JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Angkat Tangan


__ADS_3

Gina persilahkan Hartono duduk di kursi persis di depan meja kerja barunya. Wajah Hartono agak pucat karena keluguan Gina tak tampak lagi hiasi wajah imut itu. Gina juga beri sedikit syok terapi biar laki itu tahu Gina mengetahui semua kecurangan dia , Gina diam saja memperhatikan Hartono yang salah tingkah.


Hartono menunduk kalah lawan kharisma anak kemarin ini. Hartono pikir akan gampang setir Gina karena anak bawang. Ternyata bukan sembarangan bawang. Bawang kejam bikin air mata berhamburan.


"Well...ada penjelasan dari pak Hartono mengapa perusahaan merugi terus? Anda katakan pada bawahan perusahaan untung tapi fakta kami kehilangan dana cukup banyak. Mungkin pak Hartono mau nombok uang yang hilang itu? Aku sudah cek lapangan Pak Hartono hidup seperti sultan dari negeri ntah berantah sementara kami harus rogoh kocek tutupi semua kerugian." kata Gina setelah sekian lama berdiam diri.


Hartono mengusap peluh di kening tak tahu harus beri jawaban apa. Gina sudah selidik dia berarti anak ini sudah tahu semua gerakan di bawah tangan. Mau berkilah juga tak ada guna.


"Lalu apa maumu?"


Gina senang kalau Hartono tak bertele-tele ingkar semua yang telah dia lakukan. Persoalan akan lebih gampang ditangani bila ada itikat baik dari maling itu. Gina tak perlu susah payah melaporkan Hartono ke pihak berwajib lagi.


"Aku mau apa? Gampang...kembalikan semua dana yang telah kalian tilep dari perusahaan. Utuh sebanyak yang kalian curi. Aku punya catatan tentang dana yang kalian ambil."


"Bukan cuma aku saja bermain. Masih ada Mandala dan Putri. Kau harus kejar mereka juga." jawab Hartono mulai bernyanyi karena tak mau hanya dirinya yang terseret dalam kasus ini.


Gina tertawa sinis menanggapi jawaban Hartono. Gina mana mungkin membiarkan mereka-mereka yang telah mencuri hidup senang di luar sana. Gina pasti akan mengejar mereka sampai ke kuburan jika perlu.


"Itu tak perlu kau kuatirkan! Mereka pasti akan bayar semuanya. Aku kejar anda duluan karena bagian anda paling banyak. Aku beri waktu tiga hari untuk kembalikan dana yang jumlahnya triliunan."


"Tiga hari? Apa mungkin?" Hartono tampak bingung diminta bayar dalam tempo singkat. Dari mana uang segar segitu banyak bayar kerugian perusahaan.


Gina menggebrak meja keras sampai Hartono terkejut. Gadis di depannya bukan gadis imut dalam bayangannya. Waktu di ruang rapat Gina mulai perlihatkan kuku runcing siap cakar mangsa. Kukunya sungguh berbahaya.


"Anda hanya perlu waktu beberapa jam ambil uang perusahaan dan aku kasih tempo tiga hari anda merasa sangat singkat? Mau tawar kukatakan satu hari. Besok semuanya sudah harus ada di sini. Aku tak peduli dalam bentuk cash atau berupa benda mati. Kau punya rumah, villa, tanah dan perhiasan. Silahkan kau cairkan untuk tutupi semua itu. Istrimu kan lagi tour Eropa bersama berondong muda. Mungkin kau tak tahu kalau istrimu traktir dua berondong tour ke Eropa. Aku punya bukti kalau isteri anda selingkuh. Ini buktinya!"


Gina menyodorkan rekaman video seorang wanita seumuran Hartono sedang pelukan mesra dengan seorang pemuda dengan latar belakang kincir angin. Kincir angin adalah identik negeri Belanda. Kebetulan istrinya memang sedang liburan ke Belanda bersama teman satu geng. Tapi tak pernah cerita ada pemuda ikut ke sana.


Gina tertawa melihat wajah Hartono berubah pucat pasi. Kejutan datang bertubi-tubi menyebabkan Hartono terpukul. Belum selesai dengan perusahaan kini muncul pula adegan mesra sang istri dengan pemuda muda. Jantung Hartono mau copot rasanya. Hartono sakit hati ditipu oleh sang istri. Dia matian berjuang sampai tega mencuri demi hidup layak namun balasan dari sang istri menyakiti hati.


"Baik...aku akan kembalikan dana yang telah kuambil dalam tempo tiga hari. Semua akan kuberikan termasuk semua rumah dan aset lain. Cuma kumohon tinggalkan satu rumah untukku karena aku tak mungkin tak punya tempat tinggal. Aku tahu aset yang kuberikan takkan cukup untuk tutupi semuanya tapi aku janji akan bayar dengan tenagaku. Itu janjiku!" kata Hartono lesu tak mau berdebat dengan Gina lagi.


Sebenarnya Gina kasihan pada laki ini. Tapi dia tetap harus tanggung jawab apa yang telah dia lakukan. Laki ini cukup gentle berani berbuat dan bertanggung jawab. Untuk sementara Gina pilih percaya pada laki ini. Semoga Mandala dan Putri juga sama mau akui kesalahan dan kembalikan uang perusahaan.


"Ok...kutunggu niat baik anda. Sekarang tolong panggil Mandala dan Putri jumpai aku. Persoalan ini harus selesai sebelum opa kembali ke Jerman. Aku ini bukan nama orang penyabar yang bisa menunggu lebih lama karena pekerjaan aku bukan cuma ini."

__ADS_1


"Nona Gina kuharap jangan geser aku dari bangku CEO. Aku sudah petik pelajaran hari ini. Kelak takkan ada kejadian ini lagi."


"Aku punya pertimbangan. Anda silahkan kembali kerja dan jangan lupa laksanakan janji anda!"


Hartono mengangguk lesu. Baru kali ini jumpa gadis berhati baja. Kejam dan keras. Tak ada negosiasi dari Gina terhadap mereka kendati mereka sudah cukup lama berbakti di perusahaan. Gina tak ingat jasa mereka bangun perusahaan ini dari nol.


Gina mana mau tahu semua itu. Yang Gina tahu dia hanya sedang hukum maling. Yang lain-lain tak penting lagi.


Mandala dan Putri seperti tahu nasib mereka takkan lebih baik dari Hartono. Gadis imut yang mereka lihat di ruang rapat telah sirna berganti seorang wanita muda bertampang seram. Tak ada senyum manis terhias di wajah gadis itu lagi.


Gina tidak persilahkan kedua orang ini duduk seperti pada Hartono. Kedua orang ini jauh lebih muda dari Hartono maka belum pantas mendapat penghormatan bicara dengannya dalam posisi sejajar. Gina sedang beri pelajaran berharga pada kedua orang ini agar tahu mana boleh dilakukan dan mana haram.


Mandala menunduk sedangkan Putri masih santai merasa Gina tidak segarang yang dia bayangkan. Wajah lesu Hartono belum bisa waklili apa pun sebelum gadis ini mulai bicara.


"Ada yang ingin jelaskan soal dana perusahaan?" tanya Gina dingin.


"Dana apa? Bukankah kita ada pembukuan? Kita bisa cek langsung bagian keuangan." jawab Putri manis sekali.


"Oh...gitu ya! Aku cek anda sering lobi pelanggan lalu beri harga miring lalu minta panjar lalu uang panjar hilang. Ada penjelasan untuk ini? Kalian pikir opa aku itu yayasan tempat kalian mengemis uang? Kau Putri...semua dana yang masuk ke kantongmu hampir setengah triliun. Kau mau ngelak? Baik...kita jumpa di pengadilan. Semua yang ada di badanmu milik perusahaan termasuk hasil operasi plastik kamu. Suamimu piara gundik juga uang perusahaan. Asal kau tahu suamimu punya isteri muda. Mereka hidup mewah gunakan uang ahsil jarahan kamu." ucap Gina tak jaga muka Putri lagi.


"Jangan fitnah!"


"Fitnah??? Bukankah suamimu bilang sedang kembangkan usaha cafe di kota hujan? Dia di sana bersama gundiknya karena gundiknya mau lahiran. Yang dia sedang kembangkan manusia baru di bumi ini. Mau lihat bukti?"


Gina kembali buka ponsel tunjukkan seorang lelaki sedang gandeng seorang wanita hamil ke rumah sakit. Mereka tampak sangat mesra dan bahagia menanti kedatangan buah hati mereka. Putri buang muka tak mau lihat lebih jauh. Hatinya sakit sekali melihat suami berkhianat sementara dia matian berjuang demi kebahagiaan keluarga. Untunglah Putri belum punya anak dari suaminya itu.


"Kurang ajar..." desis Putri merasa tertekan oleh tayangan rekaman di ponsel Gina. Hatinya sungguh sakit dikhianati suami. Mereka menunda memiliki momongan demi mencapai karir lebih bagus. Siapa sangka dia memilih punya anak dari selingkuhan.


"Baik...aku kembalikan dana dari perusahaan termasuk cafe yang sedang dibangun. Kalian sita saja cafe itu. Cafe itu tercantum nama aku dan suami jadi aku beri wewenang pada perusahaan sita cafe itu. Yang lainnya aku minta tempo untuk kembalikan semua dana perusahaan."


Gina manggut-manggut setuju tak memaksa lagi. Sudah ada itikat baik merupakan jawaban terbaik yang diterima Gina. Putri menyerah tak mau berperang dengan Gina lagi. Buntutnya dia akan kalah bahkan akan masuk penjara. Putri pilih jalan pintas berdamai dengan Gina.


Kini tinggal Mandala yang cukup kaget melihat Gina punya data lengkap tentang mereka. Tak ada guna dia mengelak lagi. Ikut jejak Putri menyerah saja biar semua aman. Nama baiknya terselamatkan tinggal meminta pengampunan dari Gina. Dia masih bisa bekerja di situ walaupun akan berada di bawah pantauan Gina.


"Aku tak akan mengelak kesalahan aku. Aku akan bekerja sama kembalikan dana perusahaan. Beri aku sedikit waktu." kata Mandala sebelum dicerca Gina.

__ADS_1


"Tiga hari..tak lebih. Ingat aku punya catatan tentang kalian. Sekarang pergilah! Aku menunggu itikat baik kalian."


"Terimakasih nona Gina." Putri duluan permisi untuk tangisi nasib buruknya. Akan segera kehilangan segala-galanya termasuk suami yang berkhianat. Mungkin inilah karma buat orang yang suka berbuat curang. Putri curangi perusahaan sementara suaminya mencurangi dia di belakang layar. Inilah jawaban buat mereka yang suka berbuat dosa. Tuhan sudah turunkan Gina untuk bantu opa cari maling kondang yang hidup nyaman cukup lama.


Gina menarik nafas lega sudah ada sedikit cahaya terang di perusahaan. Ternyata menyiapkan semuanya akan gampang menekan mereka yang jahat. Semua pelajaran dari Pak Julio sangat berguna dipraktekkan di zaman ini. Pak Julio adalah senior yang pantas dijadikan panutan di dalam dunia bisnis. Gina bersyukur mendapat seorang paman yang sangat bijaksana dan memahami kondisi Gina.


Sekarang Gina harus ke tempat pak Julio untuk lapor semua perkembangan di kantor opanya. Gina masih butuh bimbingan pak Julio untuk memasuki dunia bisnis yang begitu rumit. Gina adalah pemain baru yang belum begitu memahami seluk beluk berbisnis. Pak Julio akan menjadi guru yang baik buat Gina maka itu Gina harus sering berhubungan dengan pamannya itu.


Gina memberi pesan kepada Dinda untuk menjaga kantor karena dia harus pergi sebentar. Dinda yang sudah mengetahui kalau bos barunya adalah gadis bertangan besi maka tidak berani membantah apa yang diminta oleh gadis itu. Dinda harus pandai mengambil hati Gina untuk bisa bertahan lebih lama di perusahaan ini. Dinda bukannya tidak pernah menerima hasil sogokan dari Hartono dan kedua rekannya walaupun hanya sekedar uang receh. Kalau ditelusuri lebih jauh Dinda juga akan terlibat dalam pembuatan ini walaupun hanya sekedar memberi tanda tangan kepada Pak Mul.


Gina berangkat ke kantor Pak Julio menggunakan taksi online karena dia belum memiliki kendaraan sendiri selain motor matic yang ada di rumah. Gina tidak tertarik sedikitpun untuk memiliki mobil karena akan menghambat gerakannya. Biarlah dia tetap menjadi Gina yang dulu tanpa embel-embel kemewahan.


Pak Julio tentu saja senang menerima kehadiran keponakan pintar. Pak Julio tak tahu kapan Gani bisa mengejar kepintaran Gina. Mereka saudara kembar namun cara bertindak mereka sangatlah jauh beda. Satu tegas dan satunya lagi lemah gemulai.


Gina menyalami pak Julio dengan takzim. Berkat bantuan pak Julio selidiki latar belakang ketiga maling itu semua cepat kelar. Yang penting mereka sudah akui semua kesalahan mereka dan berjanji akan kembalikan dana perusahaan.


Pak Julio tersenyum menerima Gina di kantornya. Gina diajak masuk ke dalam untuk bicara lebih lanjut. Suasana ruang kerja pak Julio tak berubah. Tetap adem ayem bikin betah.


Pak Julio meminta sekretaris sediakan minuman untuk Gina. Gadis ini belum sempat minum teh yang disuguhkan Dinda karena sibuk mengurus para maling di kantor tadi. sekarang Gina merasa lebih rileks untuk menikmati secangkir teh di kantor Pak Julio.


"Sudah selesai?" Pak Julio bertanya duluan.


"Untuk sementara ini boleh dibilang sudah ada penyelesaian. Mereka tak bisa ngelak karena aku punya bukti. Ternyata si kunyuk juga buat hutang di sana. Aku akan peras dia bayar dalam tempo seminggu. Belum lagi dari kantor bapak."


"Kantor sini? Emang dia telah buat apa?"


"Kantor bapak memesan barang dari dia namun barangnya belum dikirim. Bukan cuma sekali namun berkali-kali. Aku lihat catatan gudang tak pernah terima barang tersebut dan lagi kapal belum ada ganti barang yang diorder dari dia. Singkatnya dia gunakan uang bapak untuk berbisnis. Uang dari kantor bapak sudah kucur ke tempat dia namun barang tak ada. Tampaknya di kantor bapak ada juga tikus-tikus nakal yang menggerogoti uang bapak."


Kening pak Julio berkerut-kerut tak sangka ada juga masalah begini di kantornya. Pesan barang dari perusahaan Mahabarata tetapi barangnya tidak dikirim walaupun sudah dibayar. Tanpa dukungan orang dalam kejadian ini tak mungkin terjadi karena setiap order barang sudah terima barang baru bisa dilakukan transaksi pembayaran.


"Kau yakin?"


"Yakin pak. Aku cek daftar barang di gudang serta perbaikan kapal namun tetap nihil. Bapak silahkan telusuri kejadian ini. Ini sudah berlangsung ada empat orderan dalam partai besar. Yang kecil-kecil tak masalah tapi yang besar justru timbulkan kerugian tidak kecil. Bapak mulai dari orang kantor."


Pak Julio manggut-manggut agak marah pada pegawainya yang berani main belakang. Pak Julio mengira kantornya aman dari pengerat ternyata ada juga. Ini semua berkat dendam Gina pada Mahabarata. Tanpa penyelidikan Gina maka semuanya takkan terungkap.

__ADS_1


__ADS_2