
Kevin sendiri tak kalah gelisah karena takut Gina akan menolak tidak bersama lagi. Kalau Gina memilih tidur di kamar tamu maka Kevin akan kehilangan muka di hadapan si bibik.
Pasangan suami istri saling berperang dalam batin sendiri. Keduanya saling melirik tak berani kemukakan isi hati. Kalau saja mereka mau saling komunikasi mungkin semua akan lebih mudah. Sayang Gina orangnya agak angkuh tak mau perlihatkan kekurangan sendiri.
Untunglah bibik mengantar minuman untuk menemani pasangan suami istri yang bertapa dalam kebisuan itu. Ruang tamu yang dingin makin terasa membeku karena kedua pasangan itu saling berdiam diri. Bibik merasakan ada yang tidak beres di antara kedua orang ini. mereka pasangan suami istri namun tidak saling bertegur sapa seperti pasangan pengantin baru lainnya.
Biasanya pasangan pengantin baru akan saling memberi kemesraan untuk menunjukkan bahwa mereka saling mencintai. Kedua pasangan ini sangat beda dengan pasangan umumnya. Keduanya bersikap sangat kaku seolah ada jurang membentang di antara mereka.
"Hari mulai malam. Pergilah istirahat!" kata Bibik pengertian. Mungkin keduanya masih malu-malu kucing maka itu bibik membuka jalan buat mereka untuk segera beristirahat di peraduan.
"Bentar lagi bik. Ini masih sore kok. Aku belum ngantuk." tukas Gina melirik Kevin. Gina mau tahu apa reaksi Kevin di suruh segera istirahat.
Kevin mengangguk mengiyakan omongan Gina. Kevin persis kerbau dicocok lubang hidung. Manut saja apa yang dikatakan oleh Gina.
"Bawa saja minuman ini ke kamar. Bibik sudah atur kamar kalian sebagusnya walau tidak seindah kamar pengantin lain. Bibik mau kalian lihat karya bibik dan Mai." Bibik berkata langsung angkat cangkir kembali ke nampan untuk di antarkan ke kamar pasangan ini.
Gina tersipu malu harus segera masuk ke kamar Kevin. Dulu dia pernah tidur di situ dalam Kondisi darurat. Kini telah berubah. Gina telah menjadi salah satu pemilik kamar itu.
"Iya bik! Kami akan segera ke sana. Terima kasih sudah memanjakan kami." Kevin bangkit menanti reaksi Gina. Jantung Kevin berdetak kencang menunggu jawaban atas keinginan dia untuk masuk kamar. Moments ini seperti menanti kereta menuju ke jurang tak kasat mata. Jurang tapi tak tampak di mata.
Gina menimbang sambil melirik bibik yang menunggu Gina menjawab. Bibik tahu ada masalah antara dua anak muda ini. Mereka sudah menikah tapi tetap seperti orang asing. Bibik sengaja menunggu biar Gina gugup lantas malu sendiri lalu menyerah. Ini skenario yang ada di benak bibik.
Gina menghela nafas kalah dari keteguhan si orang tua. Gadis ini segera bangkit ikut Kevin berdiri di antara sofa besar. Gadis ini belum ayunkan langkah ke arah kamar Kevin. Ntah apa yang ditunggu Gina. Maunya Kevin yang duluan melangkah barulah dia ikut dari belakang.
Gina malu kalau duluan dia melangkah karena seakan dia sangat menginginkan tidur di kamar itu. Padahal di dalam hati kalau bisa Gina ingin menghindari keinginan dengan Kevin.
Kevin memutar badan berjalan ke arah kamarnya diikuti bibit dari belakang membawa nampan berisi minuman. Gina terpaksa ikut juga Karena Kevin sudah duluan melangkah. Mereka seperti rombongan berjalan ke arah kamar mencari sesuatu.
Secara diam-diam sang bibik tersenyum melihat kedua anak muda ini masuk ke dalam kamar dengan gaya malu-malu kucing. Dari sini bibik bisa menilai kalau keduanya belum melaksanakan ritual malam pengantin. Bibik tahu kalau Kevin takut pada wanita. Gina adalah satu-satunya wanita paling dekat dengan Kevin. Untunglah Gina bersedia dinikahi oleh Kevin. Kalau tidak laki ini melajang seumur hidup.
Bibik meletakkan minuman di atas meja bufet lantas mengundurkan diri dengan senyum penuh arti. Gina bergidik melihat senyum bibik seperti senyum nenek sihir hendak lakukan sesuatu pada mangsanya.
Kini tinggal pasangan ini tak tahu harus buat apa dalam kamar. Kevin pura-pura cari kesibukan dengan menyetel televisi sedang Gina duduk di tepi ranjang mencuci mata kamar Kevin. Tak ada yang berubah selain seprei tampak baru diganti. Masih tercium harum segar.
Kevin mengambil baju dari lemari lantas masuk kamar mandi. Kevin tidak ajak Gina bicara saking gugupnya akan tidur seranjang lagi dengan Gina. Kevin berharap ada mukjizat antar Gina ke pelukan. Kevin juga ingin rasanya kenikmatan duniawi antar dua insan beda jenis kelamin.
Gina melirik Kevin yang menghilang di kamar mandi. Mau apa laki itu dalam kamar mandi. Jangan bilang mau mandi lagi saking panas berduaan dengan istri. Apa Kevin akan menuntut haknya sebagai suami? Gina makin galau memikirkan itu. Jujur Gina belum siap lepaskan gelar perawan tingting. Dia telah berjanji sebelum misinya tuntas dia takkan takluk pada lelaki.
Kevin keluar dari kamar mandi telah ganti pakaian tidur. Baju kaos ketat dengan celana panjang model training. Dada Kevin yang bebas lemak tercetak jelas membuat Gina menelan air ludah terpancing oleh daya tarik suami. Malam ini Kevin tampak lebih ganteng dari biasanya.
Namun Gina menepis bayangan Kevin biar dia tidak terperangkap dalam pesona yang tak seharusnya hadir di saat ini. Gina menutup mata menyingkirkan sosok yang sedang cari panggung di hati Gina.
"Ambil baju tidurmu. Kulihat bajumu sudah disusun bibik dalam lemari." Kevin membuka komunikasi perdana setelah berduaan dalam kamar.
__ADS_1
Gina geser pantat dari kasur mewah Kevin berjalan ke arah lemari yang barusan dibuka Kevin. Dari luar tak tampak seperti lemari. Dari luar seperti dinding berhias kotak-kotak hitam putih. Harus lihat lebih dekat baru tahu kalau itu lemari tersembunyi.
Kevin sudah buka maka tahu itu bukan hanya sekedar dinding bergambar melainkan lemari. Gina membuka dengan cara geser ke samping sepertinya g barusan dilakukan Kevin. Gina memang orang sederhana tapi tidak bodoh.
Pakaian Gina sudah tersusun rapi di samping pakaian Kevin. Kerja bibik sungguh telaten langsung tanggap kalau majikannya telah berpasangan.
Tanpa berkata apa-apa Gina mengambil baju piyama warna abu-abu campur putih bergambar buku dan pensil. Menurut Kevin selera Gina sangat payah. Baju tidur anak gadis maunya sedikit semarak dengan gambar bunga maupun kupu-kupu cantik. Ini malah pilih alat tulis. Selera yang sangat buruk.
Gina masuk kamar mandi memberi waktu pada Kevin mengatur nafas biar tidak sesak mendapat durian runtuh malam ini. Akan kah dia belah duren membuka lembaran baru menjadi pria sejati.
Di saat Kevin sedang melamun tiba-tiba ponsel Gina yang berada di atas kasur menjerit meminta perhatian. Kevin melirik layar ponsel lihat siapa yang telepon. Kevin bukannya curiga Gina selingkuh di ponsel namun gemas ada orang ganggu kemesraan dia dan Gina.
Kevin lihat yang tertera di layar ponsel adalah nama Jay. Kevin tidak perlu cemburu pada asistennya itu. Dia tak masuk buku kamus Gina. Kalau Gina suka padanya mereka sudah pasti pacaran dari dulu. Tak perlu tunggu sampai harus selingkuh.
"Gin...ada Jay telepon!" seru Kevin.
Gina pasti mendengar dengan jelas karena jarak kamar mandi tak jauh. Semoga saja suara kran air tak kalahkan suara Kevin. Gina muncul juga sudah ganti pakaian tidur. Gerakan Gina angka kaku seakan Kevin telah rebut ruang gerak gadis ini. Tatapan mata Kevin tajam menusuk hati padahal itu hanya perasaan Gina. Justru Kevin sedang menatap lembut pada Gina.
Gina meraih ponsel lalu berdiri dekat jendela yang sudah tertutup rapat. Tak ada angin bisa terobos masuk telah terhalang oleh kaca tebal anti sinar matahari.
"Assalamualaikum...ada apa?"
"Waalaikumsalam...kok judes kesannya? Terganggu acara asyik?"
"Angela nginap di hotel mewah sendirian. Sam tanya mau diapain wanita itu?"
Gina terdiam memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk beri pelajaran berharga tak terlupakan seumur hidup Angela. Ini kesempatan bagus jatuhkan wanita itu. Seorang ibu rumah tangga kabur dari rumah nginap di hotel mewah bisa bawa bencana apa?
"Suruh Sam urus dia lalu jebak dia di ranjang. Shooting semua adegan ranjang dan kirim ke aku."
"Yee...kau mau Sam jadi gigolo? Sam mana bakat jadi gigolo? Wajahnya saja amburadul gitu. Aku akan atur waktu yang lain lakukan misi ini asal ada dananya! Pertama mereka harus sewa kamar hotel dan semua akomodasi nginap di sana. Pokoknya tak boleh ada cela Angela berpikir dia sedang dijebak. Kita mainkan peran kalau Sam cs tamu hotel juga. Ya harus tampak tajir gitu. Gimana?"
"Kau yakin bisa jalan?"
"Untukmu apa yang tidak? Tapi ingat dananya lumayan gede."
"Berapaan?"
"Limapuluh cukup!"
"Lima puluh ribu cukup?"
"Ya Tuhan...berilah hamba mu ini kesabaran hadapi monster pelit binti kikir. Lima puluh ribu cukup beli nasi bungkus nona. Sam dan Noah harus beli baju bagus biar tak maluin hotel mahal. Traktir Angela makan lagi. Bayar hotel lagi? Emang Sam tukang sulap bisa bayar pakai daun telinga."
__ADS_1
"Apa tidak terlalu boros? Seret dia keluar lalu cincang saja." geram Gina bikin Jay tersenyum kecut di seberang sana. Sudah jadi istri orang masih saja urakan. Semoga Kevin tabah punya bini kayak model Gina.
"Lalu kami ngaku kalau bosnya kamu! Oke? Kita masuk penjara berjemaah. Di sana kita bisa main ular tangga dan monopoli." sindir Jay bikin Gina menarik bibir ke atas bentuk senyum tipis.
"Baik..aku transfer sekarang juga. Aku tak mau ada kegagalan ya! Uang aku bukan uang gampang. Itu hasil keringat aku bergumul dengan oli."
"Iya bude monster...tunggu hasil dari kami saja! Sekarang tidurlah! Mimpi indah ya! Jangan ngingau ya! Ntar pak Kevin bonyok kena tendangan kamu! Assalamualaikum." Jay cepat-cepat matikan hubungan biar tak kena semprot Gina.
Gina tak sempat menjawab hubungan keburu putus. Gina memang mau marahi Jay yang terlalu konyol beri analisa hubungan dia dan Kevin.
Gina menekan sesuatu di ponsel lalu meletakkan ponsel diatas meja nakas. Gina tidak menggunakan password agar Kevin bisa lihat ponselnya setiap saat. Gina sengaja beri kebebasan pada Kevin untuk periksa ponselnya untuk hindari rasa curiga. Gina mau Kevin juga berbuat hal sama tak bikin kata sandi untuk buka teleponnya.
"Ada apa Gin?" tanya Kevin setelah melihat Gina meletakkan ponsel.
"Jay beri kabar kalau istri Subrata kabur dari rumah nginap di hotel." Gina sengaja tak bilang kalau mereka sedang susun rencana jatuhkan Angela. Gina tak mau Kevin merasa telah menikahi wanita kejam. Gina harus main cantik tidak tampak buruk di mata Kevin.
"Lalu kau mau apa?"
Gina mengedik bahu tanpa belum ada rencana. "Kita lihat nanti apa maunya wanita culas itu. Kurasa dia bertengkar dengan Subrata maka berani kabur."
"Biar Tuhan yang balas mereka yang jahat. Mari sini naik ke ranjang!" Kevin menepuk kasur di sampingnya pancing ikan masuk perangkap.
Gina tanpa sangat ragu mengikuti kemauan Kevin. Gadis ini mematung tak segera laksanakan permintaan Kevin. Sejuta keraguan masih tutupi mata hati gadis muda ini. Sekali dia naik ke tempat tidur Kevin maka dia akan terikat selamanya. Tak ada jalan mundur buat dia lagi. Tapi secara apapun dia adalah istri dari Kevin.
Kevin menanti apa mau Gina dengan sabar. Kevin sudah janji takkan memaksa Gina untuk tunduk padanya maka Kevin gunakan kesabaran kelas tinggi menunggu reaksi Gina.
Gina mengangkat langkah berjalan ke sisi tempat tidur satunya lagi. Gerakan Gina kaku seperti robot kena setelan berjalan ke arah yang sudah terprogram. Kevin pingin bersorak gembira namun ditahan biar tidak tampak lebay sangat senang Gina mau berbagi ranjang.
Gina duduk di tepi ranjang tidak segera berbaring. Hati kecil Gina melarang dia menyerahkan diri namun ini bertentangan dengan hukum agama. Istri pembangkang akan dilaknat oleh Tuhan. Jauhkan wanita pendosa dari pintu surga.
"Tidurlah! Aku tahu kamu jarang tidur malam. Selamat malam."
"Tapi ini baru pukul baru pukul delapan malam. Apa iya kita harus segera tidur?" kata Gina bergumam ntah pada siapa.
Kevin melirik jam digital di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Memang sangat cepat untuk segera mengayuh bahtera menyongsong mimpi. Paling tidak mereka bisa ngobrol dulu sekedar basa basi. Kevin tertawa kecil tidak menyalahkan Gina bila menolak diajak tidur.
"Ok..kita ngobrol. Katakan apa yang harus kuhindari biar rumah tangga kita aman sentosa." ujar Kevin memeluk tangan di dada memberi kesempatan pada Gina untuk bikin peraturan supaya bisa saling jaga.
Gina menyeret badan bersandar pada kepala tempat tidur merasa lebih rilex diajak ngobrol. Bukan harus tidur seperti permintaan Kevin. Kata tidur sangat seram buat Gina saat ini.
"Aku tak banyak minta hanya hargai diri kita sendiri. Jangan sempat muncul skandal memalukan. Kalau Abang sudah bosan bina rumah tangga denganku kita bisa ngobrol secara baik-baik. Tak perlu ada keributan."
"Maksudmu aku selingkuh lalu tinggalkan kamu? Semoga itu tak ada dalam rumah tangga kita. Berselingkuh tak ada dalam kamus aku. Itu sumber penyakit zaman now. Keluarga hancur hanya karena nafsu. Aku belum sebodoh itu menghancurkan apa yang sudah kuraih."
__ADS_1
Gina menangkap kesungguhan dalam bicara Kevin. Sekarang Gina boleh percaya pada Kevin tapi siapa tahu di kemudian hari munculnya celah kebosanan membuat Kevin ingin cari udara segar. Gina tak berharap hari itu datang namun siapa bisa prediksi masa depan.