
Untuk mencari jawaban Kevin bergerak membukakan pintu buat tamu yang datang menjenguk Gina. Kevin sengaja tidak memberi izin kepada orang itu takut orang yang datang sangat tidak diharapkan. Maka itu Kevin turun tangan sendiri menyambut tamu yang datang.
Begitu pintu terbuka dua sosok anak manusia terpapang di depan hidung Kevin. Secara reflek Kevin mundur memberi jalan kepada kedua orang itu untuk masuk ke dalam.
Gina terdiam tak beri reaksi melihat siapa yang datang. Tak pernah terpikir oleh Gina kalau Subrata dan Lucia datang untuk mengunjungi dia. Suka tak suka Subrata sudah ada di dekatnya. Gina tak mungkin mengusir laki tua itu seketika selain menerima dengan terpaksa.
Subrata banyak berubah. Rambut putih bertahta di kepala membuatnya tampak makin tua. Pesona seorang CEO yang digandrung cewek nakal telah pudar dari profil laki tua itu. Kini Subrata hanya seorang bapak tua umumnya tak punya wibawa seperti dulu.
Suasana kaku masih mewarnai ruang rawat Gina. Subrata tidak tahu harus memulai dari mana untuk bicara secara langsung dengan Gina. Subrata merasa malu terhadap Gina karena tak bisa melindungi anaknya dari serangan Angela. Semua tragedi ini berawal dari keserakahan dia ingin memiliki wanita sebanyak-banyaknya. Akhirnya korban satu persatu berjatuhan hanya karena didorong rasa egois.
Lucia yang menyadari keadaan seperti berada di kutub Utara segera bertindak dengan mendekati Gina lantas menyapa adik tirinya itu.
"Sudah enakan?" tanya Lucia memecahkan kebisuan.
Gina mengangguk tanpa melepaskan tatapan dari Subrata. Sebenarnya Gina merasa iba melihat keadaan Subrata yang telah berubah 180 derajat. Namun kenangan masa lalu menutupi rasa iba itu. Gina belum bisa berdamai dengan keadaan.
"Ayok duduk!" Kevin juga ikutan meramaikan suasana yang agak beku biar agak mencair.
Subrata dan Lucia menggeser badan ke sofa kecil yang diperuntukkan untuk tamu. Gerakan Subrata masih kaku karena merasa sangat malu kepada Gina. Subrata tak tahu dengan cara apa baru bisa dapatkan maaf dari anak kandung itu.
"Maaf di sini tak ada minuman! Maklumlah rumah sakit!" Kevin berbasa-basi melihat Gina dan Subrata hanya saling berpandangan. Bagaimana isi hati keduanya hanya mereka yang tahu. Dalam hati Subrata sudah pasti hanya penyesalan tak berujung.
"Kami tahu mas...kami hanya datang lihat keadaan Gina. Syukurlah sudah mulai pulih! Mungkin dalam waktu dekat pak Ardi akan datang untuk meminta keterangan." Di sini nada suara Lucia agak berubah. Jelas wanita ini terpukul kalau mamanya akan segera dapat hukuman setimpal.
Kalau boleh Lucia ingin sekali memohon Gina ringankan hukuman mamanya. Lucia tahu itu hal paling mustahil. Gina sangat benci kepada mamanya ditambah kejadian ini mana ada kata maaf lagi. Lucia tahu diri tak berani memohon. Pasrah itu kata yang dia sematkan dalam dada.
"Gina...papa minta maaf atas perbuatan mamanya Lucia. Dia itu gelap mata. Papa menyesal tak bisa lindungi kamu." ujar Subrata dengan suara parau. Berjuta penyesalan terdengar dari nada suara laki tua itu. Harusnya orang yang dengar akan percaya kalau Subrata telah menyesal. Semua penyesalan itu apa bisa mengembalikan semua yang telah terjadi.
Gina menutup mata rapat-rapat dan menulikan kuping agar tidak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Subrata. Gina takut hatinya melemah mendengar nada suara Subrata yang sangat menyedihkan. Gina takut itu hanyalah sandiwara Subrata untuk meminta dia meringankan hukuman Angela.
"Kita berdiri di atas negara hukum. Aku serahkan semua pada proses hukum." tegas Gina didengar yang ada di ruangan. Jiwa monster Gina mencuat kembali ke permukaan. Kalau dia melemah maka semuanya akan berantakan.
Subrata hanya angguk tak banyak protes. Gina berkata benar tak main hakim sendiri serahkan semua pada proses hukum. Lucia yang mendengar ketegasan Gina kontan lemas. Tampaknya tak ada keringanan untuk mamanya. Lucia harus terima nasib lihat mamanya mendekam di penjara sampai ajal menjemput.
__ADS_1
"Besok papa akan masuk kerja. Nanti papa akan buat laporan harian untuk kamu pelajari. Semoga perusahaan makin maju di tangan kamu." Subrata alihkan pembicaraan tak menyangkut Angela lagi. Subrata sudah paham kalau Gina takkan mundur tuntut Angela agar habiskan sisa umur di penjara. Itu kalau tak hukuman mati.
"Kurasa untuk sementara pak Subrata tangani dulu. Kalau Gina sudah sehat betul baru kita bahas soal perusahaan. Gina masih butuh proses untuk pulih seratus persen." timpal Kevin cepat sebelum Gina iyakan kata Subrata.
Gina kan ada gilanya. Anak itu mana ingat kalau di sedang sakit. Gina total pekerja keras tak ingat waktu. Dipancing sedikit oleh Subrata semangatnya kontan meluap ke atas. Kevin gercep patahkan hasrat gila Gina sebelum dia jawab.
Subrata paham tak lanjut bahas soal kerja. Kegersangan kembali menguap di ruang itu. Topik pembicaraan seolah sudah tamat di situ. Apalagi sikap Gina pasif pada Subrata dan Lucia. Kevin sekali nasehati Gina tak baik bersikap cuek pada Subrata. Dalam kasus pembunuhan Gina pasti Subrata tak ikut campur. Sejahat Subrata tak mungkin umpan anak pada maut. Tapi itulah Gina. Jalannya sudah terlanjur keras maka dia akan jalani sampai finish.
"Oya gimana Gani? Kok berapa hari tak dengar kabar dia?" Mata kabur Subrata mencari sosok laki gemulai yang biasa bersama Gina.
"Dia masih di kantor aku pak! Aku jarang di kantor maka banyak urusan dia yang handel. Gani mulai bisa kita tampilkan ke depan. Sudah ada rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan. Aku sudah bisa lepas kantor padanya." Kevin mengulas Gani yang makin hari makin dewasa walau masih ada gaya bebek pulang petang.
"Syukurlah! Didik dia agar bisa duduk di perusahaan papa. Papa yakin dia bisa."
Lucia memainkan matanya yang ada kemiripan dengan Gina. Cuma mata Gina lebih tegas memancarkan aura kejam. Beda dengan Lucia yang tak pernah hidup susah. Mau apa sudah tersedia. Matanya rilex tak ada beban.
"Gani???? Apa bisa handel perusahaan? Mulutnya berbisa sekali. Lebih mengerikan dari racun ular kobra. Sekali nyerocos menusuk jantung. Apa bisa diajak nego dengan klien?" gumam Lucia tak sadar kalau dia telah meragukan kemampuan Gani.
"Kamu omong apa Cia? Gani sudah dipercaya nak Kevin pasti punya talenta. Jangan asal omong!" bentak Subrata malu pada ocehan Lucia mengecilkan nilai Gani. Lucia sendiri lebih parah tak bisa apa-apa walau sarjana.
"Aduh papaku...bicara sama dia harus pakai helm anti sewot. Setiap kata dia menyudutkan orang. Aku bisa mati tengkurap bila punya bos model Gani."
Gina menyembunyikan senyum merasa geli lihat Lucia sewot pada Gani. Gani pasti sudah ngatain Lucia dengan mulut embernya maka Lucia masih menyimpan rasa tak suka. Lucia ngatain Gani hanya karena anak itu suka sindir dia. Gina maklumi perasaan Lucia jumpa bebek tak kenal sopan santun.
"Dia adikmu.. harusnya dukung dia bukan meremehkan." Subrata memarahi Lucia bela Gani.
Ntah sejak kapan pikiran Subrata berubah waras. Sudah ingat punya anak laki yang harus dibela. Ke mana saja selama mereka menderita. Hidup terlalu nyaman lupa ada tanggungan yang dia campakkan. Namun Gina tak terlalu ambil hati dengan kealpaan Subrata. Toh sekarang Gina yang di puncak memandang ke bawah lihat mereka merangkak ke atas mencarinya.
"Ach papa...sudah punya anak laki lupa pada Lucia. Eh tapi Gani itu baik juga. Dia perhatian juga padaku. Menyebalkan tapi nyangkut di hati."
Kevin sedang membandingkan Gina dan Lucia. Karakter kedua wanita muda ini sangat berbeda. Satu selalu ceria dan satunya lagi dingin menghanyutkan. Gina jauh lebih berwibawa dari Lucia yang masih tampak seperti anak kecil walaupun umurnya lebih tua. Kevin beruntung dapatkan Gina bisa jadi sandaran menopang kekurangan dia.
"Gani itu hanya mulutnya saja tajam tapi dasarnya baik hati. Pintar dan rajin. Cuma dia tak punya rasa percaya diri. Dia meragukan kemampuan kelola perusahaan. Dia selalu takut menghancurkan perusahaan yang sudah ada. Maka itu aku mulai lepaskan dia kelola perusahaan biar kelak bisa bantu Gina." Kevin ikut nimbrung bahas Gani. Kevin bersyukur telah ada topik ketimbang saling memandang tanpa suara. Ini cukur ampuh mengusir keheningan.
__ADS_1
"Gani masih muda punya banyak waktu untuk belajar. Semoga Gani terpicu untuk lebih maju. Papa ucapkan terimakasih padamu nak Kevin. Kamu sudah jaga ketiga anak papa. Papa sudah tua, fisik tak sekuat dulu. Kalau Gina sudah sehat papa berencana pensiun hendak pulang kampung habiskan masa tua." ujar Subrata mulai menyerah pada keadaan. Memang tak ada yang harus dipertahankan lagi. Orang yang dia perjuangkan dari dulu ternyata hanya menambah luka di dada. Subrata sudah cukup menyesal kini makin menjadi lihat Angela makin berani melampaui batas kemanusiaan. Subrata tak berniat bela Angela. Betul kata Gina biarlah hukum jadi penentu masa depan Angela.
Gina cukup kaget Subrata cepat sekali menyerah pada nasib. Di mana Subrata yang terkenal angkuh dan arogan dalam berbisnis. Masa hanya segini mentalnya.
"Pulang kampung? Di mana?" tanya Gina penasaran dengan kampung asli Subrata. Selama ini mereka tak tahu asal usul mereka yang hakiki. Mereka hanya tahu punya ayah brengsek tukang selingkuh.
"Sulawesi Utara..."
"Jauh amat..." gumam Gina baru sadar darahnya mengalir darah orang Sulawesi. Kata orang anak perempuan asal dari propinsi Sulawesi Utara rata-rata cantik. Apa ibunya juga berasal dari sana karena bu Sarah juga sangat cantik maka lahir anak-anak pada cantik walau seorang cowok seperti Gani.
"Iya...papa merantau ke sini lalu jumpa ibu kalian. Papa salah lupa daratan setelah sukses. Kejayaan di masa lalu kini telah suram karena ulah papa sendiri. Semua salah papa." Subrata menarik nafas berkali-kali teringat kebodohan di jaman keemasan. Subrata anggap bisa beli segalanya dengan uang. Sayang Sarah tak silau harta Subrata pilih pergi tanpa tuntut apapun.
Lucia tak sanggup dengar lebih lanjut. Dalam hati juga salahkan Subrata maat keranjang. Andai Subrata tidak tamak kumpulkan wanita mungkin kisah mereka akan lain. Lucia belum tentu ada begitu juga Gani dan Gina. Tapi beginilah permainan hidup. Siapa yang tulis skenario hanya di atas yang tahu.
"Nanti kita bahas itu. Sekarang bapak selesaikan sisa tugas biar nanti aku bisa masuk dan pelajari semua seluk beluk perusahaan Mahabarata. Aku akan gabungkan perusahaan aku sekarang dan Mahabarata biar satu management. Aku bisa kontrol dua perusahaan sekaligus." kata Gina tenang menghanyutkan. Sikapnya mengundang decak kagum orang. Betul-betul sosok pemimpin sejati.
Kevin angkat salut pada sikap tegas Gina langsung bicara ke titik pusat cerita supaya Subrata tahu Gina takkan biarkan apa yang sudah di tangan musnah lagi.
"Gin.... jangan lupa kalau sekarang kau juga pemilik perusahaan aku! Apa kamu akan merger juga?" Kevin ingatkan Gina tentang perusahaan nya yang telah dia alihkan kepada Gina.
"Tidak...abang mau senang-senang tanpa pekerjaan? Sementara aku pontang-panting kelola ketiga perusahaan? No.. Tetap duduk manis lanjut kerja abang."
Subrata dan Lucia jadi pendengar setia saja omongan sepasang suami istri itu. Subrata menduga kalau hubungan Gina dan Kevin bukan sekedar rekan bisnis maupun sahabat. Ada chemistry terpancar dari setiap gesture tubuh keduanya. Subrata sudah tahu Kevin mencintai Gina sebab Kevin sudah berkali mengaku pada Subrata kalau Gina pelabuhan terakhirnya.
"Ya ampun... untuk apa saling menolak. Kalian kan pasangan tak terpisahkan ya kerja sama saja. Aku doain kalian semoga langgeng hingga rambut memutih. Jangan ada tragedi menyedihkan terulang lagi. Cukup kita jadi korban masa lalu. Anak cucu kita tak perlu rasakan kepahitan broken home."
Mata Subrata berkaca-kaca melihat Lucia tidak ngotot mau masuk ke dalam hidup Kevin lagi. Lucia sudah bertindak tepat jauhi Kevin dan doakan Gina bahagia. Subrata makin lega untuk pergi jauh tinggal semua kepahitan yang dia ciptakan. Subrata akan mulai hidup baru di tempat damai.
"Terimakasih doanya Cia...kamu pasti akan dapat laki lebih baik dari aku. Laki yang bisa beri cinta lebih besar. Atau ada signal dari pak polisi kita?" goda Kevin merasa lebih rilex. Benang kusut keluarga mulai terurai sedikit demi sedikit. Kini hanya tinggal luruskan benang kusut yang menempel di pinggiran. Kevin rasa itu tak perlu diluruskan. Cukup digunting lalu dicampakkan ke tong sampah.
"Signal belum kuat...aku senang bisa jadi kakak yang baik. Kamu jangan benci padaku lagi lho Gin...aku berjanji akan jadi kakak terbaik buat kamu dan Gani." ujar Lucia lebih ceria dari sewaktu datang. Siapa tak lega disambut tanpa kalimat menyesak dada. Semula Lucia takut Gina akan hujani dia dengan sindiran demi sindiran. Nyatanya Gina bijak tak permalukan Lucia di hadapan Subrata dan Kevin.
Subrata tak kalah lega melihat kedua anaknya mulai bisa bergaul walaupun masih ada gap antara mereka. Perlahan mereka pasti akan menyatu. Subrata makin yakin pulang kampung sebab Lucia sudah punya sandaran.
__ADS_1