
Kevin senyam senyum lihat kedua saudara adu mulut. Ini menghidupkan suasana kaku di rumah. Kalau tinggal dia bersama Gina ntah apa yang harus dibincangkan. Untung masih ada Gani semarakkan kesepian Kevin.
"Makan dulu. Bertengkar nanti." lerai Kevin.
Gani kontan bungkam tak ingin lanjut adu mulut dengan Gina. Gimanapun Kevin adalah adik sekaligus bosnya. Gani harus pandai jaga image agar bisa cepat naik pangkat lebih tinggi tanpa harus pakai koneksi sebagai kakak ipar. Di rumah mereka adalah keluarga namun di kantor tetap hubungan antara atasan dan bawahan.
"Mulai malam ini kau harus tidur di kamar Kak Kevin. Tak boleh nebeng di kamar aku lagi. Pengantin baru pisah ranjang itu pamali. Kalian menikah secara suka rela tanpa paksaan maka harus pupuk perasaan lebih mendalam. Pisah ranjang artinya jaga jarak. Dan kau nyonya Kevin... berdosa bila abaikan suami. Jauh dari pintu surga." ujar Gani sok bijak.
Gina melongo sejak kapan saudaranya itu berubah jadi orang pinter. Biasa otaknya seberapa gede bisa diukur dengan jengkalan jari. Kevin bersorak dalam hati namun laki ini tak perlihatkan rasa gembira berlebihan. Kevin anggap Gani adalah dewa pembawa keberuntungan malam ini. Secara tak langsung Gani dorong Gina ke pelukan Kevin.
Kevin tak perlu susah payah merayu Gina untuk menjadi isteri yang baik. Kevin memang sudah janji takkan paksa Gina berperan utuh sebagai isteri. Namun Gina juga harus tahu diri tak abaikan suami secara total.
"Tak usah cerewet...aku bisa tidur di kamar ibu."
Gani bukannya masalahkan Gina tidur di kamarnya namun ingin ingatkan Gina kalau dia itu isteri orang. Bukan anak gadis urakan boleh berbuat seenak dengkul pilih mau tidur mana.
"Nyonya cantik...bukan masalah kamu tidur di mana tapi ingat tugas seorang istri. Seorang istri tempatnya di sisi suami. Ingat ajaran agama kalau seorang istri durhaka dari suami apa hukumnya? Sudah...kalian masuk kamar dan jangan keluar sebelum beri aku keponakan." Gani gerak tangan mengusir kedua suami istri untuk tinggalkan meja makan. Gani berperan sebagai abang tua yang bijaksana.
Lagi-lagi Kevin diuntungkan. Kevin cukup diam saja biar Gani yang bantu dia dapatkan Gina malam ini. Kevin takkan paksa Gina namun tak salah bila mereka belajar saling mengenal lebih jauh.
Gina tergugu bila Gani sudah bawa agama. Dalam hukum agama memang seorang istri tak boleh abaikan peran suami. Isteri yang baik harus berbakti layani suami apalagi kalau suaminya baik. Gina dibungkam oleh Gani tak berkutik.
Gani pinter sekak Gina gunakan dalil agama. Gina termasuk anak taat beragama walau tidak religi. Yang penting di atas melanggar norma yang diajarkan oleh Rasulullah. Gina melototi Gani lalu bangkit dari meja makan menuju ke kamar Gani.
Gani dan Kevin yang melihat keteguhan Gina hanya bisa menghela nafas. Siapa suruh mereka berurusan dengan monster tak punya perasaan manusia. Seluruh jiwa Gina ditempa dari besi baja susah dibengkokkan.
Gani menatap Kevin tanpa daya. Dia sudah berusaha namun gagal. Apa mau dikata kalau yang bersangkutan kaku tak ubah seperti batang kayu.
"Maaf..aku sudah usaha kak!" ujar Gani pasang wajah memelas. Kevin sudah melihat niat baik Gani jadi tidak menyalakan lelaki gemulai itu lagi. Paling tidak mereka sudah mencoba walaupun harus gagal. Hari ini gagal besok mereka akan mencoba lagi. Kevin tak boleh cepat menyerah sebelum mendapatkan hati Gina utuh buat dia.
Kevin goyang tangan tidak menyalahkan niat baik Gani. "Tak apa. Aku sudah ngerti sifat Gina kok! Dia butuh waktu untuk adaptasi denganku. Santai saja."
Wajah Gani berubah sedikit tenang setelah mendengar penjelasan Kevin. Yang penting mereka berdua tidak boleh putus asa untuk menyelami isi hati Gina yang sulit ditebak.
"Maafkan Gina ya kak! Gina itu sudah terlalu lama memendam rasa benci kepada Subrata. Aku sendiri tak tahu seberapa dalam rasa benci itu. Aku bereskan meja makan dulu ya! Kakak pergilah ke ruang tamu."
__ADS_1
"Biar kubantu." Kevin tak segan turun tangan bantu Gani walaupun seumur hidup belum pernah rasakan hidup sengsara. Kevin harus banyak belajar sederhana bila ingin tetap jadi suami Gina. Kevin tidak bisa pungkiri kalau dia sangat membutuhkan Gina untuk waktu ini. Gina yang membuatnya memiliki semangat juang serta semangat hidup. Sampai kapanpun Kevin takkan menyerah untuk meraih hati Gina.
Gani tak berkata-kata lagi. Kedua cowok ini saling membahu bereskan meja makan. Kevin harus belajar lagi untuk imbangi keluwesan Gani berada di dapur. Gani tampak sangat terlatih untuk mengerjakan pekerjaan dapur.
Kevin duluan menyelesaikan pekerjaan lalu pergi keluar menuju ke ruang tamu untuk beristirahat sekejap. mata Kevin tertuju kepada pintu kamar Gani yang tertutup rapat begitu juga pintu kamarnya yang berdampingan. Dalam hati Kevin sedang bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh Gina di dalam kamar. Mungkin saja sedang mengerjakan tugas dari kantor ataupun sudah mulai mendayung sampan menuju ke pulau kapuk.
Baru saja Kevin melamun tiba-tiba ponsel berdering kencang dalam saku celana Kevin. Dengan sekali gerakan Kevin telah mengeluarkan benda pipih itu dari saku celana. Di layar tertera nama Peter. Sudah berapa lama mereka tidak saling beri kabar. Peter seolah-oleh tenggelam di pulau tanpa beri kabar. Malam ini lelaki itu mendadak meneleponnya pasti ada sesuatu yang penting.
Sesungguhnya Kevin malas mendengar suara orang yang telah mengkhianatinya. Tapi Kevin tak bisa langsung beri sikap bermusuhan karena akan memicu terjadinya perlawanan Peter. Masih banyak pekerjaan di tangan Peter saat ini. Kevin tak bisa langsung geser laki itu sebelum Gina yang turun tangan bereskan permasalahan di kantor. Sekarang Kevin belum berani ganggu isterinya mengingat gadis itu benar-benar mesti fokus pada perusahaan opanya.
"Halo.." Kevin klik bulatan hijau terima panggilan masuk.
"Halo Vin...kau gimana? Sudah makin sehat?"
"Alhamdulillah makin sehat. Aku tak tergantung obatan lagi karena sudah ada obat alami. Cantik lagi..." gurau Kevin masih bersikap baik.
Dari seberang sana terdengar tawa halus Peter. Peter tentu saja ngerti kalau obat yang dimaksud Kevin adalah Gina. siapa lagi yang bisa dekat dengan Kevin selain Gina. Gadis muda itu telah merubah dunia Kevin yang kelam menjadi berwarna.
"Dokter Clara ada tanya kamu mengapa lama tidak Konsul. Ku bilang mungkin sudah sembuh."
"Amin...aku tak pernah konsumsi obatan lagi maka pikiran aku mulai plong. Kau di sana gimana? Lancar?"
"Sudah... Pak Julio sendiri yang menurunkan timnya. Kita hanya di minta sediakan material. Dia punya insinyur handal yang sudah pernah menggarap proyek yang hampir sama. Kita terima komisi saja."
Kevin mendengar helaan nafas dari seberang sana. Mungkin Peter sudah menyadari kesalahannya sehingga tidak mau bisa berkata apa-apa mengenai proyek Pak Julio. Peter tidak protes sekalipun walaupun dia telah tergeser secara total. Ini semua murni kesalahan Peter yang terlalu tamak ingin menguasai proyek itu sendirian.
"Gitu ya! Bukan rezeki aku...apa Luna orang itu ada datang usik kamu lagi? Aku sudah ancam mereka agar jauhi kamu. Tante Mince bersikeras kau harus menikah dengan Luna."
Emosi Kevin terpancing naik ke ubun kepala. Betapa tidak tahu malu si Mince berani memaksa kehendak diri sendiri untuk dipatuhi orang. Dia punya hak apa memaksa Kevin harus menikah dengan anaknya. Kevin belum gila mau sama janda tak jelas itu.
"Kenapa tidak minta suaminya kawini anaknya biar mereka tak pernah berpisah. Mereka itu kan bangsa manusia tak punya adab. Kau minta mereka jauhi aku sebelum aku berbuat kasar. Aku heran kenapa kau bisa dekat sama mereka padahal kau tahu aku paling benci mereka." Kevin mulai serang Peter dari samping tanpa menuduh. Kevin sengaja menyudutkan Peter berhubungan sama makhluk paling dia benci.
Peter terdiam sejenak mungkin lagi cari kalimat tepat untuk jawab Kevin. Peter masih harus bersandiwara untuk dapat kepercayaan Kevin. Dia masih simpan rencana besar jadi pewaris Kevin yang dia anggap tak punya harapan hidup lama. Banyak yang tak Peter ketahui kalau Gina telah bongkar semua kebusukan saudara sepupu Kevin itu.
"Begini Vin...jujur kubilang papa kamu ada datang padaku minta bantuan bujuk kamu berbaikan dengannya termasuk rencana nikahkan kamu dengan anak tirinya. Dengan demikian harta kalian takkan terbagi pada orang lain. Aku rasa itu satu tujuan baik. Luna itu baik kok walau mamanya jahat. Dia menyesali semua perbuatan mamanya kepada mama kamu."
__ADS_1
"Otak kalian isinya apa? Aku paling alergi pada keluarga setan itu. Kau mau aku menikah dengan keturunan Dajjal? Lebih baik aku jadi bujang lapuk seumur hidup ketimbang keluarga setan itu masuk dalam hidup aku. Jangan kau ulangi bahas mereka di depan aku! Atau kau juga akan jadi musuh aku." Kevin menaikkan oktaf suara membuat Gina mengerut kening di dalam kamar.
Kevin jarang-jarang marah mengapa malam ini bisa tersulut api emosi. Gina keluar dari kamar melihat situasi. Gina bukan keluar dari kamar Gani melainkan kamar dia sendiri yang sekarang jadi kamar Kevin. Gina termakan wejangan Gani terpaksa dengan berat hati masuk ke kamar sendiri.
"Sori Vin...aku hanya mau kalian tidak ribut selamanya. Papa kamu memang pernah bersalah tapi sampai kapan kamu mau musuhan sama orang tua kandung kamu."
"Seumur hidup...Kamu ini berdiri di pihak mana? Kalau kau suka pada Luna silahkan kau kawini janda sisa koloni jaman perang. Aku sudah punya pilihan sendiri."
"Bukan gitu maksudku Vin! Kamu ini cepat emosi. Papa kamu minta ampun menyesali masa lalu. Tapi apa semua bisa kembali seperti semula? Kau bunuh dia juga tak bisa putar waktu yang terbuang."
"Aku tak mau kotori tanganku dengan darah manusia setan. Kau ingatkan mereka jangan usik hidup aku! Aku sudah tak punya apa-apa karena seluruh harta aku sudah kuhibahkan pada seseorang. Jadi buyarkan mimpi mau ikut nikmati hasil kerja keras aku."
Peter terkesima mendengar kenekatan Kevin berikan harta pada seseorang. Siapa orang beruntung itu? Pikiran Kevin terpacu pada Gina dan Lucia. Kedua wanita ini yang paling dekat dengan Kevin selama ini. Peter sudah dengar kalau Kevin ajak Lucia bekerja satu ruang apa berarti anak Mahabarata itu yang akan jadi kandidat pendamping Kevin?
"Siapa Vin? Jangan gegabah! Setelah dapat harta kamu dia akan tendang kamu. Sekarang saja dia manis sama kamu."
Kevin tertawa sinis. Yang pingin hartanya bukan Gina justru mereka yang gila akan materi. Gina sudah pegang uang triliunan namun masih tetap membumi. Tak ada gelagat gadis itu mau kuasai perusahaan selain ingin menata perusahaan agar lebih tertib. Soal kekayaan mungkin sekarang Gina melebihi dirinya. Kevin yang beruntung mempersunting gadis multi tersebut.
"Aku tahu apa yang kulakukan. Kau tak perlu kuatir. Kau cukup kelola hotel kita dengan baik. Yang lain biar aku yang tangani. Aku telah serahkan seluruh kepercayaan kepada orang yang paling kupercayai saat ini. Oya...ada yang ingin ku beritahu padamu kalau Gina itu telah duduk di kursi komisaris warisan dari opanya. Ternyata mereka dari keluarga tajir namun hidup sederhana. Pak Julio itu adik ibunya. Gina telah pindah kerja di perusahaan opanya. Sekali-sekali datang juga ke kantor untuk selesaikan sisa tugas."
"What???? Gina??? Dia itu komisaris? Wah...berita aktual. Tak kusangka gadis konyol yang biasa suka melawan kamu itu gadis tajir. Pantas dia angkuh ternyata punya latar belakang mumpuni."
"Begitulah hidup! Orang yang kita anggap biasa ternyata luar biasa. Maka itu kita tak perlu sombong dan selalu pikir jalan ke kiri. Gina mampu namun di tetap menginjak kaki di bumi tanpa gunakan alas emas. Sekali lagi kau pesan pada keluarga Luna agar hapus semua mimpi mau masuk dalam hidup aku. Aku sudah tak ingin berhubungan dengan mereka. Dengar nama mereka saja aku jijik apalagi harus dekat."
Kevin mendengar helaan nafas Peter. Peter mungkin ikutan sesak Kevin telah ambil keputusan tak mau ada keluarga papanya berada di sekitar dia. Andai Peter ngotot mungkin Kevin akan curiga apa tujuan Peter paksa dia terima wanita tua sisaan orang.
"Baiklah! Kamu yang hati-hati. Tetaplah minta bantuan Gina karena anak itu mampu menjaga kamu!"
"Itu kamu tak usah kuatir. Aku akan jaga diri."
"Ok...tinggal dulu. Selamat malam."
"Malam..." Kevin menutup ponsel lantas melihat ke arah Gina yang bersandar santai di dinding tembok sambil peluk tangan.
Gina mengerakkan badan berjalan ke arah suaminya untuk cari tahu mengapa Kevin gusar pada orang yang telepon. Kevin mengikuti gerakan Gina sampai gadis muda itu duduk nyaman di sofa. Sikap Gina cuek bebek membuat Kevin gemas ingin gigit hidung mungil gadis itu. Gimana rasanya? Asin atau manis kena keringat gadis itu.
__ADS_1
Secara tak sadar mata Kevin tertuju pad hidung yang sedikit berkeringat perlihatkan adanya kemilau air. Sadar hidung jadi tontonan gratis sang suami secara reflek Gina meraba hidungnya.
"Hidungku dihinggapi nyamuk?"