
Kedua cowok itu asyik debat mulut sementara waktu terus berjalan meninggalkan malam yang makin larut. Kalau keduanya tidak segera beristirahat maka fajar akan segera menyingsing membuat mereka kehilangan waktu untuk istirahat. Gani lebih pinter segera bersihkan diri untuk cepat tidur. Gani seperti Gina jarang tidur malam karena terbiasa bangun pagi bantu ibunya membereskan masakan untuk jualan. Sekarang ibunya telah berangkat jauh namun kebiasaan tidur cepat tidak berubah. Gani tetap Gani yang dulu hargai waktu tidur.
Beda dengan Jay yang sudah biasa begadang. Menjadi preman tanggung mengharuskan Jay tidur tak kenal waktu. Masih untung sejak diajak kerja Jay mulai bisa rem begadang malam. Kini keduanya bisa tidur nyenyak di kasur empuk dan bersih. Sudah bersih wangi lagi. Jauh beda dengan kasur di rumah yang hanya busa tipis sekedar pelapis agar badan tak remuk tidur di lantai.
Jay dan Gani tak perlu waktu lama menembus alam mimpi. Keduanya bermimpi sesuai keinginan hati. Yang pasti mimpi indah menyongsong esok cerah.
Keheningan menemani para anak muda menyongsong pagi ceria. Cahaya jingga perlahan terbit dari ufuk Timur akan segera terangi persada. Begitu semburat jingga hiasi langit semua aktivitas di bumi mulai menggeliat termasuk hewan yang rajin bangunkan semua insan di bumi dengan suara khas berkokok.
Sepasang suami isteri masih malu kucing saling berpelukan tak sadar kalau mereka saling membagi rasa. Gina tidur dalam pelukan Kevin bersandar pada dada laki itu. Keduanya tak sadar telah bersatu di atas tempat tidur. Tinggal proses menunggu Gina lengah mau menyerah sepenuh hati kepada Kevin.
Kevin duluan bangun sebelum adzan subuh. Dada Kevin terasa berat ada beban menghimpit. Kevin menunduk kepala melihat orang yang berada dalam pelukan. Harum rambut Gina menusuk hidung namun itu merupakan satu rangsangan buat laki ini untuk berbuat lebih. Namun alarm peringatan melarang Kevin berbuat lebih. Cukup mengelus kepala gadis dalam pelukan.
Kevin daratkan kecupan di ubun isterinya sekedar ungkap rasa sayang. Sayang tak mesti harus berhubungan badan baru dinamakan cinta.
Gina mengeluh manja tak sadar berada dalam pelukan suami. Gina masih berpikir tidur nyenyak di kamar sendiri. Seenak perut Gina merentangkan tangan sampai menyentuh wajah suami yang masih diam lihat apa yang dilakukan gadis di sampingnya.
Gina merasakan ada keanehan di kasur ini. Biasa kasurnya seupil kini lebar bahkan ada sesuatu halangi gerakan badannya. Secara otomatis Gina melihat ke samping dan langsung memalingkan wajah merasa malu dalam keadaan berantakan dilihat oleh Kevin. Rambut riap-riapan, mungkin ada sisa ileran di sudut bibir bahkan ada belekan di ujung mata.
"Selamat pagi sayang!" sapa Kevin lembut.
"Pagi...sudah subuh. Kita sholat dulu bang!" Gina malu ingin segera tinggalkan tempat tidur gunakan alasan mau sholat.
Kevin bukannya bangun malah pererat peluk Gina tak rela istrinya pergi dari pelukannya. Kevin belum puas peluk tubuh ranum Gina. Jarang ada kesempatan ini berduaan di atas peraduan.
Gina tidak melawan malah hargai sikap sopan Kevin tidak memaksa ritual malam pengantin.
"Aku mau ajak kamu ke kota M pantau hasil kerja Hadi di sana. Kau mau?" ujar Kevin sambil hembus nafas kurang segar ke leher Gina. Gina diam saja belum bisa kasih keputusan karena dia sedang konflik dengan Subrata. Hari ini Subrata akan datang serahkan saham sebanyak hutang dia. Gina tak mau sia-siakan kesempatan emas ini.
Melihat Gina tak bereaksi Kevin mengelus tekuk leher Gina dengan pelan membuat bulu kuduk gadis ini merinding. Ada perasaan aneh menyesak dada akibat keisengan Kevin berbuat intim.
"Aku harus bangun bang! Sebentar lagi adzan subuh. Aku harus siapkan sarapan pagi."
"Ini rumah kita sayang. Sudah ada bibik urus sarapan kita. Masa kau lupa kita sudah pindah ke rumah." Kevin sengaja tidak gunakan kata rumahku agar Gina tahu ini juga rumahnya.
"Maaf...belum terbiasa. Ayok bangun!" Gina menyibak selimut bermaksud turun dari ranjang.
"Sudah bangun dari semalam kok!" sahut Kevin sengaja bergurau sedikit jorok untuk usilin Gina.
Rona merah menjalar di pipi Gina kena gurauan menjurus ke hal intim. Gina tahu Kevin sengaja canda berbau porno goda dia. Gina tak boleh terpancing bisa bawa akibat fatal. Gina bergegas pindahkan kedua kaki ke lantai cari sandal rumahan. Gina terbirit-birit masuk ke kamar mandi untuk hindari candaan bahaya Kevin.
Kevin tersenyum puas telah maju selangkah lagi dekat dengan Gina. Kevin yakin dia bisa taklukkan Gina secepatnya. Kevin harus segera laksanakan tugas sebagai suami sejati tabur benih agar tumbuh Gina cilik maupun Kevin kecil. Usia Kevin sudah cukup untuk punya anak. Takutnya kelak bibitnya kadaluwarsa tak produktif lagi.
Begitu adzan subuh berkumandang keduanya segera ke musholla kecil di rumah ini. Suasana rumah masih sepi belum ada tanda-tanda yang lain bangun untuk tunaikan tugas pertama pagi ini sebagai umat muslim. Gina tetap setia jalankan salah satu rukun Islam. Kevin mau tak mau harus ikuti istri yang sangat taat beragama itu. Sekarang Kevin adalah imam keluarga maka harus beri contoh bagus.
Kevin banyak belajar untuk jadi imam di rumah ini. Gina dengan setia membimbing Kevin menjadi manusia lebih baik lagi. Seusai sholat Gina langsung berberes untuk bersiap berangkat ke kantor walau haru belum terang sekali. Hari ini merupakan sejarah bagi Gina melihat keruntuhan Mahabarata yang cukup lama berjaya di puncak ketenaran.
Kevin menggeleng kepala melihat semangat Gina berjuang menghancurkan musuh bebuyutan. Sebenarnya Kevin hendak melarang Gina terusan membenci Subrata namun itu tekad Gina dari dulu maka Kevin urungkan niat nasehati istrinya. Selama Gina belum lewat batas Kevin akan beri toleransi pada istrinya. Subrata harus bertanggungjawab atas hutangnya maka Kevin biarkan Gina meraup aset Mahabarata.
Kevin perhatikan gerak-gerik Gina bersiap untuk berangkat ke
__ADS_1
kantor. Kevin sendiri belum bersiap karena merasa tidak perlu berlebihan bersiap terlalu dini. Matahari saja belum terbit sempurna Gina sudah mempersiapkan diri berjuang melawan bapaknya sendiri.
"Gin... apa perlu berangkat ke kantor sepagi ini?" tegur Kevin.
Gina menoleh sekejab lantas kembali fokus pada tas berisi semua dokumen yang harus ditanda tangani oleh Subrata. Pak Julio sudah mempersiapkan segalanya untuk keponakan tercinta. Gina banyak mengandalkan pak Julio untuk lancarkan aksinya meruntuhkan Subrata.
"Aku harus ke rumah pak Julio dulu baru ke kantor barengan. Pak Julio akan jadi saksi timbang terima kali ini. Pak Julio takut Subrata lakukan trik jahat padaku." Gina kemukakan alasan mengapa bersiap sepagi ini.
Kevin angguk-angguk maklumi rencana Gina ajak Pak Julio. Ini Kevin sangat setuju. Gimanapun Pak Julio lebih pengalaman dari Gina hadapi orang licik macam Subrata.
"Aku antar kamu. Jangan bilang mau naik ojek online ya!"
Gina tertawa kecil Kevin sudah bisa tebak rencananya pergi dengan ojek online. Gina tak mau merepotkan Kevin bolak balik antar dia baru masuk kantor sendiri. Gina punya perasaan halus tak mau menyusahkan suami.
"Aku bisa pergi sendiri bang! Ayok pergi mandi! Sebentar lagi hari sudah terang." Gina mendorong tubuh Kevin masuk kamar mandi. Laki ini dengan ogahan berjalan ke tempat paling basah dalam kamar ini.
"Kita sarapan bersama ya! Ini hari pertama kita makan pagi bareng di rumah ini." kata Kevin sebelumnya tubuhnya ditelan pintu kaca buram.
"Iya... cepatan! Aku takut telat."
Kevin ingin sekali membantah namun ditelan kembali. Apanya yang telat. Jam digital di atas meja nakas masih tunjukkan pukul lima pagi. Masih ada waktu dua jam untuk bersiap. Jam delapan masuk kantor saja belum terlambat.
Kevin malas adu mulut dengan Gina pagi buta. Mungkin kalau Gina ajak adu bibir mungkin Kevin akan beri tanggapan paling cepat. Kevin sudah tak sabar ingin rasakan manisnya bibir yang selalu basah itu. Rasanya manis atau kecut.
Kevin berangan jauh tentang keindahan Gina sedangkan Gina telah sibuk kirim chatting dengan Pak Julio. Gina yakin Pak Julio sudah bangun karena pamannya itu termasuk muslim patuh. Pesan Gina terkirim tapi masih centang abu tanda belum dibaca.
Selagi Kevin mandi Gina melakukan tugas merapikan tempat tidur serta melipat selimut agar tempat tidur tampak bersih dan rapi. Itu salah satu tugas istri tanpa harus menunggu pembantu. Gina sudah menjadi istri orang maka harus bersikap sebagai seorang istri.
Gina langsung menemui bibik di dapur berharap orang tua itu sudah bangun. Di dapur hanya ada seorang wanita muda sedang memotong sayuran untuk dimasak sebagai makanan sarapan. Wanita muda itu cukup kaget karena mendadak muncul orang dari belakang.
Wanita muda itu hentikan gerakan membungkuk hormat pada Gina. Wanita muda itu Mai keponakan bibik yang datang dari desa.
"Pagi nyonya.."
"Pagi...kamu pasti Mai ya?"
Mai tersipu malu layak gadis desa yang lugu. Senang juga dikenal oleh majikan pertama jumpa. Ternyata majikan barunya tidak sombong bahkan berkesan ramah.
"Iya nyonya.."
"Tak usah panggil nyonya...umur kita juga tak jauh beda. Panggil kak Gina saja! Mana bibik? Apa sarapan kita hari ini?"
"Nasi uduk nyonya...eh maksudku kak Gina! Bibik sedang sholat. Tadi langsung ke dapur maka telat sholat."
"Baiklah...kamu sudah sholat?"
"Lagi halangan kak!" sahut Mai malu-malu merpati.
"Oh...ok..selamat bekerja. Aku tinggal dulu ya!"
__ADS_1
"Iya kak."
Gina merasa tenaganya tidak diperlukan di dapur maka dia segera meninggalkan dapur menuju kembali ke depan. Gina berharap menemukan seseorang di ruang depan. Bukan menemukan ruang sepi tanpa penghuni.
Harapan Gina terwujud karena di desain sudah ada dua sosok manusia berkelamin jantan duduk dengan wajah agak kusam kurang tidur. Wajah bantal masih terukir jelas di wajah kedua konco itu. Gina tak perlu menebak langsung mengerti kalau kedua orang ini pulang larut malam.
"Perlu kopi?" olok Gina mengagetkan kedua wajah bantal itu.
"Mau dong kopi rasa strawberry.." sahut Gani asalan. Rasa ngantuk telah merebut akal sehat Gani.
"Aku rasa jeruk.."
Gina menempatkan tempatnya di atas bangku sofa sampai tertawa geli. Inilah akibatnya kalau begadang tanpa memperhitungkan kekuatan sendiri. Sudah tahu tak bisa tidur malam memaksa diri jadi kalong.
"Aku punya kopi rasa sianida...siapa yang cicipi dulu?"
Gani menunjuk Jay tanpa semangat. Kalau bukan ingat kerja ingin sekali Gani menempelkan badan di ranjang lagi. Tidur setengah hari lagi tentu nikmat bukan main. Nikmati melebihi udang mahal.
"Dasar bebek...mau mati jangan ajak orang! Aku belum mau metong. Belum rasakan malam pengantin. Rugi cepat metong." Jay merepet di suruh minum sianida pagi sekali. Bukannya ngantuk malah tewas secara sukses.
"Jay tak mau Gin! Kamu minum sendiri saja. Biar ada duren."
"Duren? Apa itu?"
"Dasar kuper...duren itu duda keren. Kalau kamu metong maka kak Kevin jadi duren rebutan."
"Husss amit-amit... pagi-pagi canda kebangetan. Pergi cuci muka sana! Muka kok kayak ember penyok gitu."
"Sudah sepuluh kali cuci tapi tetap penyok. Aku tidur ya. Satu jam saja." rayu Gani tak bisa tahan rasa ngantuk. Kalau bukan ingat sholat jangan harap Gani mau bangun.
Gina melirik jam di layar ponsel belum pukul enam. Gani masih punya waktu sedikitpun untuk memanjakan mata. Gina kasihan juga pada saudara kembarnya itu. Orang tak pernah tidur telat diajak cari hiburan malam. Inilah hasilnya.
"Pergilah! Satu jam saja."
Tanpa perlu diulang dua kali Gani langsung bangkit berlari kecil masuk kamarnya. Jay tak mau ditinggalkan oleh Gani langsung kejar laki gemulai itu masuk kamar. Bisa pejamkan mata satu jam saja akan isi ulang energi Gani dan Jay.
Gina biarkan saja kedua orang itu masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur yang tertunda. Suasana di ruang tamu kembali hening tanpa ada suara baik dari dalam maupun di luar. Gina menyandarkan diri ke sandaran sofa sambil melirik sana sini melihat dekorasi rumah yang tak banyak perabotan. Gina lebih suka begini ketimbang menumpuk perabotan dalam rumah tanpa manfaat.
"Sendiri sayang? Yang lain belum bangun?" suara Kevin mengagetkan Gina yang masih memantau sekeliling rumah.
"Oh Abang...Gani dan Jay telah kembali tidur. Tampaknya mereka pulang sangat malam."
Kevin membuang mata ke arah pintu kamar kedua anak itu. Tak ada suara dari sana jelaskan kalau keduanya bermimpi ronde kedua.
"Gani mana bisa begadang...biarkan mereka tidur sebelum ke kantor. Kau sudah ke dapur lihat bibik masak?"
"Tak ada bibik..yang ada Mai...Abang mau teh atau kopi?"
"Kopi sedikit gula seperti biasa. Kau yang bikin ya!"
__ADS_1
"Iya..." sahut Gina sedikit ketus. Gadis muda ini menuju ke dapur untuk godok kopi permintaan Kevin. Bikin kopi juga salah satu tugas istri. Gina tak merasa keberatan bikinkan Kevin kopi karena selama tinggal di rumah Gina juga yang bikin kopi. Kevin mulai terbiasa dilayani oleh Gina. Semua tindak tanduk Kevin telah Gina hafal luar kepala.