruk oleh sindiran Kevin. Dia harus tenang seolah tidak pernah berniat jahat. Peter tetap harus jadi malaikat buat Kevin agar laki itu percaya kalau dia orang baik.


"Silahkan!!! Kamu juga sudah lama tak pulang. Orang di rumah pasti sudah kangen."


"Iya...mama sering tanya mengapa kamu sudah jarang datang?"


"Kau tahu aku sibuk oleh banyak masalah. Nanti aku akan sempatkan diri bertamu ke rumah kalian."


"Ingat janji itu hutang lho!"


"Iya...kalau kelewat banyak akan kucicil hutangnya. Oya nanti kalau kamu keluar tolong panggil Jay. Ada tugas untuknya!"


"Ok..kalau ada apa-apa jangan segan cari aku! Aku tetap saudaramu." kata Peter sebelum ayunkan langkah tinggalkan ruang kerja Kevin.


Betapa manis kalimat yang diucapkan oleh Peter seolah-olah dia adalah manusia paling perhatian pada Kevin. Sebenarnya Kevin sangat muak dengan mulut manis Peter. Mulut manis pembawa bencana.


Peter meninggalkan kantor Kevin tanpa menoleh langsung menuju keluar. Langkah lelaki itu kokoh melewati pintu penuh percaya diri. Mata Kevin tak bisa lepas sampai bayangan Peter hilang dari pandangan.

__ADS_1


Andaikata Kevin tidak melihat langsung dan mendengar maka mungkin dia akan percaya kalau Peter itu orang jahat. Bertahun-tahun berada di samping Peter Kevin tidak merasakan kalau laki itu mempunyai niat busuk. Kini mata Kevin telah terbuka untuk lihat siapa yang tulus padanya. Kevin paling bersyukur jumpa Gina. Tanpa Gina dunia Kevin takkan berwarna seperti sekarang. Orang yang paling berjasa adalah Gani yang mengantar Gina kepadanya. Itu takkan Kevin lupakan seumur hidup.


Kelak kalau ada konser penyanyi Korea makan dengan senang hati Kevin akan sponsori Gani untuk menyaksikan langsung penyanyi idolanya. Karen hal ini Kevin dapat istri bernilai plus.


Kita ke ruang kerja Peter lihat apa yang akan dilakukan oleh laki itu setelah tahu perusahaan telah pindah tangan. Rencana ambil alih perusahaan Kevin telah kandas. Sedikitpun Peter tak sangka Kevin nekat berikan perusahaan pada Gina. Peter harus buat rencana baru dekati Gina untuk taklukkan hati Gina. Peter belum siap jadi orang kere.


Peter duduk di kursi yang sudah berapa tahun ini jadi milik pribadi dia. Kursi ini nyaman sampai Peter tak rela ganti dengan kursi lain. Pertanyaannya apa kursi ini akan pindah jadi milik orang lain atau tidak?


Peter mencium bau bahaya sedang mengincar dia setelah dengar penjelasan Kevin. Gimana kalau Gina akan rombak semua pegawai sini? Apa dia akan aman si posisi sebagai wakil dari Kevin?


Berbagai dugaan berkecamuk dalam benak Peter. Peter tak takut bila Gina audit hotel. Dia bisa berkelit sekarang tamu sedang menurun dan omzet seret. Sejuta alasan bisa dia turunkan untuk lawan auditor. Peter tak kuatir soal hotel. Itu bukan lahan basah cari keuntungan. Yang penting sekarang cari tempat di hati Gina. Tetap saja ada yang harus dikorbankan untuk singkirkan penghalang.


Lamunan Peter buyar bersamaan dering ponsel bergema pelan. Nada dering ponsel Peter hanya suara bip tanpa nada membuat orang tak bisa dengar jelas panggilan masuk. Peter yang sudah hafal segera angkat telepon menatap layar siapa yang ganggu keasyikan dia melamunkan Gina.


"Halo...ada apa lagi?"


"Gimana? Sudah dapat teken Kevin?" nyerocos dari seberang tanpa rem.


"Teken apa? Kevin sudah alihkan perusahaan pada Gina."


"Gina gadis sombong yang sok hebat? Dari mana dia punya banyak duit? Bukankah dia itu hanya asisten Kevin?"


"Ternyata banyak hal atk kau ketahui. Gina itu keponakan pak Julio konglomerat kaya raya. Dan lagi Gina itu cucu orang tajir. Dia kerja pada Kevin mungkin hanya cari pengalaman sebelum terjun langsung ke dunia bisnis. Maunya dari dulu aku dekati anak itu. Kita akan jadi orang kaya raya. Coba bayangin! Perusahaan sebesar ini sanggup dia ambil alih. Betapa kaya keluarga mereka."


"Hei...jangan main gila ya! Aku tak ijinkan kamu main gila sama Gina. Tujuan kita hanya harta Kevin."


"Lun...kau tahu kalau Gina miliki beberapa perusahaan besar sekaligus. Kalau dia terpancing ke dalam kail aku bukankah kita akan hidup berkasur dolar? Jangan cemburu tak jelas. Kevin sudah kere. Tak ada yang bisa kita harapkan dari dia. Sekarang kita tinggal cari perhatian Gina. Kamu yang sabar. Aku tak mungkin campakkan kamu dan anak kita. Cukup kamu tutup mata asal mau hidup senang."


"Sialan kamu. Apa kamu belum puas main perempuan? Di Bali kamu piara ***** sekarang mau dekati Gina pula. Apa aku ini tak ada harga samasekali?"


"Lun..aku saja tak keberatan kamu menikahi Kevin asal dapat keuntungan. Aku tak protes sewaktu mama kamu minta Kevin menikah denganmu. Yang penting hatimu untukku."


"Kamu memang setan Peter...aku tak mau tahu! Kamu harus dapatkan satu perusahaan untuk menunjang hidup kita. Untuk sementara kita masih ada sedikit harta peninggalan papa Kevin. Itu tak lama juga habis. Aku dan mama akan jual mobil duluan baru jual rumah. Setelah itu kami pindah tinggal bersama kamu di Bali."


"Kamu pikir segampang itu jual rumah papa Kevin? Harus ada tanda tangan dia baru bisa laku. Kalian usir dia ntah ke mana. Sekarang dari mana kalian dapat tekennya untuk buat akte jual beli. Sudah kularang tapi mamamu tolol sok hebat. Sekarang apa?" bentak Peter gusar pada kebodohan Mince usir papa Kevin yang sakit. Tak mau susah dikit rawat orang sakit sehingga tega usir orang tua tanpa belas kasihan.


Peter sudah larang namun tak didengar oleh wanita-wanita kejam itu. Peter juga tak bisa berbuat apapun selain ikut bantu seret papa kevin keluar dari rumah. Kini semua jadi bumerang buat orang tak punya otak.


Orang yang sedang bicara dengan Peter terdiam. Sedikitpun tak terpikir oleh mereka kalau jual rumah butuh tanda tangan resmi dari pemilik sah. Di mana akal sehat mereka saat itu.

__ADS_1


"Lalu gimana sekarang? Kita cari dia dulu. Aku akan bilang ke mama untuk cari tua bangka itu. Merepotkan saja." Luna masih sempat merepet walau jelas telah berbuat salah.


Peter tertawa sumbang. Bagi Luna semua gampang tak pikir akibat. Segitu mudahkah cari orang yang telah mereka tendang dari rumah. Mungkin saja papa Kevin sudah out dari dunia alias meninggal.


__ADS_2