
Di depan Kevin Lucia mana mungkin mengaku kalau dia tak pandai merancang perhiasan. Itu sama saja buka kedoknya sebagai penipu. Bagaimana tanggapan Kevin terhadap dirinya bila ketahuan menipu.
"Aduh papa! Mood Cia belum keluar saat ini. Mungkin tunggu hati Cia sudah tenang barulah bisa kembali design gambar." Lucia masih keras kepala tak mau buka kebohongan dia. Lucia mau Kevin tetap hargai dia sebagai orang berguna.
"Ya sudah. Terserah kamu saja!" Subrata tak tega memaksa putri kesayangan dia. Lucia adalah tumpuan harapan Subrata. Kalau Lucia bersanding dengan Kevin maka perusahaan Subrata akan terjamin. Kevin adalah seorang pengusaha sukses pasti akan mampu melanjutkan perusahaan Subrata. Kalau dia perusahaan besar digabung pasti akan lebih berjaga.
"Untuk sementara kau istirahat saja di rumah kalau memang belum mood bekerja. Toh kita baru meluncurkan dua perhiasan! Kita masih punya waktu untuk rancang perhiasan baru. Kau bisa bayangkan musim apa cocok untuk luncurkan perhiasan teranyar." Kevin berkata lembut supaya Lucia merasa tidak sedang dipaksa. Tak lama lagi bulan Ramadhan tiba disusul hari raya Aidil Fitri maka mereka sudah harus persiapan rencana terbaru.
Dalam hati Lucia memaki perancang tempat dia beli gambar. Perancang itu jual mahal tak bisa dihubungi. Semua kiriman email Lucia tidak dibaca apalagi dibalas. Orang itu sudah hafal ciri khas Lucia jadi tak mudah pindah ke perancang lain. Perancang lain juga patok harga sangat tinggi. Mana mungkin Lucia kucurkan dana sangat banyak untuk beli sebuah gambar. Gina masih punya pertimbangan tidak cekik orang.
Itulah akibatnya berbohong. Sekali berbohong jadi keterusan. Lucia tak pernah berpikir suatu saat orang akan berhenti kerja sama dengannya. Lucia lagi apes jumpa Gina pula. Kesempatan bagi gadis itu balas dendam kesumat dalam dada.
"Aku akan usaha mas! Oya.. si Gina itu menganut gaya apa? Kaku atau gaya bebas."
"Wawasannya sangat luas. Dia mampu tuangkan isi hati dalam satu gambar. Dari gambar dia bisa jabar sedetailnya." Kevin terus memuji Gina. Kevin tak sadar kalau Subrata galau karena anaknya yang lain ternyata tidak kalah pintar dari Lucia. Subrata takut kemampuan Gina melewati Lucia sehingga Kevin akan makin terpaku pada Gina. Subrata sudah dengar pengakuan Kevin kalau dia suka pada Gina. Langkah Lucia untuk maju meraih Kevin akan terhenti.
Subrata mau Kevin bersama Lucia anak yang tertera dalam kartu keluarga. Bukan anak kandung tanpa status. Sayang Subrata belum tahu borok Lucia yang hanya menang gaya itu. Otak kosong melompong.
"Wow..hebat juga anak liar itu. Jangan-jangan dia jiplak hak karya orang! Kita harus hati-hati sebelum luncurkan produk ini! Cek and ricek dulu mas!"
Kevin terdiam akui kebenaran omongan Lucia. Mana mungkin ada anak muda macam Gina borong semua keahlian. Disuruh apa saja dia mampu. Rancang sketsa dalam waktu singkat. Tapi gambar siapa dijiplak oleh Gina. Tak mungkin juga dia bisa jelaskan makna gambarnya bila itu hasil jiplakan.
Kevin mesti memastikan pada Gina agar tak timbulkan masalah di kemudian hari. Nama baik perusahaan sedang dipertaruhkan bila ketahuan sketsa Gina hasil karya orang lain.
"Aku akan memastikan sketsa ini sebelum diproduksi. Semoga kamu cepat pulih dan berkarya lagi Lucia. Penggemar rancanganmu sudah tak sabar ingin lihat kreasimu selanjutnya."
Lucia tidak berani mengangguk karena meragukan bisa memberikan sketsa dalam waktu dekat ini. Lucia belum berhasil menghubungi Gina jadi dari mana dia bisa mendapat gambar. Lucia hanya bisa mengutuk di dalam hati.
"Aku akan usaha." hanya itu yang bisa dijawab oleh Lucia. Jawaban ambigu tanpa kepastian.
Kevin manggut hanya bisa berharap Lucia segera sehat. Mereka perusahaan besar selalu menerbitkan berbagai kreasi baru agar tidak terpaku pada satu rancangan.
"Kami permisi dulu ya mas! Besok aku akan mulai masuk kerja. Kuharap mas bisa geser Gina sebagai asisten. Aku akan ganti dia layani Mas." kata Lucia kenes menggoda Kevin. Kata melayani dalam arti sangat luas. Bisa dalam tugas bisa juga dalam hal pribadi.
"Kita lihat nanti. Pekerjaan seorang asisten tidak terbatas hanya melayani majikan melainkan juga masalah kantor termasuk merevisi semua masukan dari bawah barulah diserahkan kepada aku. Itu bukan pekerjaan gampang. Butuh ketelitian serta kejujuran."
"Aku bisa gaji orang khusus kerjakan pembukuan untuk mas. Yang lain biar kutangani. Ya misalnya temani mas keluar kota, butuh teman bicara malam hari. Ya sejenis itulah!"
Subrata mendehem mendengar kata-kata Lucia yang seperti sedang menjual diri kepada Kevin. Itu kalimat wanita murahan yang tidak tahu menjaga nilai kewanitaan. Kelakuan Lucia tidak ubah seperti kelakuan Angela di masa lalu. Murahan.
"Ayok kita pulang nak! Papa masih pekerjaan di kantor." Subrata segera mengajak Lucia meninggalkan kantor Kevin karena merasa gerah dengan semua omongan anaknya.
"Ok...jumpa besok mas! Aku akan menagih janji lho!"
__ADS_1
Kevin hanya tersenyum hambar tak bisa penuhi harapan Lucia. Jelas sekali Lucia hanya ingin berdekatan dengan Kevin tanpa memikirkan akibat yang akan ditimbulkan bila Lucia berbuat semena-mena. Mana mungkin dia yang menjabat asisten lalu meminta orang lain mengerjakan tugasnya. Ini sangat berbeda dengan Gani dan Gina yang memang terjun langsung menyelesaikan semua tugas yang diembankan kepada mereka.
Subrata agak kesal kepada Lucia yang merendahkan diri ingin menjadi budak nafsu Kevin. Kevin sendiri menolak kehadiran Lucia di sampingnya namun Lucia masih menyodorkan diri. Ini sungguh memalukan Subrata sebagai seorang papa.
Subrata memasang muka jutek begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Subrata yang supiri Lucia menjadi sangat marah pada kelakuan anaknya. Namun Subrata juga tidak tega memarahi anak semata wayang itu.
"Cia...kalau kau ingin berkarir di bidang ekonomi kau bisa mulai dari kantor papa. Kau ke perusahaan Kevin dengan alasan tak cocok dengan bidang papa. Sekarang kamu ingin bekerja sebagai seorang asisten yang tingkatannya jauh lebih rendah daripada seorang perancang. Apa sih mau kamu? Diminta Kevin ikutin lomba kamu menolak dengan berbagai alasan. Kalau kau ikut maka namaku akan ikut naik walaupun tidak menang. Paling tidak kamu sudah menunjukkan usaha kamu sebagai seorang perancang."
Lucia meringis diceramahi oleh papanya. Mana mungkin dia bisa ikut lomba merancang perhiasan karena dasarnya dia tidak tahu apa-apa. Apanya yang bisa dilombakan kalau membuat lingkaran saja mungkin takkan sempurna.
"Pa... kalau dia jujur papa jangan marah ya! Ada satu hal yang Cia sembunyikan selama ini. Papa harus janji tidak memarahi Cia ya!" Lucia memegang lengan Subrata dengan manjanya.
Subrata menghela nafas tak tahu rahasia apa disembunyikan oleh Lucia. Saking sayang pada Lucia dia menutup mata semua kekurangan Lucia. Semula Subrata mengira Lucia anak satu-satunya. Tak terbayang memiliki anak kembar yang garang.
"Apa lagi? Lebih kau katakan sekarang sebelum semua lebih parah."
"Ok...Cia sudah duga kalau papa paling sayang sama Cia. Sebenarnya dia tidak pandai merancang perhiasan."
Subrata sangat kaget mendengar pengakuan Lucia sampai menghentikan mobil secara mendadak. Untunglah di belakang tidak ada kendaraan sehingga tidak terjadi tabrakan. Kalau ada kendaraan lain mana sempat menginjak rem karena Subrata menghentikan mobil tanpa beri tanda lampu.
"Ya Tuhan...apa lagi Cia? Jadi dari mana gambar yang selama ini kau berikan kepada Kevin?"
"Cia belum dari seseorang yang anonim. Dia merahasiakan identitas dan memberi karyanya setelah aku memberinya uang. Semua rancangan yang kuberikan kepada Kevin dulu itu adalah hasil karya dia. Sejauh ini aman-aman saja karena dia tidak pernah muncul membongkar rahasia aku. Tapi sekarang aku tidak bisa menghubunginya karena aku memarahinya menuduhnya berbuat curang mengedit video Mama."
"Kita bisa tuntut dia."
"Kurasa bukan dia pa! Soalnya dia memberikan flash disk sudah edit kembali semuanya. Aku juga sudah menonton hasil karya videonya. Tidak ada yang aneh dan bersih. Cuma karena Cia kesal maka menuduhnya. Dia tidak senang dan menghentikan kerjasama secara sepihak."
"Cia... papa tidak menyangka kamu bisa berbuat sampai sejauh ini. Pantesan kamu ingin meninggalkan pekerjaan sebagai seorang desainer memilih menjadi asisten. Ternyata kamu tidak tahu apa-apa soal perhiasan. Papa sangat kecewa padamu. Kamu kuliah bertahun di Inggris habiskan puluhan miliar hasilnya nol." Subrata tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa kepada Lucia. Anaknya ini sudah berbuat terlalu jauh dan lancang menipu hampir seluruh orang di negara ini terutama penggemar perhiasan.
"Ya ampun papa! Masak sama anak sendiri uang segitu saja diperhitungkan." Lucia merengut tak suka dikritik oleh Subrata.
"Bukan soal uangnya tapi harga kamu sebagai seorang anak. Teganya kamu bohongi papa dan mama kamu. Kami berdua menaruh harapan besar kepada kamu tetapi kamu sendiri justru menghancurkan masa depan kamu."
"Masa depan? Bukankah masa depanku sudah terjamin dengan uang dari perusahaan papa digabung dengan perusahaan Kevin. Percayalah apa! Uang kita tidak akan habis dimakan oleh 7 turunan."
Subrata terdiam tak sanggup berkata-kata. Lucia tak tahu kalau Kevin sama sekali tidak tertarik padanya. Subrata akui kejelian Kevin melihat seorang anak gadis. Dia bisa melihat Gina jauh lebih kompeten dari Lucia.
"Sekarang kau mau apa? Terus bersandiwara atau akhiri semua ini."
"Teruskan dong! Aku akan tawarkan duit lebih banyak pada perancang misterius itu. Dia pasti akan luluh."
"Kalau dia menolak?"
__ADS_1
Lucia mengedik bahu belum ada ide untuk beri keputusan pada Kevin. Lucia akan cari perancang lain untuk bantu dia lanjut bersandiwara.
"Kau harus keluar dari semua ini Cia!"
"Cia akan berhenti bila telah berhasil merebut cinta Kevin. Papa harus bantu Cia cari perancang sekelas perancang misterius itu. Karyanya sangat bagus. Semua diterima di pasaran."
"Papa tak ngerti apa maumu! Lelaki di dunia ini bukan hanya Kevin saja. Masih banyak lelaki yang lebih baik daripada Kevin. Papa akan usaha mencarinya sampai kamu puas."
"Lucia hanya mau Kevin. Papa coba hubungi orang yang bernama Gina itu. Kita beri dia uang agar mau memberi rancangan kepada Cia. Cia dengar dia bukan orang kaya pasti akan tergiur dengan uang yang kita tawarkan."
Subrata tak yakin dia mampu dekati anaknya itu. Pancaran mata Gina seperti malaikat maut siap cabut nyawanya. Tapi demi Lucia dia harus coba bujuk Gina dengan beri semua fasilitas mewah. Anak muda mana yang tidak tertarik dengan semua kemewahan.
"Papa akan coba!"
"Makasih pa...Cia tahu papa adalah papa terbaik."
Subrata melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya. Bergulung-gulung rasa sedih dan kesal bergejolak di dalam hati lelaki ini. Subrata sangat sedih kalau Lucia tidak memiliki keahlian apapun dan kesal karena Lucia telah berbohong selama ini. Namun apa mau dikata karena dia terlanjur menjadi papanya Lucia.
Di kantor Kevin mencoba hubungi Gina menanyakan masalah gambar yang diberi oleh Gina. Kevin harus hati-hati bertindak karena ini bisa terjerat hukum bila melanggar hak cipta. Kevin tidak mau ambil resiko berurusan dengan hukum hanya gara-gara satu buah gambar. Sebenarnya Kevin yakin kepada Gina namun untuk menjaga segala kemungkinan Kevin terpaksa mencari tahu lagi.
Tidak sulit menghubungi Gina karena anak itu langsung mengangkat telepon dari Kevin. Cuma suaranya tetap datar tanpa emosi seperti biasanya.
"Halo...kamu di mana?"
"Lagi beri les tambahan pada muridku! Ada apa pak? Ada file tertinggal?"
"Kau bisa ke kantor setelah lepas beri pelajaran pada anak-anak?"
"Bisa pak! Mungkin satu jam lagi. Ada masalah urgen?"
Kevin menimbang mau bicara di telepon. Takutnya Gina tersinggung diremehkan oleh Kevin. Kevin harus pandai gunakan bahasa lisan agar di gadis membara ini tidak lempar api kerahnya.
"Gin.. kuharap kau jangan tersinggung. Rancangan kamu akan segera diproduksi jadi aku ingin pastikan tak ada yang gugat nanti."
Tak ada jawaban dari Gina membuat jantung Kevin kebat-kebit. Apa anak ini mulai takut ketahuan bohong. Lebih baik ketahuan sekarang dari pada ketahuan belakangan setelah produk menembus pasaran.
"Pak..rancangan itu murni karya saya! Kalau ada orang lain mengeluarkan rancangan yang sama berarti dia yang menjiplak karya saya. Kalau bapak ragu untuk mengeluarkan produk itu lebih baik bapak hentikan dan aku akan mengembalikan uang bapak. Cuma uangnya sudah kupakai untuk membayar sesuatu jadi bapak boleh memotong dari gajiku dan aku akan menjual motor aku untuk menutupi uang bapak." ujar Gina flat tanpa emosi sedikitpun.
"Bukan itu Gin! Kalau kamu yakin maka aku akan melanjutkan memproduksi rancangan kamu. Aku cuma ingin memastikan kalau itu ORI hasil karya kamu."
"Kujamin dengan nyawaku! Apa bapak pikir aku ini orang bodoh yang ingin melawan hukum? Selama menjadi perancang perhiasan aku belum pernah sekalipun menjiplak karya orang lain. Semuanya murni hasil karya aku." tanpa sadar Gina membuka rahasia dirinya sebagai seorang perancang perhiasan. Kevin tentu saja menyimak apa yang dikatakan oleh Gina.
"Kamu perancang perhiasan? Memangnya karya apa yang sudah kamu hasilkan? Kok aku belum pernah mendengar nama kamu sebagai seorang perancang perhiasan?"
__ADS_1