JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Tekat Angela


__ADS_3

Bibik menerima pemberian Gina dengan senang hati. Bibik bukannya tidak tahu kalau kehidupan keluarga Sum di kampung cukup memprihatinkan. Cuma Sum yang tak tahu diri ingin hidup senang tanpa memikirkan akibat perbuatannya. Sum menatap nanar uang di tangan Bibik. Ntah apa yang terlintas di benak wanita ini. Mungkin kesal dia tak dapat kepercayaan Gina atau bahagia keluarga di kampung sudah dapat bantuan ala kadar sampai menunggu dia gajian.


Seharusnya Sum bersyukur jumpa Gina dalam kondisi mood baik. Kalau di hari sebelumnya mungkin Sum sudah remuk kena tinju Gina. Apa yang dipikiran Sum tidaklah penting. Bagi Gina yang penting keluarga Sum tidak kelaparan di kampung.


"Terima kasih nak Gina...bibik bersyukur jumpa Kamu. Semoga kamu dan Nak Kevin langgeng hingga akhir hayat." bibik berdoa dengan tulus untuk membalas kebaikan Gina.


"Amin...aku pergi ke kantor ya bik! Semuanya Gina serahkan pada bibik. Siang tak usah masak untuk kami. Kami makan di luar siang ini. Bibik masak untuk malam saja." Gina segera angkat tas berisi seprei dan juga tas kerja dia. Maunya Gina tetap pergi dengan motor matic kesayangan namun sudah terlanjur janji pada Kevin tidak akan gunakan kendaraan roda dua itu lagi. Gina tak ingin membohongi Kevin walaupun lelaki itu tak mungkin tahu kalau Gina pergi dengan apa. Saling mengisi dan menerima adalah syarat utama dalam satu rumah tangga. Kejujuran akan membentuk fondasi yang kuat dalam satu keluarga.


Akhirnya Gina berangkat juga dengan taksi online yang telah dia pesan. Rencana Gina ingin pulang ke rumahnya dulu namun waktu tidak mengizinkan dia melangkah ke rumah dulu maka Gina terpaksa membawa tas berisi sprei dan tas kerja langsung ke kantor. Masih banyak pekerjaan di kantor menunggu kehadiran Gina. Gina tak bisa membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Mencuci sprei dapat dilakukan kapan saja.


Mendekati kantor perusahaan ponsel Gina berdering kencang minta perhatian. Benda pipih itu kini tak berada di kantong celana melainkan dalam tas kerja. Tangan mungil Gina merogoh tas mencari benda ajaib penghubung seluruh dunia.


Begitu benda itu keluar menarik nafas segar mata Gina bersinar melihat layar ponsel tertera nama Kevin. Gina tidak lebay kayak cewek lain bikin inisial aneh untuk pasangan. Cukup Kevin yang mulai mendapat tempat di hati Gina.


"Assalamualaikum bang...sudah di kantor?"


"Waalaikumsalam...Abang justru mau tanya apa kamu sudah di kantor? Abang malah sudah siap meeting dengan para staff kantor."


"Aku urus Sum dulu lalu bersihkan kamar. Malahan tadi aku mau pulang ke rumah untuk cuci seprei. Kan malu kalau bibik yang urus tempat tidur kita."


"Jangan kau cuci! Biarkan saja. Aku mau jadikan kenangan untuk kelak."


"Dasar stress... jorok tahu. Masa yang gituan mau jadi kenangan."


"Bagimu jorok tapi buatku itu adalah satu memori yang tak boleh hilang. Simpan ya! Kalau tak patuh sama suami kualat lho!"


Gina mencekal ponsel dengan kuat jengkel pada tingkah Kevin yang kekanakan. Masa bekas percintaan mereka mau dijadikan kenangan tak terlupakan. Malam itu memang tak terlupakan buat Gina namun tidak juga harus menyimpan bekas yang tersisa. Namun Gina tak berani melanggar perintah Kevin. Laki itu punya kenangan buruk di masa lalu maka yang dia anggap kenangan indah biarlah tertinggal.


"Iya bang...aku langsung ke kantor ya!"


"Gitu dong! Istri Abang yang manis. Nanti siang abang jemput makan siang bersama."


"Ditunggu bang! Oya sekalian kita pergi lihat Subrata. Mungkin dia akan segera pulang."


"Wow...sudah mulai ada perhatian pada Subrata ya! Kabar bagus."


"Ngaco... assalamualaikum." Gina matikan ponsel malas perpanjang bahasan yang akan membuka rahasia hatinya. Gina tak mau tampak lemah di depan Kevin. Dia harus tetap menjadi Gina di monster.


Gina tak buang waktu begitu sampai di kantor. Banyak sekali yang harus dia kerjakan untuk memajukan perusahaan agar Opa bangga punya cucu macam dia.


Waktu terus berjalan tak terasa matahari tegak berdiri di ata ubun kepala setiap insan di bumi. Gumpalan Mega berarakan menemani sang mentari di atas langit. Cahaya sang mentari kadang tertahan oleh gumpalan awan langsung membakar yang pas dapat cahaya ultra violet.


Gina memandang ke bawah dari ruang kantornya di lantai paling atas. Semua benda di bawah tampak kecil. Orang lalu lalang seperti semut sedangkan mobil seperti kotak korek api. Andaikata jatuh dari ketinggian bagaimana bentuk tubuh orang yang tertimpa kemalangan itu.


Gina tak bisa bayangkan seberapa remuk tubuh yang meluncur dari atas gedung tinggi. Gina harus persiapkan diri untuk dijemput oleh Kevin.


Mata Gina bertumpuk pada tas berisi seprei. Apa harus dibawa sekarang atau tunggu pulang kerja baru serahkan kepada Kevin.

__ADS_1


Gina mengelus pipi merasa malu pada diri sendiri telah menyimpan rasa yang indah pada Kevin. Perasaan indah perlahan tumbuh dalam hati ingin bersama Kevin selamanya.


Ponsel Gina kembali berdering memanggil Gina untuk berpaling ke arahnya. Benda pipih itu berteriak di atas meja kerja Gina memohon atensi Gina.


Gina dekati meja meraih benda itu lantas tersenyum. Orang yang baru saja melintas di kepala telah mengirim signal lewat benda canggih.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.. adik Abang! Sudah siap dijemput suami?"


"Aku baru saja selesai bertugas. Aku menunggumu."


"Otw ke kantormu. Abang kangen."


"Lebay...berpisah belum juga satu hari. Macam saja."


"Setiap detik terasa sangat lama berlalu. Di mata Abang hanya ada adik tercinta. Rasa rindu membongkah seperti batu. Berat banget!"


"Sejak kapan belajar gombalin cewek?"


"Sejak punya istri cantik."


"Apa aku cantik?"


"Di mata Abang kamu adalah yang tercantik. Wanita lain hanya biasan bayangan kamu."


Gina menutup ponsel lantas tersenyum sendiri seperti orang gila. Gina tetap wanita muda yang senang dirayu walaupun dia seorang monster. Gadis mana tak bahagia dirayu suami dengan kalimat penuh keindahan.


Gina juga tak sabar ingin segera jumpa laki yang baru saja mengubah sejarah hidup Gina. Gina turun ke bawah tak mau biarkan Kevin lama menanti. Gina tak ubah gadis muda sedang dilanda badai asmara.


Setiap detik bersama orang tercinta terasa sangat berharga. Gina tak tahu sejak kapan dia jadi bucin seperti Lucia. Gina menunggu didepan pintu besar kantornya. Satpam yang melihat sang majikan berdiri sendirian segera ringankan langkah dekati bos. Beri pengawalan sekalian cari muka biar dikenal bos kalau dia penjaga kantor.


"Selamat siang Bu..." sapa satpam itu sopan.


Gina membalas tak kalah sopan. Kesopanan seorang pemimpin tak mau merendahkan pangkat seorang pegawai walaupun hanya seorang satpam. Satpam juga manusia cuma beda pangkat dalam bertugas.


"Siang pak...masih semangat?"


"Ya masihlah! Ibu menunggu seseorang?"


"Betul pak...menunggu suami saya!"


"Oh...Ibu silahkan tunggu di dalam. Begitu bapak datang aku akan kabari ibu." satpam itu belum menyerah cari simpatik Gina.


"Terima kasih pak...tadi dikabari sudah dekat sekitar sini. Bentar lagi juga sampai." balas Gina tetap bergaya tenang wibawa. Gina mau tunjukkan pada para pegawai dia orang bisa diajak komunikasi namun tetap menjaga ketegasan.


Satpam mengangguk tidak berani banyak mulut lagi ketika melihat Gina tidak menanggapi tawaran dia. Kelewat lancang juga bukan hal baik. Bos sudah bilang mau tunggu ya harus tunggu.

__ADS_1


Mata Gina keliaran melihat lingkungan kantor dia kalau ada yang tak beres. Semua tampak asri tanpa sampah. Mobil dan motor terparkir sesuai posisi masing-masing. Tak ada yang sembarangan parkir kenderaan di lahan khusus untuk parkiran para pegawai dan juga tamu.


Mata bening menangkap tiga sosok manusia sedang berjalan ke arahnya dengan anggun. Gina mengenal salah satunya adalah musuh bebuyutan dia yang telah K O. Mau apa di datang ke kantor Gina. Kalau mau bikin ribut Gina siap layani. Mereka bukanlah lawan Gina kalau ajak berantem.


Gina mengangkat kepala bersikap angkuh hadapi manusia model Angela. Tak puas-puas dia cari masalah dengan Gina. Sudah kena ultimatum dari Subrata kini datang cari Gina pula.


Gina mau tahu apa yang diinginkan oleh wanita jahat itu. Minta damai atau ajak perang secara terbuka. Gina siap layani wanita itu tanpa gentar.


Selangkah demi selangkah akhirnya sampai juga Angela dan kedua pengawalnya di hadapan Gina. Wanita itu tidak segera mengeluarkan suara melainkan menatap tajam ke arah Gina. Jelas tatapan itu sangat kejam tak cerminkan bawa misi damai. Nampaknya Angela datang ingin cari ribut. Gina tunggu saja apa yang diinginkan oleh wanita sampai bawa pengawal.


"Kau tahu tujuan aku datang?" tanya Angela tanpa basa basi.


Gina menggeleng santai tak hargai orang model Angela. Gina merendahkan Angela kayak lihat semut di bawah telapak kaki. Sekali injak akan sukses menuju ke neraka.


"Gina...kau masih muda belum tahu betapa kejam dunia ini. Aku tak mau dibilang aniaya anak kecil maka aku minta kamu kembalikan aset papa kamu. Kembalikan kedamaian keluarga kami."


Gina tertawa sinis tak sangka Angela sanggup mengeluarkan kalimat sangat menjijikkan buat Gina. Angela bicara seakan Gina telah menghancurkan rumah tangga Angela dan Subrata. Angela sendiri buat kacau sekarang dia salahkan orang lain. Betapa hebat wanita ini.


"Nyonya...aku tak pernah ganggu keluarga kalian. Apa kau lupa kau yang membuat kami kehilangan orang tua? Dasar apa aku harus kembalikan aset Subrata. Aku bukan merampas hak suami kamu tapi suami kamu bayar hutang kepada aku. Suami kamu berhutang pada perusahaan. Jangan pikir aku yang telah lancang merampas hak keluarga kalian!"


Terlihat Angela berusaha menahan emosi di beri pelajaran gratis oleh anak kecil. Angela tak boleh sangar bila mau dapatkan hati Gina. Pengharapan Angela tergantung pada Gina. Kalau dia berhasil bujuk Gina kembalikan aset Subrata mungkin Subrata akan memaafkan dia.


"Gin...kau sudah sangat kaya. Untuk apa perusahaan kecil milik papa kamu. Biarkan kami hidup aman. Kita lupakan semua kisah masa lalu. Kita akan berkeluarga dan saling menyayangi. Aku janji akan sayang pada kamu Gina.."


"Maaf nyonya! Kau ada noda hitam dalam hidup kami. Bagaimana pun di bersihkan tetap tersisa nodanya. Aku tak ada urusan lagi dengan anda jadi jangan ganggu hidup aku."


"Gina... sampai kapan kau mau dendam? Kau ini punya agama tidak? Agama mengajar kita tak boleh dendam kepada orang bersalah. Kau harus memaafkan orang sudah salah agar kamu dapat masuk surga."


Perkataan Angela pancing tawa Gina. Orang gelimang dosa bicara soal agama. Apa Angela pantas bawa agama dalam pembicaraan?


"Apa anda pikir dengan memaafkan anda aku bakal masuk surga? Justru bila aku memaafkan pendosa demikian gampang tanpa menyadarkan dia aku ini ikut terbawa dosa. Apa kau sudah sadar apa yang kau lakukan itu bertaburan dosa? Sudah tua Bangka masih berzina. Laki sial mana melayani anda sampai lupa akan dunia nyata."


Angela benar-benar terhina oleh perkataan Gina. Tak sedikitpun Gina hargai dia sebagai orang lebih tua. Bahkan lebih tua dari ibu kandung Gina. Begitu mudah Gina melecehkan Angela.


"Gina.. aku sudah datang baik-baik tapi sambutan kamu sangat kurang ajar. Apa ibumu tak pernah ajar kamu cara hormati orang lebih tua?" tanya Angela dengan nafas terburu. Kelihatannya Angela sudah terpancing emosi karena sambutan Gina yang tidak diharapkan.


"Jangan bawa ibuku dalam persoalan kita. Dia terlalu mulia untuk dibicarakan dengan manusia munafik macam anda. Pergilah dari sini! Sampai kapanpun aku takkan kembalikan perusahaan suami anda kecuali dia sudah lunasi seluruh hutangnya. Kalau anda punya uang silahkan tebus. Aku tak keberatan kok!"


Angela makin emosi sampai menggigit bibir yang telah ternoda oleh usapan gincu warna merah darah. Untung lipstik nya mahal tahan lama. Kalau tidak pasti pada luntur. Gina mana mau tahu seberapa marah Angela. Apapun terjadi Gina takkan mundur sita aset Subrata. Dan lagi sekarang perusahaan sudah resmi milik opa yang diwakilkan pada Gina.


Gina melihat mobil Kevin masuk pelataran parkir. Gina tinggalkan Angela dan kedua pengawalnya menyambut kehadiran Kevin. Emosi Angela makin menjadi-jadi melihat lelaki yang diincar oleh anaknya telah bersama dengan Gina. Angela melihat dengan jelas siapa yang berada di balik mobil mewah yang baru masuk ke pelataran parkir.


Di mata Angela kalau Gina ini benar-benar duri dalam daging yang harus disingkirkan. Angela sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak berbuat sesuatu kepada Gina. Anak yang dianggap angkuh oleh Angela harus mendapat pelajaran agar tahu betapa sakitnya berada di posisi bawah. Angela lupa kalau Gina sudah merasakan yang lebih pahit dari ini. Yang dilihat oleh Angela adalah Gina semena-mena kepada dia dan keluarganya. Angela lupa kalau dia pernah berbuat lebih daripada ini kepada Sarah dan keluarganya. Gajah di depan mata tidak terlihat tetapi semut di seberang lautan terlihat olehnya. Ini artinya kesalahan sendiri tidak terlihat tetapi kesalahan orang jelas tanpa oleh dia.


Gina berjalan terus menyambut kehadiran Kevin tanpa memperdulikan Angela yang sedang dilanda emosi berat. Gina merasa tak ada guna berdebat dengan orang tak punya otak. Mending simpan energi untuk menghabiskan siang bersama dengan orang tercinta.


"Nona...awas...." seru satpam bergema di seluruh wilayah parkiran. Suara satpam seperti suara guntur meledak di siang bolong.

__ADS_1


__ADS_2