
"Yang pasti bukan sembarangan anak gadis. Beri aku tiga macam contoh perhiasan cincin biar dipilih calon istri aku."
Bu Cahaya beri kode pada penjaga toko untuk sediakan permintaan Kevin. Bu Cahaya tidak ragu penuhi permintaan Kevin Karena Kevin lah pemilik semuanya. Dia mengambil barang di tokonya sendiri siapa berani melarang.
Semua permintaan Kevin dimasukkan dalam kotak indah biar Kevin puas dengan pelayanan tokonya sendiri. Kevin bisa menilai sendiri cara pelayanan toko yang dipercayakan kepada Cahaya.
"Terimakasih Bu Cahaya...aku permisi dulu! Mau jumpa calon untuk minta pendapat tentang cincin ini."
Kevin menerima paper bag berisi perhiasan lalu serahkan kepada Jay. Jay tersentuh hati Kevin tak takut padanya bawa lari perhiasan yang harganya tentu bukan ratusan ribu.
Kedua laki itu meninggalkan toko dengan tergesa diiringi tatapan mata kedua wanita dalam toko. Gadis penjaga toko masih tak percaya Bu Cahaya demikian percaya pada pelanggan tanpa takut kabur bersama perhiasan. Gadis itu sama sekali tak tahu kalau Kevin adalah owner dari toko perhiasan ini.
"Bu...apa tidak bahaya percaya segitu banyak perhiasan pada orang itu?" tanya si gadis lugu.
Bu Cahaya tersenyum tidak jengkel diprotes secara tak langsung oleh anak buah. Bu Cahaya justru senang kalau pegawainya ada rasa tanggung jawab terhadap tugas.
"Jelas kita tak boleh sembarangan percaya sama orang lain. Kau harus makin waspada pada orang belanja namun ada pengecualian untuk bapak itu. Dialah pak Kevin pemilik toko perhiasan ini."
Gadis penjaga toko melongo tak percaya kalau owner datang sendiri pilih cincin untuk calon bini. Gadis itu tak sangka bos aslinya masih muda dan ganteng. Pria impian semua gadis. Gadis mana demikian beruntung taklukkan hati laki itu. Coba kalau dia yang berada di posisi gadis itu. Angin indah setiap gadis muda.
"Masih muda dan ganteng banget!"
"Iya...ntah siapa gadis beruntung itu? Pak Kevin tak pernah sembarangan pacaran. Dia jarang dekat wanita bahkan hampir tak pernah dengar dia sembarangan pacaran. Siapapun wanita itu pasti akan bahagia." ujar Bu Cahaya menerawang jauh ke depan ingat Kevin yang bersih dari segala skandal dengan wanita.
"Ya...pasti wanita sangat istimewa baru bisa merebut perhatian pak Kevin." gumam gadis penjaga toko tak bisa sembunyikan rasa iri pada wanita yang berhasil merebut cinta Kevin.
"Sudah pasti gitu! Ya sudah...kamu tetap hati-hati kalau tak mau masuk penjara. Kalau ada apa-apa panggil aku!"
"Ya Bu.."
Wanita bernama Cahaya itu kembali masuk ke dalam lanjutkan kerja dia. Tinggallah gadis penjaga toko menyesal tak kenali Kevin seketika. Bahkan dia telah curigai bos utama itu.
Kevin segera balik ke kantor menunggu kabar dari Gina. Gadis itu tidak membalas telepon Kevin ataupun kirim wa untuk beri kabar. Harusnya Kevin sadar kalau Gina bukan gadis manja andalkan koneksi untuk maju. Dia andalkan diri sendiri untuk menjadi pemimpin berkelas. Kini Gina mendapat tugas penting dari opanya untuk kelola perusahaan yang hampir tumbang akibat korupsi besar-besaran di tubuh perusahaan. Gina harus putar otak kembalikan dana segar perusahaan. Jika perlu gunakan jalan kekerasan biar tikus got itu kapok.
Sesampai di kantor sudah ada Lucia berada dalam ruang kerja Kevin. Kelihatan jelas gadis ini menunggu Kevin dari tadi. Wajahnya tampak lesu kurang cerah tak seperti biasa selalu berusaha seri bila jumpa Kevin.
Jay langsung berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Kevin menemui Lucia untuk pertegas kalau dia tak bisa diharapkan lagi. Kevin sudah dapat lampu Hijau dari keluarga Om Sabri untuk lanjut meminang Gina. Apa pula angin Gina sedang bertiup adem bersedia menerima lamarannya. Kevin takkan siakan kesempatan ini mencari pujaan hati.
Lucia langsung berdiri begitu Kevin masuk ruang kerja. Pandangan mata Lucia tak pernah berubah bila menatap Kevin. Selalu terpancar rasa sayang dan cinta mendalam. Jelas sekali Lucia memuja Kevin. Sayang Kevin tak cinta pada gadis ini. Hatinya telah dititipkan pada monster pelindung.
__ADS_1
"Kok telat mas?" tanya Lucia kembali tempatkan pantat di kursi tempat dia duduk tadi. Sikap Lucia tetap tenang walau dalam hati berduka skala internasional.
"Ada sedikit urusan di luar. Mau minum teh atau kopi?" Kevin menarik kursi lalu duduk nyaman sambil menatap Lucia. Kevin tak mungkin cerita kalau dia baru saja mencari cincin kawin untuk Gina. Kevin masih punya hati tidak sakiti wanita terlalu dalam.
"Tidak usah mas...mas mau bahas soal perhiasan yang kurancang?"
Kevin mengangguk. Sebenarnya Kevin sangat berat membuka kedok Lucia tapi bagaimanapun tetap dia harus melakukannya untuk konfirmasi kebenaran gadis ini menjiplak hasil karya orang lain. Harga diri Lucia akan terbanting bila Kevin buka mulut katakan yang sebenarnya. Kevin menimbang harus mulai dari mana agar Lucia tidak malu ketahuan curi karya orang.
Kevin menautkan kesepuluh jari bersamaan mengetuk-ngetuk di atas meja sedang pikir cara terbaik bahas rancangan Lucia. Lucia menatap heran pada laki di depannya karena tak kunjung keluarkan suara. Katanya mau bahas soal kerja namun masih bungkam.
"Mas...ada apa ini?"
Kevin tersentak mendapatkan rohnya lagi. Tadi roh Kevin melayang-layang cari kalimat terbaik agar kedua belah pihak tidak canggung bila semuanya terbongkar.
"Cia...aku mau tanya apakah sketsa gambar itu kau yang buat?"
Mata Lucia menyipit dengar pertanyaan yang dia anggap aneh. Selama ini Kevin tidak pernah bertanya tentang setiap rancangannya. Begitu dia menyerahkan sketsa gambar langsung diberikan kepada editor untuk dikoreksi apa sudah pantas untuk diluncurkan di pasaran. kali ini pertanyaan Kevin mengandung kecurigaan mendalam.
"Apa maksud mas?"
Kevin tidak segera menuduh Lucia menjiplak gambar orang. Kevin mundurkan badan ke belakang sandaran beri waktu pada Lucia untuk berpikir apa yang akan dia katakan lagi. Sikap Lucia sangat tenang tak tampak dia sedang berbuat curang. Seorang penipu profesional.
Muka Lucia berubah warna diserang Kevin secara halus. Lucia tak menyangka kalau tim kerja Kevin mampu tembus pasaran internasional.
"Aku tak ngerti maksud mas. Itu murni gambar aku. Mungkin dia yang jiplak gambar aku." tukas Lucia perlihatkan rasa marah.
Kevin puji mental pembohong Lucia. Sudah ketahuan masih mampu berkelit. Kevin menahan diri untuk tidak berkata kasar pad gadis ini. Bagiamana pun juga Lucia terloncat telah berjasa menyumbang rancangan lumayan banyak pada perusahaan.
"Orang itu posting gambarnya sebelum kamu serahkan sketsa. Semua sama tanpa ada beda sedikitpun bahkan warna permata juga sama. Dia bisa tuntut kita kalau ketahuan lempar rancangan dia ke pasaran. Perusahaan kita bisa ditutup bila dia bawa ke jalur hukum internasional. Kau tak pikir akibat itu?"
Lucia terdiam tak bisa segera jawab. Gadis ini harus pikir alasan agar tidak malu dibuat oleh Kevin. Lucia mau ngelak juga tak ada guna bila fakta telah terbuka jelas. Pemilik gambar sudah pesan pada Lucia kalau gambarnya tidak dijual. Lucia yang bandel transfer uang pikir semua berjalan seperti biasa. Ternyata orang itu tidak main-main tak mau uang Lucia.
"Lucia???" panggil Kevin mau tahu berapa ribu alasan akan diberikan oleh Lucia.
Lucia menepuk dada sebelum melontarkan jawaban untuk memenuhi tuntutan Kevin. Dia harus beri alasan logis agar semua kecurangan di masa lalu tidak terbongkar.
"Baik..mas setiap hari mendesak aku beri gambar sedangkan aku stress karena masalah mama. Secara tak sengaja aku lihat gambar ini di internet dan pikir itu bukan perancang ternama dan bukan orang sini. Mereka mana peduli pangsa pasar kita di Indonesia. Maka aku beranikan diri ambil gambar dia. Aku minta maaf." ujar Lucia lirih minta dikasihani oleh Kevin.
"Maunya kamu jujur daripada bawa bencana buat perusahaan. Kau pikir pangsa pasaran kita tidak dipantau di luar negeri? Kita juga punya perancang sudah go internasional dan sangat berbakat. Sayang orangnya tidak tertarik untuk menjadi perancang tulen. Kau terlalu memandang rendah orang lain Lucia. Gambar yang kau berikan samasekali tidak bisa kita gunakan bahkan nyontek juga tak boleh." Kevin agak keras sedikit karena Lucia tetap tak merasa itu bukan hal luar biasa. Menjiplak bukan masalah besar buat gadis itu. Lucia itu ibarat katak dalam tempurung tak tahu betapa hebat resiko ambil hak cipta karya orang lain.
__ADS_1
"Aku tak tahu kalau buntutnya bisa sepanjang ini."
"Lucia...kamu ini orang berpendidikan mengapa tidak terpikir hargai karya orang lain. Aku tak tahu harus bilang apa lagi. Kamu jangan sekali-kali posting gambar itu kalau tak mau terkena sanksi internasional. Ini bukan perkara kecil. Untuk sementara kau tak perlu berikan gambar karena aku takut kamu akan comot dari karya siapa lagi." kata Kevin dengan ketus. Kevin mulai perlihatkan sikap kurang senang Lucia tak anggap itu masalah besar.
"Aku akan usaha terbitkan karyaku sendiri tapi jangan desak aku. Nanti mas bisa cek di mana saja apa itu gambar aku atau bukan." Lucia masih bersikeras selamatkan muka agar tak dianggap tukang tipu. Faktanya dia memang tukang tipu berkelas. Gunakan uang untuk tutupi semua casing luar yang dasarnya bodoh.
Kevin sudah tak berharap terlalu banyak dari wanita ini. Sekali Lucia berani jiplak hak cipta orang maka jiwanya sudah rusak. Bisa jadi akan muncul kejadian selanjutnya bikin perusahaan ikut terseret kasus plagiat. Kevin ngeri pada Lucia terlalu berani. Kevin tak sanggup ikut main dengan Lucia bahayakan diri juga perusahaan.
"Itu nanti kita bahas lagi. Kuharap kau singkirkan semua gambar orang lain. Kita tak bisa lawan hukum karena mereka yang benar."
"Aduh mas...cuma sekali aku bersalah mas sudah semarah ini. Aku akan bayar semua kesalahanku dengan berkarya lebih baik lagi." Lucia ciptakan kebohongan baru lagi. Harusnya dia akhir semua ini agar tak berlanjut sandiwara menjadi perancang yang bukan keahlian dia. Keahlian Lucia hanya berbohong serta bergaya anak orang kaya.
Kevin dingin saja menanggapi ocehan Lucia. Sebelum Lucia buktikan dia mampu maka semua yang dikatakan Lucia hanya isapan jempol alias omong kosong.
Lucia makin buruk di mata Kevin karena tak merasa yang dia lakukan itu merugikan orang lain terutama perusahaan.
"Aku tak minta apapun darimu lagi selain jaga sikap tidak sembarangan comot hak orang. Orang yang dirugikan takkan tinggal diam."
Lucia mengutuk orang yang memberinya gambar.Lucia merasa telah dijebak oleh orang itu padahal jelas pirang itu telah larang Lucia gunakan gambarnya. Lucia bersumpah akan memaki orang itu untuk lampiaskan rasa kesal menjadi buruk di mata Kevin.
"Aku akan buktikan kalau aku memang perancang perhiasan."
"Silahkan! Jika perlu kau boleh kerja di dalam kantor ini untuk beri aku keyakinan bahwa kamu memang ciptakan karya sendiri." Kevin sengaja beri kesempatan pada Lucia untuk bersihkan nama baik. Kevin tidak keberatan menyiapkan tempat di dalam ruangannya untuk memberi kesempatan kepada Lucia lagi.
Lucia seperti mendapat durian runtuh bisa satu ruangan dengan Kevin. Gadis ini tentu saja merasa girang mendapat kesempatan berada satu ruang dengan orang yang dia cintai. Namun Lucia tidak memikirkan resiko kalau dia tidak mampu menelurkan satu karya di depan Kevin. Dia akan tampak lebih buruk lagi membuktikan bahwa dia memang tidak memiliki kemampuan apapun. Lucia mana mau putar hingga lelah. Yang penting Kevin sudah tawarkan jalan terbaik agar mereka bisa lebih dekat.
Lucia tak tahu kalau Kevin sedang menguji kemampuan otak wanita ini. Kalau Lucia datang hanya untuk bergaya maka selama ini Lucia memang sedang main api bohongi perusahaan. Kevin tak mau dibohongin terusan oleh Lucia. Jalan terbaik adalah buktikan sendiri.
Kalau Gina sudah terbukti mampu merancang dalam waktu singkat karena dia memang punya talenta ke situ. Memilih Gina menjadi pendamping hidup adalah jalan paling tepat buat masa depan Kevin. Tidak perlu wanita lain di sisinya.
"Terimakasih mas! Aku akan pindah kerja di sini. Sekarang atau besok?"
"Besok saja biar kusiapkan komputer dan meja kerja untukmu. Kau bisa bawa keyboard gambar kamu ke sini."
"Keyboard gambar? Apa itu?" tanya Lucia heran baru kali ini dengar ada benda demikian. Bukankah keyboard untuk mengetik berkas di komputer maupun laptop.
Lucia tak sadar telah buka kedoknya tidak ngerti soal merancang. Seorang perancang pasti punya keyboard khusus untuk menggambar karena keyboard biasa tak bisa digunakan untuk melukis. Kevin sudah lihat cara Gina gunakan benda itu sewaktu disuruh menggambar di depan Kevin. Ini jangankan suruh gambar, keyboard untuk gambar saja dia tak ngerti.
"Ya Tuhan Cia...jadi selama ini kamu menggambar pakai apa? Setiap perancang pasti punya alat itu karena sudah jadi kebutuhan. Ini zaman moderen tak mungkin kau melukis di atas kertas putih lalu print lagi. Kau ngerti ngak sih cara merancang perhiasan?" Kevin berucap dengan nada meremehkan. Kevin makin yakin Lucia telah banyak main curang soal gambarnya.
__ADS_1
"Oh itu..." Lucia gagap sendiri ketahuan bodoh tak ngerti soal dunia merancang. "Aku pikir keyboard gimana. Ya ada dong! Aku akan beli baru biar tak usah bawa sana sini."