JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Pengakuan


__ADS_3

Sebenarnya Kevin juga tidak tega melihat Peter meringkuk di dalam penjara. Tapi saudaranya itu sudah terlanjur melakukan kesalahan maka dia mesti menanggung semua akibatnya.


"Hai...gimana keadaan kamu?" tanya Kevin pelan takut menyinggung perasaan Peter yang sedang sensitif. Kevin menangkap kesedihan tersirat di wajah tampan itu.


"Ya gitulah! Vin...kau harus keluarkan aku! Aku akan jujur kepadamu semua yang terjadi pada om Ibrahim. Aku akui aku memang bersalah ikutan dengan Luna kuasai uang papa kamu. Tapi aku tak berniat melukai beliau." Peter maju mendekati Kevin memegang terali jeruji seperti ingin mematahkan besi-besi itu untuk bisa keluar dari kurungan.


"Maaf Peter! Sebelum ada pemeriksaan aku tak bisa berbuat apa-apa. Ini aku bawakan makanan sarapan pagi. Kau mesti bersabar menunggu hasil pemeriksaan. Kalau kau tak bersalah tak usah takut. Mau sampaikan apa langsung kepada komandan kita." Kevin menunjuk Ardi yang memantau percakapan kedua laki itu. Ardi takkan berpihak pada manapun selain mengacu pada kebenaran.


Peter mengangguk lesu. Harapan pergi dari tempat terkutuk ini hilang bak air kotor mengalir ke selokan. Bercampur dengan semua kotoran.


Ardi berbaik hati membuka pintu sel ijinkan Peter keluar. Ardi yakin Peter tidak akan kabur dari situ. Kemungkinan kabur juga tipis, di luar sana banyak aparat siaga walau tampak adem ayem.


Peter tak buang kesempatan hirup udara lebih bersih dari dalam sel yang pengap. Nafas Peter terasa plong padahal jaraknya hanya beberapa dari tempat Kevin berdiri. Betapa sedih harus menyandang gelar narapidana walau belum jelas dosa Peter. Yang jelas Peter pernah dipenjara. Itu saja akan coreng nama baik dia.


Kevin menyodorkan makanan yang dia beli di jalanan. Kevin berharap Peter bersyukur masih ada yang perhatian dari Kevin. Peter telah banyak buat salah namun Kevin berbesar hati melupakan kesalahan Peter termasuk beri dia obat tak sesuai resep.


Peter memandangi bungkusan di tangan pingin nangis. Kevin masih mau menjenguk dia tanpa ingat semua kesalahan dia. Peter tamak sekali mau kuasai seluruh aset Kevin termasuk yang tertinggal dari papa Kevin. Ketamakan yang merajai hati itulah yang menjatuhkan iman seseorang. Iman Peter setipis tisu sehingga cepat tergoda hawa nafsu setan. Sudah tipis cepat koyak pula.


"Vin... terimakasih mau datang! Kalau aku diberi kesempatan aku berjanji akan berubah."


"Kita lihat hasil pemeriksaan. Kamu cuma perlu jujur untuk ringankan hukuman. Om dan Tante ada datang?"


Peter menggeleng. Tak seorangpun dari keluarga bersedia menjenguknya. Justru orang yang dia sakiti yang datang melihat kondisinya. Peter harus mulai belajar membuka mata melihat lebih dengan jelas siapa ya yang memiliki hati hitam dan putih. Selama ini Peter telah berpijak di lahan yang salah maka dia tenggelam di lahan yang penuh lumpur itu.


Kevin tidak menyalahkan kedua orang tua Peter ogah datang menjenguk anaknya yang menjadi narapidana. Orang tua mana tidak malu memiliki anak bermasalah dengan hukum.


"Papa dan mama pernah larang aku berhubungan dengan Luna namun aku terlanjur basah tenggelam dalam pesona Luna. Aku yang salah Vin... ternyata papa ada mama telah mengetahui akal licik Luna maka mereka melarang aku mendekati perempuan itu. Ya begini akhirnya." suara Peter memang mengundang rasa iba tetapi Kevin tidak semudah itu membebaskan dia.


"Kamu yang sabar... kamu boleh menuangkan semua kejahatan kedua perempuan itu kepada Pak Ardi. Mungkin karena ini bisa memperingan hukuman kamu."


"Iya...aku janji...satu lagi Vin. Selama ini dokter Clara memberi obat penenang kepada kamu tetapi telah ditukar oleh Luna. Dia mengganti obatmu dengan obat pengacau syaraf. Aku yang bodoh membantunya menukar obat itu."


Kevin tidak terkejut lagi mendengar pengakuan Peter namun Kevin tidak menyangka itu termasuk salah satu ide busuk Luna. Yang menjadi pertanyaan di dalam pikiran Kevin adalah mengapa Peter bisa sebodoh itu dijadikan alat untuk mencapai maksud tujuan Luna. Pengakuan ini yang ditunggu-tunggu oleh Kevin mengungkap kelicikan Peter dan Luna.


Ardi kaget menemukan fakta baru kalau ada kasus baru dilakukan oleh Luna. Menukar resep asli dari dokter sama saja melakukan rencana pembunuhan. Bagaimana kalau obat yang diberikan itu membawa akibat buruk pada kesehatan Kevin. Dan itu telah terjadi karena selama ini Kevin konsumsi obat tersebut selalu berhalusinasi selalu ketakutan berdekatan dengan wanita. Untunglah muncul seorang wanita perkasa mengangkatnya dari keterpurukan.


"Kau bisa lapor pada komandan Ardi sewaktu di BAP. Cerita sejujurnya tanpa perlu takut. Aku dukung kejujuran kamu. Oya.. aku harus ke kantor jadi tak bisa lama. Kalau kamu perlu sesuatu katakan kepada Pak Ardi. Aku akan meminta Gani mengantarnya kepadamu."


Peter tertawa pahit meratapi nasibnya yang sangat sial ketemu perempuan selicik Luna. Seluruh hidupnya telah hancur gara-gara seorang perempuan.

__ADS_1


"Baik...kau mau pergi sekarang?" Peter tak harap Kevin tinggalkan dia. Peter sangat membutuhkan orang yang bisa menenangkan hatinya saat ini.


"Iya...satu lagi! Apa benar anak Luna itu anakmu?"


Bibir Peter bergerak ingin menjawab pertanyaan Kevin namun masih dipenuhi oleh keraguan. Peter sendiri tidak mengetahui apa itu anaknya namun menurut pengakuan Luna itu memang anak Peter. Peter tidak merasa terbebani karena anak itu memang tidak berada di tanah air. Dia hanya jumpa setahun sekali. Itupun kalau anak itu pulang liburan.


"Aku tak tahu...menurut Luna itu anakku."


"Lalu kamu terima saja? Mengapa tidak pernah terpikir oleh kamu itu anak orang lain tetapi ditimpakan ke atas bahu kamu. Apa kamu tidak mengenal kelicikan Luna? Kusarankan kamu bawa anak itu test DNA."


"Kurasa itu tidak perlu lagi. Luna pasti akan dipenjara bertahun-tahun sedangkan anak itu berada di luar negeri. Kelanjutan kehidupan anak ini masih menjadi pertanyaan. Siapa yang akan membiayai hidup anak ini bila Luna telah masuk penjara. Dia hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa jadi kita tak boleh menghukum anak itu untuk kejahatan orang tuanya."


Kevin tertawa kecil tumben Peter menjadi bijak mau memahami kesulitan anak yang tak berdosa itu. Bagaimana nasib anak Luna masih dalam pemikiran Kevin dan Peter. Betul kata Peter siapa yang akan membiayai anak itu karena dia bersekolah di luar negeri. Biaya yang dikeluarkan juga tidak kecil.


"Kurasa anak itu harus dibawa pulang ke tanah air. Titip pada papa dan mama kamu. Kasihan toh seorang anak kecil tidak memiliki keluarga di luar sana!"


"Aku akan memikirkan hal itu. Dia anakku atau bukan tetap aku akan usaha dia hidup layak walau tak bisa sekolah di luar negeri."


Ardi dan Kevin salut pada niat suci Peter. Orang itu tak peduli anak Luna anaknya atau bukan namun dia akan tanggung jawab pada anak itu. Kalau dari dulu Peter sebijak ini tentu saja tak masuk perangkap Luna. Pesona seorang wanita memang luar biasa bisa membengkokkan besi lurus.


"Aku bantu doa saja. Aku ke kantor dulu. Kau baik-baik di sini. Kalau Luna ajak kamu lakukan hal tak terpuji kamu kaji sendiri pantas lakukan atau tidak. Semua berbalik pada kamu. Aku pergi." Kevin keraskan hati tak mau lihat tampang sedih Peter mengantar dia tinggalkan sel tahanan.


Peter tahu diri kembali ke dalam sel tanpa disuruh oleh Ardi. Kalau pun Peter mau lama di luar tak bakalan dikasih. Ardi keluarkan Peter sebentar untuk beri muka pada Kevin. Ardi mulai kenal Kevin sebagai lelaki baik maka percaya Kevin takkan buat aneh-aneh membantu Peter kabur dari tahanan.


Ardi mengantar Kevin sampai dekat parkiran mobil. Kedua laki dewasa ini salaman untuk kerjasama mereka meringkus para penjahat. Kevin sudah tunjukkan sikap warga baik tak mainkan hukum dengan denting koin emas. Kevin mau hukuman dilaksanakan sesuai hukuman penjahat.


"Tolong jaga mereka semua. Kapan Angela akan naik sidang?" tanya Kevin sebelum masuk ke dalam mobil.


"Tak lama lagi. Lucia cukup stress dengar mamanya mau divonis. Maunya kita bisa bantu namun kita tak boleh intervensi kecuali Gina mau cabut tuntutan hukum. Angela tetap di penjara namun tak lama." Ardi kuatirkan kejiwaan wanita yang sedang dekat dengannya.


"Itu urusan kakak adik itu pak polisi. Kita tak perlu ikut campur. Cuma kamu boleh bilang ke Lucia untuk temui Gina. Gina itu keras luar saja. Hatinya sangat lembut."


Ardi manggut-manggut akan sampai kan saran Kevin pada Lucia. Mungkin kalau Lucia memohon agar Gina berbelas kasihan bisa jadi dikabulkan. Tergantung mood Gina juga. Anak itu kadang suka uringan bila suasana hati tidak pas.


"Aku akan sampaikan. Hati-hati di jalan pak Kevin." Ardi melambai biarkan Kevin melajukan mobil ke jalan raya.


Lama Ardi menatap kendaraan Kevin sampai menghilang dari pandangan mata. Baru kali ini Ardi kuatir pada pada nasib seorang wanita. Hati Ardi belum bisa terbuka sejak mengalami kejadian tak menyangka di mana tunangannya berselingkuh dengan lelaki lain. Celakanya Ardi sendiri yang menggeprek tunangannya atas laporan masyarakat. Masyarakat tempat kost selingkuhan tunangannya telah resah karena lelaki itu sering membawa perempuan ke rumah maka masyarakat melapor ke pihak yang berwajib. Sedikitpun Ardi tidak mengira kalau perempuan yang dibawa oleh lelaki itu adalah tunangannya. Dari situ rasa percaya Ardi terhadap wanita jatuh ke titik paling rendah.


Kemunculan Lucia mengetuk pintu hati Ardi yang sudah lama membeku. Lucia yang manja telah menghangatkan hatinya sehingga perlahan-lahan mencair. Ardi sendiri belum yakin untuk melangkah lebih jauh bersama Lucia.

__ADS_1


Ardi meninggalkan halaman parkiran masuk kembali ke dalam kantor polisi tempat dia bertugas. Ardi memang berniat membantu Lucia meringankan hukuman ibunya namun Ardi tak memiliki daya membalikkan kebenaran. Ardi tetap harus konsisten menghukum orang yang bersalah tapi di sisi lain mengingat kesedihan Lucia membuat hati Ardi menjadi sedih.


Teringat perkataan Kevin meminta Lucia menghubungi Gina bila ingin meringankan hukuman mamanya. Ini merupakan salah satu solusi membantu Angela terhindar dari hukuman maksimal.


Ardi mencari ponselnya yang tersimpan di dalam laci untuk menghubungi Lucia mengabarkan perkataan Kevin. Siapa tahu anjuran Kevin mujarab untuk Lucia. Lebih baik mencoba ketimbang duduk menunggu nasib.


Tanpa ragu Ardi mencari kontak Lucia menghubungi gadis itu. Cukup lama Ardi menunggu barulah ada sahutan dari seberang. Itupun Ardi menerima suara bantal orang baru keluar dari alam mimpi.


"Halo..." sahut diseberang buyarkan rasa kaget Ardi. Lucia tak sadar telah mendapat nilai merah dari Ardi. Jam segini belum bangun. Apa Lucia satpam jaga malam tak boleh tidur malam hari. Pagi hantu shift baru boleh tidur.


"Assalamualaikum..." sapa Ardi menyadarkan Lucia dengan siapa dia bicara.


"Pak Ardi??? Tumben.."


"Jawab salam dulu nona!" Ardi mengingatkan Lucia sebagai orang beradab harus menjawab salam dari orang lain.


Andaikata Ardi berada di dekat Lucia bisa melihat betapa malunya Lucia kepergok telat bangun juga tak tahu sopan santun.


"Oh maaf... waalaikumsalam..." jawab Lucia terbata-bata menanggung malu. Ingin rasanya Lucia memutar waktu kembali ke malam hati biar tak tampak bodoh.


"Kenapa? Semalam ikut ronda kampung?"


Pertanyaan terdengar sederhana tapi mengandung ejekan sangat mendalam. Lucia menanggung rasa malu melebihi satu kontainer. Terlanjur ketahuan malasan maka Lucia harus pintar ngeles. Mau tarok di mana wajah cantiknya.


"Aku semalam tak bisa tidur mikirin nasib mama. Makin dekat waktu sidang makin galau hatiku." Lucia mendapat alasan tepat untuk mengurangi nota buruk dalam dirinya. Lucia memang memikirkan nasib mamanya yang bakal masuk sidang. Lucia tidak tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada mamanya.


"Maaf aku tak tahu. Aku telepon kamu mau ajak kamu diskusi soal mamamu. Tadi Kevin ada datang jenguk peter. Dia bilang suruh kamu jumpai Gina tidak beratkan mamamu. Gina itu cuma keras di luar dasarnya dia itu lembut hati."


"Aku tahu...dia menutupi kerapuhannya dengan bertingkah sok jagoan. Oya.. kenapa mas Kevin datang menjenguk Peter? Apa yang telah terjadi? Mengapa Peter masuk penjara?"


"Peter terlibat penganiayaan papa Kevin. Dia bantu Luna dan bu Mince aniaya orang tua itu."


"Tuhan...itu bukan Peter. Aku mengenalnya sebagai sosok hangat dan baik. Mengapa dia berubah menjadi jahat? Kurasa ini pengaruh dari si Luna yang licik itu."


Ardi percaya apa yang dikatakan Lucia itu benar. Sudah bicara dengan Peter rasanya tak mungkin laki itu jahat. Setiap kelakuannya mencerminkan kesopanan dan tahu di untung tapi fakta di lapangan Peter memang telah berbuat salah.


"Buktinya ada kok. Peter juga sudah mengakui semua kesalahannya. Dia dipengaruhi oleh Luna dan Bu Mince untuk melakukan tindakan kejahatan termasuk meracuni Kevin dengan obatan."


"Ya Tuhan... Peter... tak kusangka dia bisa terjerumus dengan kelompok jahat itu. Kevin telah berbuat banyak untuk menolong Peter menjadi manusia berguna tapi mengapa dia tega sejahat itu pada Kevin. Peter tahu persis kalau Kevin adalah sosok yang terluka gara-gara masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2