
Kevin dilanda galau kelas Wahid. Mungkin Kevin adalah pengantin yang paling menderita, bukannya mendapat belaian kasih sayang dari istri melainkan derita tak bisa bergerak bebas di atas ranjang. Kevin takut membangunkan Gina lantas gadis itu mengusirnya keluar kamar. Ini akan jadi sengsara kwadrat.
Tiba-tiba Gina membalik badan menghadap ke wajah Kevin dengan mata terpejam rapat. Kevin terperanjat kaget makin menciut. ******* nafas halus Gina menerpa wajahnya yang hanya berjarak lima senti. Wajah mereka berdekatan tanpa jarak lagi. Kalau Kevin sedikit nekat maka dia akan mendapatkan bibir ranum Gina.
Sayang Kevin belum punya nyali menciumi bibir warna pink Gina. Yang terasa dadanya berdegup sejuta lebih kali lebih cepat dari biasa. Rasanya mendekati serangan jantung koroner.
Perlahan Kevin memalingkan wajahnya ke arah Gina untuk lihat lebih dalam wajah istrinya itu. Kevin mau lihat seberapa tebal dompol bedak di wajah cantik itu. Cantik alami atau bantuan bedak kekinian. Nenek berumur delapan puluh tahun bisa berubah jadi gadis remaja bila di make up tebal.
Kevin tak menemukan apapun karena wajah Gina tak berubah seperti biasa. Tak ada flek hitam juga komedo di hidung dan pipinya. Pipinya halus tanpa pori-pori kasar. Sayang lampu agak redup menghalangi Kevin menikmati wajah Gina lebih lanjut.
Istrinya memang cantik alami membuat Kevin tersenyum sendiri. Wanita paling garang kini berada dalam posisi paling dekat dengannya. Kevin tak tahu ini berkah atau bencana. Yang pasti dia harus lalui hari demi hari bersama Gina sampai maut memisahkan mereka.
Gina bukannya tidur manis melainkan bikin Kevin makin sengsara. Kini Gina memeluk Kevin pikir laki itu guling empuk buat penghangat malam. Kepala Gina menyusup ke leher Kevin mencari posisi nyaman untuk habiskan malam mencapai mentari esok.
Bagi Kevin ini pengalaman pertama bersama wanita tanpa jarak. Naluri kelakian Kevin terusik berat namun laki ini tak bisa menuntut hak sebagai suami. Malam ini cukup rasakan empuknya tubuh Gina. Kevin tak soalkan malam ini karena tahu hari mereka masih panjang. Malam ini tahap perkenalan dengan istri tercinta.
Kevin mengecup ubun-ubun kepala Gina sambil bergumam kecil.
"Selamat tidur sayang. Semoga mimpi suamimu ini." Kevin menutup mata ikut jejak Gina menyongsong fajar esok.
Di kamar sebelah Gani tersenyum sendiri membayangkan Kevin belah duren. Apa laki itu sukses taklukkan monster ganas dari kampung ini. Gani akan puji Kevin bila berhasil mengiringi Gina ke tempat tidur. Monster ganas tetap seorang wanita muda yang butuh cowok. Gani ikut tidur tak lupa kirim doa semoga Kevin dan Gina bahagia selamanya seperti papi dan mami nya. Doa diakhiri kata amin.
Suara adzan subuh membangunkan Gina dari tidur nyenyak. Gadis ini kaget melihat ada satu sosok manusia berada di sisinya tertidur pulas. Tangan orang itu melingkar di pinggangnya tak ingin lepas. Gina mengumpulkan ingatan apa yang telah terjadi mengapa dia bisa satu ranjang dengan Kevin.
Satu persatu tayangan kejadian semalam bermain di kepala Gina. Dai yang duluan masuk kamar dan langsung tidur. Kevin masuk dan menyusul tidur dan berakhir demikian. Dari segi manapun mereka tak lakukan hal berdosa karena mereka adalah pasangan halal. Hanya Gina belum terbiasa berbagi ranjang dengan orang lain.
Tanpa Gina sadari pipinya terasa panas menahan rasa malu telah copot gelar nona muda. Kini dia resmi menjadi nyonya Kevin walau belum sempat melakukan hal grand opening. Gina tak bisa bayangkan gimana kalau Kevin menuntut haknya sebagai suami.
Haruskah dia menyerah melakukan hal yang semestinya dilakukan sebagai seorang istri. Masih ada keraguan di relung hati Gina tanggalkan gelar perawan tingting. Gimana kalau suatu saat Kevin berubah arah tertarik pada wanita lain seperti Subrata? Lalu Gina akan seperti Bu Sarah menanggung derita hidup.
Gina tak mau kejadian yang menimpa ibunya terulang kepada dirinya. Gina belum siap menerima kenyataan kalau Kevin berubah hati main gila dengan wanita lain.
Dengung suara adzan membuyarkan semua bayangan buruk Gina. Dia harus segera bangun untuk melakukan sholat subuh. Gina memindahkan tangan Kevin dari pinggangnya secara hati-hati takut ganggu tidur Kevin. Gina harus keluar dulu supaya tidak canggung bangun barengan. Gina tak tahu harus omong apa pada Kevin bila mereka terjebak di atas ranjang.
Yang paling tepat adalah Gina duluan tinggalkan kamar. Nanti baru dia bangunkan Kevin untuk sholat bersama. Dengan sedikit kesulitan menyingkirkan tangan Kevin Gina berhasil turun dari ranjang tanpa ganggu tidur Kevin.
Gina meninggalkan Kevin setelah melempar tatapan sekilas ke arah laki itu. Jantung Gina berdetak cepat ingat keintiman mereka. Mereka tidur persis suami istri betulan.
Memang mereka adalah betulan suami istri. Hanya Gina yang belum ikhlas menerima Kevin dari lubuk hati terdalam. Gina bukannya tidak menyukai Kevin tetapi takut kejadian ibunya terulang lagi. Trauma masa lalu masih hantui Gina.
Gina keluar berjalan ke arah kamar mandi untuk ambil air wudhu. Di luar tak ada siapapun berarti Gani juga belum bangun. Saudaranya itu tak pernah tinggalkan sholat walaupun ada kelainan jiwa. Gani muslimin sejati.
__ADS_1
Gina tidak membangunkan Gani melainkan membangunkan Kevin. Gina hanya memanggil pelan tanpa menyentuh laki itu karena Gina sudah ambil air wudhu. Kondisi Gina sudah siap laksanakan sholat. Tinggal tunggu imam pimpin dia sholat bersama.
"Bang...bangun.." panggil Gina lembut halus membelai gendang telinga Kevin.
Kevin menggeliat melemaskan otot lakukan beberapa gerak badan tanpa bangun dari tempat tidur. Olah raga ringan lepaskan otot kaku akibat tidur tanpa bisa bergerak nyaman.
Puas lakukan kegiatan olah raga palsu Kevin menatap Gina yang sudah siap dengan peralatan sholat. Pagi ini Gina tampak makin manis di mata Kevin. Inilah sosok istri salehah Kevin.
Kevin kembangkan senyum tanpa berani buka mulut. Kalau mangap terlalu gede bakalan tercium bau tak sedap dari mulut belum sikat gigi. Di depan istri yang belum tersentuh haruslah tampak perfect.
"Sholat bang!"
Kevin mengangguk memanjangkan kaki jejak ke lantai. Kaki laki ini mencari sandal rumahan hilangkan hawa dingin lantai. Setelah berdiri tegak barulah Kevin ayunkan langkah menuju keluar. Gina menghindari Kevin agar wudhu tak batal.
Gerakan Gina disalah artikan oleh Kevin. Gerakan Gina seolah tak ingin berdekatan dengan Kevin. Kening Kevin berkerut dapat perlakuan tak manis dari Gina.
"Abang bau ya?" Kevin spontan mencium bau badan terutama di bawah bahu yang tersimpan rahasia wewangian alami seorang manusia.
"Lha yang bilang Abang siapa?"
"Itu kamu menghindari Abang." protes Kevin masih kurang senang.
"Tuan Kevin...aku sudah berwudhu jadi tak boleh bersentuhan dengan lelaki. Kalau tidak aku harus wudhu lagi. Kan sayang air dibuang terusan. Pagi-pagi sensi amat!"
Kevin ngeloyor pergi menuju ke kamar mandi untuk ambil air wudhu. Belum sempat Kevin masuk kamar mandi muncul Gani dengan muka kusut baru bangun. Laki muda ini masih berantakan, rambut riap-riapan belum kena sisir. Muka juga belum sepenuhnya terbentuk sempurna. Tidak mirip Gani yang selalu tampil perfect.
"Mau mandi wajib?" tanya Gani mengira semalam Kevin kerja keras belah duren.
"Wajib apa? Wajib militer kali..." sungut Kevin tidak gembira.
Gani sudah tahu jawaban Kevin beri tanda dia gagal taklukkan monster kejam di rumah ini. Gani menjadi kasihan pada adik iparnya. Punya istri hanya bisa dilihat. Tak tahu gimana rasanya.
"Yang semangat...masih ada malam nanti. Ayo cepatan! Sudah masuk waktu subuh."
Kening menyeret langkah masuk kamar mandi. Pertanyaan Gani seperti 1 ejekan buat dia tak mampu mengatasi seorang wanita muda. Kevin harus bekerja lebih keras lagi. Pantang mundur.
Seusai sholat Gina bermaksud masuk dapur bikin sarapan namun Kevin melarang istrinya bekerja keras pagi ini. Kevin mau hari ini Gina libur total tanpa perlu pikir pekerjaan. Baik kerja di rumah maupun kerja kantoran. Kevin mau memberi Kevin waktu istirahat istimewa.
"Kita sarapan di luar pagi ini." Kevin menarik tangan Gina keluar dari dapur.
"Aku ikut ya?" seru Gani ikut nguping pembicaraan pasangan muda ini. Gani mana mau ditinggal sarapan sendirian. Sendirian makan ditemani kesepian akan membunuh Gani yang terbiasa merasakan hangatnya berkeluarga.
__ADS_1
"Harus dong! Aku mau ajak kalian makan dim sum lezat!" kata Kevin semangat sambil melontarkan pandangan ke arah Gina. Gina tak enak terusan menolak niat baik lakinya pilih angguk kepala mungilnya.
Gani bersorak gembira lantas ngacir masuk kamar cari pakaian santai cocok untuk nikmati Minggu ceria. Gani tak keberatan disebut nyamuk pengganggu pasangan baru ini. Gani kenal Gina tak begitu peduli romantis segala.
Gina menggeleng melihat kegembiraan Gani. Abang kembarnya itu persis anak kecil dapat hadiah tak terduga. Seharusnya Gina yang jadi kakak ketimbang Gani. Ntah mengapa mereka tertukar posisi Gani yang duluan diangkat oleh dokter. Tangan dokter sungguh tak punya insting pilih yang mana harus didahulukan.
"Kau tak ganti pakaian Gin?" tanya Kevin menyaksikan Gina belum beranjak dari tempat semula.
"Ini masih kelewat pagi cari sarapan di luar. Belum lagi jam enam. Aku nyuci pakaian sebentar ya! Kalau Abang mau bantu Gina tolong nyapu halaman depan." Gina tak segan ajak Kevin kerja bakti bersihkan rumah. Di sini tak yang namanya CEO maupun komisaris. Mereka setara dalam rumah tangga. Saling memberi dan menerima.
Kevin melongo tak percaya kalau Gina tega suruh dia menyapu. Sejak kapan dia harus jadi tukang sapu teras rumah. Jangankan sapu teras rumah, dalam rumah saja Kevin belum pernah pegang sapu. Kadang aktifitas menyapu mungkin dia tak tahu.
"Abang nyapu?" Kevin ulang tanya takut kupingnya salah tangkap suara Gina.
"Iya...kita tak punya pembantu maka harus saling melengkapi." sahut Gina menuju ke belakang rumah untuk mulai lakukan aktifitas seperti ibu lain. Pagi-pagi cuci pakaian penghuni rumah. Gina tidak keberatan mencuci pakaian Kevin walau sebelumnya belum berangkat suami Gina. Gina yang bawa Kevin ke rumah ini maka di wajib lindungi laki itu dalam segala hal. Termasuk utus kebutuhan laki itu.
Kevin dilanda kebingungan ganda. Mungkin lebih baik mengurus satu proyek raksasa ketimbang harus menyapu di depan rumah. Jujur Kevin merasa harga dirinya sedang diinjak oleh Gina. Gadis itu sudah kelewatan minta dia lakukan hal tak pernah dia lakukan.
Kevin belum beranjak dari ruang tamu menuju keluar rumah. Masih ada sekuat keraguan terpahat di wajah ganteng itu. Coba kalau ada tetangga yang lihat dia membersihkan teras rumah. Apa kata dunia CEO ganteng berubah jadi bapak rumahan.
Untunglah Gani keluar kamar dengan bau harum satu ember parfum wangi. Harumnya bikin hidung pedih. Kesannya bukan membuat harum lagi tapi sedang tertumpah minyak wangi ke badan. Kevin mengusap hidung saking histeris bau terpancar dari tubuh Gani.
"Berapa galon minyak wangi kau tuang ke badan kamu?" ejek Kevin tak bisa rem mulut.
"Lima kali semprot. Kenapa? Wangi kan?"
"Kamu ini bikin orang pingsan...orang pilek langsung plong hidung kena bau minyak aneh kamu."
Gani menciumi bawah ketek mau test keharuman minyak wangi yang baru dia beli dari toko online. Baunya emang segar tapi terlalu padat semprotan bikin kepala orang puyeng.
"Kayaknya botol minyak wanginya bocor tumpah ke badan aku. Tak apa deh! Anggap saja wewangian penarik perhatian cewek. Kakak kok belum ganti baju?" Gani lihat Kevin masih pakai baju kaos rumahan dan celana karet. Tak ada tanda-tanda laki itu hendak keluar rumah. Apa mungkin Kevin batalkan rencana sarapan di luar.
"Tuh...monster suruh aku nyapu teras." keluh Kevin agak putus asa. Wajahnya suram.
Gani mendekap mulut mau ketawa. Gina ini sungguh kelewatan. Seorang pemimpin perusahaan tak ada harga buat dia. Suka-suka dia perintah sang majikan lakukan tugas pembantu rumah tangga. Pantesan Kevin kurang bahagia di pagi cerah ini.
"Biar aku yang kerjakan!" Gani menggulung lengan baju merasa tak enak hati biarkan sang majikan terjun langsung jadi bapak rumah tangga.
Kevin tak tega lihat Gani yang sudah rapi harus keringatan lagi. Laki gemulai itu sudah belain tampil modis dan ganteng, masa mesti dikacaukan lagi. Kevin berjalan lunglai membuka pintu menuju keluar rumah.
Kevin disambut hembusan angin segar menyapu seluruh badan. Ada rasa nyaman menerpa badan laki itu. Rasa kesal perlahan memudar setelah rasakan betapa segar nikmati udara pagi belum banyak polusi. Di jalanan juga belum ada orang lalu lalang membuat Kevin pede untuk laksanakan perintah nyonya rumah.
__ADS_1
Mata Kevin mencari benda yang disebut sapu. Benda bergagang panjang terdapat serabutan halus di bawah untuk bersihkan kotoran dan debu terletak di samping rumah. Kevin tak ragu meraih benda itu lalu perhatikan cara gunakan benda itu.
Gani intip dari balik pintu mau tahu apa yang akan dilakukan oleh adik iparnya itu. Apa laki sehebat Kevin mampu selesaikan misi dari istri judesnya. Ini tantangan berat buat seorang CEO terkenal. Di kantor berdasi berpenampilan menghanyutkan wanita, sesampai di tangan Gina tak ada artinya.