JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Lucia Ngamuk


__ADS_3

Pak Julio memuji kebijakan Kevin tak anggap Subrata sebagai musuh kendatipun anak sendiri benci dia setengah mati. Pak Julio makin percaya kalau Kevin mampu membawa Gina meniti hari-hari bahagia.


"Katakan pada Gina kondisi papanya. Dia akan lebih baik bila tahu Subrata dalam kondisi stabil." Pak Julio menyuruh Kevin temui Gina untuk cairkan kegelisahan gadis itu.


"Iya pak!" Kevin meninggalkan tempat Subrata sedang dirawat. Biarlah tinggal Pak Julio yang menunggu Subrata. Pak Julio orang baik tak mungkin memperparah rasa sakit Subrata.


Hati Kevin teriris melihat Gina terpekur menunduk ke lantai. Sepasang mata indah Gina jatuh ke lantai meneliti setiap semut yang sedang melalui lantai rumah sakit itu. Entah apa yang dicari oleh Gina menatap lama ubin ubin keramik rumah sakit.


Dengan gerakan perlahan Kevin duduk di samping Gina tanpa ingin mengejutkan gadisnya itu. Andaikata mereka di rumah Kevin ingin sekali meraih kepala Gina untuk bersandar di dadanya. Kevin ingin memberitahu Gina kalau dadanya siap menampung semua keluh kesah gadis ini.


"Sayang..." panggil Kevin perlahan. Panggilan Kevin memaksa Gina mengangkat kepala mengalihkan pandangan ke wajah suaminya itu.


Hati Kevin makin teriris melihat mata yang biasa bening kelihatan kusam. Ada selapis awan kelabu bergeming dalam kolam mata itu. Tangan Kevin tergerak meraih kepala mungil itu bersandar di dadanya. Kevin. Tak peduli lagi tatapan mata orang yang lalu lalang melihat adegan langka di rumah sakit.


"Menangislah biar hatimu lega!" bisik Kevin selembut tahu sutra di balik kuping Gina.


Gina menggeleng belum mau menyerah lawan keegoisan yang bersarang dalam dada. Jauh di lubuk hati Gina memang tersentuh melihat Subrata telah sekarat tetapi kilasan cerita masa lalu membutakan mata hati Gina untuk memunculkan rasa iba itu ke permukaan.


Tak ada sepatah kata keluar dari mulut Gina selain menyusupkan kepala ke dada Kevin. Dari luar Gina bisa mendengar dengan jelas detak jantung Kevin berbunyi cukup kencang. sementara itu Kevin membelai rambut Gina yang terikat ekor kuda dengan perlahan.


Perlakuan lembut dari Kevin membuat jiwa Gina sedikit merasa tenang. Sebenarnya Gina membutuhkan seseorang yang bisa memberinya rasanya aman namun keangkuhan gadis ini menepi semua orang yang ingin mendekatinya. Gina sengaja membungkus diri dengan selaput tebal agar tak seorangpun bisa melihat ke dalam isi hatinya.


"Pak Subrata sudah stabil. Menurut diagnosa dokter Pak Subrata itu memiliki gejala penyakit jantung. Namun masih harus diteliti lebih lanjut untuk memastikan asal usul penyakitnya. Kau bisa tenang sekarang."


"Alhamdulillah bang!" Gina ingin membuat jarak dengan Kevin merenggangkan diri. Namun Kevin memeluk Gina dengan kuat belum rela Gina cepat terlepas dari rengkuhannya.


"Kalau bisa begini tiap hari aku minta Subrata sakit setiap hari." gurau Kevin masih betah merengkuh Gina.


Keduanya tidak sadar kalau ada sepasang mata menatap ke arah mereka dengan sinar matahari penuh pancaran amarah. Wajah orang itu memancarkan kegeraman dan rasa benci full tank.


Orang itu melangkah dengan langkah besar hampiri Gina dan Kevin yang sedang asyik bermesraan tak peduli sekitar. Beginilah kalau kudu dilanda asmara berat. Dunia serasa milik mereka berdua. Penghuni hanyalah kontrak tinggal di bumi ini.


Lucia secara kasar menjambak rambut Gina tak peduli gadis itu masih berada dalam rengkuhan Kevin. Gina dan Kevin sama-sama kaget mendapat serangan tidak terduga. Gina tidak dalam posisi siap sehingga menjadi bulan bulanan Lucia yang dilanda emosi tinggi.


Belum sempat Gina melawan satu tamparan hinggap di pipi Gina meninggalkan bekas merah. Gina benar-benar terpana sampai tak sanggup melawan. Kalau Gina mau lawan Lucia sangatlah mudah namun Gina pilih diam karena wajar kalau Lucia lampiaskan amarah pada dirinya. Dirinya pangkal penyebab Subrata pingsan.


Kevin kalah kaget sehingga tak sadar menarik tangan Lucia agar jauhi Gina. Kevin menangkap tangan Lucia yang mau menampar Gina kedua kali. Kevin lupa kalau dia alergi pada wanita. Gerakan reflek Kevin menang dengan Lucia adalah untuk melindungi orang yang dia sayangi. Kevin sudah tidak peduli segalanya demi melindungi Gina.


Lucia makin marah melihat Kevin melawan dirinya demi melindungi wanita yang paling dia tak sukai. Lucia sangat marah melihat Kevin berani memeluk Gina di depan umum. Bertahun dia bersama Kevin namun tak pernah sekalipun Kevin bermesraan dengan dirinya. Ditambah Subrata pingsan setelah jumpa dengan Gina makin menambah api amarah Lucia. Lengkap sudah segala kedongkolan dan kejengkelan Lucia terhadap Gina.


Lucia menghempas tangan Kevin yang menggenggam tangannya erat-erat demi melindungi Gina dari tamparannya. Lucia melototi Gina yang menunduk tak berdaya karena memang merasa bersalah telah menyebabkan Subrata menderita sakit. Di sini Lucia mendapat angin merasa bisa berbuat sesuka hati terhadap Gina. Gadis yang biasanya tampak garang kini seperti kerupuk kena air melempem tinggal tunggu dicampakkan ke tong sampah.


"Dasar anak haram... beraninya kamu membuat papa aku jatuh. Kamu ini harus sadar diri kalau kamu ini bukan siapa-siapa di mata aku. Kamu ini hanya sampah yang membuat lingkungan kami menjadi busuk." teriak Lucia mengundang perhatian pengunjung lain. Orang yang melihat kejadian ini berkasak khusyuk ikutan menghujat Gina yang tak berdaya itu.

__ADS_1


Gina tetap bungkam tak berdaya di dorong rasa penyesalan maka tak melawan Lucia. Kalau dalam kondisi biasa mungkin mulut ember Lucia akan remuk di bantai Gina.


Kevin yang marah mendengar Lucia menghina Gina. Lucia tak sadar diri justru dia yang anak haram terlahir sebelum ada ikatan antara Subrata dan Angela. Mengapa sekarang cerita sudah terbalik menyerang Gina.


"Lucia...jaga mulutmu! Papa kamu jatuh sakit sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gina. Kamu yang harus introspeksi sadar diri bahwa kamu ini siapa dan mengapa pak Subrata bisa terkapar?" bentak Kevin tak takut ngamuk di tempat umum. Lucia sudah kelewatan menghina Gina sampai menghubungkan Gina dengan kata-kata tak sedap.


"Hebat...ternyata sudah ada backing kuat ya? Apa yang ditawarkan anak haram ini kepada kamu sampai kamu membelanya sedemikian rupa?" Lucia bertanya dengan nada sinis kepada Kevin yang tampak sangat marah kepadanya. Jujur Lucia belum pernah melihat Kevin semarah ini selama mereka bersama bertahun-tahun.


"Aku hanya bicara kebenaran. Papa kamu memang tanda tangani peralihan perusahaan namun itu memang hutang papa kamu pada perusahaan opanya Gina. Gina hanya melaksanakan tugas yang diemban kepadanya. Itupun bukan topik utama penyebab papa kamu pingsan. Masih ada hal yang kamu tidak ketahui tentang mama kamu yang telah membuat papa kamu pingsan. Lebih baik kamu lihat sendiri apa yang dilakukan oleh Mama kamu sehingga papa kamu menjadi kena serangan jantung." Kevin merogoh saku celana mengeluarkan ponsel milik Subrata lalu serahkan kepada Lucia yang telah terbakar emosi.


Lucia menerima ponsel papanya dari tangan Kevin dengan tatapan heran. Apa hubungan papanya menjadi sakit dengan ponsel papanya. Di antara rasa penasaran Lucia membuka isi ponsel papanya. Sekilas lihat tak ada yang mencurigakan membuat Lucia melototi Kevin. Lucia menyodorkan ponsel ke muka Kevin kurang senang.


"Apa maksudmu?" tanya Lucia kurang senang ponsel papanya dijadikan kambing hitam. Lucia mengira ini hanya alasan Kevin melindungi asisten kesayangan itu. Lucia cemburu setengah mati kepada Gina yang berhasil merebut perhatian Kevin.


"Bukalah wa papa kamu! Kamu akan mengerti semuanya."


Lucia menajamkan mata mengerling ke arah Gina yang masih bungkam setelah mendapat hadiah telapak tangan Lucia. Gina belum bereaksi karena masih dirundung perasaan bersalah.


Jari lentik Lucia kembali utak atik ponsel papanya lalu terbengong sampai bibir yang dipoles gincu tebal terbuka lebar. Lucia seperti kena sihir menjadi manusia batu. Anak mematung tak bergerak satu mili pun dar posisi semula. Lucia seolah tak percaya apa yang dia saksikan sendiri di layar ponsel papanya. Parahnya yang mengirim foto itu adalah ponsel mamanya sendiri. Lucia tak habis pikir di mana otak mamanya sampai tega berbuat hal asusila dengan laki lain. Apa belum cukup mengukir dosa di masa lalu.


Dosa itu belum sempurna maka dia tambah biar perfect total. Lucia geram lantas meremas ponsel papanya saking marah. Amarah yang dia tempatkan ke tubuh Gina telah salah alamat. Harusnya Lucia memarahi mamanya yang tak tahu malu itu. Sudah berzina masih bangga memperlihatkan hasil zinaan kepada suami sendiri.


Lucia menatap Kevin dan Gina sekilas lalu melangkah pergi dengan tergesa-gesa untuk melihat kondisi papanya. Dada Lucia bergemuruh seperti ombak memecah di bibir pantai. Sedih, kesal, malu, marah, benci campur aduk dalam rongga dada wanita muda ini. Sia-sia di umbar amarah kepada orang yang tak tahu apa-apa.


"Kau tahu Lucia itu terbawa emosi. Tak usah ambil hati ya!"


Gina mengusap wajah dengan tangan untuk hilangkan rasa sesal bertumpuk di seluruh tubuh. Gina belum mengerti apa maksud Kevin memberi ponsel kepada Lucia. Ada rahasia apa di balik pingsannya Subrata. Kelihatannya ada yang sedang dirahasiakan oleh Kevin dari Gina.


"Apa maksudnya bang?" Gina menuntut jawaban dari Kevin.


"Abang sudah bilang semua ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Kamu tak perlu merasa bersalah. Kamu hanya laksanakan amanah opa kamu. Cepat atau lambat Subrata harus lalui hari ini. Kita tunggu di sini saja karena Lucia masih melihat pak Subrata. Takutnya dia cari masalah dengan kita lagi." Kevin menepuk bahu Gina dengan sebelah tangan sambil mendekatkan tubuh Gina ke tubuhnya.


"Apa Gani harus tahu hal ini?"


"Tak usah...nanti setelah pulang ke rumah kita baru cerita padanya. Kau kan tahu betapa hebohnya Gani bila datang ke tempat umum."


Gina tak punya pendapat dalam hal ini. Ada baiknya juga tidak undang Gani ke sini. Takutnya mulut bebek Gani melawan Lucia bila wanita mengeluarkan statemen tidak pas di kuping anak itu.


"Kita pergi minum kopi?" tawar Kevin mau Gina normalkan perasaan.


Gina tidak terlalu menanggapi undangan minum kopi Kevin. Gadis ini justru menatap Kevin dari samping untuk melihat sosok lelaki yang telah menyemangati hidupnya. Gina tidak menolak bila berjalan dengan Kevin sampai ujung hidupnya. Gina tau Kevin berusaha melindunginya dari segala bencana dan bahaya.


"Terima kasih bang!"

__ADS_1


Kevin memasang raut wajah melucu menerima ucapan terima kasih dari istrinya yang tidak perlu kita ucapkan. Kevin sebagai suami wajib melindungi istrinya dari serangan apapun.


"Ucapan terima kasih hanya dengan sepatah kata doang? Paling tidak memberi hadiah yang tidak terlupakan sebagai ungkapan terima kasih dari lubuk hati terdalam kepada suami tercinta." Kevin sangat berharap Gina melakukan sesuatu yang berarti untuk membuat dia bahagia.


Gina mencibir niat hati Kevin untuk mendapat sesuatu lebih dari sekedar ucapan. Gina bukannya tidak tahu apa tujuan Kevin mengatakan hal demikian.


"Dasar otak mesum!"


"Lha...emang Abang ada omong sesuatu? Otak kamu saja yang tidak waras memikirkan hal-hal negatif."


"Tidak omong tapi tuh mata sudah ada gambar siluet cewek bugil." ujar Gina dengan muka masam.


Kevin terhibur lihat Gina sudah bisa merajuk sediakala. Kevin mulai terbiasa melihat istrinya dengan raut wajah masam sedikit mengancam.


"Apa kamu tak lihat pemilik wajah siluet yang ada di mataku? Itu siluet nyonya Kevin. Wanita yang telah obrak abrik sarang cinta di kisi hatiku."


"Ciiss...gombalan zaman baheula! Ngak termakan tuh!"


"Ayok duduk dulu! Masak kita berdiri begini..sini!" Kevin membawa Gina duduk kembali di tempat semula Gina duduk. Kevin berharap bisa bersama Gina lebih lama di tempat ini karena dia leluasa memeluk istrinya.


Baru saja mereka menempatkan bokong di bangku stainless ponsel Gina berbunyi nyaring bergema cukup mengganggu suasana tenang di rumah sakit. Gina cepat-cepat mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Pak Julio.." desis Gina lalu klik tombol hijau untuk terima panggilan masuk.


"Assalamualaikum...kau datanglah ke kamar papa kamu!


"Waalaikumsalam pak..di situ ada Lucia. Dia baru saja salah paham terhadap Gina. Gina rasa lebih baik untuk sementara hindari dia dulu karena dia sedang dilanda emosi."


"Papa kamu ingin bicara denganmu. Dia sudah sadar."


Gina menarik nafas dalam-dalam masih segan ramah tamah dengan keluarga Mahabarata. Kali ini Gina benar-benar dilanda dilema berat. Mengalah atau melanjutkan dendam yang tidak berkesudahan itu.


"Tunggu sebentar pak! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.."


Gina mematikan ponselnya mengharap ada keajaiban bisa meluluhkan hati nya. Sebenarnya Gina sudah cukup puas mendengar Subrata dalam kondisi stabil. tapi untuk melangkah lebih jauh ke dalam kehidupan lelaki itu mungkin masih berat buat Gina.


"Ada apa sayang?" tanya Kevin setelah melihat keraguan menghiasi wajah cantik istrinya.


"Pak Julio meminta Gina untuk menemui Subrata di kamarnya. Di situ pasti ada Lucia yang akan menambah buruk kondisi Pak Subrata. Apa yang harus kulakukan?"


"Pak Julio memanggil kamu menemui Subrata pasti ada alasannya. Abang akan menemani kamu menemui Subrata. Percayalah Abang tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu! Ayok kita pergi!"

__ADS_1


__ADS_2