JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Berdamai


__ADS_3

Gina dan Jay menyusul dengan tenang. Sikap wibawa Gina pantas dapat acung jempol. Kalau dia jadi pemimpin tak ad yang ragukan kemampuan dia. Gina memang terlahir sebagai pemimpin mereka. Jay selalu tenang bila bersama Gina. Jay tak malu akui kehebatan Gina walau dia seorang wanita.


Ketiganya berjalan menuju ke ruang rawat inap Subrata. Gina tak bisa cairkan hubungan darah yang kental. Sejelek apapun Subrata tetap saja mendapat secuil perhatian Gina walau dia letakkan di atas dendam. Sudah begini sedikit demi sedikit dendam Gina mulai luntur. Apalagi kalau dia tahu Angela sudah kehilangan segalanya. Hati Gina akan makin damai. Waktu itu Gina telah berdamai dengan keegoisan sendiri.


Gina mengiringi kedua cowok itu sampai di depan kamar rawat Subrata. Gina tak segera ketok pintu melainkan mengatur nafas agar tidak tumpuk rasa benci pada Subrata saat ini. Dia harus pandai atur emosi agar tidak naik darah lihat laki itu.


"Kita bertapa nyari wangsit dulu baru boleh masuk?" tanya Gani tetap tak tinggalkan sifat konyolnya.


Jay tersenyum geli melihat Gani sempat-sempatnya bergurau sebelum naik tensi darah.


Gina mendelik paksa Gani tutup mulut. Gani tahu sudah colek sisi emosi Gina. Gadis ini tentu saja berusaha mengatur diri sendiri agar tetap cool walau jumpa musuh. Tak tahu berapa banyak musuh dalam ruangan itu. Bisa jadi ada Angela dan Lucia. Bahkan lebih dari itu. Mungkin keluarga Subrata maupun keluarga Angela. Yang penting atur emosi supaya tak meledak di tempat penuh ketenangan ini.


Setelah yakin pada diri sendiri Gina mengulurkan tangan mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari dalam melainkan ada langkah ringan hampiri pintu dan pintu terbuka.


Lucia berdiri di dalam menatap tak suka pada kehadiran ketiga orang itu. Secara tak langsung ketiga orang ini ikut memberi sumbangan atas kehancuran keluarganya. Namun Lucia tak bisa menolak bila ada niat baik Gani dan Gina jenguk Subrata. Gimanapun keduanya adalah anak Subrata. Lucia tak boleh egois larang mereka jenguk papa mereka.


Lucia geser badan ke samping beri ruang pada kedua saudara tirinya pindahkan tubuh ke dalam. Raut wajah Lucia tak tampak senang lihat keduanya datang terutama pada Gina yang sekarang telah merebut laki pujaan dia. Kevin sudah akui kalau Gina telah dia nikahi. Tak ada peluang buat Lucia masuk dalam hidup Kevin lagi kecuali tak ada Gina di dunia ini.


Subrata senang bukan main lihat kedua putranya sudah datang jenguk dia. Subrata tak perlu kaji kalau keduanya tulus jenguk dia atau hanya karena kemanusiaan. Yang penting mereka sudah datang. Sedikit banyak mereka telah tunjukkan kalau dendam di hati mereka perlahan sirna.


"Sudah datang nak?" Subrata duluan menyapa tahu kalau keduanya takkan buka mulut duluan.


"Iya pak." Gina sengaja tambahkan huruf k di belakang kata pa biar tidak terdengar akrab. Gina tetap ingin jaga ajark dengan Subrata. Setelah kejadian hari ini Gina resmi akan tutup buku tentang Subrata dan akan profesional sebagian rekanan bisnis saja.


"Gani...gimana kabarmu nak? Mengapa kau jarang muncul di hadapan papa?" kini Subrata beralih kepada anak laki satu-satunya sebagai pewaris sah Mahabarata. Tapi apa yang mau dia wariskan lagi karena Gina sudah duluan ambil langkah rebut semua pamor Subrata.


"Aku sibuk cari uang halal pak!" sahut Gani ntah menyindir siapa.


Subrata tersenyum pahit tahu kalau Gani dan Gina belum segampang itu maafkan dia. Dalam hati Subrata ingin tanay kabar Sarah namun pertanyaan itu dia telan dalam dada. Dia sudah tak punya hak urus hidup Saarh walau sekedar silaturahmi.


"Kerja yang baik. Suatu saat kau pasti akan tumbuh besar dan kuat. Maaf ya! Kalian terpaksa berdiri karena tak ada kursi di sini. Mungkin besok papa sudah bisa pulang."


"Apa bapak yakin sudah sehat? Harusnya istirahat dua tiga hari lagi sampai fit betul." sahut Gina cepat tak sangka Subrata ingin cepat tinggalkan rumah sakit. Walau benci Gina tak harap Subrata cepat mati. Laki ini harus lihat kalau anak yang dia campakkan akan berdiri di puncak kalahkan anak kesayangan yang pembohong.


"Papa tahu kondisi badan papa. Banyak sekali yang harus papa selesaikan. Tak mungkin juga tiduran tanpa kegiatan. Papa akan tambah sakit."


Gina tak membantah lagi serahkan semua keputusan kepada Subrata. Memang benar kata Subrata kalau dia lebih tahu kondisi kesehatan dia. Orang lain mana ngerti.


Suasana kaku masih warnai ruang rawat Subrata. Kayaknya tak ada topik yang cocok di hadirkan di situ. Apa yang harus mereka bahas sedangkan Subrata dalam kondisi kurang sehat. Lucia diam saja biarkan kedua saudara tirinya dekati papanya. Lucia juga berharap mereka bisa damai jadi tak ada dendam antara keluarga lagi. Semua bisa hidup tenang.

__ADS_1


Mata Gina mencari pemeran utama kekacauan ini. Tak ada tampak bayangan Angela di situ. Apa mungkin wanita itu belum tahu suaminya terkapar di rumah sakit saking asyik bercinta dengan berondong genit. Sungguh keterlaluan wanita itu bila lupa daratan sejauh ini.


Gina tutup mulut enggan bertanya walau dalam hati ada rasa penasaran mengapa wanita licik itu tak temani suami yang berada di antara hidup dan mati. Untunglah Subrata bisa selamat dari maut.


"Gin...aku mau bicara denganmu empat mata." suara Lucia memecahkan kebisuan yang dari tadi menyeruak di dalam kamar.


Gina mengangguk tidak keberatan. Cepat atau lambat mereka harus bicara dalam beberapa persoalan. Gina harus jelaskan pada Lucia kalau dia ikuti prosedur perusahaan ambil alih Mahabarata. Bukan karena dendam pribadi. Hanya saja Tuhan sedang berpihak pada Gina beri dia peluang ambil alih perusahaan besar itu.


Keduanya keluar diikuti tatapan mata ketiga laki dalam ruangan. Lucia duluan keluar diikuti oleh Gina. Tak ada rasa gentar sedikitpun hadapi Lucia. Gina banyak pegang kartu mati Lucia. Kalau wanita itu berani mengancam maka Gina akan tumpahkan semua kecurangan wanita ini sampai dia tak berkutik.


Lucia mengajak Gina ke tempat sepi di lorong dekat laboratorium kesehatan. Suasana sana agak sepi menunjang keduanya bicara tanpa takut ada yang dengar. Gina santai saja ikuti kemauan Lucia. Gina mau lihat apa yang akan dikatakan oleh wanita ini.


Lucia memutar badan menghadap Gina setelah mereka berhenti berjalan. Jelas sekali Lucia tak ingin bersahabat dengan Gina. Gina juga tak ingin punya hubungan dekat dengan Lucia kendatipun mereka masih satu darah.


"Kau jebak Kevin?"


Pertanyaan yang sudah ada dalam kamus Gina dari tadi. Tujuan utama Lucia tentu saja Kevin yang dia anggap sebagai pacar pilihan.


"Kau mau aku jujur?"


"Tentu saja...kenapa kau lakukan itu? Mau balas dendam padaku?"


"Untuk balas dendam padamu tak perlu gunakan cara kotor. Kevin yang kejar aku..."


Dada Lucia terasa sangat sesak Kevin kejar Gina. Gina orang baru dalam hidup Kevin namun laki ini menaruh perhatian seutuhnya. Dia yang telah dampingi Kevin bertahun hanya dapat serpihan perhatian laki itu. Ini sungguh tak adil buat Lucia.


"Apa hebatnya kamu sampai Kevin tergila-gila padamu? Kau pelet dia?"


Gina tak dapat tahan tawa di zaman ini masih ada yang percaya dengan segala perdukunan. Apa otak Lucia sudah tinggal sebelah sehingga tak bisa berpikir secara normal.


"Kau stress ya? Masih percaya pelet segalanya. Kenapa kau tak coba pelet dia dengan ajian paling ampuh? Macam saja kamu ini. Dengar ya nona Lucia...ada satu hal dalam diri Kevin yang tak kau ketahui! Hanya orang punya hati bisa lihat apa kekurangan Kevin."


"Apa maksudmu?" Lucia dilanda rasa penasaran kelas tinggi pingin tahu kekurangan Kevin. Di mata Lucia Kevin adalah laki paling sempurna.


"Apakah kau pernah lihat dia dekat wanita?"


Lucia memutar otak kaji ulang omongan Gina. Mengapa Lucia tak perhatikan kalau di sekeliling Kevin hampir tak ada wanita. Hanya dia satunya sampai muncul Gina. Bahkan asisten saja cowok tak seperti bos besar lain punya sekretaris cantik juga asisten aduhai. Sekeliling Kevin hanya ada cowok. Itu tak bisa Lucia pungkiri.


"Kevin tak suka wanita? Lalu kamu ini???" Lucia bingung untuk memilah persoalan Kevin. Perkataan Gina telah mengetuk kepalanya untuk review semua jalan hidup Kevin.

__ADS_1


"Kevin bukan gay...dia suka wanita tapi keadaan paksa dia harus lupakan semua wanita walaupun cantik."


"Lalu kamu ini apa? Cowok nyamar jadi cewek?" tukas Lucia jengkel pada Gina pikir dia orang bodoh. Jelas Kevin bisa dekat dengan Gina berarti semua ini karangan Gina agar dia jauhi Kevin. Lucia takkan menyerah rebut Kevin kembali ke tangan.


"Aku tak mau tutupi penyakit Kevin supaya kamu tak seperti orang gila kejar suami orang. Kevin punya trauma terhadap wanita gara ibu tirinya rebut papanya lalu menyebabkan ibunya bunuh diri. Kevin tak bisa sentuh wanita karena trauma berat masih melekat pada jiwanya." kata Gina tegas agar Lucia percaya.


Lucia tertegun sejenak memikirkan omongan Gina. Untuk sejenak Lucia termakan omongan Gina karena semua yang dikatakan Gina memang sudah dianlihat dengan mata kepala sendiri. Kevin memang tak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Tapi kepala Lucia berputar balik kalau orang di depannya juga wanita mengapa bisa hidup bersama Kevin. Lucia anggap Gina pembohong besar sedang bodohi anak kecil. Gina pikir Lucia anak kemarin mudah termakan omong kosong Gina.


"Gin...kau berbakat jadi pengarang. Lalu kamu ini apa? Mengapa bisa gandengan dengan Kevin?"


Gina tak menyalahkan Lucia bila curiga dia sedang bersandiwara bohongi Lucia. Siapapun akan punya pikiran sama dengan Lucia bila telah lihat Gina dan Kevin saling bertautan.


"Kau ingat dulu aku masuk kerja sebagai Gino? Kevin bisa dekat dengan aku mungkin dia terbiasa sama Gino. Dia anggap aku bukan ancaman buatnya maka bisa terima aku. Semula aku juga tak tahu kalau Kevin punya penyakit jiwa gitu. Peter yang jelaskan semuanya. Kau peluk dia apa hasilnya? Dia trauma berat dan sekarang masih bersembunyi dalam kamar. Untuk apa aku bohong kalau fakta memang begitu. Kalaupun aku bisa rebut cinta Kevin, kau tak bisa miliki raganya. Dia tak bisa menyentuh kamu. Kau mau jalani hidup demikian sampai dia sembuh? Ntah apa dia sembuh."


Lucia kembali dibuat termenung oleh perkataan Gina. Perkataan Gina semakin masuk akal. Gina bukanlah orang yang suka bermain dengan kata-kata menyudutkan orang lain. Gina masih berbaik hati kepada Lucia agar tidak menanam bibit cinta di hati untuk Kevin. Makin banyak Lucia menebar bibit maka dia akan makin sakit.


"Gimana kondisinya sekarang?"


"Sudah lebih tenang namun belum mau jumpa orang luar. Semua orang punya masalah nona Lucia. Kau tahu bagaimana rumitnya hubungan kita namun kita bisa abaikan semuanya. Anggap saja kita ini hanya rekan bisnis tak punya hubungan keluarga. Itu lebih baik tak menyakiti siapapun. Sekarang kamu sudah paham mengapa selama ini Kevin menolak wanita. Semua terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku tak punya hak larang kamu harus percaya. Ada lagi yang mau kamu tanyakan? Kaki aku pegel lama berdiri." Gina mengayunkan kaki hilangkan rasa penat.


Lucia tak hiraukan gerakan Gina. Dia lebih tertarik pada masa lalu buruk Kevin. Lagi-lagi korban suami kurang ajar dan pelakor gatal. Berapa banyak laki model gitu di dunia ini? Punya keluarga baik-baik namun tetap pilih jalan ke kiri bikin hidup sengsara. Lucia sudah lihat akibat dari perbuatan Subrata dan kini muncul lagimkisah hampir sama cuma lain versi. Kevin lebih tragis karena ibunya meninggal.


"Gin..apa yang kau katakan itu benar?"


"Tak satupun yang bohong. Kau boleh selidiki sendiri. Lucunya sekarang papanya jatuh bangkrut mau numpang hidup pada Kevin. Ibu tirinya ngotot mau numpang hidup di rumah Kevin bawa anak kandungnya dan cucu. Paksa Kevin nikahi anaknya yang sudah janda kadaluarsa."


Lucia besarkan mata ikut gemas tingkah keluarga Kevin. Ternyata ada yang lebih menyebalkan dari mamanya. Mamanya sudah cukup bikin orang hendak cakar wajahnya kini hadir yang lebih sinting.


"Gila ya?"


Gina tersenyum tipis lihat Lucia sudah mulai percaya padanya. Lucia tidak pasang wajah tegang lagi malahan manyun karena kesal pada keluarga Kevin. Untuk sesaat Lucia melupakan persoalan mereka. Wanita ini lebih fokus pada kisah hidup lelaki pencuri cintanya.


"Kau saja anggap mereka gila apalagi aku yang lihat langsung tingkah mereka. Nona Lucia...aku tak pernah berniat membuat papa kamu sakit. Dan kalau kau merasa itu karena aku maka aku minta maaf." Gina berkata dengan nada rendah.


Lucia surprise Gina bersedia minta maaf. Biasanya gadis ini angkuh susah ditaklukkan. Apa jiwa welasnya telah tumbuh sehingga ada rasa bersalah.


"Nona apa? Aku ini kakak kamu walau kau tak mau ngaku. Papa sakit bukan karena kamu melainkan mama." kata Lucia jujur tak mau tutupi fakta. Di sini Gina akui sisi baik Lucia tidak egois kambing hitamkan dia.


Gina sudah tahu cerita mengapa Subrata pingsan namun Gina pilih pura-pura tak tahu apa-apa. Ini menyangkut harga diri keluarga. Gina tak punya hak ikut campur walaupun sebagian telah masuk dalam rencana dia jebloskan Angela dalam kerangkeng kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2