JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gugup


__ADS_3

Kevin menyimak pembicaraan Gina dengan Pak Julio dengan cermat. Ternyata Gina memanggilnya pak di kantor untuk memisahkan hubungan pribadi dan hubungan kerja. Kevin puji jiwa profesional Gina tak mau campur aduk hubungan mereka biar lebih sehat. Kevin makin mengenal Gina sebagai sosok pribadi kuat.


"Kita langsung ke kantor saja bang! Pak Julio akan menyusul ke kantor saja."


Kevin terpaksa memutar kepala kendaraan yang telah mengarah ke rumah Pak Julio. Mereka berdua harus segera berangkat ke kantor untuk menunggu kehadiran Pak Julio dan Subrata. Kevin ingin melihat bagaimana cara Gina menangani masalah ini. Apa dia akan mengutamakan ke profesional atau mengutamakan dendam pribadi.


Wajah Gina sedikit tegang menuju ke detik-detik menghancurkan Subrata sampai ke akarnya. Inilah yang telah ditunggu Gina bertahun-tahun merebut kembali pamor ibunya. Mungkin hati Gina akan puas setelah melihat Subrata terpuruk sampai ke lantai.


Sekali-kali Kevin melirik ke arah Gina yang matanya fokus ke depan. Kevin dapat melihat dengan jelas kalau mata Gina agak kosong. Kevin tidak bisa menebak apa yang sedang ada di pikiran Gina. Mungkin saja Gina merasa bersalah telah menutup pintu rezeki Subrata namun di balik itu dia juga tidak bisa mengabaikan penderitaan ibunya.


"Are you ok sayang?" tanya Kevin agak kuatir Gina kelihatan syok sendiri.


Gina menoleh menatap Kevin lantas turunkan kepala bikin gerakan angguk. Gina boleh saja berkilah tak ada apa-apa namun pancaran mata tak bisa bohongi Kevin. Gina gelisah sendiri menuju detik-detik runtuhnya Mahabarata. Bisa jadi Gina sangat puas namun terselip rasa bersalah. Gina merupakan gadis yang berhati mulia namun keadaan memaksanya harus menjadi keras keras.


"Kamu tak perlu susah karena aku ada di belakang kamu. Apapun yang terjadi aku tetap mendukung kamu selama tidak keluar dari jalur harapan kamu."


"Terimakasih bang! Semoga saja semua berjalan lancar."


"Amin..."


Selanjutnya kedua irit suara. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Kevin hanya punya harapan melihat istrinya dalam keadaan baik-baik. Semoga setelah ini semua yang terpendam di dalam hati Gina bisa terangkat dan memulai hidup baru dengan tenang. Batu yang mengganjal di dalam hati Gina harus segera diangkat untuk memberi peluang gadis ini menjalani hidup normal. Tak perlu ingat semua masa lalu.


Gedung kantor Gina sudah berada di depan mata. Hari ini Kevin baru lihat secara langsung tempat kerja Gina. Gedungnya jauh lebih bagus daripada gedung kantornya. Dari gedung saja sudah menunjukkan kekuatan perusahaan ini. Kevin tak tahu seberapa besar perputaran keuangan di perusahaan ini. Yang pasti lebih besar daripada perusahaannya yang kini tidak ada apa-apanya dibanding dengan perusahaannya Gina.


Kevin menghentikan mobilnya persis di depan pintu masuk kantor Gina. Lama keduanya tidak bersuara hanya terdengar helaan nafas panjang Gina yang akan segera memulai pertempuran melawan ayah biologisnya. Kevin menyentuh tangan Gina untuk menyadarkan gadis ini kalau mereka sudah ada di depan pintu kantor.


Gina terhentak kaget disentuh Kevin secara tiba-tiba. Kepala gadis ini memutar ke arah Kevin sambil mengembangkan senyum hambar. Kesedihan bertahta di wajah cantik itu. Bibir yang biasa berona segar kini agak kusam tak berseri. Ini imbas dari rasa bersalah Kevin walau dendam menang lawan rasa iba.


"Kita turun ya!" ujar Kevin lembut ingin beri rasa nyaman pada Gina. Kali ini Kevin yang jadi obat buat Gina. Ini menunjukkan kalau mereka berdua saling melengkapi.


Gina melepaskan safety belt lantas mengusap wajah sambil mengucapkan kata Bismillah. Kevin mengambil tas kerja Gina yang nangkring manis di jok belakang. Lalu Kevin serahkan tas itu kepada Gina agar ikut masuk kantor. Kevin yakin dalam tas itu berisi dokumen penting untuk hajatan lawan Subrata. Dengan ragu Gina menerima tas itu.


Kevin merasa Gina mulai goyah untuk meremukkan Subrata. Mungkin rasa iba telah timbul di hati wanita muda ini. Kevin tak punya ide untuk memberi saran apa yang harus dia lakukan. Kalau Gina tak tuntaskan dendam maka seumur hidup dia tetap akan pendam kebencian. Gina lepaskan dendam yang jadi korban tentu saja Subrata.


Kevin serahkan kembali keputusan di tangan Gina. Dia hanya boleh mendukung tapi tak boleh masuk ke akar permasalahan. Kali ini Kevin menepuk bahu Gina agar tegar. Lebih baik maju ketimbang menyimpan dendam seumur hidup.


"Yok!!" Kevin mencabut kunci kontak mobil untuk ajak Gina keluar dari mobil.


"Parkiran dulu bang! Masak mobil mau halangi pintu masuk."


"Oh maaf! Kamu tegang Abang ikutan bingung. Kau turunlah biar Abang parkir mobil. Tunggu Abang ya biar kita masuk bersama."


Gina membuka pintu mobil menjejakkan kaki ke teras depan kantor. Langkah Gina sangat berat tapi itu tetap harus dia jalani. Begitu Gina turun dari mobil Kevin majukan mobil cari tempat parkir.


Baru saja Gina menginjak kaki ke lantai ponsel dalam saku celana Gina berbunyi minta perhatian. Gina mendecak kesal siapa pagi-pagi sudah telepon. Lagi-lagi nama Jay terpasang di layar ponsel.


"Assalamualaikum...ada apa? Kalian sudah ke kantor?"


"Waalaikumsalam...kok kayak Intel interogasi penjahat? Nanya satu-satu bos. Kami sudah di kantor nyonya bos. Sam minta no selular Subrata. Misinya hampir kelar."


"Kalian mau apa?"


"Kirim foto nyonya Subrata yang fotogenik ke Subrata. Ayok cepat! Mereka lagi tunggu tuh! Nanti aku akan kasih tahu semuanya."

__ADS_1


"Baiklah! Kalian yang hati-hati ya! Subrata itu bukan cacing biasa tapi ular berbisa."


"Sudah kami atur. Kamu terima beres saja."


"Ok..kalau kurang biaya kasih tahu ya!"


"Oh itu tak usah kamu ingatkan! Itu pasti kami tagih. Motor baru masih terbungkus kertas koran. Kirim sekarang."


"Ok... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..." Jay membalas salam Gina. Katanya preman namun sopannya minta ampun. Ini contoh preman beragama.


!


Gina segera mengirim permintaan Jay sebelum Kevin datang. Kevin tak boleh tahu apa yang sedang dia lakukan bersama Jay. Gina tak mau Kevin anggap dia sangat keji melakukan hal di luar batas. Gina harus keraskan hati selesaikan dendam lama. Dia tak boleh lemah walau apapun terjadi.


Baru saja Gina selesai kirim no kontak Subrata muncul Kevin berjalan ke arahnya dengan gagah. Sekilas dilihat Kevin tampak sehat tanpa ada trauma terhadap wanita. Dia tampak biasa bila tak ada yang usik wilayahnya.


Kevin beri Gina senyum lantas ulurkan tangan minta digandeng. Kevin mau pamer kalau wanita perkasa di kantor ini adalah miliknya. Ini dia lakukan untuk mematikan hasrat para cowok untuk dekati komisaris cantik itu.


Gina agak segan pamer kemesraan namun tak tega melihat Kevin kecewa. Gina terima juga tangan Kevin. Kini keduanya saling berpegangan tangan masuk kantor. Kesannya cukup norak pamer kemesraan di kantor. Keduanya melewati satpam yang memberikan anggukan hormat.


"Selamat pagi Bu..."


"Pagi...yang semangat ya!"


Satpam acung jempol terima motivasi dari Gina. Beberapa pegawai melirik pasangan yang baru masuk dengan heran. Angin apa bertiup pagi ini membawa bos mereka datang dengan lelaki ganteng. Mereka pasangan cocok dan serasi. Kalau ada anak kelak pasti cantik sekali.


"Selamat pagi Bu Gina..." sapa Denada gadis resepsionis. Gadis muda ini menebar senyum paling manis sambut bos muda mereka.


"Oh..pacar toh Bu..." Denada melirik penuh arti.


"Huuusss...kok pacar???? Punya lisensi halal lho!"


"Oh maaf...kirain masih pacaran. Selamat datang pak Kevin!" Denada tersadar kalau laki ini bukan sekedar pacar tapi suami majikannya. Suami di atas buku nikah doang. Belum ada pengesahan secara batin.


Kevin hanya tersenyum tidak umbar kalimat untuk tunjukan wibawa. Gina tidak biarkan Denada terlalu lama mengagumi laki ini. Cukup sekilas mata mungkin untuk menyegarkan retina mata gadis itu.


Gina menarik tangan Kevin untuk mencari lift baik ke ruang kerjanya. Kevin hanya bisa patuh karena tak tahu seluk beluk kantor ini. Daripada nyasar lebih baik ikuti semua gerak-gerik Gina. Di sini Kevin harus akui kharisma Gina.


Dinda sudah bersiap menyambut kehadiran sang majikan. Wanita ini langsung berdiri begitu Gina datang bersama lelaki ganteng. Gina melepaskan tangan Kevin karena sudah waktunya bertempur.


"Selamat pagi nona Gina..."


"Pagi... perkenalkan ini pak Kevin. Pak Kevin boleh masuk ke ruang kerja aku setiap saat." Gina hanya perkenalkan Kevin tanpa sebut status Kevin. Dinda tidak setia seperti Denada. Gina bisa menilai orang maka hanya beritahu sekedar saja.


"Iya nona.."


"Apa ada tamu?"


"Ada..pengacara yang dikirim oleh Pak Julio. Dia kusuruh tunggu di ruang rapat. Aku tak berani ijin dia masuk ruang kerja nona."


Gina mengangguk. Gina puji kejelian Dinda tak mudah percaya pada orang. Ini merupakan prestasi lumayan buat seorang sekretaris pengalaman.

__ADS_1


"Kasih tahu aku bila Subrata telah datang. Aku akan jumpa dia di ruang rapat."


Dinda mengangguk patuh. Gina segera ayunkan langkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Kevin menyusul tanpa berkata apa-apa. Jiwa pemimpin Gina makin mencuat di kala begini. Tegas bikin orang segan membantah. Kalau dibilang gadis ini mantan montir bengkel siapa percaya. Dia terlahir jadi pemimpin bukan pecundang.


Kevin mengitari seluruh ruang kerja yang luas lantas tertawa. Kevin merasa kecil sekali setelah lihat kondisi perusahaan yang dipimpin Gina. Gina masih hijau namun tugas di pundak sangat berat.


"Wah...wah...aku seperti semut jumpa gajah."


Gina meletakkan tas kerja lalu menarik Kevin untu duduk di kursi mewah miliknya. Gina tak tahu berapa harga kursi yang biasa di duduki sang opa. Bisa puluhan juta untuk tunjukkan kelas seorang komisaris.


Gina tersenyum manis perhatikan betapa cocoknya Kevin duduk ditempat ini. Kharisma Kevin melonjak tajam bikin dia makin ganteng.


"Abang saja duduk di situ. Aku duduk di kantor Abang saja. Kita ganti posisi." ujar Gina sambil menaikkan pantat di sudut meja. Gina duduk di atas meja dengan senyum menggoda. Situasi gini seakan Gina adalah wanita murahan sedang goda bos kantoran.


"Aku tak berani sayang. Nanti orang mengira aku cari kesempatan menipu gadis muda. Kau pantas duduk di sini. Kau harus yakin pada diri sendiri. Kau pasti bisa."


"Aku ragu pada kemampuan aku. Dunia aku bukan di bisnis. Tapi untunglah aku berhasil kembali kan uang kantor lumayan banyak. Sekarang aku tinggal cari kesalahan tiga pegawai koruptor itu agar mereka kena pecat. Kita pecat orang harus ada alasan tepat."


"Mereka korupsi apa tak cukup bukti untuk jerat mereka ke hukuman?" Kevin menepuk paha Gina menyadarkan gadis ini agar bangkitkan nyali memberi pelajaran pada mereka yang jahat.


"Aku tak tega melihat keluarga mereka ikutan hancur. Aku kan bijak tangani mereka."


"Katanya preman tapi hati Cinderella. Aku tahu kamu itu cuma keras di luar. Dalamnya lumer selembut salju."


Gina mendelik Kevin berani kritik dia blak-blakkan. Dasarnya Gina memang gitu. Keras tapi selalu tak tega pada orang selain keluarga Mahabarata. Kevin bukannya takut pada biji mata Gina yang membesar. Kevin malah tertawa kecil mengejek kelemahan Gina.


Belum sempat Gina menjawab tiba-tiba pintu diketok dari luar. Tanpa pikir panjang Gina langsung menjawab.


"Masuk!"


Dinda masuk dengan sopan sambil menunduk takut melihat pemandangan tak sedap dalam ruang kerja majikannya. Dinda pikir aku menemukan Gina dan Kevin lakukan hal tak sopan. Dalam otak Dinda pikir Kevin hanyalah lelaki ganteng manfaatkan kekayaan Gina cari hidup makmur.


"Sudah ada pak Subrata dan pak Julio. Mereka sudah ada di ruang rapat."


"Baiklah! Suguhi minuman...aku segera datang!" Gina turun dari meja sedikit gugup.


Dinda membalikkan badan meninggalkan ruang kerja Gina. Sementara itu Kevin menyadari kalau Gina sedang dilanda rasa gugup luar biasa. Inilah moments yang sudah ditunggu oleh Gina seumur hidupnya sekarang ini.


"Ayok Abang kawani! Semuanya akan membaik." Kevin menepuk bahu Gina berkali-kali supaya Gina tak dilanda dilema.


"Iya bang!" Gina meraih tas kerjanya untuk pergi bareng dengan Kevin ke ruang rapat.


"Biar Abang bawa." Kevin termasuk meraih tas di tangan Gina untuk meringankan beban gadis ini. Gina justru menolak karena ini akan menurunkan citra Kevin di mata pegawai lain seolah Kevin adalah anak buah Gina. Kevin adalah suami yang harus dia hormati.


"Tak usah bang. Yok!" Gina duluan berjalan ke depan busungkan dada hadapi kenyataan.


Kevin bukan lelaki cerewet yang selalu mengutamakan perasaan sendiri. Kevin menghormati semua keinginan kita selama itu tidak melanggar hukum.


Mereka melewati beberapa ruang kerja pegawai lain barulah tiba di ruang rapat berdinding kaca tebal. Dari luar mereka bisa melihat siapa saja dalam ruang itu. Yang pasti di dalam ada Pak Julio, Subrata dan dua orang lainnya. Gina menduga kalau kedua orang itu adalah pengacara suruhan Pak Julio.


Rasa gugup Gina sedikit berkurang karena hadirnya Pak Julio dan Kevin mendukungnya untuk meraih apa yang dia inginkan selama ini. dengan langkah pasti Gina dan Kevin masuk ke dalam ruang rapat itu langsung disambut tatapan mata tajam dari keempat lelaki yang di dalamnya.


"Assalamualaikum.." sapa Gina sebagai orang beradab.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." sahut pak Julio.


__ADS_2