JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Makin Cerah


__ADS_3

"Ok...aku tak sabar ingin lihat Subrata cepat sehat. Kau pergi jenguk dia bersama Gani! Abaikan Angela. Soal Lucia kau sudah tahu sifatnya. Dia itu tak berani berbuat sesuatu yang jahat padamu. Aku kenal dia tak jahat walau manja."


"Nantilah tunggu Gani pulang. Dia kan lagi naikkan derajat biar bisa duduk di kursi CEO."


"Kalau Gani keluar dari perusahaan mungkin aku kehilangan tangan kanan handal. Tapi dia punya hak untuk menjadi lebih baik. Apa rencana kamu terhadap Gani?"


Gina meluruskan pandangan ke luar jendela saksikan arakan Mega di langit membentuk gumpalan putih seperti kapas. Tak ada bentuk yang sesuai dengan imajinasi Gina membentuk satu bayangan khayalan. Gina sendiri menaruh harapan besar pada Gani namun laki gemulai itu terlalu santai hadapi tantangan global. Gina ragu apa Gani mampu kendalikan perusahaan. Tapi Gina tak mungkin tak angkat derajat Gani walau kemampuan masih perlu dikaji ulang.


"Abang harus bimbing untuk jadi pemimpin baik seperti Abang. Aku sendiri termasuk newbie di bidang ini maka tak banyak beri masukan."


Kevin melingkarkan tangan ke bahu Gina tanpa jaga jarak lagi. Sejujurnya Kevin sudah tak sabar ingin bawa Gina ke dalam rengkuhan secara utuh. Namun kejadian bertubi-tubi membuat Kevin harus menelan kekecewaan. Kata sakti Sabar masih harus dia sematkan dalam dada.


"Kita bimbing bersama-sama. Gani pasti bisa. Sekarang saja doa mulai tampak lebih wibawa. Sekarang lebih kamu mandi. Ada sedikit bau asam di bawah lenganmu!" Kevin menurunkan kepala mengendus bawah lengan Gina dengan tampang serius seolah di situ sumber bau asam.


Gina latah ikutan menurunkan kepala cium bau tak sedap seperti tuduhan Kevin. Tak ada bau asam selain bau keringat. Itupun memancarkan aroma harum berkat deodorant canggih masa kini.


Kevin tertawa renyah telah buat Gina terpancing. Padahal Kevin hanya bercanda cari perhatian Gina. Kevin suka kalau wajah Gina tidak tegang seperti biasanya. Hidup Gina hanya dipenuhi kekerasan. Kini satu persatu duri dalam daging dicabut. Gina takkan merasa sakit lagi.


Sadar sedang dikerjain oleh sang suami Gina langsung layangkan kepalan tangan ke punggung Kevin. Pukulan sayang berulang mendera tubuh Kevin. Kevin biarkan Gina lampiaskan rasa jengkel sampai puas. Rasanya bahagia bisa bercanda tak perlu ingat keruwetan masalah mereka.


Sekali gerakan Kevin berhasil menangkap Gina lalu tahan tubuh gadis ini di ranjang. Kevin mengunci kedua tangan Gina sehingga tak bisa bergerak lagi.


Keduanya saling bertatapan dalam posisi Kevin di atas Gina. Kedua kaki Kevin mengunci tubuh Gina membuat Gina pasrah. Harusnya Gina gampang lepaskan diri bila ingin bebas. Cara Kevin mengikat Gina sudah kuno. Seorang ahli bela diri macam Gina mana bisa ditaklukkan dengan mudah. Namun Gina memang tak berniat meloloskan diri daripada kukungan Kevin.


Lama keduanya saling menetap tanpa bersuara. Perlahan dan pasti kepala Kevin mulai menurun mencari sasaran yang tepat untuk melabuhkan bibirnya. Sasaran Kevin adalah bibir ranum Gina yang menantang minta dicium.


Kesempatan emas ini mungkin disia-siakan oleh Kevin. Kapan lagi dia bisa melakukan hubungan lebih intim dengan Gina kalau bukan saat ini. Tanpa peduli penolakan Gina Kevin terus melakukan apa seorang lelaki.


Gina memejamkan mata tak kalah benda lembut di muka Kevin menyentuh bibirnya yang ranum. Keduanya adalah sama-sama pemula dalam soal bercinta. Tak heran bila keduanya masih kaku melakukan ciuman perdana mereka.


Sekeliling terasa sangat hening selain ******* nafas mereka. ******* nafas Kevin ditambah hembusan nafas Gina yang lembut seakan menjadi alunan lagu acapella tanpa musik.


Cukup lama mereka berciuman sampai Dina kehabisan nafas barulah Kevin melepaskan istrinya itu. maunya Kevin lanjut ke jenjang yang lebih mesra namun mengingat kondisi Gina belum siap untuk melakukannya maka Kevin menyudahi kemesraan mereka.


Kevin tersenyum penuh kemenangan sementara itu Gina memalingkan wajah malu menatap mata Kevin yang bersinar terang. Ini adalah pengalaman yang sangat menakjubkan buat Kevin sebagai seorang lelaki yang trauma terhadap wanita.


"Terima kasih sayang.. aku sayang padamu!" bisik Kevin hanya bisa gombalan di bawah standard. Kevin belum pandai membubuhkan kalimat ingin petik bulan bintang persembahkan kepada Gina. Kevin bukanlah seorang playboy yang baik mengingat dia memang jarang interaksi dengan wanita.


"Aku mau mandi! Sebentar lagi magrib." kata Gina hindari semua kalimat intim yang bisa membuat dia luluh dan pasrah.


"Aku mandikan ya! Aku ini suami kamu lho!" olok Kevin berharap ada keajaiban diajak Gina mandi bareng.


"Kita cari ahli sambung tulang dulu ya! Kali aja ada yang bakal patah tulang belulang."


Kevin mengeringis sudah tahu bakal mendapat jawaban yang tidak menyenangkan. Kevin tak tahu kapan Gina akan menyerah kepadanya. Tanpa protes lagi Kevin mengangkat tubuhnya dari tubuh kita lalu melempar diri di samping istrinya itu.


Gina cepat-cepat meninggalkan tempat tidur sebelum Kevin berubah pikiran. Kalau Kevin menginginkan lebih Gina juga tidak akan menolak permintaan suaminya karena menyadari tugas seorang istri adalah melayani suami. Cuma Kevin tidak berusaha maka Gina pun tidak memaksa lebih lanjut.

__ADS_1


Sebelum maghrib Gani dan Jay pulang dengan wajah gembira. Entah perihal apa yang membuat kedua lajang ini begitu gembira ria. Gina dan Kevin yang sudah rapi duduk santai di ruang tamu ikutan gembira melihat wajah kedua lajang yang sumringah. Mereka tidak perlu tahu apa yang membuat keduanya gembira yang penting mereka happy.


"Wah.. nyonya bos cantik banget sore ini!" komentar Gani pangling melihat Gina memakai gaun model baby doll. Gina tampak sangat manis dengan pakaian rumahan seperti gadis muda umumnya. Tidak seperti biasa suka memakai celana panjang serta celana pancung dalam keseharian.


"Huuusss... nyonya cantik tiap hari kok! Gimana proses pelajaran nyetir? Siapa yang menjadi korban senggolan kamu?" kata Kevin cepat sebelum bad mood Gina bangkit.


"Bukan aku yang nyenggol tapi Jay. Dia serempet cewek di ujung rumah. Untung tidak apa-apa. Kami antar ke rumahnya dan disuguhi kopi senja yang manis banget! Namanya Moza.." cerita Gani cerita seakan bahagia kenalan sama cewek baru tetangga jauh.


"Keju dong! Mozarella..." timpal Gina usilin Jay dan Gani.


"Sembarangan.. nama lengkapnya Fermoza."


"Nama aneh...siapa di antara kalian yang hatinya berbunga?" tanya Gina menyelidiki ke arah mana dewa cupido menembakkan panah.


"Tuh Jay seperti kena setrum aliran listrik Watt tinggi! Tegang.. aku sih senang lebih senang ngobrol dengan Andara. Anaknya baik dan sopan. Nyambung kalau bicara. Ada klik gitu lho!" Gani mengeluarkan jari telunjuk klik di udara kosong. Gani belum bisa move on dari gaya ke banciannya.


"Andara bakal ambil langkah seribu kalau kamu masih begitu. Mana ada lelaki yang ngondek. Sana pergi mandi! Kau mau pergi jenguk Subrata?" Gina bertanya langsung pada Gani.


Gani kelihatan bimbang untuk menjawab pertanyaan Gina. Dari hati kecil Gani memang ingin mengunjungi Subrata walaupun lelaki itu pernah menoreh luka di dalam dada mereka. Namun mengingat semua yang dilakukan oleh Subrata membuat langkah Gani menjadi berat untuk mengunjunginya.


"Apa kita harus pergi?" Gani bukannya menjawab malah bertanya lagi.


"Terserah kamu! Aku tak ingin memaksa kamu bila kamu memang tak ingin pergi."


"Baik...aku pergi bila kamu pergi. Aku tak mau jadi kambing congek di situ. Dan lagi tak ada yang perlu aku bincangkan dengan keluarga itu."


"Yang suruh kamu berbincang siapa? Cukup kamu setor muka dan bawa sedikit buah tangan itu sudah mewakili hukum alam menghormati yang lebih tua."


Jay mengangguk tak punya ide. Jay sendiri memang tidak ada kegiatan di rumah Kevin maka ikut main bersama Gani tak ada salahnya.


"Deal...setelah isya kita cabut!" Gina terpaksa ikut karena ada keogahan di wajah Gani. Gina hanya mau Gani tahu bahwa orang telah hadirkan mereka di dunia telah takluk. Keangkuhan Subrata telah terkikis permanen.


Kevin bersyukur kedua saudara kembar itu buka hati untuk Subrata. Pertanyaan besar muncul di benak Kevin apa dia bisa seperti kedua saudara itu beri peluang pada bapaknya untuk kenal kata tobat. Apa Kevin sudah mampu lawan trauma di masa lalu.


"Aku pingin ke sana tapi belum siap jumpa Lucia." Kevin utarakan keberatan ke rumah sakit karena masih trauma terhadap Lucia.


"Abang di rumah saja. Kami takkan lama kok!"


Kevin mengangguk setuju tinggal di rumah tunggu Gina cs pulang. Dia juga bisa istirahat memulihkan semangat setelah lalui hati berat.


Ketiga anak muda berangkat setelah sholat Isya. Kevin di rumah jaga markas. Gina yang jadi supir untuk kedua itu. Gina merasa lebih aman nyetir sendiri walaupun supir sesungguhnya Jay. Biarlah malam ini Jay jadi majikan.


Gani dan Gina duduk berdampingan di depan sedang Jay duduk manis di jok belakang. Malam ini Jay yang jadi bos dikawal dua pengawal cantik dan ganteng. Derajat Jay naik selapis.


Kenderaan lain saling mendahului sisakan bayangan cahaya lampu. Tak ada suara klakson meminta mobil maju ke depan seperti di siang hari. Mobil berjalan santai membelah jalan yang kelam.


"Gin...aku mau lapor soal Sam dan Noah!" tiba-tiba Jay buka mulut.

__ADS_1


"Lanjut.."


"Semula keduanya rencana rayu Angela namun Angela telah duluan punya gacoan. Noah kenal cowok itu sebagai gigolo kelas atas dari negeri tetangga. Maka Sam ajak dia kerja sama jebak Angela."


"Lalu?"


"Tak perlu dijebak karena Angela memang pemain lama di dunia esek-esek. Sam hanya minta orang itu rekam semua kegiatan Angela dan laki itu lalu kirim ke Subrata gunakan ponsel Angela."


"Kau minta nomor ponsel Subrata untuk ini?"


"Rencana semula mau kami yang kirim namun laki itu tak mau tinggalkan jejak maka dia gunakan ponsel Angela kirim semua video dan foto ke Subrata."


Gina menahan nafas sudah ngerti mengapa Subrata mendadak anfal. Ternyata tidak ada sangku paut dengan peralihan perusahaan. Foto Angela yang buat Subrata kena serangan jantung.


"Laki itu mana?"


"Kabur ke luar negeri. Kami membayarnya dengan uangmu. Sam tagih motor baru janji kamu."


"Aku takkan ingkar janji. Apa Sam mau jadi tukang ojek?"


"Tidak...Sam minta kembali ke bengkel. Noah juga...mereka sumpah akan ubah kebiasaan buruk mereka. Mereka takkan mabukan lagi."


"Untuk apa janji? Aku mau lihat tindakan. Kamu hubungi Kupret awasi mereka! Dan satu lagi. Noah tak boleh geluti profesi sebagai gigolo lagi. Kalau dia langgar lagi tak ada kesempatan lagi." ujar Gina tegas seperti yang sudah-sudah.


Jay sudah faham sifat Gina yang cukup kejam terhadap orang bersalah. Sam dan Noah diusir dari bengkel gara-gara mabukan serta Noah geluti profesi tak halal sebagai pelacur pria. Gina yang sangat dekat dengan agama haramkan semua perbuatan yang dia anggap maksiat.


"Aku akan ingatkan mereka. Terima kasih sudah beri kesempatan pada mereka. Kalau kita biarkan mereka keliaran di jalan maka mereka akan makin rusak. Semoga saja mereka tidak sia-siakan kesempatan emas ini."


"Itu berpulang pada mereka. Aku hanya perantara. Yang bisa merubah kalian adalah diri sendiri." kata Gina sambil melirik Gani. Ucapan Gina ini juga untuk Gani biar laki ini mau merubah kelakuan yang menyimpang dari kodrat.


Gani pura-pura tak lihat lirikan tajam Gina. Gani bukan orang bodoh tak tahu apa arti lirikan Gina. Kalau mereka pacaran Gani bisa anggap itu lirikan cemburu. Ini Gina adiknya maka lirikan itu sebagai peringatan.


"Iya ngerti Gin... by the way aku wakili semua teman ucapkan terima kasih padamu. Kau telah angkat kami dari kepunahan."


"Emang kamu makhluk langka yang harus dilindungi takut punah? Kamu itu manusia bro! Jaga sikap biar ada tempat di masyarakat."


"Mulai dah ceramah gratis! Tak ada yang mau dengar nona monster. Paling juga nyamuk antrian minta isap darah." omel Gani sebelum Gina panjang terus buka semua dalil bikin kepala panas.


"Inilah manusia paling duluan kita kirim ke planet mars biar gabung sama Alien! Dibilang dikit langsung bantahan." ujar Gina agak kesal langsung injak gas tambah kecepatan mobil. Mobil meluncur bagai anak panah diluncurkan dari busur.


"Hei...nyawaku cuma satu! Tak ada asuransi pula." jerit Gani ketakutan dibawa terbang oleh Gina.


Jay masam-masam tak takut tahu keahlian Gina nyetir mobil. Anak bengkel paling berprestasi tentu saja kuasai yang namanya di roda empat.


Gina tutup kuping tak open jeritan Gani. Mobil tetap melaju kencang membelah jalan raya. Gina ekspresi kan rasa kecewa dengan hamburkan pada kecepatan mobil.


Tak butuh waktu lama mereka sudah berada di hamparan parkir rumah sakit. Kesibukan telah reda menyisakan ketenangan. Tak ada hiruk pikuk kenderaan keluar masuk. Kelihatannya pasien tak begitu banyak.

__ADS_1


Dengan cekatan Gina parkir mobil di tempat kosong berderetan dengan mobil lain. Begitu mobil telah tegak di lahan parkir barulah Gani dan Jay mengeluarkan nafas lancar. Hidung yang tersumbat kontan plong setelah diajak canda dengan maut oleh Gina.


"Kalau supir model gini dikasih gratis juga aku emoh. Belum punya keturunan nyawa sudah diajak tour ke neraka." sungut Gani lepaskan safety belt langsung keluar dari mobil. Gani tak sabar mau lemaskan otot saking tegangnya.


__ADS_2