JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pulang


__ADS_3

Derita Kevin baru berakhir setelah berada dalam kamar. Laki ini langsung masuk kamar mandi tumpahkan isi perut. Rasanya Kevin sudah tak bisa sampai ke kamar mandi lagi untuk tuangkan rasa mual. Kondisi Kevin sangat buruk bila sudah interaksi dengan wanita.


Gina terpana saksikan bos saudaranya muntah-muntah dalam kamar mandi. Gina betul tak sangka Kevin yang gagah ada sisi lemahnya. Apa yang sedang terjadi pada laki itu.


Gina terpaksa ikut masuk kamar mandi abaikan rasa segan. Ini bukan saatnya perhitungkan untung rugi sebagai seorang gadis. Nyawa orang lebih penting untuk diselamatkan.


"Pak...kau tak apa?" Gina kaget lihat Kevin sangat pucat bersandar pada dinding kamar mandi.


Gina memapah Kevin untuk dibaringkan di atas ranjang. Keringat Kevin masih belum berhenti mengalir membuat pakaian laki itu basah.


Gina membuka pakaian Kevin yang basah lantas bungkus tubuh laki itu dengan selimut tebal. Gina cari kain untuk lap keringat di kening Kevin. Hati Gina tak henti bertanya apa yang sedang terjadi pada laki ini. Mengapa kondisinya mendadak drop sampai begitu fatal.


"Ambil obat dalam tas aku!" kata Kevin dengan suara lemah.


"Oh..." Gina segera laksanakan permintaan Kevin tanpa menunda. Gadis ini mencari obat yang dimaksud Kevin dalam tas tangan laki itu.


Gina telah memegang dua botol obat. Gina tak tahu yang mana akan dikonsumsi oleh Kevin. Jalan terbaik adalah berikan obat itu pada Kevin agar dia yang tentukan mana harus diminum.


"Ini pak! Yang mana obatnya?" Gina bawa duanya pada Kevin.


"Duanya!"


Gina keluarkan dua butir pil berbentuk bulat lalu berikan pada Kevin. Kevin berusaha bangun untuk minum obat. Otomatis selimut yang tutupi badannya terjatuh bikin mata Gina terbelalak kaget.


Gimana tidak kaget karena tubuh Kevin penuh ruam merah. Bercak-bercak merah seperti kena campak. Gina tak bisa bayangkan rasa panas dan gatal di tubuh laki itu.


"Ambil air minum!" Kevin minta air setelah telan kedua butir obat.


"Oh..." Gina seperti orang tolol tak bisa baca situasi. Orang minum obat tak dikasih air minum. Apa obatnya bisa lari masuk ke dalam kerongkongan tanpa bantuan air?


Gina hanya bisa melihat derita Kevin dengan prihatin. Dia bisa apa ringankan derita Kevin.


Kevin rebahkan badan di tempat tidur lalu pejamkan mata tenangkan diri. Perlahan nafas laki itu mulai teratur berkat obat yang dia konsumsi.


Gina tak berani usik Kevin biarkan laki itu istirahat. Gina menunggu Kevin di sofa tanpa lakukan apapun. Paling melamun keanehan Kevin mendadak berubah buruk sepulang dari presentasi. Kalau di kampung sudah dibilang kena santet. Sakit mendadak selaku dihubungkan dengan hal mistis.


Gina ketiduran sendiri karena capek tunggu Kevin menenangkan diri. Udara dingin dalam kamar membuai Gina makin lelap dalam tidur. Nikmat sekali bisa tidur di siang bolong.


Tak terasa waktu terus berjalan sehingga sore. Harusnya mereka sudah berangkat kembali ke kota J namun berhubung Kevin mendadak kolaps maka terpaksa ditunda. Orang kaya kehilangan tiket pesawat bukan masalah. Beda dengan mereka yang cari hari ini hanya untuk hari ini. Uang seribu terasa sangat berharga.


Kevin duluan terbangun merasa lebih baik sedikit. Tubuhnya masih gatal-gatal namun perasaan terasa sudah jauh lebih tenang dibanding tadi.


Kevin perlahan bangun lihat situasi kamar. Yang pertama dia cari adalah asistennya. Kevin merasa membutuhkan Gina dibandingkan Gani. Bersama Gina kondisi Kevin cepat membaik. Tak perlu tunggu beberapa hari baru kembali normal.


Kevin kenakan pakaian sebelum dekati Gina. Hawa dingin masih terasa di kulit walaupun tak sedingin tadi.


Kevin melihat satu sosok tertidur dalam posisi meringkuk di sofa. Ini kedua kali Kevin lihat Gina tidur seperti anak marmut imut bergulung melawan hawa dingin.


Wajah Gina begitu imut tak seperti wajah anak laki. Kadang Kevin berprasangka kalau Gina itu anak cewek, bukan anak cowok dalam bayangan.


Kevin tersenyum sendiri bayangkan kalau Gina itu cewek. Dia bisa bebas bersentuhan dengan wanita tanpa kumat penyakit alerginya. Sayang itu hanya angan kosong. Dalam cerita Gina itu cowok cantik.


Kevin melirik jam tangan. Sudah pukul empat jelang sore. Apa masih ada pesawat untuk balik ke kota? Kevin menyesal telah lengah terhadap Lucia. Gadis itu pasti akan lebih agresif kejar Kevin karena telah dapat tanggapan baik dari Kevin.

__ADS_1


Kevin cari ponselnya teleponi stafnya untuk cari tiket berangkat malam ini. Kevin tak mau ambil resiko bersama Lucia lebih lama lagi. Bahaya mengintai setiap saat.


Untunglah masih ada tiket untuk pulang pesawat jam tujuh malam. Harga tiket lebih miring pula. Kevin segera berberes tanpa bangunkan Gina. Kevin sudah akui Gina lebih baik dari Gani. Otaknya lebih licin dari Gani. Punya inisiatif untuk lebih maju. Cuma ada kekurangan Gina adalah angkuh kurang mau diskusi dengan orang lain. Sedikit gegabah dalam tindakan.


Pukul lima Kevin bangunkan Gina untuk segera bersiap berangkat. Mereka cuma punya waktu dua jam untuk bersiap berangkat ke bandara. Kalau tidak mereka bisa terlambat. Kevin tidak kuatir pada Lucia karena gadis bisa urus diri sendiri beda dengan Gina yang jarang gunakan pesawat.


"Gino...Gino..." Kevin mengguncang pundak Gina agar kembali ke alam nyata setelah tidur cukup lama. Bahkan lewatkan waktu makan siang.


Gina menguap merentangkan tangan melepaskan otot kaku karena tidur tidak pada tempatnya. Tidur tidak pada tempatnya namun sangat nyenyak sampai tak tahu bos sudah duluan bangun.


Gina tak sadar diperhatikan Kevin lakukan gerakan meregangkan otot. Gina lupa dia sedang bersama siapa. Seenaknya bikin gerakan memancing reaksi kelakian Kevin.


Kevin sendiri buang muka takut terpesona oleh keluguan Gina. Kevin bisa gila anggap diri sendiri punya kelainan jiwa senang pada anak laki ganteng.


"Pak Kevin..." Gina meloncat bangun ingat tadi Kevin dalam keadaan kurang sehat. "Sudah enakan pak?"


"Hmmm...cepat beres! Kita harus kejar waktu ke bandara. Kita pulang sekarang."


"Bapak yakin bisa pulang? Merah-merahnya sudah hilang?"


"Aku baik saja. Kuharap kejadian hari ini tidak tersiar di luar." kata Kevin menekan.


"Siap pak! Aku akan bersiap." Gina lari ke kamar mandi untuk cuci muka biar tidak sisakan muka bantal kelas berat. Kali saja ada sisa Iker di sudut bibir akan buat Gina seperti orang bodoh ileran.


Begini Gina tampak imut dan lucu. Sikap ini tak jauh beda dengan Gani kalau lagi muncul sifat manjanya. Ternyata kedua anak itu sebelas dua belas.


Secepat kilat Gina bersiap. Kini mereka sudah siap cek out dari hotel. Kevin meminta Gina ketok pintu kamar Lucia untuk minta wanita itu ikut pulang.


Berkali Gina ketok tak ada jawaban. Tampaknya Lucia posisinya sedang tidak berada dalam kamar hotel. Ntah ke mana perginya gadis itu.


"Tapi dia anak gadis mana boleh sendirian di hotel."


"Itu kalau gadisnya kamu. Lucia sering keluar masuk hotel. Datang ke hotel bukan hal tabu bagi dia. Nanti kita kabari dia setelah di bandara." selesai berkata Kevin ayun langkah pergi jauhi kamar Lucia nginap.


Gina tak bisa berbuat apa-apa lagi. Walaupun tak suka pada Lucia tapi Gina tak tega lihat Lucia kebingungan sendirian di hotel. Seorang anak gadis sendirian di hotel apa aman?


Gina menyeret bagasi Kevin dan tas dia turun sampai ke lantai dasar. Kevin urus biaya hotel barulah cari Ucok untuk berangkat ke bandara K N. Kevin diam saja tanpa ekspresi lupa bahwa masih ada orang tertinggal di hotel.


Gina masih kepikiran pada Lucia. Gimana reaksi wanita itu ditinggal tanpa kabar. Sungguh memalukan diabaikan oleh lelaki yang dia puja. Salah Lucia mengapa meletakkan cinta pada tempat salah. Kevin boleh ganteng dan macho cuma bukan tempat nyaman untuk labuhkan cinta.


"Pak ..kurasa lebih baik bapak kasih tahu Lucia kita sudah pergi. Kasihan dia menunggu bapak." ujar Gina melirik Kevin.


"Dia jahat padamu tapi kamu masih ingat padanya."


"Aduh pak! Dia itu orangnya mau diangkat setinggi langit. Aku tak punya waktu layani orang tak punya kreativitas model itu."


"Kau cepat belajar. Kau bisa lanjut kerja padaku kalau kau suka."


"Kurasa tidak...aku ini kurang suka basa basi sok alim. Aku ini pekerja kasar. Kalau bukan karena si bebek aku tak mau masuk kantor."


"Bebek? Siapa bebek?" Kevin heran tiba-tiba muncul tokoh baru di antara mereka.


"Oh maaf! Maksudku Gani..."

__ADS_1


"Kau panggil dia bebek? Apa mulutnya tidak ngomel sepanjang hari diejek seperti bebek?"


"Oh dia senang kok dipanggil bebek. Suka malah."


Kevin kok tambah pusing mikirin keajaiban dua manusia di sekitar dia. Satu cantik tapi kasar dan satunya ganteng tapi lembut. Tuhan sudah salah bikin cetakan.


"Pak...jangan lupa Lucia!"


"Kau saja telepon gunakan ponsel yang ada padamu! Mulai saat ini kau bertanggung jawab pegang ponsel itu. Jawab setiap telepon masuk!" sahut Kevin ringan seolah Lucia itu tak ada dalam catatan hariannya.


"Tapi dia itu kan pacar bapak?"


"Kalau kau suka ambil saja! Gratis.."


"Ogah ..cewek modal mahal! Aku telepon ya! Aku tak tanggung jawab bila dia marah lho!"


"Terserah!"


Gina mengeluarkan ponsel yang dititipkan Kevin padanya. Gadis ini mencari nomor Lucia lantas klik nomor tersebut.


"Halo assalamualaikum..." sapa Gina sopan.


"Kenapa kamu yang telepon Cong? Mana mas Kevin?"


"Pak Kevin mendadak sariawan maka meminta aku menelepon kamu. Aku hanya ingin paparkan bahwa kami dalam perjalanan menuju ke bandara. Tadi kami ada mengetuk pintu kamarmu tapi tidak ada jawaban maka kami berangkat duluan."


"What? Kalian gila ya meninggalkan aku sendirian di hotel? Aku hanya pergi ke salon sebentar untuk cuci rambut dan berdandan. Mana Mas Kevin aku ingin bicara."


Gina menyadarkan ponsel kepada Kevin karena Lucia meminta bicara dengan lelaki itu. Kevin bukanya menerima ponsel itu malah mendelik pada Gina yang dianggap bodoh. Sudah dibilang dia tak mau bicara dengan wanita itu malah menyuruhnya menerima ponsel bicara dengan Lucia.


"Maaf nona Lucifer...pak Kevin lagi kumuran tak bisa bicara. Nona bisa nyusul ke bandara bila mau ikut pulang."


"Aku Lucia bukan Lucifer. Aku masih di salon bagaimana bisa nyusul ke bandara. Kalian yang harus cancel tak boleh berangkat. Katakan pada mas Kevin untuk tunda keberangkatan sampai besok! Aku sudah memesan makanan di restoran untuk malam ini. Kalian segera balik ke hotel. Soal kerugian tiket biar aku yang membayarnya."


"Nona...Kurasa pak Kevin tak bisa menunda keberangkatan karena besok pagi masih ada pekerjaan harus dilakukan. Kami minta maaf untuk semua ini. Ku sarankan Nona hati-hati sendirian berada di hotel. Jangan sembarangan membuka pintu untuk orang tak dikenal. Assalamualaikum."


Gina malas debat kusir dengan Lucia pilih tutup ponsel tak beri kesempatan pada Lucia menjawab. Ngomong sampai bibir berbusa belum tentu didengar nona kaya itu. Mending simpan energi agar cepat sampai di rumah.


Kevin bersyukur Gina tegas pada Lucia. Tampaknya dia harus rayu Gina untuk lanjut kerja padanya. Gina jauh lebih berguna dari Gani. Sudah pintar tegas pula. Kevin akan pikir cara agar Gina berubah pikiran mau bekerja untuknya. Paling tidak Kevin harus menunggu Gani pulang dari Korea baru bisa membicarakan hal ini.


Malam itu juga keduanya berangkat dengan penerbangan malam. Mereka berdua harus bersabar selama dua jam dalam pesawat untuk kembali ke rumah masing-masing.


Kevin langsung pulang ke rumahnya begitu juga Gina. Gina sudah tak sabar ingin segera pulang jumpa dengan ibunda tercinta. Dua hari berpisah datangkan rindu segunung.


Gina tak mau merepotkan Kevin pilih pulang dengan taksi online. Bawaan Gina juga tak banyak hanya tas dan oleh-oleh dari pak Julio. Gina orangnya nyentrik dan sederhana tidak mau bikin hidup ribet dengan merepotkan diri segudang bawaan. Makin simple makin bagus.


Rumah Gina sudah sepi sewaktu Gina tiba di rumah. Sudah hampir jam sebelas malam. Kehadiran Gina di rumah disambut rangkuman angin dingin gigit tulang. Tampaknya akan segera turun hujan lebat. Untunglah mereka sudah mendarat.


Sebenarnya Gina tak tega ketok pintu karena hal ini pasti akan ganggu tidur ibunya. Bu Sarah harus bangun pagi sekali untuk masak jualan besok. Tapi Gina tak mungkin tidur di luar rumah. Gina bisa tahan dingin tapi tak tahan pada pesawat kecil pengisap darah alias nyamuk..


Tangan kasar Gina mendarat juga di pintu gedor perlahan untuk bangunkan ibunya. Bu Sarah kalau tidur memang suka lupa daratan. Susah banget dibangunkan.


Berkali gedor tak ada jawaban buat Gina putus asa. Tampaknya Gina harus bersabar tidur di teras depan sampai pagi. Sangat menyiksa namun harus ditahan karena punya ibu tidur model beruang kutub. Sudah tidur susah dibangunkan.

__ADS_1


Gina hempaskan diri di kursi rotan usang di depan rumahnya. Malam ini akan jadi malam penuh drama sedih. Capek dari pulau Sumatera akhirnya terdampar di teras rumah tanpa kunci. Mau nangis bukan gaya Gina jadi anak cengeng. Paling bersabar hingga pagi.


Keheningan malam terpecah oleh bunyi ponsel jelek Gina. Gadis ini keluarkan ponsel lihat siapa kurang kerjaan mengusik kekesalannya.


__ADS_2