
Kevin dan Peter tak bisa katakan apapun karena seorang asisten biasa bisa hasilkan karya sangat bagus walaupun bukan terbaik. Boleh dibilang cukup lumayan sebagai pemula di dunia perhiasan.
Kevin mengira Gina memiliki bakat terpendam di bidang ini. Lelaki ini tak tahu kalau Gina telah memiliki jam terbang cukup tinggi dalam hal mendesain perhiasan. Kevin tidak dapat menyembunyikan rasa kagum terhadap gadis ini yang boleh dibilang multi talenta.
"Hhhmmm... cukup menarik buat kawula muda!" kata Kevin menatap Gina. Gadis ini menarik perhatian orang.
"Rancangan ini memang untuk mereka yang memiliki jiwa muda dan kalem. Dia bening seperti danau menanti kehadiran bidadari untuk berteduh di tepi danau. Kita bisa design dua warna biru. Satu agak gelap dan lainnya biru terang. Yang gelap untuk mereka yang jiwanya matang sedang yang muda untuk mereka yang berdarah remaja." Gina memapar detail designnya dengan jelas agar kedua lelaki itu paham isi hatinya.
"Sebenarnya apa pekerjaanmu yang utama? Kamu borong semua pekerjaan tanpa sisakan untuk orang lain. Aku ini jadi ragu kau ini cewek atau cowok." gurau Peter kalem goda Gina. Jujur Peter makin salut pada gadis ini. Kalau gadis ini bisa masak maka lengkap sudah karya Tuhan yang sempurna. Gina ini paket lengkap.
"Apa mau datangi dinas kependudukan cek ulang jenis kelamin saya? Ku sarankan Bapak jangan buang waktu karena aku ini AC DC." sahut Gina jawab gurauan Peter.
"Kurasa itu tak perlu. Gimana kalau kuajak ke penghulu untuk buktikan kau ini jantan atau betina?" Peter lebih berani goda Gina. Syukur kalau gadis ini beri respon positif.
"Tak perlu bapak lakukan hal tak berguna. Aku ini amuba sel yang bisa membelah diri sendiri untuk berkembang biak." tukas Gina judes.
Ocehan Gina memancing tawa Peter sampai tergelak-gelak. Lain dengan Kevin kurang suka Peter terlalu berani kibar bendera merah tanda berani maju.
"Gina...design mu bagus! Akan kami pertimbangkan. Bila lolos kau akan dapat bonus. Sekarang kembali ke meja tugasmu!" Kevin meminta Gina pergi agar tidak lama bersama Peter. Peter itu pintar ngerayu cewek. Pacarnya berlusin. Takutnya Gina terperdaya oleh rayuan lelaki Playboy itu.
"Tiga kali lipat ya bos!" Gina acung jari ke atas ingatkan Kevin janji beri bonus lebih bila dia sukses gambar dalam tempo singkat.
"Cerewet...pergi sana!"
Gina melelet lidah mengejek Kevin sebelum tinggalkan ruang kantor Kevin. Peter lihat gerakan reflek Gina mengejek Kevin. Nyali anak ini gede melebihi gadis umumnya. Tak ada rasa takutnya pada bos.
Kevin menepuk dada dua kali kurangi rasa jengkel pada sifat slebor Gina. Gani yang cowok tidak seperti dia. Cewek satu ini terbuat dari apa? Gagal produk sang pencipta?
"Aku akan cepat ubanan bila kerja sama lebih lama." keluh Kevin pelan.
"Kirim dia ke kantorku saja. Aku malah senang dengar celetukan dia. Lucu.." pinta Peter.
Kevin menggeleng menolak. Dia sengaja ikat Gina karena butuh gadis itu untuk test kepekaan terhadap wanita. Gina bisa jadi obat untuk Kevin mencari kesembuhan.
"Aku butuh dia. Aku sudah hubungi dokter untuk ceritakan kondisiku bila bersama Gina. Malam ini aku akan ke sana untuk konsultasi."
Peter manggut-manggut memaklumi kondisi Kevin yang membutuhkan Dina saat ini. Semoga saja Gina bisa menjadi pembuka jalan bagi Kevin mencapai kesembuhan. Peter juga kasihan kepada Kevin yang cukup lama menderita.
"Iyalah! Aku cuma salut pada anak itu. Serba bisa. Orangnya sempurna tetapi kehidupannya cacat."
"Mana ada orang sempurna habis. Lucia ada kabar?"
Peter mengedik bahu tak tahu menahu tentang Lucia. Anak itu menghilang bak ditelan bumi. Tak ada kabar sama sekali tentang gadis itu. Sejak kejadian rumor tentang mamanya merebak di kalangan pebisnis dan sosialita Lucia dan keluarganya jarang tampil di umum.
Angela yang biasanya kecentilan sok kaya Kini harus mendekam di dalam rumah merenungi semua masa kelamnya. Kartu matinya telah dibuka oleh seseorang menguak sisi gelap hidupnya.
"Kurasa untuk sementara ini Lucia pasti tidak akan muncul. Siapapun akan syok mendapatkan serangan yang mendadak ini. Mungkin kita harus merekrut beberapa desainer baru untuk menggantikan Lucia."
Kevin merenungi perkataan Peter. Mereka harus merekrut desainer utama untuk menjaga jaga bila suatu saat Lucia tidak muncul lagi. Mereka memang telah memiliki beberapa orang desainer lain tetapi tidak berpengalaman Lucia. Lucia telah menghasilkan beberapa desain yang sangat digemari oleh para wanita.
Peter dan Kevin tidak tahu kalau itu bukan rancangan Lucia melainkan rancangan Gina. Mereka hanya tahu Lucia memiliki keahlian mendesain perhiasan yang sangat indah.
"Kita sudah punya calon kuat. Kita harus menyelidiki anak itu lebih jauh karena aku merasa anak itu menyimpan sesuatu dari kita. Sewaktu aku mengeluarkan rancangan Lucia dia langsung memberi tanggapan positif dan memberi penjelasan lebih akurat dari Lucia. Itu tandanya dia memiliki bakat terpendam."
__ADS_1
"Berikan CV anak itu! Aku akan selidiki latar belakang dia!"
"CV? Rasanya dia tak pernah memberikan data tentang dirinya."
Peter memajukan mulut kecewa Kevin sembarangan memasukkan orang dalam perusahaan tanpa tahu latar belakang pendidikan.
"Lalu kau mau apakan anak tanpa status?"
"Bukankah dia itu adik Gani? Kita yang tolol dibodohi dua bocah tengil. Seharusnya dari awal kita sudah bisa menduga antara nama Gani dan Gino. Parahnya Gino itu hany karangan mereka. Kalau ingat itu ingin sekali kujitak kepala Gani."
"Jitak saja! Kujamin kamu akan kehilangan kedua bocah itu dalam waktu bersamaan. Mereka itu saudara kembar yang memiliki perasaan sehati."
Kevin melemah ingat dia butuh Gina saat ini. Dia membutuhkan Gina bukan hanya untuk pengobatan melainkan keahlian Gadis itu mendesain gambar. Hasil gambar Gina jauh lebih bagus daripada gambar Lucia. Gina bisa menampilkan gambar 3 dimensi seolah-olah perhiasan itu memang sudah dibuat oleh pabrik.
"Kita bersabar dulu. Aku butuh dia sekarang. Apa aku bawa langsung pada dr. Sulastri?"
"Harusnya memang gitu. Cobalah kau bujuk dia! Apa kau sudah cerita sekilas tentang penyakit kamu?"
Kevin mengangguk. Dia pernah jujur pada Gina tentang kekurangan dia bila berhadapan dengan wanita. Ntah gadis itu punya rasa iba tidak terhadap bos. Ada atau tidak Kevin harus mencoba.
Tengah hari sebelum Gina pulang Kevin kembali memanggilnya. Kevin ingin memastikan Kalau Gina bersedia menemaninya menemui dokter.
Gina kelihatannya sudah tidak sabar ini segera meninggalkan kantor. Entah apa yang sedang dikejar oleh Gadis itu sehingga tergesa-gesa membereskan meja kerjanya. Kevin tak tahu kalau Gina sudah berjanji akan segera pulang untuk menemui Pak Julio yang akan datang menjemput mobil CJ nya.
Gina tak berdaya harus temui Kevin sebelum angkat kaki dari kantor. Gina masih punya etika hormati atasan walaupun terpaksa.
Gina sudah menyandang tas ransel di belakang punggung beri kode dia tak sabar ingin kabur. Gina tetap masuk ke ruang kerja Kevin cari tahu tugas apa akan di berikan bos padanya.
Gina menanti Kevin buka mulut dengan hati tak sabar. Kevin masih santai pakai gaya kura-kura jemuran di pantai sedangkan Gina sudah pasang gaya kuda perkasa melesat jauh.
"Oh kau Gina! Nanti siap magrib kamu datang ke rumahku."
"Ngapain pak? Tidak baik seorang gadis datang ke rumah cowok. Apalagi cowoknya belum mempunyai keluarga." sanggah Gina menolak diajak ke rumah Kevin malam hari.
"Pikir apa kamu? Kamu pikir aku laki mesum? Aku mau ajak kamu jumpai dokter pribadi aku."
"Oh...kirain!!!" Gina menarik nafas lega terbebas dari hal negatif.
"Dasar otak kancil! Pikiran kotor melulu di pikiranmu. Kutunggu setelah magrib."
"Baik pak! Telepon ya ingatkan karena aku ini ada penyakit pikun. Suka lupa janji."
"Iya...Sekarang kau pulang langsung ke rumah! Jangan ngelayapan!"
"Emang kucing liar suka ngelayapan lupa waktu pulang. Permisi.." omel Gina sambil menyeret langkah jauhi ruang kerja Kevin.
Kevin tersenyum harus biasakan diri dengan celetukan Gina. Benar kata Peter kalau Gina itu lucu. Mulutnya tak bisa direm mengeluarkan ocehan bikin perut kram.
Gina turun ke bawah diiringi pandangan mata iri dan dengki pegawai lain. Gina wanita pertama dekat dengan Kevin. Dapat jadwal kerja setengah hari pula. Asal suara adzan sudah kumandang Gina akan segera pergi. Pokoknya Gina jadi pegawai paling istimewa. Siapa tak iri pada nasib gadis ini.
Gina segera ke bengkel sesuai janji dengan Pak Julio. Pak Julio akan datang lihat keadaan mobilnya yang ditangani oleh Gina. Pak Julio sangat sibuk sehingga tidak sempat lihat perbaikan mobilnya sejak di derek ke bengkel Om Sabri.
Berhubung Gina sudah kasih kabar kalau mobilnya sudah hidup maka mau tak mau pak Julio harus luangkan waktu lihat kondisi mobil.
__ADS_1
Gina mengejar waktu agar bisa jumpa dengan lelaki baik itu. Pak Julio sudah percaya pada Gina maka sewajarnya Gina balas kepercayaan Pak Julio dia kali lipat.
Gina tak sempat pulang ke rumah lagi karena takut tak jumpa Pak Julio. Pak Julio wanti-wanti Gina harus berada di bengkel bila dia datang.
Untunglah Pak Julio belum datang sewaktu Gina sampai di bengkel. Semua pekerja sedang istirahat makan siang karena memang waktunya istirahat. Hanya ada satu montir duduk santai minum kopi sendirian.
Pak Kadir laki yang baru saja menduda karena ceraikan isteri yang ketahuan berselingkuh dengan adik sendiri. Tragedi pak Kadir lebih menyayat hati isteri berselingkuh dengan adik di mana dia banting tulang untuk nafkahi istri. Di rumah isteri main bantingan dengan adik kandung. Siapa tak naik darah? Kalau Gina di posisi itu mungkin isteri dan adiknya sudah jadi kerupuk bonyok. Tinggal remah-remah kerupuk.
Jaman sudah edan. Berzina berselingkuh jadi trend terkini. Berita pasangan berselingkuh sudah tak asing lagi. Baru saja dengar ada isteri atau suami main gila nanti tersiar di sudut lain ada pasangan ketangkap sedang main kuda-kudaan di hotel. Penyakit baru saingi covid yang sudah reda.
"Pak Kadir...sudah makan?" sapa Gina berusaha ciptakan suasana ceria.
"Sudah kenyang makan hati."
"Sehat dong!" gurau Gina hendak menghibur Pak Kadir.
"Kebanyakan jadi kolesterol. Takutnya kena stroke." Pak Kadir menyentik puntung rokok ke lantai.
Gina melirik ke lantai yang dipenuhi segunung puntung rokok. Ntah berapa batang rokok bersentuhan dengan bibir jelek pak Kadir. Pasti rokok menyala setara dengan rel kereta api. Panjang tanpa ujung.
Gina meletakkan ransel di atas meja bersih barulah duduk di samping lelaki yang sedang frustasi itu.
"Pak...aku tahu kisah bapak memang menyedihkan! Tapi bagiku itu malah berkah. Bapak bisa kenali wajah asli istri bapak. Dari pada bapak ditipu seumur hidup lebih baik tahu dini. Pak Kadir masih muda bisa dapat ganti sepuluh kali lebih baik dari yang mantan."
Pak Kadir mendengus tak percaya hiburan Gina. Masa segitu gampang cari pengganti di saat hati masih dipenuhi kebencian. Rasanya pak Kadir hilang rasa percaya diri untuk segera cari pengganti isteri. Biarlah dia menyembuhkan luka mendalam sampai batas waktu tak ada limit.
"Kau tahu apa? Kau tahu betapa pedih hati ini lihat dengan mata kepala sendiri mereka di ranjang aku."
"Pak...kau lihat ibuku! Dia juga dicurangi suami. Sakit hati ibu bisa kurasakan. Sekarang ibu telah menemukan cinta sejati. Dia telah bahagia. Suatu saat pak Kadir juga akan dapat isteri jauh lebih baik dari sampah. Percaya padaku! Aku bisa meramal."
"Ramal kepalamu! Semoga apa yang kamu bilang terjadi padaku."
"Selalu ada keajaiban. Hidup kita ini penuh misteri. Oya...anak pak Kadir sama siapa?"
"Kutitip sama ibuku di desa. Kasihan dia jadi korban."
"Kalau pak Kadir sudah ada ganti nanti kita jemput dia. Ok?" Gina menepuk bahu Pak Kadir beri semangat jangan menyerah pada keadaan.
"Terima kasih anak muda! Kau memang anak baik. Bantu aku cari pasangan baru ya! Tak perlu cantik yang penting tak punya penyakit genit."
"Aku saja pak! Aku tak genit tapi kalau suami aku gatel. Habis ku rujak. Kuaduk-aduk dengan cabe, merica, kunyit, jahe, lengkuas."
"Kepedasan jadinya. Aku tak mau deh! Cari yang lain saja. Kamu mengerikan." Pak Kadir kontan tolak candaan Gina. Pak Kadir tahu Gina hanya bercanda. Mana mungkin gadis secantik Gina mau sama duda hampir empat puluhan.
Gina tertawa renyah penuhi seluruh bengkel. Tawanya saja tak ada manis-manisnya. Kasar seperti seorang cowok.
Baru saja mereka selesai canda masuklah satu mobil mewah. Kilauan cat mobil memancarkan cahaya kena sinar mentari. Tak usah tebak siapapun tahu itu mobil mahal. Mobil itu berhenti persis di depan Gina dan pak Kadir.
Gina menanti orang kaya mana datang bertandang ke bengkel mereka. Mau cari Om Sabri atau mau perbaiki mobil.
Dari pintu belakang keluar sepasang sepatu hitam bersih berkilat. Mata Gina ikuti gerak sepatu sampai tubuh orang itu berdiri tegak di depan Gina.
"Pak Julio." seru Gina girang. Tamu yang dia tunggu sudah datang bawa mobil super mahal.
__ADS_1
Pak Julio tertegun melihat Gina dalam bentuk lain. Tak ada Gino si pria cantik, yang ada seorang gadis manis dengan rambut ekor kuda.