
Pulang ke rumah Gina yang damai, Kevin mandi ala kadar seperti orang kampung biasa. Tak ada bathtub dan shower mandi air hangat. Yang ada mandi gunakan gayung siram secara manual. Ini merupakan pengalaman baru buat Kevin jalani hidup sederhana bersama Gina. Kevin harus terbiasa bola ingin tetap bersama Gina dan Gani.
Perlahan Kevin mulai bisa adaptasi dengan kehidupan kalangan menengah ke bawah. Kevin tak perlu mendongak ke atas lagi karena dia sudah berdiri sejajar dengan kalangan bawah. Om Sabri juga sangat baik terhadap Kevin. Dia perlakukan Kevin seperti anak sendiri sama seperti dia perlakukan Gani dan Gina.
Seusai makan malam Gina masuk ke kamarnya untuk selesaikan rancangan yang akan dia bawa ke lomba rancangan perhiasan dunia. Gina tak berharap banyak namun mencoba menerobos pasaran dunia. Namanya akan diperhitungkan di dunia perhiasan walaupun tak meraih juara kelak. Paling tidak dia sudah coba.
Kevin tahu diri tak ganggu Gina di dalam kamar. Kevin harus yakinkan om Sabri dia bukan lelaki cabul yang ingin merusak Gina. Kevin pilih duduk bersama om Sabri sedangkan Gina berkutat dengan gambar.
Jam sepuluh malam Gina baru keluar dari kamar menuju ke kamar Gani untuk tidur. Gina bukan orang bisa diajak begadang karena dia harus bangun bantu ibunya masak di pagi subuh. Tanpa menunggu Gani yang masih ngobrol dengan Kevin dan Om Sabri, gadis muda itu duluan booking tempat berlayar ke pulau kapuk trip pertama. Bu Sarah juga cepat tidur ikut Gina berlayar ke alam mimpi yang sekarang tentu saja diwarnai warna indah. Tidak kelabu seperti dulu.
Satu malam lagi berlalu memberi kesan mendalam buat Gina dan Kevin. Setapak demi setapak mereka jalani jalan penuh kerikil tajam. Berjalan bersama akan terasa lebih ringan daripada jalan sendirian. Gina akan bantu Kevin sebisanya sampai orang jahat itu kapok.
Kegiatan rutin warnai keluarga Om Sabri. Gina dan Gani bangun bantu Bu Sarah masak di dapur. Pagi ini ada tambah anggota baru jadi bala pembantu Bu Sarah. Kevin ikutan bangun bantu Bu Sarah biar lebih cepat kelar. Kevin tak ngerti soal dapur hanya bisa kupas bawang dan petik sayuran. Bagi Kevin itu adalah satu kemajuan untuk berbaur dengan masyarakat kalangan bawah. Dia harus tahu bagaimana rasa hidup sederhana.
Om Sabri tersenyum melihat Kevin pandai mengambil hati Bu Sarah. Kalau dia suka pada Gina sudah ada SIM (surat izin melamar) untuk dekati Gina. Bu Sarah pasti tak tolak bila calon menantu model Kevin. Laki itu punya segalanya sebagai seorang lelaki sejati yang diidamkan oleh para wanita. Cuma sayang Kevin mempunyai penyakit jiwa yang sampai sekarang belum bisa ditangani oleh dokter manapun selain Gina.
"Ya ampun nak Kevin! Kok nangis?" seru Bu Sarah kaget lihat Kevin menyusut air mata gunakan ujung baju kaos. Tak ada kesan laki itu seorang CEO kaya. Kini Kevin tak ada beda dengan Gani tidur hanya pakai kaos oblong dan celana puntung.
"Pak Kevin nangisi pacar yang tak kunjung tiba!" gurau Gina bikin air mata Kevin makin meleleh.
"Pacar dari mana? Dari Hongkong? Ini bawang menyiksa orang!" Kevin meletakkan benda bulat warna ungu itu di mangkok kecil. Bu Sarah tertawa geli juga kasihan pada laki kaya yang belajar masak.
"Sama bawang saja kalah! Cemen amat!" Gina masih mengolok Kevin. Gani tak seberani Gina kerjain bos. Dia masih sayang pada posisi managernya. Salah bicara malah turun jadi OB. Kalau hal itu terjadi Gani akan gantung diri saja di pohon tauge. Gani hanya berani senyum simpul walau dalam hati ketawa ngakak.
"Sudah..pergi mandi sana! Sebentar lagi kita sarapan! Kita mandi kan antrian. Bapak duluan!" Gina mendorong Kevin tinggalkan dapur. Gina tak tega menyiksa Kevin lebih lama. Apa ada seorang CEO bau bawang? Kalau tersebar di kantor CEO kupas bawang untuk masak makanan warung bisa geger satu perusahaan.
"Tapi kan belum siap masak!" Kevin coba bertahan masih mau bergabung cari kegembiraan bersama keluarga Gina. Dengar Gani dan Gina adu mulut saja sudah datangkan rasa bahagia. Mereka lugu tak memikirkan hal negatif maka mereka sekeluarga hidup damai.
Kevin tak tahu kalau di jalan dada Gina menyimpan dendam membara yang akan dia lampiaskan kepada keluarga Mahabarata. sebelum dendamnya terlampiaskan Gina tidak akan berhenti mengusik ketenangan di keluarga Mahabarata. Gina tak pernah ungkap rencananya kepada keluarga. Mereka pasti akan larang Gina lakukan hal negatif kendatipun Subrata sangat bersalah pada mereka.
Gina pamitan hendak ke tempat pak Julio sebelum berangkat kerja. Gina sudah bisa lepaskan Kevin kepada Jay dan Hadi. Kedua preman itu pasti akan kawal Kevin dengan baik. Gina sudah wanti-wanti kepada kedua orang itu untuk menjaga Kevin.
Gani tetap setia dengan motor maticnya sedangkan Kevin berangkat dikawal oleh Jay dan Hadi. Gina mengambil rute lain ke kantor pak Julio untuk konfirmasi soal proyek yang akan di tangani oleh Kevin. Gina mau tahu keseluruhan mengenai proyek itu. Memang bukan bidang Gina namun Gina tidak terlalu bodoh untuk pahami satu data. Kalau mau belajar apa yang tak bisa. Berbekal dia keponakan Pak Julio, Gina beranikan diri ke kantor adik ibunya itu. Banyak hal ingin Gina bicarakan dengan omnya agar mau bantu dia tuntaskan dendam pada Subrata.
__ADS_1
Kantor pak Julio masih sepi sewaktu Gina tiba di tempat kerja pamannya itu. Kantor Kevin sudah bagus ternyata kantor pak Julio jauh lebih keren lagi. Lebih tinggi dari gedung kantor Kevin menandakan kalau kantor pak Julio lebih bonafide dari kantor Kevin. Ada pepatah mengatakan di atas gunung ada langit itulah gambaran untuk posisi Kevin dan pak Julio. Kevin sudah cukup kaya tapi ternyata ada yang lebih kaya lagi dari Kevin yakni pak Julio.
Gina menanti di lantai paling bawah sambil menunggu kehadiran bos perusahaan ini. Dari sini Gina bisa pantau langsung kehadiran pak Julio. Karyawan sudah banyak yang sudah hadir dahului bos. Bisa dipastikan Pak Julio adalah bos baik kalau dilihat dari cara mengatur bawahan. Semua serba tertib dan teratur.
Gina cuci mata lihat bagaimana para pekerja datang satu persatu membuat absensi berupa sidik jari di mesin yang telah disediakan dekat meja resepsionis. Ini cara ampuh untuk absensi. Sidik jari takkan bisa digantikan seperti gunakan tanda tangan maupun badge tanda karyawan.
Gina mulai bosan menunggu kehadiran pak Julio. Gina nyesal telah datang tanpa konfirmasi dengan pak Julio. Sekian lama menunggu pamannya itu belum juga muncul. Hati Gina mulai goyah ingin pergi. Di tempat Kevin masih banyak pekerjaan belum terselesaikan sementara tangannya masih sakit untuk handel semua tugas sendirian.
Akhirnya Gina ambil ponselnya menelepon pak Julio. Ponsel jadul itu tetap berguna untuk jadi alat komunikasi walaupun janggal untuk ukuran anak muda macam Gina. Seharusnya anak muda gunakan smartphone walaupun yang harus beli yang paling murah.
"Assalamualaikum pak..ini Gina!"
"Waalaikumsalam.... akhirnya kamu telepon juga! Kamu di mana?"
"Di kantor bapak..."
"Oya??? Tunggu situ ya! Sebentar lagi bapak sampai. Kena macet berat di sini. Ingat lho tak boleh kabur dari kantor bapak!"
"Ach bapak ini...jelek amat dibilang kabur! Ya nggak lah! Tujuan kan mau jumpa bapak!"
"Ok... assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam..."
Gina menyimpan ponselnya dengan hati senang. Tidak sia-sia dia datang. Walau harus menunggu tapi ada hasilnya. Yang penting sabar saja hadapi semua persoalan. Sekarang Gina ingin melawan Subrata agar laki itu tahu bagaimana rasanya sakit hati dikhianati oleh orang lain. Gina posisikan diri sebagai orang lain buat Subrata, ranah yang akan buat malu Subrata seumur hidup. Kejadian dulu sudah cukup coreng muka Subrata terbongkar isterinya itu mantan psk kondang. Sasaran Gina selanjutnya adalah Lucia. Wanita itu harus rasakan derita yang dia rasakan bertahun ini. Memendam rasa sedih.
Pak Julio muncul bersama asistennya yang setia. Laki itu begitu senang lihat keponakannya sudah bersedia datang ke perusahaannya. Siapa tahu hati Gina tergerak bantu di perusahaannya. Pak Julio tahu Gani dan Gina menyimpan potensi bisa dibanggakan. Kalau tidak tak mungkin Kevin pertahankan kedua saudara kembar itu. Namun pak Julio tak mau memaksa karena tahu kalau kedua anak itu bukan orang kemaruk harta.
Gina kontan berdiri begitu pak Julio datang hampiri dia. Senyum lebar berhias di wajah lelaki itu bak mentari pagi bersinar sejuk. Pak Julio beri kesan sangat bahagia Gina mau datang ke tempat kerjanya.
"Akhirnya kau datang nak!" Pak Julio menepuk pipi Gina tak malu diperhatikan banyak karyawan. Kalau orang tak tahu hubungan kedua orang ini akan mengira Gina ini gadis nakal penggoda bos mereka.
Pak Julio cuek bebek tak peduli pada tatapan mata aneh dari karyawan lain. Dia tak merasa berbuat salah untuk apa peduli pada orang lain.
__ADS_1
Gina hanya tersenyum tanggapi kehangatan yang disodorkan oleh pak Julio. Gina bisa rasakan betapa tulusnya kasih sayang pak Julio pada mereka cuma mereka yang tahu diri tak mau ambil kesempatan masuk ke dalam keluarga kaya raya ini. Takutnya orang akan anggap mereka gunakan kesempatan cari keuntungan.
"Hei kenapa tanganmu? Jangan bilang berantem ya! Pak Sabri bilang kamu ini suka berantem!" Pak Julio mengangkat tangan Gina tinggi-tinggi mau lihat apa yang terjadi pada tangan keponakan itu.
"Nanti saya akan cerita! Kita cari tempat untuk ngobrol sebentar!" Gina melirik kiri kanan agak jengah dapat perlakuan terlalu hangat dari bos perusahaan ini. Takut muncul tanggapan negatif.
"Ayok ke ruangan bapak!" ajak Pak Julio duluan jalan menuju ke tempat lift pribadi bos untuk naik ke lantai atas. Gina dan asisten pak Julio mengekor dari belakang ikut langkah sang pemimpin.
Ketiganya segera masuk ke dalam lift yang sudah standby menanti bos. Lift itu khusus diperuntukkan untuk pemimpin jadi yang boleh pakai hanya bos. Pak Julio tampak sangat ceria dikunjungi oleh keponakan. Pak Julio tak sabar mau ajak Gina kerja di tempatnya. Dia bisa lepas tangan bila ada orang bisa dipercaya untuk handel perusahaan. Pak Julio lebih percaya pada Gina ketimbang Gani yang masih tampak kurang meyakinkan.
Bunyi Ting tanda lift sudah sampai di lantai yang diinginkan. Pak Julio awali langkah keluar dari lift berjalan ke ruang kerjanya. Gina dan asisten masih mengekor dengan setia dari belakang. Gina datang dengan beberapa tujuan hendak minta bantuan pak Julio tekan Mahabarata agar jangan sombong lagi. Subrata terlalu angkuh dengan nama besar serta kekayaan keluarganya. Gina akan padamkan kemegahan Subrata melalui tangan Pak Julio.
"Pak Amir! Tolong sediakan makanan dan minuman paling lezat untuk keponakan aku!" ujar pak Julio kepada asistennya.
Pak Amir meletakkan tas kerja pak Julio lantas mengundurkan diri mencari pesanan pak Julio. Bayangan lelaki setengah baya itu perlahan hilang ditelan pintu kaca. Dari balik kaca Gina masih melihat lelaki itu pergi dengan langkah pelan. Umur tak bisa bohongi orang. Asisten pak Julio memang sudah tua namun setia.
"Duduk nak!" Pak Julio tidak dudukdi kursi kerjanya melainkan duduk di sofa bersama Gina. Pak Julio mau lihat keponakannya dari dekat. Gadis energi multi talenta. "Gimana ibumu?"
"Alhamdulillah sehat pak! Maaf belum sempat ke rumah! Banyak sekali kejadian menimpa pak Kevin! Baru ini dia diserang orang."
"Dan kamu korban diri selamatkan dia!" pak Julio menunjuk luka di tangan Gina. Pak Julio hanya menebak dan sangat tepat tebakannya. Kalau tebakan berhadiah mungkin Pak Julio sudah dapat hadiah utamanya.
Gina menunduk malu ketahuan korbankan diri demi majikan. Gina seperti pasukan berani mati mengawal bos. Nyawa bos lebih penting dari nyawa sendiri.
"Saya datang untuk bicara soal proyek di kota M dan mengenai Mahabarata!"
"Mahabarata??? Apa hubungan kamu dengan mereka?" tanya pak Julio serius.
"Dialah manusia berhati setan yang bikin ibu hidup sengsara! Dia buang kami demi perempuan yang dia jadikan isteri sekarang. Dia ceraikan ibu tanpa beri satu senpun karena hasutan setan perempuan itu. Padahal perempuan itu sampah masyarakat!" ujar Gina dengan kilatan mata mengandung dendam membara.
Pak Julio angguk-angguk mulai paham mengapa Gina sangat benci pada Subrata. "Kamu dibalik teror video yang tersiar ke umum?"
Gina merasa tak guna tutupi kebenaran dari pamannya itu. Dia harus jujur agar pak Julio bersedia membantunya.
__ADS_1
"Ibu hidup menderita sekian tahun. Untung ada ayah temani ibu lewati masa suram. Beliau temani ibu tanpa pamrih. Saya dan Gani terpaksa turun tangan untuk nikahkan ayah dan ibu setelah sekian tahun bersama tanpa kejelasan. Saya takut Subrata merongrong ibu maka kami berdua ambil keputusan menikahkan mereka."
"Apa mau mu nak? Tak baik menyimpan dendam terlalu lama! Kita semua sudah punya kehidupan masing-masing. Bapak rasa istri Subrata cukup malu masa lalunya terbongkar ke publik. Apa kau belum puas?" nasehat Pak Julio tak mau Gina meracuni hidup dengan dendam. Pak Julio mau Gina hidup tenang tak perlu hubungan dengan orang tak perlu bila tak mau.