JALAN MENUJU CINTA

JALAN MENUJU CINTA
Gina Masih Kritis


__ADS_3

Jay datang menenteng kantong plastik berisi minuman. Dari jauh tampak isinya adalah gelas plastik yang sekarang jadi wadah minuman aneka rasa. Dari jus hingga kopi juga diisi dalam wadah efisien tersebut.


Jay berjalan tegap ke arah Gani cs. Raut wajahnya datar saja tak ada ekspresi senang maupun sedih. Hanya Jay sendiri apa yang sedang bergelut dalam pikiran dia.


Begitu tiba di hadapan Gani, Jay angsurkan satu gelas berisi cairan warna coklat muda lalu disusul gelas lain berisi cairan warna hitam untuk Ardi. Tak usah ditebak jelas itu minuman favorit semua umat di bumi ini. Kopi penyegar otak.


Gani membuka penutup untuk diminumkan pada Lucia. Ekor mata Jay menangkap moments ini agak ragu penglihatan sendiri. Gani mendadak penuh perhatian pada Lucia karena gadis itu telah rela donor darah atau memang tersentuh melihat kerapuhan Lucia.


Lucia tersenyum senang Gani makin perhatian padanya. Semoga saja kehangatan Gani tidak terhenti hari ini saja. Lucia mau untuk ke depan Gani tetap seperti ini.


"Terima kasih..." ujar Lucia ntah pada Jay maupun Gani. Jay telah belain beli kopi sedangkan Gani memberinya minum dengan lembut. Lucia merasa mendapat hadiah paling berharga dibandingkan dengan segala materi. Kalau sudah begini semua kemewahan terasa tidak berguna lagi. Kehangatan bersaudara lebih berharga dari apapun.


Lucia berasal lebih baik setelah minum teh hangat yang dibawa oleh Jay. Kepalanya terasa lebih ringan dibanding tadi. Tekanan batin yang membalur tubuh Lucia perlahan terangkat. Kini dia siap hadapi semua tantangan asal ada yang gandeng tangan dia.


"Aku sudah merasa lebih segar. Kita balik lihat kondisi Gina."


Tak ada yang mau membantah. Memang mereka harus melihat apa Gina telah berhasil lalui masa kritis. Jay dan Gani yang paling ingin lihat Gina cepat sadar. Mereka rindu pada omelan Gina yang tajam. Sekali-kali kena tendangan wanita muda itu bila mereka berbuat sesuatu memicu amarah wanita itu. Sayang kini semuanya harus terhenti. Gina sedang berpacu dengan waktu mencari kesembuhan.


Gani memapah Lucia kendatipun wanita itu sudah jauh lebih segar. Berjalan sendiri juga tidak ada masalah namun Gani ingin menunjukkan bahwa dia bukan orang yang tidak tahu balas budi. Gani tetap dampingi Lucia berjalan sampai ke ruang operasi diikuti oleh Ardi dan Jay. Mereka berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat Gina sedang pertaruhkan nyawa.


Tempat yang mereka kunjungi agak sepi jauh dari keramaian karena tempat orang sedang dioperasi. Di situ hanya ada Kevin dan Pak Julio sedang menunggu hasil operasi. Pak Julio duduk terpekur menatap ke lantai tak terlihat reaksi wajahnya. Lain dengan Kevin berdiri persis di pintu operasi ingin menjadi orang pertama yang mengetahui kondisi Gina.


Mata Kevin kontan menyalang begitu melihat kehadiran orang yang paling tak ingin dia temui. Saat ini Kevin tidak ingin bertemu dengan orang yang berhubungan dengan Angela. Angela telah melakukan tindakan paling brutal di depan hidung Kevin. Teganya wanita itu menusuk Gina dari belakang sedangkan Gina telah membiarkan dia pergi.


Kevin menggeser badan berdiri di tengah-tengah jalan untuk menghalangi Lucia mendekati tempat operasi Gina. Kevin tidak rela keluarga orang yang menyakiti Gina berada di sekitar mereka. Pak Julio ikut angkat kepala begitu dengar derap langkah yang cukup ramai mendekati mereka. Pak Julio juga memberi reaksi yang hampir sama dengan Kevin begitu melihat kehadiran Lucia. Mereka berdua masih sakit hati melihat Gina sedang bertaruh dengan maut.


"Mau apa kamu kemari? Mau lihat Gina sudah mati atau belum?" Kevin duluan nyerocos sebelum Lucia mengatakan apa-apa.


Sakit hati Lucia dituduh jahat oleh Kevin. Hubungan baik mereka selama ini seakan tak ada sisanya. Semua kandas akibat perbuatan Angela merebut nyawa Gina. Namun Lucia tak bisa bela diri karena mereka memang di pihak salah. Kalau saja Angela bisa berpikir waras mungkin hari ini tidak ada kejadian ini. Lucia tidak bisa berkata apa-apa selain menerima nasib dibenci oleh Kevin.


Gani bertindak cepat melindungi Lucia dengan berdiri di depannya. Gani rentangkan tangan kiri kanan halangi Kevin bila ingin lakukan hal tak terpuji pada Lucia. Lucia menatap punggung Gani dengan teduh. Begini rasanya punya saudara yang lindungi dia bila jumpa kesulitan. Betapa adem hati Lucia melihat dia sudah ada pelindung.


"Stop kak Kevin...aku yang minta kak Cia datang untung donor darah buat monster. Darah aku sudah kering ,aka terpaksa minta sumbangan Kak Cia."

__ADS_1


Lucia ingin sekali menangis dengar Gani belain dia gunakan bahasa paling merdu di kuping. Panggilan kak itu yang datangkan kesejukan berlapis-lapis membungkus hati Lucia yang sedang rawan.


Kevin terdiam tak bisa mengeluarkan kalimat mendengar perkataan Gani. Yang lebih pedih di kuping Kevin adalah panggilan Gani terhadap Lucia. Sebutan kak itu mengganggu pendengaran Kevin. Ntah kenapa Kevin tak suka Gani terlalu akrab dengan Lucia walaupun wanita itu pernah jadi rekan kerja Kevin.


"Maafkan Kak Kevin ya! Ayok duduk sana!" Gani membimbing Lucia dengan lembut ke tempat duduk jauhi Kevin. Orang yang sedang kalap bisa berbuat apa saja untuk memenuhi tuntutan amarah di dalam dada. Menjauhkan Lucia dari Kevin hanya untuk berjaga-jaga.


Lucia mengangguk maklumi situasi. Tanpa berkata Lucia ikuti Gani duduk manis. Ardi yang menyaksikan Lucia dijadikan sasaran empuk pelampiasan emosi merasa iba. Angela yang berbuat salah namun Lucia kena imbasnya.


"Maaf...aku ini Ardi yang tangani kasus Bu Angela. Gimana kondisi pasien?" Ardi maju ke depan untuk cairkan ketegangan. Ardi langsung hadapi Kevin karena tahu laki ini pasti orang dekat korban. Dari reaksinya sudah diketahui kalau Kevin merupakan orang paling peduli pada korban.


"Oh...maaf pak Ardi! Aku terbawa emosi...Aku Kevin suami dari Gina." Kevin mengulurkan tangan menyambut tangan Ardi.


Sudah Ardi duga kalau Kevin ini bukan hanya sekedar teman atau saudara Gina. Ternyata suami Gina. Wajar kalau reaksi Kevin lebih dari yang lain. Siapa tidak sakit hati melihat orang tercinta sedang bergulat dengan maut. Ardi tak bisa menyalakan Kevin bila bertindak lebih keras kepada Lucia walaupun tidak tepat sasaran.


"Aku maklum kok! Untuk sementara kita harus dinginkan kepala. Yang bersalah akan kita proses secara hukum yang seadil-adilnya. Yang penting Sekarang kita berdoa semoga korban bisa terselamatkan."


"Amin..." Gani yang menyahut aminkan doa Ardi.


"Aku harap tak ada yang intervensi kasus ini." Pak Julio buka suara membuat kepala Ardi berputar menghadap ke arah Pak Julio. Dalam hati Ardi bertanya-tanya apa mungkin ini adalah orang tua Gina. Kelihatannya pak Julio bukan orang awam yang bisa ditekan dengan kekuasaan.


"Bapak tak usah kuatir. Kami akan beri keadilan buat korban. Kami sedang dalami kasus ini. Aku jamin tak ada intervensi." kata Ardi lantang tak mau menoleh ke arah Lucia. Ardi tak mau beri harapan palsu pada Lucia bisa membantu mamanya lolos dari hukuman berat.


"Bagus...kita bukan Tuhan yang boleh permainkan nyawa orang. Aku mau lihat seberapa kuat supremasi hukum kita."


"Aku setuju pak..." Ardi kembali perkuat kalau dia adalah polisi junjung keadilan. Ardi harus berusaha sekuat tenaga untuk kembalikan lambang hukum adil dan jujur di lembaga kepolisian. Ada segelintir oknum tega merusak citra penegak hukum demi kepentingan pribadi. Ardi harus tunjukkan kalau tidak semua polisi itu bermasalah.


Selanjutnya tak ada yang ingin bicara. Memang saat ini tak ada yang bisa dibincangkan sebelum mendapatkan kepastian tentang keselamatan Gina. Masing-masing tenggelam dala alam pemikiran tersendiri. Yang paling berat tentu saja Lucia. Mamanya terancam hukuman berat sedang adik tirinya berjuang melawan maut. Ini merupakan hari paling buruk dala hidup Lucia. Belum lagi Subrata masih terbaring di rumah sakit lain. Ntah bagaimana pula keadaan laki tua itu. Lucia benar-benar dilanda dilema.


Detik demi detik berlalu tanpa menunggu arahan siapapun. Waktu berlari terus mengejar sore. Yang menunggu makin gelisah mengapa sangat lama operasi Gina. Apa Gina demikian parah sampai harus operasi berjam-jam. Tak ada yang bisa jawab sebelum para dokter muncul beri kabar yang pasti.


Jay berdiri paling ujung bersandar pada dinding rumah sakit berdoa semoga operasi Gina cepat kelar dan mereka dapat kabar baik. Tak ada yang mau beranjak dari tempat semula sebelum dapat kepastian.


Setengah jam kemudian seorang perawat keluar dari ruang operasi hanya seorang diri. Kevin segera dekati perawat itu berharap mendapat sedikit bocoran tentang keselamatan Gina.

__ADS_1


Semua ikut tegang menatap perawat itu penuh harapan. Perawat itu berhenti ngerti yang menunggu minat sedikit penjelasan tentang kondisi pasien.


"Operasi berjalan baik namun pasien tak bisa dijenguk karena takut kehadiran kalian akan memicu emosinya dan menambah parah luka dekat lever. Levernya ikut terluka akibat tusukan benda tajam. Jadi pasien hanya bisa dilihat dari jauh. Kami akan bawa dia ke ruang ICU." perawat itu beri jawaban yang kurang menyenangkan. Dirawat di ruang ICU sama saja katakan kondisi Gina kurang menguntungkan.


"Kok ICU sus?" buru Gani tak percaya kondisi Gina sangat parah. Gani tak percaya Gina demikian lemah tak mau berjuang untuk bisa bersama lagi. Gani marah Gina yang biasa gagah harus terkapar.


"Kami akan lakukan yang terbaik untuk pasien. Pasien belum keluar dari masa kritis jadi kita semua berdoa saja. Doakan semoga tak terjadi pendarahan lagi di luka yang baru ditangani." Perawat itu beri jawaban ambigu. Mereka berusaha namun nyawa berada di tangan yang Mahakuasa. Kalau Tuhan bersabar tak ada yang bisa lolos dari semua panggilan Tuhan.


"Sus lakukan yang terbaik untuk anakku! Berapa saja akan kami bayar asal Gina selamat." Pak Julio beri reaksi tak kalah konyol. Seorang pengusaha sekelas Pak Julio saja bisa akal sehat apalagi mereka yang mentalnya setipis tisu.


Perawat itu goyang tangan tak beri jamin nyawa Gina walau ada setumpuk dolar di depan mata. Tugas mereka memang menyelamatkan nyawa pasien namun semua ada batasan. Bukan kuasa para medis menentu hidup mati seorang manusia.


"Pak...kami akan usaha tapi semua tergantung yang diatas serta doa kita bersama. Kita tunggu di ruang ICU. Silahkan! Kami mohon jangan buat gaduh yang akan memicu emosi pasien. Mungkin kami akan tidurkan pasien sampai kondisi stabil."


"Maksudmu?" tanya Kevin cepat belum paham maksud perawat ingin tidurkan Gina. Biasa kalimat itu diucapkan sama saja ingin tutup usia pasien.


"Begini pak...nanti setelah pasien sadar dari obat bius kami akan beri dia obat penenang agar dia tidak banyak berpikir. Takut nanti terjadi pendarahan tak kita inginkan. Itu sangat berbahaya." Perawat itu cepat beri penjelasan agar tak terjadi salah paham. Salah omong dikit efeknya jadi lain.


"Oh gitu...tapi istri aku stabil kan?"


"Untuk saat ini aman cuma di butuh ketenangan agar lukanya tidak makin parah. Aku permisi harus urus ruang untuk pasien. Kalian boleh tunggu di luar sana." Perawat itu melangkah pergi setelah beri sedikit penjelasan pada keluarga pasien.


Semua mata mengarah ke perawat yang meninggalkan mereka. Penjelasan perawat memang belum memastikan Gina selamat namun laporan kalau kondisi Gina stabil cukup melegakan.


"Ayok kita tunggu di ruang ICU saja. Kita percayakan Gina pada dokter." pak Julio menemukan kesadaran nyata. Pak Julio nyaris hilang kendali begitu tahu kondisi Gina belum bisa dikatakan pulih seratus persen. Masih harus jalani perawatan intensif untuk hentikan pendarahan akibat tusukan benda tajam kena organ dalam tubuh.


Kevin merasa seluruh badannya lunglai belum dapat kepastian Gina bisa lolos dari maut. Ingin sekali Kevin berteriak untuk keluarkan semua amarah yang terkurung dalam dada. Baru saja dia reguk kebahagiaan bersama Gina tiba-tiba muncul jurang hendak pisahkan mereka lagi. Kevin tak bisa terima kenyataan kalau Gina belum bisa dikatakan bertahan.


Yang lain sudah bergerak jauhi tempat Gina dioperasi tinggal Kevin masih terpaku di dekat pintu Gina masih terbaring tunggu dipindahkan. Kevin ingin sekali masuk ke dalam memohon pada Gina untuk kuat dan berjuang demi semua yang menyayangi dia. Tapi apa dokter ijinkan Kevin masuk?


Pak Julio mendesah memahami perasaan Kevin belum siap menerima fakta Gina masih perlu perawatan lebih intensif. Laki ini hampiri Kevin menggamit lengan Kevin untuk berlalu dari tempat Gina baru dioperasi. Dengan terpaksa Kevin mengikuti ajakan Pak Julio mencari ruang yang bakal ditempati oleh Gina. Mereka berkerumun di situ hanya menghambat paramedis bekerja lebih leluasa. Penanganan Gina harus super hati-hati mengingat ada luka di dalam organ tubuh. Tak boleh ada guncangan kuat karena akan memicu pendarahan di dalam tubuh Gina lagi.


Keenam orang itu berjalan jauhi ruang operasi mencari tempat Gina bakal dirawat. Pak Julio mau minta tempat yang terbaik agar keponakannya tertangani dengan baik. Pak Julio tak perduli berapa biaya harus dia keluarkan yang penting Gina harus sembuh untuk tunaikan semua janjinya.

__ADS_1


__ADS_2